Hari ini adalah jadwalnya Harith untuk imunisasi, Hazel itu sangat semangat melakukan sesuatu yang berhubungan dengan Harith. Seperti memandikan Harith, menidurkan Harith, menemani Harith main, pokoknya Harith itu harta paling berharga untuk Hazel.
Siapapun boleh meninggalkannya, tapi tidak dengan Harith.
Dengan bersenandung pelan sembari memakaikan Harith baju, senyum tak luntur dari wajah Hazel.
"Utututu, anak ibu udah cakep, udah wangi, pinter banget deh ibu ngurus Harith" ucap Hazel.
Wulan yang sedang menyiapakan tas Harith, hanya bisa tersenyum mendengar itu. Terkadang Wulan merasa bahwa Hazel itu seperti bayi yang punya bayi.
"Bu, kartu imunisasi dedek mana ya?" tanya Wulan.
"Di kamar saya mbak, bentar saya ambil dulu" jawab Hazel. Lalu ia pergi ke kamarnya untuk mengambil kartu.
"Selamat pagi, kak Regha" sapa Hazel ketika melihat Regha sedang ngopi sembari membaca sesuatu di ipadnya.
"Pagi" balas Regha.
Hazel membeku, jantungnya berdebar kencang, jangan bilang dia lebay. Ini adalah kali pertamanya Regha membalas sapaannya. Wajar saja reaksinya seperti itu.
Regha menaikan sebelah alisnya, bingung dia kenapa Hazel menatapnya seperti itu.
"Kenapa?" tanya Regha.
"Oh? Engga, kaget aku" jawab Hazel.
Regha kembali fokus ke ipadnya. Hazel ingin kembali mencoba, apakah Regha akan merespon ucapannya lagi.
"Kak, aku mau bawa Harith imunisasi" ucap Hazel.
“Terus?” tanya Regha tanpa mengalihkan pandangannya dari benda segi empat itu.
Hazel murung kembali, tidak mungkin Regha tiba-tiba berubah. Pikirnya.
“Cuma kasih tahu doang, kok” ucap Hazel.
"Mau aku anter?" tawar Regha.
Hazel benar-benar kaget, mulutnya sampai terbuka. Hazel berjalan cepat menghampiri Regha, lalu ia menaruh telapak tangannya di kening Regha.
"Ck, kenapa sih?" Regha agak sedikit nyesal sudah berbasa-basi.
"Kak Regha beneran mau nganterin?" tanya Hazel.
"Ya, tapi aku gak bisa nunggu. Ada kerjaan" jawab Regha.
Hazel tersenyum, "oke gak apa-apa. Bentar aku siap-siap dulu."
Hazel berlari kecil menuju kamarnya, sungguh pagi ini akan menjadi pagi yang membahagiakan dalam dua tahun pernikahannya.
.
.
Sesampainya di parkiran Rumah Sakit, Hazel buru-buru melepas seatbelt-nya. Tadi diperjalanan, Natha menelpon, memberitahu bahwa ada rapat dadakkan sekitar satu jam lagi. Tadinya Hazel minta diturunkan saja dan lanjut dengan taksi, tapi Regha tidak segila itu untuk menurunkan Hazel dan Harith dipinggir jalan.
Oh iya, Wulan tidak ikut karena Hazel ingin bertiga saja dengan anak dan suaminya. Maklumlah, momen ini belum tentu bisa terulang kedua kalinya.
"Hazel" panggil Regha.
"Loh, kenapa ikut turun kak?" tanya Hazel.
Regha berjalan mendekat, ia merapihkan tali gendongan Harith. Lagi-lagi jantung Hazel berdebar-debar. Dengan jarak sedekat ini, Hazel bisa mencium harum parfume dari Regha.
"Aku temenin, repot gak ada mbak Wulan" ucap Regha.
"Tapi, kan kamu ada rapat" ucap Hazel.
"Ada Natha" ucap Regha.
Lalu sedetik kemudian Hazel lagi-lagi dibuat terdiam, Regha mengambil alih Harith dari gendongannya.
"Jagoan hari ini mau imunisasi, harus berani ya" ucapnya pada Harith.
Mata Hazel berkaca-kaca, hatinya nyeri namun bahagia. Regha tidak pernah mau menggendong Harith sejak lahir sampai sekarang usianya lima bulan. Tanpa sadar air matanya menetes begitu saja, Regha bingung melihat Hazel yang tiba-tiba menangis.
“Kenapa? Ada yang salah?” tanya Regha.
Hazel menggeleng, "kak, ini pertama kalinya kamu gendong dedek" ucap Hazel.
Hati Regha seperti ada yang mencubit, benar. Ini pertama kalinya.
"Ayo, panas di luar" ucap Regha mengalihkan pembicaraan.
Mereka pun masuk, setelah mendaftar mereka dipersilahkan menunggu di depan ruangan anak.
"Hey, Kalula" panggil Hazel saat melihat Kalula juga sedang menunggu.
Yang dipanggil menoleh, sesaat ada raut wajah terkejut, namun ia segera berusaha menyembunyikan keterkejutannya.
"Arya imunisasi juga?" tanya Hazel.
Arya adalah anak terkecil di Panti Asuhan, bocah itu berusia dua tahun.
Kalula mengangguk, "itu suami kamu?"
"Aduh sampai lupa.. Kak, kenalin, ini Kalula. Dia pengurus Panti Asuhan yang Papa jadi donaturnya. Kalula, ini kak Regha. Suami aku" Hazel dengan polos dan bahagia memperkenalkan suaminya.
Tanpa dia tahu bahwa dua manusia itu sudah saling mengenal, bahkan sangat kenal luar dan dalam.
Regha dan Kalula berjabat tangan, melemparkan senyum. Mereka sangat pintar berakting.
"Waktu kita nikah, Kalula lagi di luar kota. Jadi gak hadir" ucap Hazel. Regha hanya mengangguk kecil.
Keluar kota apanya? Hari itu Kalula berada di apartement milik Regha.
"Kalian ngobrol dulu ya, aku mau ke toilet" ucap Hazel.
Setelah Hazel sudah tidak terlihat, Regha dan Kalula saling bertatap dan melempar senyum manis.
"Udah mulai buka hati ya?" tanya Kalula.
"Engga, sayang. Ada sesuatu yang harus aku lalukan, nanti aku ceritain" jawab Regha.
Kalula cemberut, Regha mendekat dan mengelus tangan Kalula.
"Tadinya aku cuma mau anter doang, terus aku lihat kamu tadi di parkiran, makanya aku nemenin dia. Aku mau ketemu kamu, tapi akhir-akhir ini perusahaan lagi sibuk" ucap Regha.
"Aku kangen..." ucap Kalula.
"Aku juga, sayang.. Aku kangen banget sama kamu" ucap Regha sembari mengelus rambut Kalula.
Kalula mengelus pipi Harith, “Harith mirip banget sama kamu.. Ganteng” puji Kalula.
Regha tersenyum tipis, “seandainya anak ini adalah anak kita, aku pasti bahagia banget” ucap Regha.
Kalula mengangguk, “aku harap suatu hari kita bisa punya anak untuk kita sendiri.”
“Pasti” ucap Regha tanpa tahu malu.
"Anak Arya" Suster memanggil.
"Nanti malem ayo ketemu" ucap Kalula.
Regha mengangguk, "oke sayang."
Tak lama kemudian Hazel kembali dari toilet, sudah tidak ada Kalula di sana.
“Lama banget kamu di toilet” ucapnya ketus. Lagi, Hazel hanya bisa tersenyum.
Hazel mengambil alih Harith dari Regha, “maaf kak” ucapnya.
"Aku harus ke kantor sekarang" ucap Regha.
"Iya, hati-hati ya kakak" ucap Hazel.
Regha hanya diam lalu pergi begitu saja, padahal Hazel berharap bahwa Regha akan mencium kening Harith sebelum pergi, Ya… mungkin nanti.
"Itu tadi suaminya ya mbak?"
Hazel menoleh, seorang wanita yang juga membawa balita itu tiba-tiba saja bertanya.
"Iya, mbak" jawab Hazel.
"Hati-hati mbak, jaman sekarang banyak pelakor" ucap wanita itu. Pasalnya wanita itu sedari tadi mendengar percakapan antara Regha dan Kalula.
Hazel hanya tersenyum canggung.
.
.
Sesampainya Regha di kantor, ia langsung diberi kabar buruk. Tender besar yang dia perjuangkan selama beberapa bulan ini terancam batal ia dapatkan. Tentu ini semua karena H&H Corp, siapa yang tidak tergiur untuk bekerja sama dengan perusahaan ternama di Paris itu?
Jika Regha adalah seorang klien, maka ia juga akan memilih H&H Corp untuk mengerjakan proyeknya. Namun ia juga tidak bisa menyerah begitu saja, perusahaannya juga tak kalah bagus dari si saingan.
"Jadi kapan meeting akan dilakukan?" tanya Regha.
"Senin depan, pak Hafian bilang dia jumat ini akan ke Indonesia, jadi hari senin bisa bertemu langsung" jawab Natha.
"Dia akan pulang?" tanya Regha.
Natha mengangguk. "Benar, sepertinya pak Hafian ingin membuka cabang di Indonesia."
"Baiklah, kamu siapkan apa saja yang akan kita bawa untuk meeting nanti, pastikan proposal kita lebih menarik dan mudah dimengerti" ucap Regha.
"Baik, pak."
