#25

1078 Words

#25 Aku terkapar lemas di atas sofa yang tersedia di tengah ruang ganti ExcelFit. Setelah menghabiskan porsi jumbo pancake dan steak ayam, Altez baru membebaskanku dari tatapan curiga. Aku nggak sanggup berlama-lama di sana karena Altez memiliki rencana meeting sekalian brunch. Mendengar kata brunch, aku sontak terkena serangan sakit kepala. Jangan lagi makan, pikirku. Untuk menolak tawaran Altez, aku berkilah harus membeli pesanan pelanggan. Pesanan fiktif, tentu saja. Aku sudah menelan lebih banyak dari kebutuhan kalori dalam sehari. Andai aku beruang kutub, aku bisa menyimpan kaloriku untuk berhibernasi. Perutku membuncit setelah aku paksa menelan semua makanan buatan Altez. Rasanya sungguh buruk bagi lambung, tapi aku nggak ingin memaksa badanku memuntahkan isi dalam perut. "Hai

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD