13. Lukisan Bunga Melati

2566 Words
 Pelayan datang membawa pesanan. Namun, Jira masih fokus melihat sekeliling. Perempuan seperti dirinya dijadikan pelayan. Banyak laki-laki yang singgah untuk makan. Jira bertanya-tanya, rumah makan bambu ini berasal dari mana.    'Semua lukisannya bernilai mahal. Yang punya pasti orang kaya. Aku akan tanya saat membayar nanti,' pikir Jira.   Memandang makanan ringan yang dia pesan tanpa selera. Dia sudah kenyang makan kue daun kipas. Saat mengambil satu makanan itu, Jira mendengar pembicaraan beberapa orang yang sedang makan di belakangnya.   "Kalian tau? Aku dapat ini dari pendekar Zuan beberapa tahun yang lalu. Dia bilang, bisa membawa keberuntungan." orang itu menunjukkan Gelang dari akar.   Mendengar nama pendekar Zuan di sebut, Jira mendengarkan dengan sangat serius. Sesekali memakan makanannya sedikit.   "Benarkah? Wah, kau beruntung sekali! Coba aku lihat?"   Salah satu dari mereka merebut gelang akar itu.  "Heh, gelang ini memang dipercaya membawa keberuntungan! Di sana tempat penjual pernak-pernik ada banyak. Kau ini!" ucap orang itu sambil menyerahkan gelang akar kembali.   "Iya, kalau itu aku juga tau. Aku hanya bilang kalau pendekar Zuan memberikannya padaku. Kalian tidak pernah bertemu dengannya, 'kan?" ejek pemilik gelang.   "Jangan sombong, Tuan! Kenapa pendekar Zuan mau memberinya padamu? Tapi, kau hebat bertemu dengannya. Bagaimana bisa?" tanya orang yang lain.  "Aku sedang dalam kesulitan. Daganganku di rampok dan semua hartaku hilang. Nasib baik ada pendekar Zuan. Lalu, dia membantuku dan memberi gelang akar ini. Setelah itu dia pergi," jelas orang itu mirip berbisik.   Mereka mendekat dengan serius. "Oh, jadi begitu," jawab dia yang bertanya.   Jira mengangguk. 'Jadi orang ini pedagang. Salah satu yang diselamatkan pendekar hebat itu. Aku jadi semakin penasaran,' batin Jira sambil perlahan memakan pesananya.   "Eh, kalian sudah dengar kabarnya, 'kan? Pendekar Zuan menghilang. Sampai sekarang keberadaannya tidak diketahui." salah satu dari mereka membicarakan dengan serius.   "Iya. Untung sekali aku bisa melihat wajahnya. Dia seperti pahlawan sejati. Kalian tau? Dia masih muda dan belum punya pasangan. Mungkin dia menghilang untuk mencari pasangan." ujar pemilik gelang.  "Heh, jangan bicara seperti itu! Mungkin dia menghilang karena ada sesuatu yang penting." bantah yang lainnya.   "Aku rasa, dia ingin menenangkan diri. Sifatnya yang tanpa pamrih itu pasti membuat orang hebat lainnya iri. Pendekar Zuan pasti punya banyak musuh, karena dia melekat di hati semua orang. Aku benar, 'kan?" terang salah satu dari mereka sambil berpikir.  Jira semakin penasaran. Dia terus mendengarkan sambil sesekali melirik mereka.  "Entah apalah itu, yang jelas aku merasa bangga. Pendekar Zuan mewakili sifat laki-laki yang tangguh dan berani, hahaha. Andai saja aku bisa seperti dia," berangan menjadi pendekar Zuan.   Orang di sebelahnya menepuk lengan orang itu sehingga tidak berkhayal lagi. "Jangan bermimpi! Pendekar Zuan itu tampan, kau jelek!"  Gelap tawa mereka memenuhi rumah makan bambu. Jira menahan tawa. Orang itu hanya mendesah pasrah.   "Ngomong-ngomong, kau yang pernah bertemu dengannya. Bagaimana rupanya?" tanya orang yang diejek, seketika semua penasaran.   Jira semangat dan semakin memasang telinga. Dia sengaja memundurkan kursi agar bisa mendengar lebih jelas.   "Emm, dia sangat tampan! Sorotan matanya menghangatkan, tapi kalau sudah serius sangat tajam. Dia murah senyum, ceria bahkan tidak terlihat jika dia seorang pendekar. Alisnya tebal, bibirnya berwarna merah muda alami. Kalau tersenyum, wah, sangat menggoda." orang itu menjelaskan sambil tangannya seakan menggambarkan rupa pendekar Zuan.   