Chapter 1 : Ulang Tahun

1618 Words
21 Desember 2016 Tepat pukul 12 dini hari, dimana hari sudah memasuki tanggal 21 Desember. Perempuan dengan paras cantik, mata sipit, dan tubuh berisi itu masih terjaga dari tidurnya. Perempuan itu adalah Naresha Naura fariza, atau yang biasa dipanggil dengan Resha. Dia sengaja tidur larut malam karena hari itu adalah hari ulang tahunnya yang ke 16, dan biasanya tepat pada pergantian hari itu, kakak dan kedua orang tuanya selalu memberikan surprise yang tak terduga, dan ucapan “Selamat Ulang Tahun” dari teman-temannya biasanya juga mengalir dengan deras dan memenuhi notifikasi di ponselnya Tetapi pada malam itu, tepat saat kalender di ponselnya baru saja menunjukkan tanggal 21 Desember, tidak ada surprise ataupun notifikasi ucapan “Selamat Ulang Tahun” dari keluarga dan teman-temannya. “Argrhhh, ini mereka lupa apa gimana sih, kok nggak ada yang kasih ucapan ulang tahun ke aku,” gerutu Resha sambil terus memandangi ponselnya dan berharap ada notifikasi ucapan “Selamat Ulang Tahun” dari teman-temannya. “Biasanya mereka juga pada cepat banget ngucapinnya.” “Ini kak Naya, papah, sama mamah juga kenapa sih, biasanya juga mereka nggak pernah lupa sama ulang tahun aku.” “Biasanya mereka juga selalu kasih surprise walaupun aku lagi tidur dengan larut,” ucapnya dengan nada yang kesal. Saat jam menunjukkan pukul 1 dini hari, Resha bersiap-siap untuk tidur dengan perasaan kesal. Resha tidur dengan sangat lelap, karena aktivitas dia seharian yang sangat padat, ditambah lagi malam itu dia begadang sehingga rasa capek sangat terasa di tubuhnya. Malam berlalu dengan begitu cepat, hingga tak terasa hari sudah menjelang pagi dan Resha masih terlelap dalam tidurnya. Resha terbangun saat suara alarm dari ponselnya yang berbunyi sangat keras dan membuatnya kaget. Dia bergegas untuk mematikan alarm dan melihat jam di ponselnya. “Hah, udah jam setengah enam. Aduh aku kesiangan nih,” ucap Resha dengan suara yang cukup keras. Resha pun bergegas untuk mengambil handuk dan bersiap untuk mandi. Resha mandi dengan sangat terburu-buru. Selesai mandi dia langsung bersiap-siap untuk memakai seragam dan memoleskan make up tipis ke wajah cantiknya itu. Dia bergegas turun menuju ke meja makan, di sana sudah ada Naya, Rosalinda, dan Adrian yang sudah mulai sarapan terlebih dahulu. “Pagi, Sayang,” sapa Rosalinda kepada Resha saat Resha sedang menuruini tangga. “Pagi, Mah,” sahut Resha kepada ibunya, dengan wajah sedikit ditekuk. Di meja makan mereka sengaja tidak membahas tentang ulang tahun Resha, dan tidak mengucapkan ulang tahun kepada Resha. Resha sarapan dengan wajah cemberut, dia hanya mengambil sepotong roti yang diolesi dengan selai cokelat. “Loh, kok cuma sarapan roti, Nak,” tanya ibunya kepada Resha. “Iya, Mah, soalnya aku udah kesiangan,” jawab Resha dengan ketus, sambil mengunyah roti. “Pelan-pelan makannya dong, Sayang,” ucap ibunya kepada Resha. “Iya, Mah.” Resha begegas untuk menghabiskan roti itu, dan berpamitan untuk pergi ke sekolah. “Ya udah aku berangkat dulu, ya, Mah, Pah,” ucapnya sambil bersalaman kepada ayah dan ibunya. Resha berangkat ke sekolah diantar oleh salah satu supir ayahnya, sedangkan Naya berangkat bersama Adrian. Sepanjang jalan, Resha sibuk bermain ponselnya. Dia tidak sedang berbalas pesan dengan teman-temannya, dia hanya sibuk scroll beranda i********: yang sebenarnya tidak ada suatu hal yang menarik. Sesekali dia membuka halaman w******p, yang hanya berisi notifikasi dan pesan dari grup kelasnya. Sejenak dia melamun sambil terus memandangi ponsel yang sepi dari notifikasi teman-temannya. Dia merasa heran kenapa teman-temannya tidak ada yang mengucapkan “Selamat Ulang Tahun” di hari bahagianya itu. Sesampainya di kelas dia langsung menuju bangku, dan menunggu jam pelajaran dimulai. Teman-temannya langsung menghampiri Resha dan mengajaknya untuk mengobrol. Mereka asik mengobrol hingga bel tanda masuk berbunyi. Sepanjang hari itu dilalui Resha dengan perasaan yang sedih, dan mood yang tidak menentu. Setelah semua pelajaran di hari itu selesai dan bel tanda pulang sekolah berbunyi. Resha mengajak Cika, salah satu sahabatnya untuk sekedar bersantai dan melepas penat di café. Mereka pun langsung menuju café, dengan mengendarai angkutan umum. Sesampainya di café mereka langsung memesan makanan dan minuman  kesukaannya masing-masing, sambil bercerita dan bersenda gurau. “Eh, sha kok tumben sih kamu nggak ke sini sama kakak kamu?” tanya Cika kepada Resha. “Enggak ah, aku lagi males banget sama dia,” jawab Resha. “Emangnya kenapa sih? Biasanya juga kalian akur-akur aja,” ucap Cika penasaran. “Dari kemarin itu sikap kak Naya ngeselin banget tau, Cik, semua yang aku lakuin itu selalu salah di mata dia,” jawab Resha dengan perasaan kesal. “Oh, mungkin lagi PMS kali, kan biasanya cewe kalau lagi PMS suka marah-marah nggak jelas, hehe,” ucap Cika meyakinkan. “Ya udah, biar nggak stress mending diminum tuh cokelatnya.” Begitu asiknya mereka mengobrol dan menikmati makanan dan minuman kesukaannya, hingga tak terasa hari sudah menjelang sore, mereka pun bergegas untuk pulang ke rumah masing-masing. Saat Resha sampai di rumah, suasana rumah sangat sepi, hanya ada pak Narjo satpam di rumahnya, dan bi Minah asisten rumah tangga yang sudah lama bekerja di situ. Resha langsung menuju ke kamarnya untuk mandi. Selesai mandi, dia hanya duduk bersantai di kamarnya sambil memainkan ponsel. Saat jam menunjukan pukul 19.00, saat Resha sedang menonton film kesukaannya, tiba-tiba bi Minah mengetuk pintu kamar Resha. “Non,Resha,” panggilnya dari balik pintu kamar Resha. “Iya, Bi, masuk aja,” sahut Resha dari dalam kamarnya dengan nada suara yang sedikti sinis. “Ada apa, Bi?” tanya Resha saat bi Minah sudah memasuki kamarnya. “Itu, Non, di depan ada teman, Non Resha,” ucap bi Minah kepada Resha. “Siapa?” tanya Resha kepada bi Minah. “Bibi, nggak tahu, Non.” “Ya sudah biar aku liat aja keluar,” ucap resha kepada bi Minah. Resha bergegas untuk mencari cardigan dan keluar untuk menemui temannya. Ternyata yang datang ke rumah Resha adalah Dika, orang yang selama ini sedang dekat dengan Resha. “Dika, ngapain sih kamu malem-malem ke sini?” tanya Resha dengan nada yang sinis. “Eh, kenapa sih kok galak banget, Cantik, hehe” ucap Dika dengan suara yang sedikit menggoda. “Nggak papa, lagi males aja,” ucapnya dengan suara yang kesal. “Mending kita jalan-jalan aja yuk, biar nggak marah-marah mulu,” ajak Dika kepada Resha. “Jalan-jalan kemana sih, malas ah,” ucapnya kepada Dika. “Udah, ayo ikut aja, ih,” bujuk Dika kepada Resha. “Nggak mau ih, aku lagi malas keluar,” tolak Resha kepada Dika. “Ayo, lah, tinggal duduk doang susah amat sii,” ucap Dika. “Ya udah, iya deh, bentar, aku ganti baju dulu,” ucapnya dengan muka lesu dan kesal. “Eh, tunggu. Kamu pake baju ini aja, ya,” ucap Dika sambil menyerahkan paper bag kepada Resha. Resha kembali ke kamarnya untuk berganti pakaian dan memakai lipstick. Dia terlihat sangat cantik dengan memakai dress berwarna tosca yang dilengkapi dengan sepatu hells dan tas kecil di tangannya yang semakin menambah keanggunannya. Setelah selesai berganti pakaian dia bergegas untuk menghampiri Dika di teras rumahnya. “Yuk, berangkat,” ajak Resha kepada Dika. “Widiiih, kok cantik banget sih,” goda Dika kepada Resha. “Udah, deh, nggak usah kebanyakan gombal, lagian kamu ngapain sih mau jalan-jalan harus pake dress segala” protes Resha. “Nggak papa, biar kamu makin cantik aja,” jawab Dika. “Udah deh, ayo buruan berangkat,” ajak Resha kepada Dika.  “Iya,iya, galak banget sih.” Mereka berdua bergegas untuk pergi ke salah satu restoran yang ada di Jakarta. Sebenarnya Dika sudah mengetahui tentang rencana surprise ulang tahun yang dilakukan oleh kakak dan kedua orang tua Resha. Dia dan teman-temannya sengaja tidak memberikan ucapan ulang tahun ke Resha karena semua itu sudah diatur dan direncanakan oleh Naya. Dua hari sebelum ulang tahun Resha berlangsung, Naya diam-diam menyuruh teman-teman Resha untuk tidak memberikan ucapan ulang tahun kepada Resha, dan Naya juga menyuruh mereka untuk datang ke acara ulang tahun Resha di salah satu restoran di kota Jakarta. 30 menit kemudian Resha dan Dika sampai di restoran tujuannya. Mereka langsung masuk ke dalam restoran tersebut. Saat pertama kali Resha masuk ke dalam restoran tersebut, restoran sangat sepi hanya ada beberapa pelayan dan kasir. Dan saat Resha melangkah lebih dalam untuk memasuki restoran tersebut tiba-tiba terdengar suara, “HAPPY BIRTHDAY RESHA” sambil menyanyikan lagu happy birthday to you, seketika Resha merasa sangat terkejut. Rosalinda, Adrian, Naya, dan semua teman-temannya tiba-tiba muncul di hadapannya dengan membawa kue ulang tahun dengan lilin berbentuk angka 16. Seketika air mata menetes dari pelupuk mata Resha. Rasa sedih, haru, dan bahagia menyelimuti dirinya. Resha tidak menyangka jika ulang tahunnya yang ke 16 akan dirayakan di restoran mewah bersama dengan semua teman-temannya. “Happy Birthday, Sayang, maaf, ya, udah bikin kamu kesel seharian, hehe” ucap Rosalinda kepada Resha. “Makasih,Mah,” ucap Resha sambil memeluk ibunya. “Happy birthday, anak papah, semoga kebahagiaan selalu menyertai dirimu, Nak,” ucap Adrian kepada Resha. “Amin, terima kasih, Pah,” jawab Resha kepada ayahnya. “Maafin kakak ya, Sha, udah bikin kamu kesel,” ucap Naya sambil memeluk adiknya. “Happy Birthday adik kecil kakak,” ucap Naya dalam pelukannya. “Makasih, Kak,” ucapnya dengan penuh haru. “Reshaaaa, Happy Birthday to you, beautiful girl, maaf ya baru ngucapin,” sahut teman-temannya. “Kalian jahat banget sih, aku kira kalian lupa,” ucapnya dengan nada yang sedikit kesal dan muka cemberut. “Ya, kan kita nggak mau gagalin rencana keluarga kamu, hehe.” Malam itu berlangsung dengan penuh haru dan kebahagiaan, acara malam itu dilanjutkan dengan makan bersama. Kebahagiaan sangat terasa di hati Resha, dia tidak menyangka keluarga dan teman-temannya akan kompak memberikan surprise yang sebelumnya tidak pernah dia bayangkan sama sekali.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD