Dengan langkah sedikit gemetar dan hati ragu, kubaurkan diriku pada tamu yang sedang duduk di depan sementara sebagian lain sedang bercengkerama sambil menikmati minuman di dekat meja prasmanan. "Selamat sore," sapaku dengan telapak tangan yang sudah panas dingin karena gugup. Semua orang memandang ke arahku menatap dengan tatapan sejuta tanya dan selidik dari atas ke bawah. Mungkin saking merasa terkejut karena pertama kali jumpa, mereka sampai tidak menjawab salam atau memberikan senyuman, hanya terdiam sambil terus menatap saja. Aku tahu, mereka saat ini melihatku sebagai pembantu bukan sebagai istri Mas Hamdan. Seumur hidup baru kali aku diajak suami membaur pada pesta teman kerjanya, dulu, suami sebelumnya--Mas imam--tak pernah mengajakku ke acara seperti ini, dia menjauhkan

