Malam harinya sekitar pukul setengah sepuluh, setelah kupastikan anak-anak makan dengan baik lalu mengantar mereka ke kamar tidur. Aku kemudian beralih ke pintu depan untuk menguncinya. Namun, baru saja aku anak mengunci pintu juga tubuh seseorang itu lalu mendorongnya dengan keras, sesosok tubuh mencekal tanganku dengan keras, rambutku yang panjang sepunggung terurai menutupi wajah karena tertiup angin kencang oleh sebab sebentar lagi akan hujan. Kebetulan karena aku tidak menyalakan lampu utama, hanya lampu remang-remang di pinggir dinding dinding, membuatku sulit memindai siapa yang datang. "Lepaskan aku!" Aku mengenali aroma parfum yang akulah sendiri memilihkan yang untuknya. "Kenapa lepaskan, kau masih istriku!" "Putusan pengadilan sudah usai," ucapku. Tiba-tiba dia mengunci

