"Selamat pagi Tuan." Ucap Alvin memasuki ruang kerja Devano.
Pria berambut gondrong itu memberikan sebuah amplop besar yang berisi seluruh data lengkap tentang Kezia selama sepuluh tahun terakhir ini.
"K&T Fashion Corporation." Gumam Devano takjub.
"Benar tuan, Nyonya Kezia adalah pemilik dari perusahaan yang selalu menjadi lawan terberat perusahaan kita dalam bidang fashion. Sejak sepuluh tahun yang lalu penjualan perusahaan tersebut selalu meningkat, bahkan saham yang mereka jual saat ini termasuk dalam salah satu saham dengan harga termahal."
"Ya, aku tau. Tapi bukannya pemilik perusahaan itu Arielle Orva?"
"Benar tuan, saya rasa nyonya Kezia menggunakan orang lain sebagai bonekanya."
"Tapi kenapa? Apa dia sebegitu tidak inginnya bertemu dengan ku?"
"Nyonya Kezia sedang berada di Indonesia, namun saya belum mendapatkan informasi kenapa beliau datang kemari, saat ini salah satu anak buah saya menemukan keberadaan nyonya Kezia, beliau ada di sebuah mall besar yang dekat dengan perusahaan ini tuan."
"Baik, siapkan mobil, kita akan menjemputnya disana. Apa ada informasi penting lagi yang ingin kau katakan?"
"Dari data yang saya dapat kan, seluruh identitas nyonya Kezia di sembuyikan dengan baik oleh salah satu hacker yang biasa di sewa oleh keluarga mafia di Paris. James Charless."
"Cari pria itu dan bunuh dia. Aku tidak akan membiarkan orang yang sudah memisahkan ku dengan Kezia bernafas di dunia ini."
"Baik tuan!" Ujar Alvin. Sesuai dengan perintah sang atasan, pria itu langsung menghubungi anak buah miliknya yang tersebar di Paris untuk menangkap James.
Bersama dengan puluhan anak buah yang mengikuti di belakang, Devano berjalan memasuki mobilnya, dan langsung melaju menuju sebuah pusat perbelanjaan terbesar di Jakarta.
Dering telepon Kezia mengalihkan perhatian Kezia yang sedang memilihkan kalung berlian untuk putri kesayangannya.
"Mommy angkat telepon uncle James dulu ya sayang, kamu pilih kalung yang kamu suka, nanti kalau udah bilang ke mommy."
"Okay mom!" Sahut Taylor semangat.
"Kamu ngapain sih beli perhiasan, mahal tau. Mending beli mainan."
"Kenzie, kamu harus tau, perempuan itu lebih seneng kalau di kasih perhiasan kaya gini. Jadi kalau kamu pacaran nanti jangan beliin pacar kamu mainan ya... beliin berlian."
"Dih gak keren, mending Kenzie beliin pacar Kenzie Iron Man suit, biar bisa terbang bareng keliling dunia!" Sahut Kenzie yang mengagetkan seluruh pegawai toko perhiasan tersebut, tak sedikit juga yang tertawa karena tingkah lucu dua anak kembar itu.
"Kenzie! Kapan sih kamu dewasanya? Iron Man suit itu cuma ada di film, gak nyata!"
"Kamu selalu saja sok tau Tay!"
"Ada apa James?" Ucap Kezia.
"Astaga! Kenapa kau selalu susah mengangkat telepon?"
"I'm sorry, aku lagi belanja bareng anak-anak. Ada apa?"
"Devano. Dia berhasil menemukan mu, sekarang dia tau kalau kau ada di Indonesia."
"Apa?!"
"YA! Sebaiknya kau segera kembali ke Paris. Oh tidak dia pasti juga sudah tau kalau selama ini kau tinggal di Paris."
"Pergi lah ke Thailand, aku akan mengurus semua nya dari sini."
"Buka pintunya!" Sahut seseorang dari tempat James.
Brakk!!
Pintu rumah James berhasil di dobrak oleh beberapa orang dengan setelan serba hitam lalu salah satu orang dari mereka tiba-tiba memukul James dengan keras hingga tak sadarkan diri.
"James?! James jawab aku. Apa yang terjadi!!" Sahut Kezia panik.
"Mommy, ada apa?"
"Kita pergi sekarang."
"Kemana mom? Taylor belum selesai milih kalung."
"Kemana aja yang penting tidak disini." Ucap Kezia sambil menarik tangan kedua anaknya.
"Apa yang terjadi pada Uncle James mom?"
"Daddy menemukan kita. Mommy tidak akan membiarkan dia merusak kebahagiaan kita lagi."
"Daddy? Tapi Kenzie mau ketemu sama—"
"Om baik?" Ucap Taylor saat melihat Devano yang berjalan ke arah mereka dengan senyuman di bibirnya.
"Akhirnya aku menemukan mu Key." Ucap Devano.
"Siapa?" Ucap Kezia menggunakan bahasa Prancis seolah-olah ia tidak mengenal Devano.
Jantung Kezia berdegup dengan sangat cepat sesaat ia melihat orang paling tidak ingin ia temui sekarang berdiri di hadapannya. Devano Julio, satu-satu nya pria yang berhasil mendapatkan hati Kezia dan juga satu-satunya pria yang telah menghancurkan hatinya bahkan hidupnya.
"Ayo ikut aku. Kalau paparazzi melihat kita berdua disini akan banyak gosip yang beredar."
"Maaf, tapi saya tidak mengenal anda."
"Bawa dia." Ucap Devano pada Alvin.
Laki laki bertubuh kekar itu menarik tangan Kezia dan membawanya secara paksa, dengan sekuat mungkin Kezia berusaha untuk lepas dari cengkraman Alvin, namun hal yang di lakukannya sia-sia. Kekuatan Kezia terlalu lemah jika di bandingkan dengan Alvin.
"Hai Taylor."
"Kamu siapa? Kenapa kamu nyulik mommy begitu?" Ucap Taylor dingin persis seperti Devano ketika berbicara dengan orang yang tidak di sukainya.
"Maafkan aku, tapi aku harus membawa mommy agar dia mau berbicara denganku lagi."
"Setelah sepuluh tahun, ternyata kalian tumbuh dengan sangat baik." Ucap Devano sambil mengelus pipi Taylor, namun dengan gesit tangan Kenzie menepis tangan Daddy yang selama ini ingin di temuinya.
Kenzie galak mode on.
"Lepaskan tangan anda dari adik saya." Untuk anak-anak usia Kenzie, ekspresi marah yang di tunjukkannya pada Devano sangat lah menyeramkan.
Tubuh Devano terdiam melihat tingkah overprotektif anak laki lakinya, jagoan papa, dua kata itu spontan melintas di kepalanya.
"Ayo ikut saya, nanti mommy kalian akan menjelaskan semua nya pada kalian."
"Ayo Taylor." Ucap Kenzie dominan. Taylor mengangguk dan mengikuti langkah kecil abangnya.
"Boleh aku memegang tang—"
"Tidak. Jangan dekati kami lebih dari dua meter." Ucap Kenzie galak yang berhasil menakutkan Devano sedikit.
Devano memutuskan untuk membawa mereka ke salah satu apartemen miliknya yang jauh dari rumah.
Laki laki itu terus memandangi wajah perempuan yang selama ini sangat di rindukannya, bahkan mereka sudah menghabiskan waktu selama dua jam untuk hanya bertatap-tatapan saja.
Entah perasaan apa yang berkecamuk di dalam hati Kezia, sedih, rindu, marah, bahagia, bergabung menjadi satu, sekuat mungkin perempuan itu menahan air mata yang sedari tadi ingin membasahi pipinya agar tidak terjatuh.
"Aku merindukanmu Key." Ucap Devano akhirnya membuka pembicaraan.
Kezia menunduk seketika agar menghindari Devano untuk melihat air matanya yang menetes.
"Aku tidak kenal denganmu. Aku mau pulang, jadi tolong lepaskan kami." Ucap Kezia dengan suara serak.
"Tidak akan terjadi."
"Apa yang mau kau lakukan lagi Dev?"
"Ah, jadi sekarang kau sudah mengingat ku."
"Kau ingin menghancurkan hidupku lagi?" Ucap Kezia sambil menangis.
Sakit, sangat sakit rasanya saat menyadari bahwa perempuan yang sangat ia cintai menangis karena perbuatan bodohnya. Devano beranjak dari sofanya dan berjongkok di hadapan Kezia. Tangannya dengan lembut mengusap air mata perempuan itu namun dengan kasar Kezia mendorong dirinya menjauh.
"Aku tidak peduli dengan apa yang terjadi padamu selama sepuluh tahun ini Dev! Mereka anak-anak ku, anak-anak yang dulu tidak kau akui. Aku tidak akan membiarkan kamu untuk bisa merawat mereka."
"Apa maksudmu?! Mereka itu anak-anak ku juga, jadi kau mau memisahkan mereka dari ayahnya sendiri?"
Sambil menangis Kezia tertawa mendengar perkataan tidak masuk akal Devano, perempuan itu bertanya-tanya setelah sepuluh tahun mereka berpisah apa urat malu Devano sudah terputus? Bagaimana bisa dia mengatakan Kenzie dan Taylor adalah anaknya setelah ia membuang mereka dulu?
"Kau bilang apa?" Desis Kezia penuh amarah.
Devano terpaku di tempatnya, baru kali ini ia melihat Kezia semarah ini, perempuan polos dan lembut yang selama ini dia kenal ternyata sudah berubah sangat drastis.
"Aku sudah mengandung mereka sendirian selama sembilan bulan, merawat mereka hingga sebesar ini selama sepuluh tahun sendirian, semua itu karena siapa Dev?! KARENA SIAPA?!" Jerit Kezia.
Dari dalam kamar Kenzie dan Taylor yang semulanya tertidur, bangun dan langsung berlari memeluk mommynya. Kenzie menatap daddynya dengan penuh kebencian, dan hal itu sudah pasti membuat hati Devano hancur.
"Awalnya Kenzie tidak percaya kalau daddy Kenzie sudah meninggal seperti kata mommy, Kenzie selalu berharap daddy masih hidup." Ucap Kenzie memberi sedikit kehangatan di hati Devano.
"Tapi melihat mommy yang jadi sehancur ini karena ketemu sama daddy, lebih baik Kenzie menganggap daddy Kenzie sudah meninggal saja, dan hidup bahagia dengan mommy dan Taylor seperti biasanya." Sambung anak itu.
"Uncle James sudah cukup untuk menggantikan sosok ayah di kehidupan kami." Kenzie menatap mata Devano lekat-lekat. Devano sadar kalau anak laki laki di depannya ini akan menjadi lawan terbesarnya untuk membawa Kezia kembali padanya. Kenzie tidak akan membiarkan siapapun mengganggu kebahagiaan Kezia.
"Maafkan aku Key. Aku mohon maafkan aku." Ucap Devano.
Laki laki itu tersungkur sambil menangis. Perasaan bersalah benar-benar menyelimuti hidupnya. Seandainya dulu ia tidak mencampakkan Kezia. Hidupnya pasti akan sangat bahagia saat ini.
"Berdiri." Ujar Kezia sangat dingin.
"Aku tidak perlu memaafkan mu Dev, jika aku melakukannya, sama saja aku mengatakan kalau kelahiran anak-anakku ini adalah sebuah kesalahan." Ucap Kezia, Devano hanya menatapnya tanpa berkedip sedikitpun. Siapa perempuan yang berdiri di depannya saat ini. Kemana perginya Kezia yang selalu memaafkan dan menerimanya bagaimana pun dirinya dulu?
"Kau tidak perlu menyesali keputusan mu sepuluh tahun yang lalu, saat itu kita masih terlalu muda untuk menghadapi perkara seperti ini. Hiduplah dengan tenang Dev, dan jangan hadir di dalam kehidupan kami lagi." Ucap Kezia.
Entah kenapa setelah mengatakan hal yang selama ini selalu ia inginkan, Kezia tidak merasa lega sama sekali, bahkan luka yang bersarang di hatinya terasa lebih menyakitkan dibanding sebelumnya.
Mungkin memang benar, jauh di dalam lubuk hatinya, Kezia masih menginginkan Devano di hidupnya. Tapi dia sendiri pun sadar, Devano dan Kezia adalah dua pribadi yang saling bertentangan, jika ia masih mengenggam erat Devano, ia tidak akan pernah merasakan kebahagiaan.
"Kalau kamu masih peduli dengan kami, tolong lepaskan kami. Mungkin aku akan memikirkan lagi untuk mengizinkan mu berkomunikasi dengan anak-anak." Ucap Kezia.
Devano mengangguk pasrah, laki laki itu dengan lemah memberikan kode pada anak-anak buahnya agar segera mengantar Kezia kembali ke rumah mereka.
"Ah, satu lagi. Tolong jangan ganggu James, dia tidak ada hubungan apa-apa dengan permasalahan kita. Dia orang baik, justru dia yang selalu membantu ku di saat aku tidak memiliki siapa-siapa untuk menolong."
Devano terdiam dan membiarkan Kezia pergi.
Laki laki itu sudah tidak tau lagi harus berbuat apa. Kezia tidak akan mau menerimanya lagi, dan anak-anak nya sendiri pun tidak mau berada di dekatnya, semua ini memang hukuman yang sangat pantas bagi Devano karena sudah mencampakkan mereka dulu.