SORENESS 07

1302 Words
“Kamu tuh sebagai yang paling besar di antara adik-adik kamu yang lain harusnya bisa menjaga mereka, perhatiin kemana mereka main!” Bentak Kalula. Laras memandang tidak suka kepada Kalula, sejak awal Laras sudah tahu bahwa Kalula tidak suka dengan mereka. Kalula menjaga panti ini hanya karena amanah yang diberikan mendiang Ibunya dan juga masih membutuhkan uang donatur dari Papa Hazel. “Apa yang Kakak lakukan itu salah, Kakak mesra-mesraan di halaman belakang, Kakak kan tahu kalau adik-adik seneng main di sana. Sekarang Kakak nyalahin aku karena mereka mergokin Kakak lagi ciuman sama pacar Kakak” ucap Laras. Kalula menghembuskan napas, tadi ia hampir terkena serangan jantung karena aksi bercumbunya diketahui oleh anak-anak. Beruntung mereka tidak tahu bahwa lelaki yang b******u dengannya adalah Regha, suami Hazel. “Kamu bawa mereka makan siang, tadi pacarku bawain makanan untuk kalian” ucap Kalula, Laras hanya diam dan mengajak adik-adik untuk makan siang. Kalula kembali ke ruangannya, di sana masih ada Regha yang sedang berkutat dengan laptopnya. Kalula menghampiri Regha dan memeluk pria itu dari samping. Regha terkekeh geli, lalu ia mencium kening Kalula dengan sayang. “Anak-anak jangan dimarahin, yang salah kan kita” ucap Regha. “Iya, aku cuma kaget aja. Untung mereka gak tahu kalau kamu suami Hazel” ucap Kalula. Regha tersenyum tipis, tiba-tiba ia merasa tidak enak. Kalula mendusel manja, ia mengelus d**a bidang Regha. “Kamu udah lama gak ke apartement kita, aku kangen” ucapnya. Regha menghentikan aktivitasnya, ia mengelus rambut Kalula. “Iya, maaf.. aku sibuk banget akhir-akhir ini, setelah kehilangan projek itu aku fokus ngerjain kerjaan yang sebelumnya masih belum beres” jelas Regha. “Beneran itu alasannya? Bukan karena kamu mulai suka sama Hazel?” tanya Kalula. Regha terkekeh, “kok mikirnya sampai sana sih? Ada-ada aja deh kamu tuh” ucap Regha. “Ya habisnya kamu kalau aku ajak ketemu nolak mulu, kamu juga lebih banyak ngabisin waktu di rumah kalian kan?” ucap Kalula. Regha menghela napas, ia tidak tahu apakah ia harus memberitahu Kalula kalau Ayahnya akhir-akhir ini menyuruh seseorang untuk mengintai dirinya. Ia tidak bisa mengabaikan ancaman Ayahnya begitu saja, ia tahu bahwa Ayahnya bisa sangat nekat. “Aku lagi ngurus sesuatu, aku janji bakalan selesain secepatnya supaya kita bisa sering ketemu lagi, oke?” ucap Regha. Kalula mengangguk. . . Sudah seminggu Hazel bekerja daru rumah, itu di karenakan ia terkena demam parah. Sudah dibawa ke rumah sakit namun Hazel tidak mau menginap di sana, sudah seminggu juga ia hanya memandang Harith, ia tidak bisa menyentuh atau mencium Harith karena takut anaknya tertular demamnya. Saat ini ia sedang berbaring di sofa dengan selimut tebal menutupi tubuhnya, ia merasa panas namun juga kedinginan. Panggilan video di laptopnya masih menyala, menampilkan sang Mama yang sedang memasak. (Sayang, kamu udah makan belum buburnya??) “Gak napsu, lidahnya pahitt” rengek Hazel. Mama terkekeh geli, (walaupun pahit, harus tetep dipaksa ya.. nanti kamu gak ada tenaga, gimana mau sembuh??) “Kangen Mama dan Papa.. pulang ke Jakarta dong, aku kangen bangettt” ucap Hazel dengan matanya yang berkaca-kaca. (Iya, Nak.. Mama dan Papa juga kangen sekali sama kamu, sama Harith, nanti kami pulang kalau kerjaan Papa di sini udah agak santai ya??) “Ma, Mama ngomong terus ya.. aku ngantuk denger suara Mama” ucap Hazel. (Ya sudah, Mama ceritain dongeng mau gak?) Hazel mengangguk pelan. (Pada suatu hari, ada sepasang Suami Istri.. mereka menikah sudah lumayan lama namun belum dikasih kepercayaan untuk menimang anak, suatu hari si Istri hamil. Mereka sangat bahagia sampai mengadakan acara untuk menyambut bayi yang baru dua bulan berada dikandungan si Ibu, mereka sangat antusias. Bahkan pasangan itu berbelanja baju bayi, peralatan bayi, dan lain-lain lah. Padahal jenis kelamin si bayi belum terlihat) Hazel tersenyum mendengar cerita Mamanya, matanya semakin berat dan akhirnya ia pun tertidur. (Bayi itu lahir dan tumbuh besar dengan sangat cantik dan sehat, saat kamu di dalam kandungan, Mama dan Papa berjanji akan memberikan apapun untuk kebahagiaan kamu. Papa bahkan berjanji pada dirinya sendiri kalau dia akan menghancurkan orang yang berani menyakiti kamu. Maka dari itu, tolong jangan sakit ya, Sayang..) Mama tersenyum melihat Hazel yang sudah lelap tidurnya, (selamat tidur, Sayang) Panggilan video itu berakhir. Hazel membuka matanya saat telepon mereka berakhir, air matanya mengalir begitu saja. Ia tidak tidur, ia mendengar semua cerita sang Mama. Hati Hazel lebih sensitif karena ia sedang sakit sekarang. Tanpa ia sadari ia menangis seperti anak kecil, Hazel menyembunyikan dirinya dibalik selimut dan menangis dalam diam hingga akhirnya benar-benar tertidur. Dalam tidurnya, Hazel merasakan telapak tangan yang dingin menyentuh dahinya. Rasanya sangat nyaman, Hazel menarik tangan itu lalu ia letakan di pipinya. Pemilik tangan itu hanya bisa menahan napasnya, dia kira Hazel akan bangun rupanya Hazel malah lebih lelap tidurnya. Regha memandangi wajah Hazel yang terlelap, benaknya bertanya-tanya. Kenapa? Kenapa harus dirinya yang dicintai Hazel? Kenapa Hazel bisa sesabar ini menghadapi sifatnya selama ini? Regha bukanlah pria yang jahat, dia hanya tidak menyukai Hazel. “Mas Ian.. maaf..” lirih Hazel. Regha mengerutkan alisnya, Ian? Hafian? Kenapa Hazel ini malah memimpikan Hafian? Regha menarik tangan yang tadi digenggam oleh Hazel, ia menutup kembali seluruh tubuh Hazel dengan selimut. Saat berbalik, ia melihat Wulan berdiri di belakangnya sembari menggendong Harith. Regha berdeham, adegan tadi pasti dilihat oleh Wulan. “Hazel masih tidur” ucap Regha. “Iya, Pak.. saya cuma mau ngelap tubuhnya Bu Hazel” ucap Wulan. “Biar saya saja, kamu jagain Harith aja” ucap Regha. Wulan sempat terkejut sebentar, lalu segera menyerahkan sebuah baskom berisi air dan kain. Lalu Wulan kembali ke kamar bersama Harith. Setelah Wulan pergi, Regha menyesali ucapannya. Ia memandang Hazel yang tertutup selimut lalu menghela napasnya. Regha membawa Hazel ke kamar, tidak mungkin kan mengelap tubuh Hazel di ruang tamu? Ia diam cukup lama, pasalnya ia harus mengganti pakaian Hazel juga kan? Regha mengusap kasar wajahnya, ia duduk di sebelah Hazel, membuka satu persatu kancing piyama istrinya itu. Mulai mengelap tubuh Hazel dengan perlahan, ajaibnya Hazel sama sekali tidak terganggu. Ini membuat Regha yakin bahwa Hazel benar-benar sakit. Dengan telaten ia mengganti piyama baru untuk Hazel, ia teringat bahwa dulu ia juga pernah melakukan hal ini kepada Kalula. “Sial.. hidup gue bener-bener kacau sejak menikah sama Hazel, gue jadi pria yang b******k karena dia” monolog Regha. . . Paginya Hazel terbangun, ia merasa segar setelah beberapa hari ini hanya tidur dan makan. Hazel bersiap karena hari ini ia akan pergi bekerja seperti biasa. Setelah selesai, ia turun ke bawah untuk sarapan, di sana ada Regha yang duduk sembari membaca koran pagi. Hazel duduk, ia menyendok nasi goreng ke piringnya. Regha membantunya mengambil telur goreng yang ada di dekatnya. “Makasih, Kak” ucap Hazel. “Mau kemana?” tanya Regha. Hazel yang sedang mengunyah tersedak mendengar pertanyaan Regha. “Mau ke toko, stok bunga hari ini masuk. Harus dicek” jawab Hazel. Regha melipat koran, menyeruput kopinya, lalu berdiri dan pergi dari ruang makan. Hazel menghela napas. Sebenarnya ada apa dengan Regha? Sikapnya membuat Hazel bingung. “Good morning, Ibuuu” ucap Wulan dengan suara anak kecil, sembari ia melambaikan tangan mungil Harith. Senyum Hazel mengembang lebar, ia merentangkan tangan lalu Wulan memberikan Harith untuk digendong Hazel. “Anak Ibu.. Ibu kangennn” ucap Hazel sembari menciumi pipi Harith. Harith tertawa menampakkan gusinya. “Hari ini ikut Ibu ke toko yuk.. Ibu masih kangen sama Harith” ucap Hazel. “Gak mau istirahat lagi, Bu? Baru juga sembuh” ucap Wulan. “Sebentar aja kok, Mbak. Cuma ngecek bunga-bunga yang masuk aja” ucap Hazel. “Oh ya, Bu.. semalem yang bersihin tubuh Ibu, Pak Regha loh.. tadinya saya yang mau ngelap, tapi Bapak bilang biar dia saja yang bersihin. Terus Bapak juga gendong Ibu ke kamar” Wulan tampak semangat saat menceritakan kejadian semalam. Mendengar itu, tiba-tiba saja Hazel merasa panas. Hatinya merasa senang, tanpa sadar ia tersenyum.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD