A Day With You

3857 Words
Kau tak pernah tahu Jika semua orang mengagumi *** Cinta melirik jam dinding di kamarnya. Udah jam makan siang, kayaknya ini waktu yang tepat untuk ganggu Bella, pikirnya. Cinta sengaja menunggu sampai jam makan siang agar acara Bella dan Rama berduaan tidak terganggu. Jadi ada waktu bagi Bella dan Rama untuk saling mengenal lebih dalam, akan menjadi lebih akrab, dan akan saling jatuh cinta. Cinta tertawa geli dengan khayalannya itu. Namun meski begitu ia cukup yakin rencana yang akan dilakukannya bisa membuat hubungan Bella dan Ari jadi tak baik lagi. Ia melakukan panggilan video kepada Ari. Selain ingin mengadukan apa yang sedang dilakukan Bella, Cinta juga ingin melihat wajah Ari. Karena terakhir kali Cinta melakukan video call adalah saat Ari dan Bella bertengkar. Rasanya sudah lama sekali. Ia benar-benar rindu dengan lelaki yang dicintainya itu. "Kenapa Cin?" Ari tampak tidak begitu antusias menerima video call dari Cinta. "Masih belum balik kamu?" Tanya Cinta basa-basi. "Sejam lagi mau ke bandara." "Ooh..." Cinta manggut-manggut, "aku denger dari Bella katanya kalian udah baikan ya?" "Udah." "Terus Bella yang minta maaf?" "Iya. Itu berarti Bella beneran Cinta sama aku kan?" Ari berusaha mengingatkan Cinta bahwa perkataannya yang dulu bilang bahwa Bella tidak mencintainya itu salah. Buktinya Bella duluan yang mengajak baikan. Berarti Bella ingin hubungan mereka jadi baik-baik saja. "Ya... Bella memang anaknya nggak suka terlibat konflik sih. Ya cinta damai gitu lah," ucap Cinta namun nadanya lebih ke mengejek. Ari pun menatapnya dengan wajah tak senang. "Terus Bella itu orangnya nggak bakal macem-macem lagi, tapi kalau nggak ketahuan ya," Cinta melanjutkan perkataannya sambil terkikik. Membuat Ari mengerutkan keningnya karena tak mengerti. "Maksudnya gimana?" Tanya Ari. "Duh, cerita nggak ya? Tapi nanti kalau aku cerita emang ada jaminan aku bakal aman?" "Cinta..." Ari memaksa Cinta untuk membuka mulut. "Whistleblower nya aman nggak nih? Nanti aku cerita, terus kalian berantem nyeret-nyeret aku. Aku kan nggak ada hubungannya sama sekali." "Cinta please ceritain apa yang kamu maksud tadi. Aku nggak bakal bilang ke Bella kalau aku tahu dari kamu." "Beneran? Awas ya kalau nanti Bella jadi nyalahin aku dan benci sama aku." "Aku nggak akan sebut-sebut nama kamu. Jadi tolong kasih tahu aku sekarang maksud kamu apa." "Ya kamu bakal tahu jawabannya kalau kamu hubungin Bella sekarang sih. Video call gitu, lihat dia lagi sama siapa," kata Cinta sambil menyeringai. "Oke thanks," Ari segera mematikan hubungan video call dengan Cinta. Cinta tertawa puas dan bertepuk tangan. Rasanya ia sudah tahu apa yang akan terjadi setelah ini. "Pasti bakalan ada drama lagi. Jadi nggak sabar ketemu mereka besok di kampus. Lihat mereka berantem lagi. Hahaha...." *** Bella membuka helm dan melihat sekeliling saat ia dan Rama berhenti di sebuah taman. Taman yang cukup indah dan asri. Banyak jenis bunga yang bertumbuhan disana. Tak begitu banyak orang yang ada disana, mungkin karena bukan akhir pekan. Bella mengikuti Rama dari belakang saat cowok itu melangkah menuju ke dalam taman. "Bagus nggak?" Tanya Rama. Ia memperlambat jalannya agar Bella bisa menyamakan langkah mereka. "Bagus. Aku baru pertama kali kesini," ucap Bella senang. Ia menengok kanan kiri untuk menikmati bunga-bunga disana. "Duduk di situ yuk!" Rama menunjuk sebuah bangku panjang yang tak jauh dari air mancur. Bella pun mengangguk. "Kok kamu bawa gitar? Nggak mau pinjam gitar pengamen lagi?" Tanya Bella sambil tersenyum geli saat mereka sudah duduk. "Soalnya disini nggak ada pengamen." "Kan nanti ada kalau makan siang." "Gue maunya main gitar sekarang," kata Rama sambil membuka tas gitarnya dan mengeluarkan gitarnya. Bella tertawa meringis, "oke... Oke..." "Tapi sebelum gue nyanyi, kita sarapan dulu," Rama mengeluarkan bungkusan dari dalam tasnya. Dua buah sandwich menyembul dari dalam plastik itu. Rama menyerahkan salah satunya kepada Bella. "Ya ampun Ram, repot-repot," Bella merasa terkesan dengan perlakuan Rama tersebut. Ia pun menerima sandwich itu. Rama mulai memetik gitarnya saat Bella memakan sandwich nya. Permainan gitar Rama membuat Bella terhanyut dengan melodinya yang begitu indah. Walaupun Rama tidak bernyanyi, namun petikan gitarnya terdengar bagai nyanyian yang mendamaikan jiwa. Tanpa Bella sadari, ia hanya terpaku menatap Rama. Seolah bunga-bunga di taman kalah indahnya dibanding sosok di hadapannya. Rama menyudahi permainan gitarnya dan beralih ke sandwich nya. Bella yang tersadar pun juga kembali melahap sandwich nya. Sejenak mereka terperangkap dalam diam yang canggung. "Makasih ya Ram. Sandwich nya enak banget," Bella berusaha membuka kembali percakapan. "Kalau gitu kapan-kapan gue beliin lagi ya." "Hahaha... Nggak perlu lah. Kamu kasih tahu aja tempat belinya dimana. Biar aku yang beli sendiri nanti kalau lagi kepengen." "Nggak papa. Kalau Lo kepengen tinggal kasih tau aja ke gue, biar gue anterin," canda Rama. Bella mengerutkan hidungnya karena tidak tahu harus mengatakan apalagi ke Rama yang selalu saja punya ide untuk menyusahkan dirinya sendiri demi Bella. Hal itu membuat Rama tertawa geli. "Permainan gitar kamu tadi bagus," puji Bella, "kamu sejak kapan main gitar?" "Gue mulai belajar sejak SMP. Awalnya cuma penasaran aja, soalnya kayaknya keren aja kalau bisa main gitar. Eh ternyata malah jadi jatuh cinta." "Wah, keren banget! Susah nggak sih main gitar?" Tanya Bella penasaran. "Coba aja," Rama menyodorkan gitarnya kepada Bella. Bella menerima gitar itu dengan ragu-ragu. "Gimana caranya?" Tanya Bella. Ia berusaha memposisikan gitar menurut instingnya, karena ini kali pertamanya ia menyentuh gitar selama hidupnya. "Ini namanya fret," Rama menunjuk besi melintang yang ada pada fingerboard,"tarok jari telunjuk lo di senar ke dua fret ke satu. Jari tengah Tarok di senar ke empat fret ke dua. Terus yang terakhir jari manis di senar yang ke lima fret ke tiga. Jadilah kunci C." Bella mengikuti arahan Rama, "terus?" "Terus di genjreng deh." Bella mulai menggenjreng senar gitar milik Rama. Namun suara yang dihasilkan terdengar tidak bagus sama sekali. "Aduh ini jari aku malah kabur-kaburan," Bella berusaha meletakkan kembali jari tangan kirinya yang tadi berfungsi untuk memencet senar gitar. "Coba ditekan lebih kuat lagi," saran Rama. Bella pun menuruti Rama. Namun seketika ia merasa jarinya jadi kesakitan. "Aw!" Rintih Bella. "Pelan-pelan aja. Kalau awal-awal memang agak sakit sih. Tapi kalau udah terbiasa nggak bakal sakit lagi kok." Bella masih berusaha untuk memainkan kunci C dari gitar itu. Namun tetap saja ia masih belum bisa menghasilkan suara yang indah. Ia pun memutuskan untuk menyerah. "Kayaknya aku nggak berbakat di bidang musik deh Ram," ucap Bella putus asa. "Ya namanya juga baru sekali coba. Kalau sering latihan juga pasti bisa kok." "Coba kunci yang lain," kata Rama lagi sambil menunjukkan ke Bella senar mana saja yang harus ia tekan. Bella pun hanya menurut saja, namun semakin ia mencoba, semakin yakin ia bahwa ia tidak terlahir untuk bisa mahir memainkan gitar. "Duh hancur deh suaranya," Bella menertawakan dirinya sendiri. "Nggak papa, itu udah lumayan kok. Hebat!" Rama memuji Bella dengan tulus. Namun Bella tetap saja tidak percaya. "Kayaknya kamu aja deh yang main," Bella menyerahkan kembali gitar itu kepada Rama. Rama pun menerima gitar itu dan memangkunya. "Ya udah, gue yang main ya. Mau request lagu apa nih?" "Apa aja deh, asal bukan aku yang nyanyi. Aku nggak bisa nyanyi tahu." "Semua orang bisa nyanyi kok." "Nggak semua orang bisa nyanyi dengan bagus," Bella meralat pernyataan Rama. "Ya namanya manusia, keahliannya kan beda-beda." "Ya udah, kamu aja yang nyanyi ya?" "Ya kan gue tadi cuma nanya mau request lagu apa." "Oh iya ya," Bella menepuk jidatnya, lalu memalingkan wajahnya karena malu. "Tapi kalau mau nyanyi nggak papa, biar gue iringin," Rama menawarkan. "Enggak, nggak usah repot-repot," Bella menunjukkan kedua telapak tangannya untuk menolak sambil menyengir. Rama tertawa meringis. Tanpa memaksa Bella lagi, ia mulai memetik gitarnya dan menyanyikan sebuah lagu dari Ello yang berjudul 'Yang Ku Nanti'. "Semua mata memandangmu, Semua hati memujamu sayangku... Aku hanya salah satu Dari sekian banyak yang inginkanmu... Memang Tuhan adalah pelukis yang agung, Kau diciptakan begitu indah... Kemanakah engkau selama ini? Tahukah kau selalu ada di mimpi? Hanya engkaulah yang aku cari, Tak butuh lagi yang lain hanya dirimu Yang bisa lengkapi hidupku..." Rama melirik Bella. Ia sengaja menyanyikan lagu itu, karena secara tak langsung liriknya menceritakan tentang isi hatinya. Namun ia tak mungkin secara gamblang menyatakan kepada Bella bahwa ia benar-benar bersungguh-sungguh dengan kata-kata di dalam lirik lagu itu. Sebuah tembok yang sangat besar menghalangi mereka. Tembok yang hanya bisa Rama tunggu untuk runtuh dengan sendirinya. "Telah lama ku nantikan, Seorang yang bisa membuatku rindu... Terima kasih ku ucapkan, 'tuk ingatkan rasanya jatuh cinta... Akan ku berikan segalanya untukmu, Karena engkaulah yang terindah... Kemanakah engkau selama ini? Tahukah kau selalu ada di mimpi? Hanya engkaulah yang aku cari, Tak butuh lagi yang lain hanya dirimu Yang bisa lengkapi hidupku..." Rama menyudahi lagunya. Di sampingnya Bella tersenyum dan bertepuk tangan. Sepertinya memang Bella tidak menangkap isi lagu tersebut. "Lagunya bagus. Aku baru pertama kali dengar," komentar Bella. Rama tertawa meringis. Tanpa sadar ia mengelus-elus rambut Bella dengan lembut karena gemas dengan gadis di sampingnya itu. Namun