#32 Ini gila, menegangkan, dan memacu adrenalin, pikirku. Aura menyedot milky tea yang tersisa setengah tanpa melepas tatapannya dari orang di dalam toko pakaian olahraga. Aku menyenggol lengannya. Aura menoleh, memberikan tatapan bertanya, lalu balik menyedot minumannya. “Lo masuk ke sana,” perintahku. “Buat apa?” tanyanya dengan suara melengking. “Apa lagi? cari tahu apa yang dia lakukan.” Aku menggeleng, nggak habis pikir buat apa kami membuang waktu leha-leha di akhir pekan membuntuti pria di dalam sana jika hanya diam. “Nggak mau,” tolak Aura. “Terus apa gunanya kita buang tenaga, waktu, dan uang kalau ujung-ujungnya cuma di sini? Masuk sana, barangkali lo mendapatkan clue,” bisikku penuh desakan. “Cemil, yang ingin kita tahu itu kebenaran Derek pacar lain Altez, bukannya mau

