HARI berlalu dengan cepat. Hari yang ditunggu-tunggu oleh para orang tua juga JK dan hari yang paling dihindari oleh Rosé pun tiba. Hari ini adalah hari pernikahan Rosé dan JK. Pernikahan Rosé dan JK dilaksanakan disebuah hotel bintang 5 dikota mereka.
“Hai anak Mami.” panggil Lisa saat masuk ke dalam ruangan Rosé.
Rosé diam gak ngegubris Lisa. “Kenapa anak Mami?” Tanya Lisa lagi.
“Lis diam deh, otak gua lagi sumpek ini.”
“Kenapa lo?” tanya Lisa serius.
“Menurut lo?”
“Masih masalah yang sama? Ini kan udah bukan pilihan Mama lagi Rosé. Tapi ini udah jadi pilihan lo sekarang.”
“Kok?” Ucap Rosé tidak terima.
“Lo udah kabur kan? Udah di tanya juga manya lo gimana dan jawaban lo adalah milih buat dilanjutin. Bener kan gua?”
“Iya sih, tapi kan--”
“Masih belum bisa nerima?”
“Iya.”
“Lo coba lah, ini pilihan lo kan.”
“Kalau lo gak ngasih solusi bagus lo keluar deh!” Kesal Rosé.
“Dih. Kayak testpack lo.”
Rosé mengenyit bingung sambil menatap Lisa.
“Sensitif!” ujar Lisa.
“Krik.. Krik.. Krik..” Ujar Rosé mengikuti suara jangkrik.
“Sialan lo Rosé.”
Rosé tertawa renyah. “Tapi gua penasaran deh kenapa lo milih buat lanjut? Gunanya lo kabur apa, kalau akhirnya milih buat nikah sama J? Lo cuman mau cari sensasi?” tanya Lisa membuat Rosé terdiam.
“Dijawab woy.” ucap Lisa.
“Gua ngerasa bersalah aja sama Mama karna kabur.”
“Gak yakin gua karna itu.”
“Emang itu Lisa.”
“Gak usah bohong sama gua Rosé. Gua kenal lo dari zaman orok. Jadi lo gak bisa bohong sama gua.”
“Di kapal ke Jeju gua bilang sama diri gua sendiri. Kalau kali ini J berhasil nemuin gua dan kalau dia sendiri yang dateng buat ngejemput gua pulang. Gua janji gua akan nikah sama dia.”
Lisa melihat Rosé mencari apakah ada kebohongan disana. “Jangan bilang lo?”
“’Enggak. Semua yang ada cuman rasa benci gua sama dia. Gua benci sama dia. Gua--” ucap Rosé sambil menangis.
“Rosé.” Lisa langsung meluk Rosé begitu melihat Rosé menangis.
“Gua masih sebenci itu sama dia, gua masih gak bisa nerima dia.”
“Coba terima ya. Sekarang berhenti nangisnya, nanti make up lo luntur.”
“Biarin.”
“Biar gak jadi nikah?”
“Iya.”
“Gua rasa J gak masalah kalau calon Istrinya jelek.”
“Gua yang masalah punya calon Suami kayak dia!” ucap Rosé tak mau kalah.
Lisa hanya bisa geleng kepala ngeliat Rosé . “Udah ahh gua mau keluar.”
“Ngapain?”
“Nyari Jimmy.”
“Kalian?”
“Gak kayak yang lo fikir. Kami cuman dekat aja!”
“Gua gak percaya.”
“Bye!” Pamit Lisa sambil berlalu pergi.
Setelah Lisa keluar, Mama dan Papa Rosé masuk.
“Hai anak cantik.” sapa Papa Rosé.
“Hai Papa ganteng.”
“Kok matanya kayak habis nangis?”
“Lisa tuh Pa, bikin Rosé nangis.”
“Emang anak Papa aja yang cengeng gak?”
“Mana ada Rosé cengeng.”
“Sini sini peluk Papa dulu.”
Rosé langsung memeluk Papanya. “Apa Papa batalin aja pernikahan Rosé?”
“Gak usah aneh-aneh Pa.” tegur Mama Rose.
“Ihh Mama ganggu deh.”
“Rosé!” Tegur Mama Rosé.
“Batalin aja pa. Nanti Rosé tinggal sama Papa aja sampai kapan-kapan.” ujar Rosé asal.
“Beneran ya.”
“Iya Papa.”
“Kita batalin aja nih?” tanya Papa Rosé lagi.
“Iya Pa.”
Mama menghela nafas. “Anak sama Papa sama aja. Buruan siap-siap Rosé, acaranya udah mau mulai.” ujar Mama Rosé.
