Seiring dengan permintaan ibu yang ingin aku menghabiskan waktu dengan kursus dan mengelola ketrampilan akhirnya diri ini mengambil kelas menjahit dan sulam, tiap sore jam tiga aku ke tempat workshop dan kembali dua jam setelahnya. Seperti biasa kulakoni tugas sebagai ibu rumah tangga dan menantu dengan baik. Tetap memasak dan memperhatikan anggota keluarga dengan penuh kasih sayang. "Bagaimana keterampilan menyulammu saat ini?" tanya Ibu ketika aku tengah duduk di meja makan dengannya. "Alhamdulillah, ibu ingin lihat taplak yang saya buat?" "Boleh," ujarnya tersenyum. "Ini dia," balasku sambil mengeluarkan taplak meja kecil dari dalam tas alat sulam. "Rupanya kau berbakat. Ibu bangga padamu," balasnya mengelus bahuku pelan. Aku begitu haru diperlakukan penuh kasih seperti itu. "I

