Ika hanya terdiam dan menikmati sentuhan dari sang Papa, ia menikmati setiap sentuhan yang ia terima dari Papa, "Kamu merasakan kan, jika enak kaya begini tidak berontak kamu akan bisa memperaktekannya sendiri bersama Iza," Ika pun mengigit bibir nya seolah menahan, agar sang batang segera di masukan ke dalam, karena gairah Ika sudah sangat di puncak. "Gelagat mu sudah tak sabar sayang, sebentar aku akan mengajarkan mu perlahan," dengan lembut pria tua itu berbisik di telinga ika, dan ika mengangguk kepolosan nya membuat pria yang ada di hadapannya semakin penuh nafsu untuk segera menuntaskan hasrat nya. Tangan nakal papa kini mulai berada di area pergunungan kembar milik ika, ika langsung memejamkan matanya seolah ingin menikmati sentuhan pria yang bukan muhrim nya, ika pun mende

