#62 “Milla.” Bu Mulia menyambutku dengan kedua tangan terentang. Aku menghampirinya dan dia langsung membawaku dalam pelukan yang erat. Sejenak aku merasakan kenyamanan, sesuatu yang aku butuhkan, tapi nggak berani aku pinta dari ibu karena takut ketahuan sedang berbadan dua. “Terima kasih Bu Mulia mau menerima saya bekerja di sini,” kataku setelah Bu Mulia merenggangkan pelukannya. “Saya yang malah senang dapat bantuan kamu. Saya kerepotan mengurus rumah dan suami manja. Dengan adanya kamu, saya yakin saya sangat tertolong. Ayo. Saya antar ke kamar kamu.” Aku mengangguk. Sebenarnya aku yang sangat tertolong. Bayangan melahirkan seorang anak dari pria yang mencampakanku adalah masalah yang harus aku hindari. Namun aku juga sudah memutuskan akan memberikan anak ini kesempatan untuk lahi