Meeting pun berakhir, Regha kembali ke ruangannya diikuti oleh Natha. Tentu saja lelaki itu akan menggoda Regha, kedatangan Hafian pasti sedikit banyaknya membuat Regha tidak nyaman.
“Jiaaakkhhh, saingan cinta bentar lagi muncul nih” ucap Natha.
Regha mendengus, “saingan cinta apanya? Emangnya gue cinta sama si Hazel?”
Natha menggeleng, “parah lo.. udah dua tahun masih aja belum cinta.”
“Ya gimana?? Gue udah punya wanita untuk gue cintai” ucap Regha.
Natha kaget, ia menatap Regha. “Bro? Jangan bilang kalau lo dan Kalula masih berhubungan?”
Regha hanya mengedikan bahunya.
“Wah parah.. inget, Reg. Lo udah nikah dan punya anak” ucap Natha.
“Menikah sama Hazel dan punya anak itu bukan keinginan gue, semua itu keinginan Hazel” ucap Regha.
“Jangan jadi pria b******k dan jangan menyesal nanti kalau istri dan anak lo pergi dari hidup lo” ucap Natha.
“Gue memang nunggu itu terjadi” balas Regha.
Wah… Natha tak bisa berkata-kata lagi, pria itu hanya menggeleng dan keluar dari ruangan Regha.
..
Malamnya Regha benar-benar menemui Kalula, mereka sekarang sedang berduaan berbagi kasih dan saling melepas kerinduan. Sudah hampir dua minggu dua sejoli itu tidak bertemu, baik Regha maupun Kalula sama-sama menggila karena merindu.
"Ahh.. Haa.."
Bunyi kotor dari tubuh yang saling bertabrakan memenuhi kamar apartemen, apartemen yang dibeli Regha untuk tempat mereka bertemu memadu kasih.
Setelah dua jam lamanya, mereka menyelesaikan kegiatan berdosa itu. Berdosa karena mereka belum sah di mata hukum maupun agama, berdosa karena mereka tetap berhubungan meski Regha sudah menikah.
Kalula keluar dari kamar mandi hanya memakai bathrobe, ia menghampiri Regha yang sedang bersandar di kepala ranjang sambil merokok. Jika Regha merokok, sudah pasti pria itu memiliki masalah.
"Ada apa?" tanya Kalula, ia menyandarkan kepalanya di d**a Regha.
Regha mematikan rokoknya, lalu ia merangkul Kalula dan mengecup singkat bibir wanita itu.
"Ada masalah kecil di perusahaan, tiba-tiba aja ada orang yang mau ngerebut proyek aku" jawab Regha.
"Hm?? Kok bisa? Kamu tahu orangnya?" tanya Kalula.
"Seseorang yang sangat mencintai Hazel" jawab Regha.
Kalula bangkit, dia menatap bingung pada Regha.
"Ada yang cinta sama dia?" tanya Kalula, namun itu bukan seperti pertanyaan, melainkan ejekkan.
Regha terkekeh, "ada dong. Dulu waktu kuliah, siapa yang engga suka sama Hazel? Semua orang suka dia, tapi yang satu ini tampaknya sangat menyukai Hazel sampai-sampai mau menghancurkan aku."
"Aku kira gak ada yang suka sama dia, karena dia obsesi banget mau nikah sama kamu" ucap Kalula.
Regha diam, pernikahan mereka sebenarnya adalah sebuah perjodohan. Regha tidak bisa menolak karena Hazel menginginkan pernikahan ini, tapi Regha telah berbohong pada Kalula.
Ia mengatakan bahwa Hazel mengancam akan menghancurkan perusahaan ayahnya jika Regha tidak ingin menikahinya. Hal ini tentu saja membuat Kalula membenci Hazel.
"Bener, dia bodoh banget. Bisa-bisanya mau tersiksa hidup dengan aku" ucap Regha.
"Terus, orang ini mau bales dendam karena kamu menikah sama Hazel? Kan bukan kamu yang salah" ucap Kalula.
Regha menghela napas, "mungkin cuma mau melampiaskan amarah."
Kalula kembali bersandar pada Regha, jarinya menggambar pola abstrak di d**a Regha.
"Kapan kamu mau cerai sama Hazel?" tanya Kalula.
Regha diam, sejujurnya tidak terbesit dalam hatinya ingin menceraikan Hazel. Bukan karena perasaan, namun Regha ingin Hazel yang menceraikannya lebih dulu sehingga keluarganya tidak akan menyalahkan dirinya.
"Gak bakalan cerai, aku gak bisa ceraiin dia. Ayah aku bakalan marah besar, Bunda juga bakalan sedih.." jawab Regha.
"Terus aku gimana? Kita mau sampai kapan sembunyi kayak gini? Dia yang ngerebut kamu, kenapa aku yang harus menjadi nomor dua? Aku lebih dulu bersama kamu" ucap Kalula.
