“Selamat pagi Pak Arkan,” sapa Iren seperti biasanya. “Kok saya lihat-lihat t beberapa hari ini wajahnya cerah terus senyumnya lebar banget, sih, Pak?” tanya Irish penasaran. “Emang iya?” tanya Arkan yang tak merasakannya. “Iya, Pak. Matahari aja sampai kalah sama silaunya senyumannya Pak Arkan. Lagi jatuh cinta ya, Pak? Hehehe,” goda Irish sambil membuatkan teh untuk Bosnya setiap pagi hari. Arkan yang tak percaya, berjalan menuju cermin yang ada di ruangannya. Pria itu melihat pantulan wajahnya, memang benar saat ini ia sedang tersenyum walau kecil. Arkan mengerutkan dahinya, entah apa penyebabnya namun seketika ia mengingat kejadian pagi tadi saat di depan apartemen. “Tuh, tuh, tuh... senyuman Pak Arkan makin lebar. Fiks ini jatuh cinta,” kata Irish meletakan cangkir teh diatas mej