“Udah siap Ma.”
“Hati Rosé yang belum siap, dan gak akan pernah siap mungkin.” batin Rosé.
“Yaudah Mama keluar ya, jangan ada yang berpikiran buat kabur. Dengar Pa?” peringat Mama Rosé.
“Iya Ma.” jawab Papa Rosé.
“Rosé?”
“Iya Mama bawel.”
Waktupun terus bergerak tanpa henti, sudah 10 menit berlalu dan sudah saatnya prosesi pernikahan JK dan Rosé dimulai.
“Udah siap Rosé?”
“Belum Pa.”
“Udah waktunya sayang.”
“Rosé takut Pa. Batalin aja boleh gak Pa?
“Gak bisa lah sayang.”
“Udah ayok.”
Rosé akhirnya keluar dengan digandeng Papanya menuju Altar dimana JK sudah menunggunya. Setelah mengantar Rosé pada JK, Papa Rosé duduk di sebelah Istrinya. Kini Rosé dan JK sudah saling berhadapan.
“Matanya gak bisa biasa aja apa ya ngeliatnya?” batin Rosé saat melihat JK yang menatapnya intens.
“Mulai hari ini lo punya gua Anne dan gua gak akan ngebiarin lo pergi jauh dari gua lagi.” Ucap JK dalam hati sambil manatap Rosé dalam.
Keduanya pun mengucap janji pernikahan di depan semua undangan yang hadir. Setelah mengucap janji pernikahan Rosé dan JK menyapa para tamu, setelah menyapa beberapa tamu Rosé ngeluh lapar, sehingga mau gak mau JK harus nemenin Istrinya itu makan.
“Jangan makan banyak lo!” ujar JK namun Rosé gak menggubris ucapan JK dan terus menyantap makanannya. “Nanti baju lo gak muat Anne.”
“Apa urusan lo?”
“Gua Suami lo!”
“Status doang kan?”
“Mulai besok mulut lo gua yang ngasih makan. Jadi mulai besok lo siap-siap buat gua atur!”
“Lo pikir gua mau? Gua mau minta makan sama Papa aja.”
“Buruan makan lo!” kesal JK, menurutnya berdebat dengan Rosé bukan pilihan yang tepat saat ini.
“Cie rosé, udah nikah.” teriak Lisa dari kejauhan.
“Bukan teman gua.” batin Rosé sambil mengalihkan matanya dari Lisa.
“Temen lo tuh.” ujar JK sambil menunjuk Lisa.
“Bukan teman gua.”
“Temen sendiri gak di akui.”
“Bodo.”
“Waktu lo kabur dia nangis mulu.”
“Tau.” ujar Rosé santai.
JK naikin alisnya seakan bertanya dari mana Rosé mengetahui hal itu. “Mana bisa dia jauh dari gua. Waktu gua di New Zealand dia selalu nyamperin gua tiap bulan.” sambung Rosé membuat JK menatap Rosé serius.
“Cie nikah!” teriak Lisa lagi saat berada di depan Rosé.
“Gak usah bikin malu Lis.” ucap Rosé sambil menatap Lisa sinis.
“Ihh Rosé jahat deh. Heh J! Awas aja lo nyakitin temen gua lagi.” tegas Lisa.
“Suara lo Lisa, gak perlu semua dengar kan.”
“Hehe. Denger kan lo?!” ucap Lisa lagi tanpa perduli dengan teguran Rosé.
JK bergumam.
“Jawab yang bener J!”
“Iya Lisa. Puas lo?” jawab JK menahan kesal.
“Awas aja lo nyakitin dia. Gua gak akan tinggal diam kayak dulu.”
JK hanya diam.
“Jimmy mana Lis?”
“Ngapain lo nanya Jimmy?” tanya JK samil menatap Rosé.
“Nah iya, gua juga mau nanya gitu.” ujar Lisa ikut-ikutan.
“’Mana dia nya? Katanya lo lagi deket sama dia. Kok gak lo tempelin kayak perangko?” ujar Rosé tanpa menggubris pertanyaan JK dan Lisa sebelumnya.
“Rosé!” teriak Lisa.
“Kenapa?”
“Gak usah bikin gua malu.”
“Lo malu sama siapa?” tanya Rosé sambil mengernyitkan dahinya.
Lisa nunjuk JK. “Aelah Lis lo malu sama dia? Dia bukan orang jadi gak usah malu.”
“Mulut Anne.”
“Mulut mulut gu---”
“Punya gua sekarang!” potong JK.
“Kata siapa?”
“Cie J, ngakuin Rosé hak miliknya!” Teriak Lisa.
“Heeh!” tegur Rosé.
“Maaf maaf, habis gua senang.”
“Lo senang, gua menderita.”
“Sabar ya. Setidaknya dia kaya, bisa ngehidupin hidup hedon lo. Jadi gua gak perlu ngerampok brankas bokap gua.”
“Stres gua punya temen kayak lo.” ujar Rosé lalu beranjak dari tempatnya.
“Mau kemana lo?”
“Tenang aja lo, gak bakal kabur gua.”
“Temen lo itu.” ujar JK sambil menunjuk Rosé.
“Sorry bukan temen gua itu.” ujar Lisa asal.
“Sama aja gila dua-duanya.” ujar JK pelan lalu berlalu pergi tanpa menghiraukan Lisa.
“Lo bilang apa barusan J?!”
“Woi J! Berhenti gak lo! JK!”
♥♥♥♥♥
Serangkaian prosesi pernikahan keduanya sudah selesai dilaksanakan. Malam nya mereka masih berada di hotel yang sama. Malam ini keduanya dan juga para orang tua menginap di hotel tersebut.
“Huaaa gua capek..” ujar Rosé sambil membaringkan tubuhnya ditempat tidur.
“Mandi lo sana.” ujar JK.
Rosé langsung duduk seketika. “Ngapain lo di sini?” tanya Rosé sambil menunjuk JK.
JK mengangkat alisnya, “Gak salah tanya lo?”
“Wait, wait, wait. Jangan bilang gua sekamar sama lo malam ini?”
“Menurut lo?”
“Oh my god! No! Gua gak mau!” tolak Rosé cepat.
“Perduli apa gua?” Tanya JK sambil membuka tuxedonya. “Eit tunggu tunggu. Ngapain lo buka baju?!”
“Mau mandi. Kenapa? Lo ma--”
“Gak lah! Gua gak gila! Gua masih waras!” teriak Rosé menolak.
“Halah! Du--”
“APA?!”
JK tersenyum miring, “Gak.”
Rosé menatap tajam kearah JK.
“Gak ada! Awas gua mau tiduran.” ujar JK meyakinkan.
“Jangan tidur di sini.”
“Jadi dimana?!”
“Tuh.” ucap Rosé sambil nunjuk sofa yang tidak cukup panjang.
“Gila ya lo?”
“Kalau gak dikamar lain.” ucap Rosé asal.
JK ngeliat Rosé sinis. “Oke? Deal?” ucap Rosé tersenyum tak berdosa.
JK pergi kekamar mandi. Rosé hanya menghela nafas lalu berjalan menuju balkon.
“Sampai kapan gua harus gini? Kalau nanti gua cerai sama J, Mama marah gak ya?” batin Rosé.
Tiga puluh menit berlalu, JK keluar dari kamar mandi dengan menggunakan bathrobe. “Kemana lagi tuh bocah? Jangan bilang-..” Ucapan JK terpotong saat JK melihat jika pintu balkon terbuka, lalu berjalan menuju balkon. Lalu menghela nafas lega setelah melihat Rosé yang sedang berdiri menatap langit malam di balkon.
“Buat dapetin lo aja susah Anne, apalagi buat pertahanin lo. Gua harus gimana buat terus pertahanin lo?” tanya JK dalam hati sambil menatap punggu Rosé.
“Ngapain lo disitu?!” sambar JK tiba-tiba.
“JK!” Teriak Rosé sambil memegang dadanya dengan tangan kanannya, lebih tepatnya merasakan detak jantungnya kencang akibat kaget.
“Kenapa?” tanya JK tak berdosa.
“Lo mau bunuh gua ya?” tanya Rosé sambil membalikkan badannya menghadap JK.
“Lo punya asuransi kematian berapa miliyar buat jadi dasar gua bunuh lo?” tanya JK membuat Rosé menatapnya tajam. “Berapa miliyar?”
“Diam lo!!” kesal Rosé.
JK berdecak melihat kekesalan Rosé.
“Ngapain lo keluar gak pake baju? Mau pamer?!” tanya Rosé
“Gua pake bathrobe Anne. Lagian buat apa pamer sama lo.”
“Pake baju lo sana.”
JK melihat Rosé dengan tatapan genit. “ Kenapa takut tergoda lo?”
“Yakali enggak lah! Gua gak gila, gua normal!” tolak Rosé.
“Karna lo normal makanya lo takut tergoda sama gua Anne.”
“Berisik lo! Mending lo pake baju sana!”
“Gua gak mau, gimana dong?” tantang JK.
“Buruan J!”
“Gak mau.”
“J!”
“Iya iya.” ujar JK mengalah dan masuk kedalam buat ganti baju.
Tak lama Rosé nyusul masuk kedalam. JK sedang berbaring ditempat tidur sambil menutup matanya dengan lengannya. “Awa--”
“Gak usah komplain, bentar lagi gua kesebelah. Gua gak tidur di sini, tenang aja lo. Tempat tidurnya utuh buat lo.” ujar JK memotong ucapan Rosé.
Benar saja tak lama ponsel JK berdering. Tanpa melihat siapa yang menghubunginya, JK langsung berdiri dan menatap Rosé yang juga sedang menatapnya.
“Pasti berani lah lo tidur sendiri, pas kabur kan lo sendiri. Gua di sebelah, kalau ada apa-apa telpon aja.”
Rosé diam tidak menjawab.
“Di jawab Anne!”
“Bagus gua nelpon Papa dari pada nelpon lo.” ucap Rosé santai sambil menutup badannya dengan selimut.
“Kayaknya jalan gua gak akan mulus kedepannya.” batin JK sambil menghela nafas berat sebelum akhirnya pergi keluar dari kamar.
Setelah pintu tertutup, Rosé membuka selimutnya dan menatap langit-langit kamar hotel itu. “Jangan bilang lo sama Irene di sebelah J?” tanya Rosé sambil melihat pintu.
“Kalau iya pun bukan urusan lo Rosé.” ucap Rosé lagi sambil menutup lagi badannya dengan selimut, dan berteriak didalam selimutnya.
♥♥♥♥♥
Keesokan harinya, Rosé masih berada didunia mimpinya yang tenang. Namun suara bel mengganggu ketenangannya.
“Siapa sih pagi-pagi!” kesal Rosé sambil melihat pintu dengan tatapan tajamnya.
Ting. Tong. Bel itu berbunyi lagi, mau tidak mau Rosé berusaha berdiri dari tempat tidurnya.
“Iya iya bentar.” teriak Rosé sambil berjalan kearah pintu dengan mata yang masih tertutup dan rambut yang berantakan.
“Astaga Rosé! Kamu belum bangun?!” ucap Mama Rosé saat Rosé membuka pintu kamarnya.
Badan Rosé langsung terperanjat kaget mendengar teriakan Mamanya yang sangat nyaring. “Ma-Mama. Mama ngapain kesini Ma?”
“Kamu baru bangun?” ujar Mama mengulang pertanyaannya.
“Hehe iya Ma.”
“Jungkook mana?”
“Mati gua, gua jawab apa?Masa iya gua bilang sama Mama kalau J tidur di sebelah.” batin Rosé
“Nge-gym Ma, iya nge-gym.” alibi Rosé.
“Haa?”
“Dilantai paling atas yang sebelum rooftop Ma. Kan ada tuh ruang gym, tadi Jungkook bangun duluan buat nge-gym.”
“Gak bohong?”
“Enggak Mama.”
“Yaudah, kamu mandi sana.”
“Nanti kalau Jungkook udah balik kalian turun sarapan.”
“I-iya Ma.”
Rosé menutup pintu kamarnya begitu Mamanya pergi. “Hp gua mana hp?” ucap Rosé yang kalang kabut mencari hp nya.
“Aaarrgg. Gua letak dimana tadi malam? Oh my god!” ucap Rosé sambil mencari hp nya keseluruh penjuru kamar. Rosé langsung menghubungi JK begitu hp nya dapat, tapi Rosé tak mendapatkan jawaban dari JK.
“Pake gak diangkat lagi! Ini orang ngapain coba? Tidur apa mati?”omel Rosé sambil terus menghubungi JK yang hasilnya masih sama.
“Apa samperin aja kesebelah? Gak apa-apa kan? Gak apa-apa Rosé, ini emergency.”
Rosé keluar dengan mengendap-endap karna takut ketahuan oleh Mamanya. Tangan Rosé langsung memencet kamar JK berkali-kali dan tak lupa sambil ngedumel pastinya.
“Mana sih nih orang, lama banget. Gak tau lagi emergency apa?! Mati beneran apa ya dia?”
Rosé masih terus memencet bel kamar JK sampai akhirnya. Betapa kaget nya Rosé melihat siapa yang ngebuka pintu, yang tak lain adalah Irene.
“Ngapain lo?!” tanya Irene dingin.
“JK mana?”
“Ngapain lo nyari cowok gua?”
“Masalahnya cowok lo itu Suami gua!”
“Bilang sama J, Jimmy nyari dia!”
“Kenapa gak Jimmy sendiri yang kesini?’