Jira ikut membayangkan. Tidak sadar senyumnya terangkat.   "Hahaha, Tuan, kau juga tergoda olehnya, ha? Hahaha."   Gelak tawa terdengar lagi membuat Jira mengerjap dan bersikap biasa.   "Hei, aku berkata benar. Dia itu namanya melambung tinggi, tetapi banyak yang tidak tau rupanya. Orang biasa seperti kita kalau bertemu dengannya sangatlah beruntung. Banyak penguasa kota dan pejabat kota yang tidak pernah bersinggungan dengannya. Jadi, tentu saja aku bangga memujinya," elak orang itu senang.   Jira berdeham merasa tersindir. Kemudian mereka membicarakan hal lain. Jira memakan sedikit dari pesanannya. Masih ada sisa senyum di wajahnya saat membayangkan pendekar Zuan. Seakan nama pendekar itu sangat penting baginya.   'Hmm, nama yang indah. Pendekar Zuan juga misterius karena rupanya tidak diketahui banyak orang. Aku jadi ingat Kay. Jati dirinya yang disembunyikan. Kay ada di mana, ya, sekarang?' batin Jira.   Tidak sengaja jarinya tergigit karena melamun saat makan. Jira menggeleng pelan.   'Kenapa jadi memikirkan laki-laki? Fokus, Jira! Fokus dalam jalanmu!' batin Jira.   Dia menepuk pelan kedua pipinya. "Hah, tak mengelak kalau aku sedikit merindukan Kay," gumam Jira lalu mendesah.   Berdiri ingin membayar pesanannya. Dia menuju meja pelayan dan bertanya soal harga. Setelah itu Jira penasaran dengan pemilik rumah makan bambu. Pelayan itu menunjuk ruang dalam rumah makan yang terdapat sang pemilik di sana. Perlahan Jira masuk. Membuka tirai sedikit dan kaget. Ruangan itu penuh dengan lukisan.   Tersentak saat melihat seorang perempuan sedang berdandan di pojok ruangan. Jira meneliti di tempat.   'Orang itu mungkin yang punya,' batinnya.   "Siapa di sana?" tanya orang itu tanpa menoleh.   Jira tersentak dan berdeham. Dia masuk dengan senyum lebar. "Ah, ini aku, Bos besar. Baru selesai makan di sini. Camilannya enak sekali!" ujar Jira mendekat.   Orang itu masih sibuk memasang anting. "Siapa kau, Pelanggan?" tanyanya merasa tersanjung, terlihat dari senyumannya di cermin.   "Aku? Aku hanya ingin jalan-jalan dengan kudaku. Bos besar, aku ke sini ingin tanya sesuatu padamu. Apa boleh?" tanya Jira sok kenal baik.  Orang itu menoleh. "Tanya apa?"   Jira memandang orang itu dari atas sampai bawah. 'Dia cuek sekali!' batinnya.  "Ahaha, aku hanya ingin tanya, kenapa kau buat rumah makan bambu di sini? Kau berasal dari mana?" tanya Jira tanpa sungkan.   Orang itu berdiri. "Aku dari kota Besi. Rumah makanku di sana kurang menguntungkan, jadi aku pindah ke sini. Lagipula bambu itu tumbuhan yang mudah tumbuh di kota Besi. Jadi aku buat saja rumah makan bambu. Bagaimana? Sangat sejuk, bukan?" ujarnya bangga.   "Ah, iya-iya. Sejuk sekali! Tapi kota Besi itu sangat jauh dari sini. Apa Bos besar tidak pulang?" tanya Jira basa-basi.   'Kota Besi? Kalau di lihat-lihat semua lukisan ini mahal. Aku tidak menemukan lukisan bunga melati,' pikir Jira.  "Aku kembali untuk beberapa waktu," jawab orang itu singkat. Jira hanya tersenyum sambil menganggu. Orang itu menatap Jira menelisik. "Kau penasaran denganku atau usahaku? Jangan bilang jika kau ingin menjadi sainganku!" tuduhnya.   Jira menggeleng. "Bukan begitu, Bos besar. Aku hanya penasaran. Jangan berburuk sangka padaku. Aku juga penasaran dengan semua lukisanmu. Ini... Terlihat sangat mahal. Pasti kau sangat untung besar, 'kan?" tanya Jira sambil memuji lagi.   Jira tahu jika orang kaya suka di puji. Dia menunjuk semua lukisan dan mengatakan apa yang mencerminkan lukisan itu. Pemilik rumah makan bambu merasa takjub.   "Wah, kau mahir menilai ssesuatu. Seperti kau bukan orang biasa." kata orang itu sambil mendekati Jira.   Jira tersenyum bodoh sambil mengibaskan tangannya. "Bos besar bisa saja. Aku hanya asal bicara," elak Jira.  Orang itu ikut melihat lukisan di depannya. Meraba lukisan itu sambil menutup mata.   'Apa yang dia lakukan?' tanya Jira heran dalam hati.  Seketika semua lukisan di ruangan itu berubah menjadi lukisan tanaman bunga melati. Jira tersentak melihat semuanya. Saat orang itu membuka mata dan menarik tangannya kembali, Jira menatapnya penuh tanya.  "Bukankah ini yang kau cari, Jenderal?"   Pertanyaan orang itu membuat Jira terkejut. Kini dia penuh waspada. "Dari mana kau tau? Siapa kau?" berbalik bertanya.  Tanpa menoleh, orang itu menjawab, "Aku tau. Orang biasa tidak mungkin bepergian menggunakan kuda. Apalagi kau bilang hanya jalan-jalan. Tentu saja aku curiga. Lalu, serulingmu itu ... Bambu khusus yang tidak bisa dihancurkan, hanya terbuat dari bambu di kota Besi. Sangat mudah bagiku untuk mengenalinya dan bambu itu hanya dipergunakan untuk kepentingan khusus. Aku tau kalau kau Jenderal dari kota Bunga karena serulingmu itu. Ahli senjata dari bambu adalah temanku. Hanya Jenderal Jira yang punya seruling bambu untuk senjata. Kurang jelas apa lagi, Jenderal?" terangnya kemudian bertanya.   Dahi Jira berkerut. "Tidak kusangka kau mengetahui banyak hal. Dari mana kau tau aku sedang mencari lukisan melati milikmu?" tuntut Jira.  'Orang ini harus diselesaikan jika tahu tujuanku,' pikir Jira.   "Aku pedagang kaya dari kota hebat, Jenderal. Pasti mengetahui banyak hal. Jangan lupa jika kota Besi peracik senjata yang hebat. Sihir pun mampu dikalahkan. Lalu, soal lukisan...," ucap orang itu menggantung. Dia menatap Jira dengan senyuman. "Kau Jenderal kota Bunga. Apalagi yang kau cari selain berkaitan dengan bunga? Kau tidak mungkin kemari jika tidak ada yang menarik di sini," sambungnya.   Jira diam. ''Aku rasa dia tidak tau,' pikirnya.   "Kenapa kau punya banyak lukisan bunga melati?" tanya Jira tanpa basa-basi lagi.  Orang itu tersenyum miring. "Lukisan bunga langka, tentu saja aku punya. Aku membelinya dari pelukis di kota Besi dengan harga tinggi. Hah, seakan semerbak melati menyelimuti diriku," jawabnya.   Jira menilai orang itu dalam hati. Tangannya tergerak menyentuh lukisan itu. Kerutan di dahinya bertambah.   'Bisa kau tunjukkan di mana penjual lukisan itu?" tanya Jira masih fokus pada lukisan.   "Sepertinya bunga itu sangat berarti bagimu. Maafkan kelancanganku, tetapi kenapa kau penasaran dengan lukisan ini?" tanya orang itu.   "Seperti katamu, jika berkaitan dengan bunga, aku tidak akan tinggal diam. Kau mengerti, 'kan?"   Suara Jira terdengar sangat serius sedang berpikir. Orang itu mendesah panjang. "Jenderal, berhati-hatilah jika berurusan dengannya. Pelukis itu ada di pasar setelah masuk kota. Aku tidak tau namanya, tetapi dia jarang di pasar. Lukisannya sangat bagus dan berkelas," terangnya.   Jira menoleh. "Terima kasih kerjasamanya. Ngomong-ngomong, gelang akar yang bagus!" Jira menepuk pundaknya orang itu dua kali sambil melirik gelang akar di pakai.   Segera keluar sebelum orang itu menjawab. Orang itu heran karena bicara dengan Jira hanya setengah. Dia menatap bayangan Jira yang menghilang sambil melipat tangan.   "Hah, orang-orang politik, aku tidak mengerti apa yang mereka kejar." menggeleng pelan.   Keluarnya Jira dari rumah makan bambu itu membuat pelanggan lain heran karena Jira berjalan sangat cepat. Segera menarik kudanya pergi. Namun, dia memandang rumah makan bambu itu lagi.  'Kota Besi? Bambu khusus? Pelukis melati?' pikirnya kalut.   Sedikit mengerti meskipun banyak teka-teki.   "Tak kuduga seorang pedagang kaya tau tentang bambu khusus. Dia menilai serulingku dengan baik. Jika itu semua saling berkaitan, aku harus datang ke kota Besi dan itu ada di barat." gumam Jira. Memandang arah barat. "Seakan aku memang di panggil menuju barat," sambungnya.   Jira kembali berjalan menyusuri jalanan persinggahan. Kudanya tetap diam dan menurut tidak terpengaruh pada bunyi bising orang-orang. Dia berhenti saat tiba di penginapan Huaju. Memandang penginapan itu dengan senyum.   'Bunga melati seakan menjadi misteri. Jika dilihat dari pedagang kaya tadi, ada keterkaitan dengan kota Besi. Itu jauh sekali, aku harus cari bunga melati sebelum tiba di kota itu. Jika belum ketemu, pelukis itu harus menjawab semua pertanyaanku. Aku yakin dia tau sesuatu. Jika tidak, kenapa bisa melukis bunga melati?' pikir Jira.  "Penginapan Huaju. Orang-orang berkumpul di sini tanpa rasa takut. Jika daerah ini bebas dari pemerintahan, pasti ada yang melindunginya. Apa pendekar Zuan yang melakukannya?" gumam Jira di tengah-tengah keramaian.   Senyumnya semakin lebar saat ingat pendekar Zuan lagi. Jira bertanya pada seseorang yang lewat tentang jalan keluar persinggahan itu. Orang itu menunjuk arah barat. Dahi Jira berkerut, kemudian dia menepuk dahinya keras.  "Bodoh! Bisa-bisanya aku tidak sadar. Kenapa aku kembali ke timur? Jelas-jelas jalannya menuju barat, Jira!" desisnya menyalahkan diri sendiri.   Memutar arah dan kembali berjalan. Karena melamun, pikirnya jadi kacau. Persinggahan itu cukup luas, hingga matahari tepat di atas kepala. Jira senang melihat kanan-kiri yang meriah. Hanya melihat-lihat hingga dia keluar dari persinggahan itu.   Kembali lagi melihat hamparan rumput dengan letak pohon yang tak beraturan, Jira mendesah lega. "Hah, Cen Cen, kau makan dulu, ya. Aku juga mau istirahat sebentar," kata Jira.   Mengikat kudanya di salah satu pohon yang ditumbuhi rumput lewat di bawahnya. Kudanya langsung makan dan Jira masih berdiri mengawasi sekeliling. Silau matahari membuat matanya panas.   "Hmm, Tempat ini cukup rindang. Mungkin ada bunga dan terselip bunga melati. Aku akan cari dengan meminta bantuan. Cen Cen, tunggu aku di sini, ya!" pinta Jira dan lari ke pohon lain.   Jira menirukan suara burung dengan serulingnya. Beberapa kali seakan menggema di udara. Usahanya berhasil, beberapa burung pipit datang menghinggapi serulingnya.   "Ahaha, kalian mendengar panggilanku? Aku tau ini masih berhasil. Sebelumnya aku coba tidak berhasil," Jira tertawa kecil melihat burung-burung itu yang masih berkicau.   "Baiklah, aku butuh bantuan kalian. Bantu aku mencari bunga melati di sekitar hamparan ini. Kabari aku setelahnya," ucap Jira.   Seakan mengerti, burung-burung itu kembali terbang da berpencar. Burung pipit yang baik memang mengerti bahasa manusia. Terlebih lagi Jira memanggilnya dengan tiruan suara. Mereka sering membantu dalam bertukar kabar. Jika terjadi sesuatu, pasti burung pipit memberi petunjuk.   Jira menatap burung-burung itu dengan penuh harap. "Jika mereka bisa dipanggil kembali, berarti tempat selanjutnya bukan tempat yang buruk. Semoga saja itu benar," gumam Jira.  Dia lari mencari bunga dari semak-semak, pohon, jalanan, hingga rumput sekalipun dengan teliti. Memang ada sedikit bunga kecil-kecil, tetapi tidak ada hewan. Hanya serangan dan burung yang Jira lihat. Membuat Jira kebingungan. Burung-burung itu kembali datang setelah lewat satu jam. Hinggap lagi di seruling Jira dan mengisyaratkan tidak ada bunga melati yang ditemukan. Jika memang menemukannya, burung-burung itu akan membawa Jira ke tempatnya.   "Kalian juga tidak menemukannya, ya? Kalau begitu, terima kasih atas bantuannya." ucap Jira dengan senyum dan mereka pergi.   "Huft. Di sini juga tidak ada," gumam Jira mendesah.   Dia kembali menuju kudanya. Langkahnya sekali lagi meninggalkan jejak di tanah lapang, kemudian persinggahan sementara. Melamun, banyak orang yang ditemui, beberapa dari mereka memberi petunjuk. Jira duduk lemas saat berada di sisi kudanya. Bersandar pohon rindang dan sesekali mengerjap.   "Hah, Cen Cen, tidurlah sebentar. Kita istirahat dan aku akan pikirkan selanjutnya." ujar Jira mengelus kaki Cen Cen.   Namun, kuda putih itu meringkik pelan dan tidak mau tiduran.   "Hei, kau mau berdiri terus begitu?"   Mungkin jika ada orang lain pasti akan mengatai Jira bodoh bicara dengan kuda. Bagi orang lain, kuda hanyalah hewan untuk kendaraan. Bukan seperti burung pipit tadi yang selalu membantu dan mengerti manusia.   "Kau mau berjaga begitu? Hahaha, ya sudah. Di sini tidak ada siapapun, Cen Cen. Kalaupun ada bahaya yang datang, aku bisa jaga diri," Jira menjawab pertanyaannya sendiri.  Menata posisi yang nyaman dan menekuk kaki. Memandang langit yang begitu cerah, kemudian turun ke tanah. Jira mencabut rumput dan mengambil tanah yang menempel pada akar. Meremasnya pelan dengan jari.   "Tanah ini berwarna... Hampir seperti biru." gumamnya meneliti tanah itu serius.   Merasakan dingin di tangannya karena tanah. Jira membuang rumput itu dan membersihkan tangannya.   "Hal tidak terduga sering kali terjadi. Belum ada empat belas hari aku keluar. Pencarianku sudah cukup jauh dan aku belum menemukannya." Jira bicara sendiri. Menunduk dan mendongak, menghela napas panjang, menatap persekitaran lagi yang panas. "Setelah ini entah apa lagi yang terjadi," sambungnya.   Tiba-tiba terdengar suara burung rajawali mengitari langit. Jira mendongak penasaran. "Rajawali?"   Rajawali itu terus berputar-putar di atasnya hingga menjatuhkan sebuah tabung bambu tepat di depan Jira. Lalu, rajawali itu pergi dengan sangat mengagumkan. Jira terpesona. Dia mengerjap sadar dan mengambil bambu itu.   "Hanya tabung biasa. Apa isinya?" Jira bingung melihat bambu itu.  Membuka tutup bambu dan mengeluarkan isinya. "Siapa yang mengirimnya? Rajawali, berarti bukan dari kota Bunga," kata Jira.   Sebuah gelang akar keluar dari tabung bambu jatuh ke tangannya. Jira tersentak, pikirannya langsung kepada pendekar Zuan, tetapi Jira menggeleng. Tidak mungkin jika pendekar Zuan memberinya pertanda. Dengan sedikit gemetar Jira memegang gelang itu dengan kedua tangan.   "Apa aku tidak salah lihat? Ini... Ini gelang akar? Kenapa isinya gelang akar?"   Mulut ternganga, mata melotot tidak percaya. Dia celingukan mencari seseorang. "Siapa yang mengirim rajawali itu? Apa ini ditunjukkan untukku?" bingungnya.   Tetap saja tidak menemukan seorang pun. Jira kembali melihat gelang akar berwarna cokelat terang itu. Seketika senyumnya terangkat.   "Kalau memang ini dijatuhkan di sini, berarti ini untukku. Rajawali itu berputar-putar sebelum menjatuhkannya. Tidak mungkin jika sengaja terjatuh." katanya dan memakai gelang akar itu di pergelangan tangannya.   Layaknya perempuan, Jira sangat senang mendapat hadiah. Senyumnya terus mengembang menatap gelang itu.   "Eh, mungkin ada petunjuk di dalam bambu itu."   Jira mengambil tabung bambu lagi dan melihat isinya. Namun, isinya hanya gelang akar itu. Jira mencebikkan bibirnya. Memainkan tabung itu dengan senyum yang kembali merekah. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD