#48

940 Words

#48 “Ada apa?” altez semakin mendekat. “Aku merasa kamu nggak ...” aku menggeleng. Kalimat yang berada di pangkal lidah tertelan kembali. Aku takut dan lebih takut kalau dugaanku menjadi nyata. “Milla, apa kamu...” Altez mengedarkan pandangannya pada langit, berdehem, lantas melanjutkan, “Kamu menstruasi?” Aku diam mencerna ekspresi Altez. Dia nggak salah karena nggak paham apa yang berkecamuk dalam hatiku, tapi mengapa dia nggak mencoba memelukku di saat aku menolaknya. Dia harusnya melakukan yang lebih dari sekedar membuntutiku. Akh, menyebalkan! Altez seperti zat adiktif. Dia membuatku ketagihan ingin memilikinya sepenuhnya tanpa ada pengganggu dan batasan di antara kami. “Aku ingin kita pulang ke Jakarta,” kataku lemah. “Kamu bosan di sini?” Altez bertanya penuh kehati-hatian.

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD