BEFORE EVERYTHING–10

2126 Words
“Baunya...” gumam Keano. “Kenapa, Kak?” tanya Cantika. Keano tak menjawab, malah mendongakkan kepalanya ke langit. Beberapa menit sebelumnya, langit di atas Raiden Equestrian Centre masih berwarna biru pucat. Matahari sesekali muncul di sela awan, cukup hangat untuk menemani para peserta menyelesaikan latihan pagi mereka. Namun kini... berubah kelabu. Angin mulai bertiup lebih kencang, membuat dedaunan di sepanjang pagar arena bergoyang tanpa henti. Adnan ikut mendongak. "Bau hujan,” ujarnya, menanggapi pertanyaan Cantika. “Sebentar lagi kayaknya turun.” Beberapa groom mulai mempercepat langkah mereka, membawa kuda kembali ke deretan kandang. Yang lain sibuk membereskan rintangan latihan agar tak terlalu licin jika hujan benar-benar turun. Cantika yang baru saja selesai melepas helm berkudanya menyusul mendongak. "Iya ya..." Belum sempat menyelesaikan kalimatnya... setitik air jatuh mengenai punggung tangannya. Disusul titik kedua. Ketiga. Lalu... Byuuurrr... Suara hujan mengguyur atap-atap seng di sekitar kandang hampir bersamaan. Dalam hitungan detik, rintik tipis berubah menjadi hujan deras. "Masuk! Masuk dulu!" seru salah seorang groom. Para peserta latihan yang masih berada di arena segera berlarian menuju bangunan utama. Sam spontan melepas jaket kulitnya, menaungi kepala Cantika sambil menyesuaikan langkahnya di samping gadis itu. Sementara Keano baru saja menyadari jika ia kalah cepat untuk melakukan hal yang sama. "Ya Allah... nggak pakai aba-aba," ujar Cantika begitu langkah mereka berhenti di bawah kanopi panjang bersama beberapa peserta lain. Keano kembali menoleh ke langit. "Untung latihan kamu selesai duluan." "Iya." Suara hujan semakin rapat. Angin membawa percikan air hingga membasahi ujung sepatu mereka. Di tengah keramaian suara alam itu, ponsel di tas selempang Keano terasa bergetar. Ia mengangkatnya. Dan tak lama, menyimpan ponselnya kembali. “Kenapa, Kak?” tanya Cantika. “Lanjut private coach,” tanggapnya. “Tadi memangnya belum selesai?” “Belum. Kan semalam Coach bilang kalau pagi ada ngajar grup. Terus aku tanya ada kamu nggak, katanya ada. Kubilang jadwalku habis kalian aja. Tapi aku kepingin ikut latihan grup juga. Coach okein.” “Sekarang latihannya di?” “Area indoor.” “Pantes Coach Adnan lari duluan ke dalam.” “Iya, ngecek tempat mungkin.” “I see.” "Aku duluan ya, Ca?" "Hati-hati, Kak." "Minggu depan jangan bolos ya." "Insya Allah,” kekeh Cantika. Keano mengangguk sambil tersenyum. “Kabarin kalau kamu nggak bisa latihan.” “Sip.” Ia lalu menoleh ke Sam. "Gue duluan ya, Sam." "Hati-hati lo lari-larian. Ngeri licin." "Siap!” Keano kembali mengenakan helm berkudanya, lalu berlari kecil menembus hujan menuju gedung arena indoor yang letaknya tak terlalu jauh dari posisi mereka. Sekejap saja, sosoknya menghilang di balik tirai hujan. “Papa mana ya?” gumam Cantika. “Ada Om Papa sama Om Kane tadi.” “Oh iya?” “Hmm. Lagi ngobrol di kafe kayaknya.” Cantika menoleh ke bangunan yang dimaksud Sam. “Kita? Mau nunggu hujan di sini aja?” “Terserah kamu.” “Ish! Ditanya bener malah jawabnya terserah.” “Kalau nanya Om Kane, jawabannya pasti mending main hujan, Ca. Pluviophile you know?” Cantika mendecak. “Om Kane main hujan, bukan main petir.” Sam mendongak. "Masih jauh kok." "Jauh apanya? Itu barusan bunyi." "Belum nyambar kan." "Ih! Amit-amit!" Sam terkekeh. "Kalau kesambar, Ca..." Ia mendadak menegakkan badan, kedua lengannya menekuk kaku di samping tubuh. Rambut depannya sengaja diacak-acak hingga berdiri ke atas. Lalu, dengan suara dibuat cempreng dan bergetar ala tokoh kartun yang baru tersambar petir, ia berseru, "C-Ca... s-s-s-santai.. a-a-aku m-m-masih h-h-hidup..." Tubuhnya ikut berguncang-guncang seperti kesetrum. Cantika melongo singkat. Lalu menyeringai. "Nggak jelas banget Samudera Razan Wisesa! Ada gila-gilanya gue rasa." Sam masih melanjutkan aktingnya. "J-j-jangan d-d-dekat-dekat... n-n-nanti k-k-kamu i-ikut k-k-kesetrum..." Tangannya menunjuk asal-asalan ke udara sambil terus bergetar berlebihan. Beberapa peserta latihan yang ikut berteduh menoleh, sebagian dari mereka terkekeh dan tersenyum. Sam akhirnya tak sanggup mempertahankan wajah seriusnya. Tawa renyahnya pecah. Cantika menggeleng sambil menahan senyum. "Umur lo berapa sih?" "Sweet seventeen wanna be.” “Nggak ada sweet-sweet-nya lo mah, Sam. Nggak usah ngaku-ngaku! Seventeen apaan, kelakuan kayak bocah TK.” “Cute dan imut dong berarti?” “Dih!” Cantika kembali menggeleng. "Padahal kalau mode serius, lo lumayan keren, Sam.” Sam mengerjap centil. “Najis!” ledek Cantika lagi, namun kali ini tak bisa menyembunyikan tawanya. Sam pun ikut tertawa. *** Hujan bukannya mereda. Justru semakin deras. Suara air yang menghantam atap bangunan nyaris menenggelamkan percakapan orang-orang di sekitar mereka. Cantika memeluk kedua lengannya sendiri. "Parah juga hujannya." Sam ikut memandangi halaman yang kini berubah menjadi lautan air. "Iya. Kayaknya bakalan awet juga. Gelap banget soalnya.” Cantika mengangguk. Jarak pandang bahkan tak sampai lima belas meter. Deretan kandang di seberang arena mulai tampak samar. Mobil-mobil di area parkir nyaris tak terlihat. Sam melirik ke arah kafe. Di balik kaca besar, tampak Dirga masih tertawa bersama Zhen dan Kane menyesap kopi. Cantika ikut memperhatikan. "Kayaknya seru. Pisang goreng sama ketannya masih ada nggak ya?" "Ada kali. Yuk ke kafe aja? Di sini mau ngapain juga?” “Iya sih. Lo nggak jadi jemput Ayah Bunda?” Sam menatap jam di pergelangan tangannya. “Acaranya baru mulai malah. Ada A Bumi juga kok. Nanti aku tinggal ngasih tau kalau nggak mungkin turun.” Angin bertiup lebih kencang. “Hmm. Jangan maksa turun, Sam. Papa juga pasti nggak bakal ngajak pulang kalau begini." “Mama Ndien di mana?” tanya Sam lagi. “Kedai soto.” “Aman berarti kan?” “Aman.” “So, kita ke kafe?” “Oke!” sahut Cantika. Ia lalu menghirup aroma tanah basah dan rerumputan di bawah guyuran hujan. "Enak ya wanginya." Sam ikut menghidu. “Yup! Padahal kan kamu nggak suka hujan." "Suka." "Masa?” "Cuma nggak suka terjebak hujan atau kehujanan. Rambutku jadi ancur soalnya, mencuat ke sana ke mari." Sam spontan menatap kepala Cantika. Lalu tergelak renyah. “Tuh kan! Resek! Lo mah seneng banget mocking gue!” “Nggak, Ca. Ini beneran lucu.” “Males!” rajuk Cantika, lalu melangkah duluan menuju kafe. Sam mengikutinya, masih sambil tersenyum geli. Di balik jendela kaca kafe, tampak Dirga masih asyik berbincang. Sesekali terlihat mereka tergelak lepas. "Papa mah kayaknya lupa bawa anak ke sini,” gumam Cantika. “Nggak, Ca,” sahut Sam. “Tuh, lihat aja.” “Itu karena kamu sama aku. Papa Ga tau, kamu pasti aman.” “Kepedean lo!” “Optimis, Ca,” koreksi Sam. Cantika mendecak pelan. “Sama aja!” “Nggak dong. Papa Ga percaya aku, makanya santai aja tau kamu sama aku.” Cantika mendengus keras. “Kalau kepedean, itu berarti percaya diri sendiri tanpa bukti otentik." “Contohnya?” “Abdi kasep.” (Aku ganteng.) “Gue daftarin ke Mama April ya? Kayaknya makin parah gila lo, Sam.” Yang Cantika maksud adalah tantenya yang berprofesi sebagai psikiater. Sam tertawa puas. Mereka mendorong pintu kaca kafe hampir bersamaan. Hawa hangat langsung menyambut, menggantikan udara dingin yang sejak tadi dibawa angin dan hujan. Aroma kopi, mentega, serta pisang goreng yang baru masak memenuhi ruangan. Dan suasananya cukup ramai. "Papa!” Cantika melambaikan tangan ke arah Dirga. Dirga menoleh, tersenyum. “Lama amat baru ke sini?” Cantika menaik-turunkan bahunya. “Latihannya sudah selesai?” tanya Dirga lagi. Sementara Cantika dan Sam bergantian menyalami Zhen dan Kane. “Pas selesai, pas hujan, Pa.” Sam yang menjawab. “Si Keano mana?” “Papa Ga langsung ingat namanya.” “Kalau Papa Ga nggak ingat, antara harus buru-buru ke rumah sakit atau kita syukuran, Sam.” Sam terkekeh. “Tau deh yang punya ingatan superior.” “Makan dulu sana,” ujar Zhen. “Tadi pisang gorengnya habis. Mereka goreng lagi. Gih cepetan pesen,” tambah Kane. “Nanti kehabisan lagi lho.” Sam mengangguk. “Siap, Om.” “Mas, kopinya satu lagi ya,” ujar Kane kepada salah seorang pelayan yang kebetulan lewat. “Siap, Pak.” “Papa ngobrol dulu ya,” ujar Dirga ke Cantika. “Belum bisa juga kita pulang. Kalau Ca bosan, ganggu Sam aja.” Sam yang baru saja hendak melangkah menuju meja kosong langsung menoleh. “Sam lagi.” “Nggak boleh?” “Tunjangan berkurang nggak, Pa?” “Kalau nggak bersedia.” “Ya sudah nggak apa-apa. Sam rela diganggu Ca seumur hidup.” Gelak tawa langsung pecah di meja itu. Cantika ikut terkekeh. Sam mencengir singkat. “Yuk, Ca.” Mereka memilih meja dekat jendela besar yang menghadap langsung ke arena berkuda. Dari sana, lintasan yang tadi ramai kini benar-benar kosong. Hanya terlihat beberapa groom masih mondar-mandir mengenakan jas hujan, memastikan semua perlengkapan sudah tersimpan dengan aman. Cantika menarik kursinya. “Enak banget sih suasana di sini.” “Hmm.” “Kalau nggak hujan malah sayang nggak duduk luar.” “Iya.” Seorang pelayan menghampiri sambil membawa buku menu. “Mau pesan dulu, Kak?” Cantika membuka menu sebentar. Matanya langsung berbinar. “Aku pesan yang biasa aja. Ketan bakar, pisang goreng, sama latte.” “Ada kan pisang gorengnya, Mas?” tanya Sam. “Ada, A.” “Oke. Pesanan yang tadi bikin dua semuanya ya?” “Baik, A.” “Tambah satu lagi, tape goreng.” “Enak itu,” gumam Cantika. Sang pelayan sibuk menginput menu. Mengkonfirmasi sekali lagi. Baru kemudian meninggalkan meja mereka. Tak lama, pesanan mereka pun terhidang. Namun meja tersebut masih terasa terlalu tenang. Mereka sama-sama menikmati pemandangan hujan dari balik kaca. Sesekali terdengar suara petir menggelegar di kejauhan, disusul percikan air yang memukul jendela. Cantika menopang dagunya. “Beneran awet,” ujar Sam. “Hmm.” “Lihat tuh.” Sam menunjuk ke arah area parkir. “Mobil itu kayaknya balik lagi.” Cantika mengikuti arah telunjuknya. Benar. Saat mereka masih berteduh, SUV hitam yang dilihatnya sudah meninggalkan parkiran. Namun kini kembali masuk ke area parkir, mungkin terlalu mengerikan untuk terus mencoba menerobos derasnya hujan. “Serem berarti ya,” ujar Cantika. “Visibilitasnya jelek.” “Iya.” Cantika meniup pelan permukaan lattenya. Lalu menyeruput sedikit. “Hmmm…” “Enak?” “Banget.” Sam ikut mencicipi kopinya. “Seperti biasa. Emang enak.” “Aku selalu pesan coklat hangat atau moccachino kan. Baru ini tau latte-nya enak juga,” timpal Cantika. Sam mengangguk. Cantika kembali menoleh ke jendela, mengamati bulir-bulir hujan sambil menggigit pisang gorengnya. Namun tak lama kemudian, ia mulai merasa bosan. Pandangannya menyapu ke segala arah. Ke arena, ke parkiran, ke meja demi meja. “Papa beneran lupa sama kita,” gumamnya saat mendapati sang ayah terbahak bersama kedua pamannya. Sam ikut melirik. “Kalau gini mah bisa sampai sore kita di sini. Kayaknya pas hujan mulai reda, 404 NF yang lain nyusul.” “Kayaknya.” Sam tak lanjut menanggapi. Pandangan matanya justru menangkap sesuatu di sudut ruangan. Sebuah rak kayu kecil berisi majalah, buku-buku berkuda, dan beberapa kotak permainan yang boleh dipakai pengunjung. Sudut bibirnya perlahan terangkat. Cantika mengernyit. “Kenapa?” “Nggak.” Sam berdiri. “Bentar.” “Mau ke mana?” “Tunggu.” Cantika hanya memperhatikannya berjalan menuju rak tersebut. Beberapa saat kemudian… Sam kembali sambil membawa sebuah kotak berwarna merah, meletakkannya tepat di tengah meja. Cantika membaca tulisan besar di tutupnya. UNO. Ia spontan mendongak. “Serius?” “Gas?” “Gas!” *** Hujan akhirnya berubah menjadi gerimis tipis. Beberapa pengunjung mulai meninggalkan kafe. Di luar, area parkir yang sempat kosong perlahan kembali dipenuhi suara mesin mobil yang dinyalakan. Dirga, Zhen, dan Kane juga masih asik mengobrol. Seolah tak ada habisnya yang bisa dijadikan wacana. Sam kembali mengumpulkan kartu-kartu UNO yang berserakan di meja, mengocoknya kembali. "Ca." "Hmm?" Sam sempat ragu menuturkan isi kepalanya. “Apaan?” desak Cantika. "Kayaknya kamu happy banget ya kenal Keano?" "Hah?" "Maksud aku... dapat teman riding yang ternyata satu sekolah." Cantika terkekeh. "Oh. Iya lah. Happy kok." Sam mengangguk tipis. Tersua hening. Keduanya kini sama-sama menatap kartu yang mereka genggam. Cantika memulai permainan yang sudah berlangsung beberapa babak sebelumnya. "Tapi beda,” gumam Cantika. Sam menatapnya. "Beda?" Cantika mengangguk. "Kalau soal berkuda, enak ngobrol sama Kak Keano. Nyambung banget. Dia ngerti. Sama kayak ngobrol bareng Bang Arga.” Sam tersenyum simpul. "Tapi..." Cantika menaik-turunkan bahu. "Kalau main UNO, nongkrong, ngelukis, jalan dengan tujuan nggak jelas, random nonton bioskop, atau cuma iseng gangguin orang... tetep lebih enak sama lo." Sam mengerjap. “Kayak yang gue bilang tadi, Sam... lo ada gila-gilanya.” Sam terkekeh. Cantika pun demikian. “Nggak bosenlah gue.” “Gila itu pujian ya?” timpal Sam. Cantika tertawa. "Meski sering juga bikin kesel sih." Sam kembali diam. Cantika melanjutkan tanpa beban sedikit pun. "Lagian... kalau sama lo, gue nggak perlu jaim. Lo udah tau semua jeleknya gue dari kecil." Sam tak menjawab. Hanya memandang Cantika lekat. Lalu sudut bibirnya perlahan terangkat. "Oh." Cuma itu. Satu kata. Namun entah kenapa... dadanya yang sejak pagi terasa sedikit sesak kini mendadak jauh lebih ringan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD