Bis yang akan kami tumpangi mulai menyalakan mesinnya, melihat isyarat kondektur aku dan kedua anakku bersiap naik dan berangkat. "Ayo, Nak, kita pergi," ucapku sambil menggandeng anak bungsuku. "Bund, aku merasa sedih," ucap Vito dengan wajah yag sudah menggambarkan segalanya. "Sedih kenapa?" "Ga tahu kenapa, hanya saja merasa rindu pada ayah," ucapnya. "Itu hanya perasaan sesaat karena kita akan meninggalkan tempat ini," ucapku sambil menepuk bahunya. Anakku terlihat duduk kembali sambil menekan sudut mata dengan kedua jari. Aku paham perasaannya, terlebih ia pernah jadi anak bungsu tersayang, primadona keluarga kami. Dia yang paling dekat dan manja pada Mas Imam, jadi aku mengerti jika sesekali ia merindukan ayahnya. Sekali lagi panggilan kondektur meminta kaki untuk naik ke ata