“Jimmy lagi sibuk pacaran, sampaikan sama cowok lo. Secepatnya! Kalau lama ntar di--”
“Siapa Ren?” tanya JK sambil ngucek-ngucek matanya. JK terperanjat setelah mendengar Rosé berdehem.
“Sialan!” caci JK pada dirinya sendiri.
“Lo dicariin. Bagus lo temuin cepat.” ucap Rosé lalu Kembali kekamarnya tanpa mendengar jawaban dari JK.
Dikamarnya Rosé mengehela nafas panjang. “Baru juga gua omongin semalam. Ma, Rosé udah penuhi kemauan Mama. Kalau seandainya gak seperti yang Mama inginkan. Rosé minta maaf ya Ma.”
Setelah 5 menit berlalu JK masuk kedalam kamar Rosé. “Anne.”
“Ehh kok cepat baliknya, gua kira lebih lama.” sarkas Rosé.
“Yang lo li--”
“Tadi Mama kesini. Gua bilang lo nge-gym. Kata Mama kalau lo udah balik, disuruh kebawah buat sarapan.”
“Gua--”
“Gua turun duluan ya, nanti gua bilang aja lo lagi beres-beres.”
“Anne.” panggil JK namun Rosé langsung keluar tanpa mendengar JK. “AARGG. b**o BANGET SIH LO J!” teriak JK pada diri.
♥♥♥♥♥
Setelah selesai sarapan Rosé kembali ke kamarnya, Rosé duduk sambil memainkan ponselnya. Rosé bahkan tidak menghiraukan JK yang baru saja masuk kedalam rumah.
“Heeh Anne, ayok pulang.” ujar JK akhirnya membuka percakapan.
Rosé hanya diam tidak berniat untuk menggubris panggilan JK sampai JK kembali memanggilnya. “Anne.”
“Apa sih?! Pulang tinggal pulang juga!”
“Lo ikut pulang sama gua!”
“Gak! Malas gila gua!”
“Gua bilang Mama lo.”
‘Gak takut.”
“Anne, bagus lo nurut, selagi gua masih baik.”
“Terus kalau gua gak nurut. Lo mau pake cara apa? Lo mau ngasarin gua?”
“Terserah lo lah.” ucap JK sambil nulis sesuatu dan memeberikannya pada Rosé . “Mau gak mau lo bakal tinggal sama gua mulai sekarang. Ini alamat, nomor apartment dan passwornya. Terserah lo mau naik apa kesitu.” ucap JK lalu pergi setelahnya.
“Aarrgg.. Kenapa hidup gua harus kayak gini?!” kesal Rosé.
Setelah beberapa saat Rosé ngomel ngomel sendiri, Rosé keluar. “L-lo?”
“Kenapa lo kaget? Gak nyangka gua masih di sini? Ayok pulang. Gak ada penolakan kali ini.” Ujar JK menarik tangan Rosé lembut.
Selama jalan dari kamar menuju basement JK dan Rosé saling diam. Sebelum masuk ke dalam mobil, Rosé berhenti diikuti juga dengan JK. JK menatap Rosé. “Apalagi kali ini Anne? Gak mau semobil sama gua?”
“Gak pamit dulu?” tanya Rosé pelan.
JK terdiam sejenak, dia berfikir jika Rosé akan mengajaknya berdebat lagi.
“J?” Panggil Rosé sekali lagi.
“Gak usah pamit katanya.”
“Kata siapa?”
“Mami.”
“Gua gak bilang Mami?”
“Jadi siapa? Mama? Sama aja. Gak usah pa-..”
“Irene, cewek lo.” potong Rosé.
JK menatap Rosé tajam, baru saja dia merasa bersalah sudah berpikiran yang tidak-tidak pada Istrinya, “Mau lo apa sih?”
“Mau gua?”
“Apa?”
“Lo gak akan bisa ngasih.”
“Barang satu mall pun lo minta bisa gua kasih.”
“Sayangnya gua gak pengen itu.”
“Jadi?”
“Gua mau cerai dari lo.”
JK menatap Rosé serius, sebegitu bencinya kah wanita ini padanya sampai Rosé meminta cerai disaat belum 24 jam mereka menikah.
“Lo bilang apa barusan?!”
“Gua rasa lo udah dengar dan lo tau pasti apa yang gua mau.”
“Sampai mati pun, gua gak akan pernah gua kasih itu.” ucap JK tegas.
“Gua tau. Gua kan udah bilang lo gak akan ngasih itu.” ucap Rosé dengan nada tenang.
JK hanya melihat Rosé dalam. “Sampai kapan pun gua gak akan ngelepas lo lagi Rosé.” batinnya.