"Aku udah janji 'kan? Aku bakalan nikahin kamu" ucap Regha.
"Ya kapan? Aku butuh kepastian" ucap Kalula.
Jujur saja, Regha juga tidak tahu kapan ia bisa menikahi Kalula. Hubungannya sudah diketahui oleh keluarganya, cepat atau lambat Bunda dan Ayahnya pasti memaksa Regha untuk meninggalkan Kalula.
Jalan satu-satunya adalah..
"Kalau kamu hamil, Bunda dan Ayah gak bisa misahin kita" ucap Regha.
Kini Kalula yang terdiam, tidak.. Ia tidak ingin menikah saat dirinya sedang mengandung, bukan ini yang dia mau. Tapi jika memang inilah jalan satu-satunya, Kalula akan menerimanya.
"Berarti mulai sekarang kamu gak perlu pakai pengaman, kamu harus buat aku hamil biar kita bisa menikah" ucap Kalula.
"Terus, kalau kita udah nikah, kamu masih ngurusin panti?" tanya Regha.
"Engga, aku udah ada rencana buat kirim anak-anak ke Panti milik temen mendiang Ibuku" jawab Kalula.
"Oke. Baiknya kita sekarang tidur, besok aku harus kerja" ucap Regha.
.
.
Saat Regha sedang terlelap dengan nyaman bersama kekasihnya, Hazel sedang kerepotan menenangkan Harith yang rewel. Suntikan tadi pagi membuat balita itu demam, sudah satu jam lamanya Harith terus menangis hingga membuat Hazel panik.
"Oke, Ma. Sekarang Ajel harus ngapain? Harith sesenggukan sampe sesak, Ajel takut" ucap Hazel.
Ibu dan anak itu saat ini sedang tersambung panggilan video. Sang Ibu bisa melihat bagaimana putrinya yang begitu panik hingga menangis.
(Ajel, nak.. Jangan nangis. Tenang, oke? Sekarang kamu gendong Harith dengan posisi telungkup.)
Hazel segera melakukan apa yang Mamanya katakan, dengan hati-hati ia membalik tubuh Harith. Tubuhnya bergerak ke kanan dan ke kiri, tak lama kemudian Harith mulai tenang.
Mama tersenyum, wanita paruh baya itu seperti sedang melihat dirinya di masa lalu, saat itu dirinya juga masih muda seperti Hazel, belum berpengalaman merawat anak, namun ia bersyukur ada suami yang selalu mendampinginya.
(Di mana Regha? Kenapa dia gak bantu kamu nenangin Harith?)
"Ah, kak Regha lembur, ada pekerjaan yang harus dia selesaikan, Ma" jawab Hazel.
Tentu saja itu bohong, Hazel bahkan tidak tahu di mana Regha, sedang apa, dan apa yang suaminya itu lakukan. Ini sudah biasa, bahkan sangat biasa. Regha tidak pernah mengabarinya apapun, jika pria itu tidak pulang ya tidak pulang, lagi pula Regha tidak ingin urusannya dicampuri oleh Hazel.
(Kalian baik-baik aja 'kan? Mama sama Papa khawatir sama kamu, Regha masih belum bisa nerima kamu.. Sayang.. Kenapa kamu keras kepala, hm?)
"Ma, kalau kak Regha belum nerima Ajel, gimana bisa ada Harith di antara kami? Kak Regha udah bisa nerima pernikahan kami, cuma masih gengsi aja mau ngakuin" ucap Hazel.
Mama menghela napas, apa Hazel pikir bahwa Mamanya ini tidak tahu? Hazel itu tidak pintar berbohong, tiap kali berbohong Hazel selalu menatap ke segala arah, menghindari bertatap mata dengan lawan bicaranya.
(Coba ulangi, tapi sambil natap mata Mami.)
"Ma, udah ah.. Harith udah bobo, baiknya kita tidur juga. Ajel besok ada meeting sama klien" ucap Hazel.
(Okey, good night princess.)
Hazel tersenyum, ia suka saat tiap kali Papa dan Mamanya memanggil dirinya Princess, rasa-rasanya seperti ia kembali ke masa anak-anak saat ia berusia lima tahun.
"Selamat malam juga, Mamaku sayang" ucap Hazel.
Panggilan video itu berakhir, Hazel membaringkan Harith dengan sangat pelan dan hati-hati, takut bayinya itu bangun dan kembali menangis.
"Siapa yang seneng karena malam ini tidur sama Harith? Ibu dong, hehe" monolog Hazel.
Yah, malam ini dia tidak mau overthinking tentang Regha yang tidak pulang. Biasanya dia akan melamun di kamar memikirkan ketidakpulangan Regha, namun malam ini seluruh perhatian dan pikirannya hanya akan ia berikan pada Harith.