Pov Nana Aku merinding sampai ke ubun-ubun mendengar suara ibu dari dalam peti. Suaranya sangat mengerikan. Belum lagi saat ibu mengatakan ingin minta diwarisi ilmunya. Sungguh di luar nalar. Andaikan ini aku ceritakan pada orang-orang, mungkin tidak akan ada yang percaya dan menganggap aku gila. Mana mungkin seorang yang sudah meninggal bisa bicara, walaupun jasadnya sudah mati. Tapi ini berbeda, aku melihat dan mendengarnya sendiri. Ini tanah Kalimantan, yang di luar nalar bisa saja terjadi di sini. "Yank, lebih baik kita masuk ke kamar!" titah mas Harto, menarik tanganku. Kakak dan adikku hanya bisa mengangguk melihatku ditarik oleh mas Harto. Mereka bahkan tidak ingin melarang atau menahanku. "Untuk malam ini, biar kami yang berjaga. Karena besok kami akan pulang. Kantor sudah b