segera ditariknya kembali tangannya saat Bella menatapnya kaget. "Lagu selanjutnya untuk orang-orang yang udah ninggalin kita." Rama memutuskan untuk kembali bernyanyi agar tidak terjadi kecanggungan di antara mereka. Ia menyanyikan lagu Ghost milik Justin Bieber, dimana lagu tersebut sangat berkaitan dengan Rama dan Bella yang sangat merindukan orang yang sangat mereka cintai, yang telah pergi meninggalkan mereka di dunia ini. "Youngblood thinks there's always tomorrow I miss your touch on nights when I'm hollow I know you crossed a bridge that I can't follow Since the love that you left is all that I get I want you to know, that if I can't be close to you I'll settle for the ghost of you I miss you more than life... And if you can't be next to me Your memory is ecstasy I miss you more than life I miss you more than life Youngblood thinks there's always tomorrow I need more time, but time can't be borrowed I leave it all behind if I could follow Since the love that you left is all that I get I want you to know, that if I can't be close to you I'll settle for the ghost of you I miss you more than life, And if you can't be next to me Your memory is ecstasy I miss you more than life I miss you more than life..." Bella menghela napas. Nampak wajahnya kini menjadi sendu. Sepertinya lagu yang dinyanyikan Rama membuat Bella teringat dengan papanya. "Sorry Bel, gue nggak maksud untuk buat Lo sedih," Rama jadi merasa bersalah kepada Bella. "Enggak Ram. Nggak papa," Bella berusaha untuk tersenyum. Ia lalu mengalihkan pandangannya ke depan. Ke arah sekumpulan anak-anak yang sedang bermain kejar-kejaran dengan sangat gembira. "Lihat deh anak-anak itu. Senang ya lihat mereka main kejar-kejaran sambil ketawa-ketawa. Mereka kelihatan bahagia. Nggak ada beban," kata Bella tanpa melepaskan pandangannya dari anak-anak tersebut. Rama pun ikut menatap anak-anak tersebut. "Kita juga bisa kayak mereka." Bella menatap Rama dengan ekspresi bingung. "Ya kita juga bisa ikutan lari-larian, biar keliatan bahagia," jelas Rama. Bella mengerutkan keningnya. Namun Rama tidak lagi berbicara untuk menjelaskan, ia justru menepikan gitarnya lalu berdiri dan mengulurkan tangannya. "Ayo kita lari bareng," ajak Rama. Bella tak menyangka Rama akan mengajaknya untuk berlari seperti anak-anak yang ada di taman. Dengan sedikit ragu, ia menerima uluran tangan Rama. Tanpa disangka, Rama menariknya, sehingga Bella jadi harus terpaksa melangkahkan kakinya dengan cepat. "Ram, pelan-pelan!" Bella mengomeli Rama. Rama tertawa terpingkal karena berhasil mengerjai Bella. Ia melepaskan tangan Bella lalu berlari lebih cepat meninggalkan Bella di belakang. "Awas kamu ya!" Bella pura-pura marah kepada Rama, dan berusaha sekuat tenaga untuk mengejar Rama, walau agak kesulitan karena pakaian yang dikenakannya. Akhirnya mereka menghabiskan waktu untuk bermain kejar-kejaran sambil tertawa. Sraaaaaaz.... Tiba-tiba saja hujan turun dengan derasnya. Rama berhenti mengejar Bella dan berlari mengambil gitarnya di bangku panjang. Namun Bella hanya berdiri terpaku di tengah hujan. Seolah tak bisa menggerakkan badannya. Wajahnya terlihat ketakutan dan tubuhnya menggigil. Hujan, waktu dimana papanya harus pergi dari dunia ini untuk selamanya. Dan lagi hal itu terjadi karena almarhum berusaha untuk menyelamatkan Bella dari perampok yang hendak menyekapnya. Rasanya tiap tetesan hujan membuka luka di hatinya yang masih belum kering sampai sekarang. Rasanya ia ingin menangis saja dan membiarkan air hujan melarutkan air matanya, air mata yang dipenuhi penyesalan. Rama tersadar Bella tidak mengikutinya dan masih berdiri di tengah hujan. Rama pun membuka jaketnya dan menyelempangkan tas gitar di punggungnya. Kemudian ia berlari ke arah Bella dan menutupi kepala Bella dengan jaketnya. "Ayo berteduh," kata Rama. Bella yang tak kunjung bergerak membuat Rama terpaksa menarik tangan Bella, sementara tangan satunya lagi masih memegangi jaketnya untuk menutupi kepala Bella. Rama membawa Bella ke halte yang ada di depan taman untuk berteduh. Sudah ada banyak orang yang berteduh disana, sehingga mereka hanya kebagian tempat di balik tembok paling ujung luar halte, yang untungnya masih tertutup atap halte. Namun tetap saja beberapa percikan air mengenai tubuh Bella dan Rama. "Pake aja jaket gue ya!" Kata Rama sambil menggantungkan jaketnya ke tubuh Bella. Ia lalu mengusap rambutnya yang sedikit basah. Rama yang berdiri di samping Bella melirik Bella yang hanya diam saja. Ternyata Bella sedang memeluk dirinya sendiri yang sedang menggigil. Wajahnya ketakutan dan tertekan. Hal itu membuat Rama heran. "Lo kenapa Bel?" Bella menggeleng, namun tetap saja ia tidak terlihat baik-baik saja. Rama merasa tidak bisa membiarkan Bella seperti itu. Tanpa ragu, Rama berdiri menghadap Bella, dan memutuskan untuk menutupi Bella yang menyender di tembok halte dengan tubuhnya, agar Bella tidak terkena percikan air lagi, sehingga ia tidak akan terlalu merasa kedinginan. Deg! Bella kaget dengan apa yang dilakukan Rama. Tubuh mereka begitu dekat sehingga wajah mereka kini bagai tak berjarak. Bahkan Bella bisa mendengarkan napas yang Rama hembuskan. Rasanya saat itu Bella benar-benar merasa gugup. Jantungnya berdegup sangat kencang. "Kamu nggak perlu begini Ram. Badan kamu basah," kata Bella yang kini memalingkan pandangannya. Ia tak sanggup terus bertatapan dengan Rama. "Nggak papa Bel. Udah nanggung juga," ucap Rama sambil tersenyum, agar Bella tak merasa sungkan. Bella tak tahu bagaimana caranya agar Rama berhenti melindungi tubuhnya. Akhirnya ia hanya bisa membiarkan Rama melingkari tubuhnya. Aroma hujan bercampur dengan aroma parfum dari tubuh Rama menemani Bella untuk menenangkan diri. Bella ada di dalam lindungan tubuh Rama. Entah kenapa dinginnya cuaca berubah menjadi hangat di kala Bella berada sangat dekat dengan Rama saat ini. Ketakutannya seketika menghilang. Ia merasa lebih tenang sekarang. Selama lima belas menit, Rama terus melindungi Bella dari percikan hujan. Dan selama lima belas menit itu pula, Bella berusaha mati-matian menenangkan hatinya yang rasanya seperti ingin meledak. Bella benar-benar merasakan perasaan yang belum pernah ia rasakan kepada seseorang kecuali Rama saat ini. Hujan yang tiba-tiba datang itu juga tiba-tiba menghilang. Bella menghembuskan napas lega karena ia tak perlu lagi menyusahkan Rama, yang sudah rela basah demi melindungi Bella dari percikan air hujan. Dan ia tak perlu salah tingkah lagi karena harus berada sangat dekat dengan Rama. Rasanya tadi otaknya sangat kacau karena harus mengendalikan jantungnya. Ia bertanya-tanya dalam hati kenapa Rama bisa terlihat biasa-biasa saja. "Gimana keadaan Lo Bel? Lo udah ngerasa baik-baik aja?" Tanya Rama yang kini kembali berdiri di samping Bella. "Iya, aku baik-baik aja kok," jawab Bella. "Sebenarnya Lo tadi kenapa?" "Nggak papa kok Ram," Bella berusaha untuk menutupi tentang apa yang sebenarnya terjadi padanya. "Rahasia Lo, nggak boleh dibagi dengan gue? Kalau ada masalah, mendengar dan menolong kan kewajiban seorang teman." Bella menoleh ke arah Rama. Lelaki itu mengangguk sambil tersenyum, menunggu Bella menjelaskan tentang apa yang sebenarnya terjadi padanya. Bella pun menghela napas, lalu mulai berbicara. "Aku juga nggak ngerti Ram." "Ya udah," Rama memutuskan untuk tidak memaksa Bella, "mungkin kapan-kapan kalau Lo udah ngerti, dan butuh tempat untuk cerita, Lo datang aja ke gue. Gue siap kok jadi pendengar terbaik Lo." Bella tersenyum mendengar perkataan Rama itu. Kata-kata itu bagai sebuah janji yang sangat manis yang pernah Bella dapatkan dari seseorang. Bella pun mengangguk pertanda setuju dengan Rama. "Oke, ini kan kita agak-agak basah ya. Gimana kalau kita numpang mengeringkan diri dulu?" Saran Rama kemudian. "Kemana?" "Ada tempat kenalan gue di sekitar sini. Tempatnya nggak jauh dari sini kok. Jalan kaki bentar juga sampai. Masih kuat buat jalan kan?" "Kuat dong!" "Oke, kalau gitu yuk kita kesana." Bella dan Rama berjalan beriringan menuju tempat yang di maksud Rama. Ternyata benar kata Rama, mereka tidak membutuhkan waktu yang lama untuk bisa sampai ke tempat itu. Mata Bella membulat karena senang saat membaca tulisan di plangnya. "Yuk masuk," ajak Rama. Bella mengangguk dengan semangat. Saat baru melangkah mereka disambut oleh beberapa kucing yang berkeliaran di tempat itu, sebuah shelter hewan yang menampung kucing dan anjing. Selain ada yang berkeliaran, kebanyakan ada di dalam kandang. Penjaga tempat itu sekaligus pemiliknya yang kenal dengan Rama langsung datang menghampiri Rama dan menyapanya. "Yo Bro!" Lelaki itu menyalami dan memeluk Rama, "udah lama nggak main kesini?" "Hehehe... Lagi banyak kerjaan. Apa kabar Bang?" Tanya Rama. "Baik. Lo sendiri gimana? Kayaknya kabarnya baik banget. Pasti gara-gara..." Lelaki itu mengarahkan dagunya ke Bella. Membuat Rama tertawa geli. "Apaan sih. Kenalin, ini teman gue namanya Bella," Rama memperkenalkan Bella yang dari tadi hanya diam memperhatikan Rama bereuni dengan temannya. "Oh, masih teman," lelaki itu berkata hampir berbisik. Ia pun mendapatkan pelototan dari Rama. Sementara Bella malah menjadi salah tingkah. "Abe," pemilik shelter mengulurkan tangannya sembari memperkenalkan diri. Bella pun menyambut uluran tangan itu dan bersalaman dengan Abe. "Bella," ucap Bella sambil tersenyum manis. "Ini kalian abis kehujanan? Mbak Sarah! Tolong ambilin handuk dua. Yang baru ya!" Abe berseru kepada karyawannya. "Itu handuknya buat binatang disini, kebetulan ada yang baru dibeli. Lumayan gede kok, bisa dipakai manusia," jelas Abe kemudian. "Tahu aja kita mau minjam handuk," kata Rama sambil tergelak. Tak lama kemudian karyawan Abe datang dengan membawa dua handuk. Bella meminta izin untuk meminjam toilet. Selain ingin mengeringkan badan, ia juga ingin membenahi rambut dan make-up nya yang ia yakini sekarang agak berantakan karena hujan. Sementara Rama tidak mau repot-repot dan memilih mengeringkan tubuhnya dengan handuk di dekat Abe agar ia bisa sekalian berbincang-bincang dengan Abe. "Wah udah balik tuh," Abe menyikut Rama saat Bella sudah kembali dari toilet. Rama membalikkan badannya dan menemukan Bella yang kini sudah rapi kembali. Rasanya ia kembali terpesona seperti saat tadi menjemput Bella di rumahnya. Namun buru-buru dinormalkannya lagi jantungnya, seperti yang ia lakukan di halte tadi. "Mbak Sarah! Ambil lagi nih handuknya!" Abe kembali memanggil karyawannya. Karyawannya pun datang kembali dan mengambil handuk dari Bella dan Rama. "Makasih ya Bang!" Kata Bella kepada Abe. "Iya, santai mah sama gue," balas Abe. "Jadi kalian ini teman satu kerja ya?" Tanya Abe kemudian. "Iya bang," jawab Bella, "kalau Abang sendiri sama Rama kenal darimana?" Tanya Bella balik. "Dulu gue kerja disini Bel," Rama menjawab pertanyaan Bella yang tadi ditujukan kepada Abe. "Oh ya? Aku nggak nyangka kamu suka binatang," kata Bella polos. Hal itu membuat Abe tertawa geli. "Tampang kayak Lo memang nggak cocok kerja disini Ram. Lo itu cocoknya jadi tukang pukul, bukan ngerawat hewan," ucap Abe yang masih tertawa. Padahal yang lebih tidak cocok merawat hewan adalah dirinya sendiri. Lelaki dengan tampang seperti preman, rambut gondrong dan brewokan, serta memiliki tato di sepanjang lengan kanannya. "Nggak ngaca," kata Rama sambil berlalu. Bella yang kebingungan pun memutuskan untuk mengikuti Rama dari belakang setelah sebelumnya memberi isyarat kepada Abe bahwa ia akan pergi mengikuti Rama. "Lo sendiri suka binatang Bel?" Tanya Rama kemudian sambil menyusuri deretan kandang anjing dan kucing. Sesekali ia berhenti untuk melihat lebih lama hewan yang menarik perhatiannya. Begitu pula dengan Bella. "Iya, aku suka binatang. Dulu aku punya kucing, tapi udah mati. Semenjak kuliah belum melihara binatang baru lagi," jelas Bella. Anak kucing yang ada di dalam kandang bertuliskan namanya - Leo - di hadapan Bella tampak sangat aktif. Bella pun menghabiskan waktu cukup lama disana untuk bermain dengan mainan bulu bersama anak kucing berwarna oranye itu. "Kenapa belum pelihara lagi?" "Ya... Karena belum ada kucing yang datang ke rumah aku untuk minta dipelihara," jelas Bella sambil terkekeh. Rama pun ikut tertawa. "Ya udah, Lo adopsi aja kucing yang ada disini," saran Rama. "Pengen sih, tapi aku takut aku nggak bisa ngerawatnya soalnya aku kan hampir seharian di luar rumah. Pagi kuliah, siangnya kerja sampai malam. Mungkin nanti kalau aku udah nggak kerja lagi, aku bakal adopsi." "Ooh... Benar juga," Rama manggut-manggut. Sementara Bella sibuk bermain dengan kucing-kucing, Abe menarik Rama menjauh dari Bella. Setelah dirasa Bella tidak akan bisa mendengar percakapannya dengan Rama, Abe mulai berbicara. "Tunggu apa lagi Bro? Ini tempat yang tepat dan momen yang tepat untuk nyatain perasaan. Buruan tembak dia! Biar gue keluarin semua binatang dari kandangnya biar lebih romantis," ucap Abe bersemangat, meski hampir berbisik. "Gue nggak bisa nembak dia Bang," desah Rama. "Lah, kenapa? Lo bawa dia kesini mau nembak dia kan? Apa perlu binatang-binatangnya gue pakein baju biar tambah lucu? Atau mau suruh anjing gue bawain bunga? Bisa." Rama menepuk jidatnya, "gue bawa dia kesini bukan mau nembak dia. Orang dia udah punya pacar." Abe sejenak terdiam, lalu menatap Rama tak percaya. "Lo bawa cewek orang nge-date?" "Cuma jalan-jalan sebelum berangkat kerja," Rama mengoreksi. "Sama aja! Parah Lo Ram. Kalau gue jadi pacarnya, pasti udah gue gebukin Lo sampai mampus." "Serem amat Bang." "Makanya Lo jangan main-main sama cewek gue." "Lah dia kan bukan cewek Lo Bang." "Oh iya ya." Rama tertawa meringis. "Ini terakhir kalinya gue ajak dia jalan-jalan kok. Abis itu enggak bakal lagi, kecuali bareng-bareng sama teman-teman yang lain, atau kalau dia udah putus," kata Rama kemudian. "Nah, bagus. Semoga dia cepat putus ya." Rama geleng-geleng kepala mendengar harapan Abe. Tapi sebenarnya ia pun memiliki harapan demikian, jika saja ia boleh egois. Apa Bella bahagia dengan Ari? Pikiran itu terus melintas di benak Rama sejak awal ia bertemu dengan Bella di rumah sakit. Karena ia melihat Bella seperti seseorang yang tertekan, bahkan sering tidak tersenyum lepas. Kenapa Bella kelihatan tidak begitu bahagia? Seandainya Bella adalah kekasihnya, Rama berjanji akan membuat perempuan itu merasakan kebahagiaan setiap harinya. Namun lagi-lagi, tak ada yang bisa Rama perbuat selain menunggu dan setia sebagai teman bagi Bella. Rama dan Bella tidak menghabiskan waktu lama di shelter hewan tersebut. Karena masih ada dua tempat lagi yang ingin mereka tuju. Rama berjanji akan mampir lagi ke shelter tersebut dan meninggalkan gitarnya sebagai jaminan untuk memegang kata-katanya. Abe menggendong buldog kesayangannya yang ia beri nama Coco dan menggerakkan tangan anjing itu seperti gerakan mengucapkan selamat tinggal saat Rama dan Bella pergi. Rama dan Bella pun balas melambaikan tangan sambil tersenyum geli. "Bang Abe lucu ya. Baik lagi, mau nampung hewan-hewan yang terlantar," ucap Bella saat ia dan Rama berjalan menuju tempat parkir taman. "Iya. Semoga rejekinya selalu lancar ya biar bisa terus-terusan ngerawat anjing-anjing dan kucing-kucing disana." "Amin!" Kata Bella bersemangat. "Ngomong-ngomong kita mau kemana lagi?" Tanya Bella kemudian. "Ke game center, main arcade game. Mumpung masih pagi, jadi pasti masih sepi. Dan kita bisa main sepuasnya. Disana juga ada mini karaoke, jadi kita bisa karaokean," jelas Rama. "Ram, aku nggak mau nyanyi," protes Bella. "Hahaha... Nggak papa. Kan cuma gue yang denger." "Tetap aja nggak mau. Aku minder tahu, suara kamu bagus banget, suara aku fals. Nggak cocok nyanyi bareng," kata Bella. Ia mempercepat langkahnya menuju sepeda motornya meninggalkan Rama. Rama mengikuti Bella dan berhenti di samping sepeda motor Bella, "kita kan bukan lagi lomba nyanyi. Tapi cuma seru-seruan. Mau ya?" Pinta Rama. "Lihat nanti deh," ucap Bella sambil memakai helmnya. Rama pun tersenyum senang lalu bergegas menuju sepeda motornya sendiri. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD