11. Ramalan Bunga Melati

2650 Words
 Jira melihat sekeliling mencari solusi sebelum penyihir itu kembali bangkit. Miris melihat para kurcaci tergeletak di dekat tumpukan kayu. Tungku pembakaran masih hangat, tersisa sedikit arang. Sangat jelas jika penyihir itu melakukan sesuatu yang keji pada kurcaci. Jira heran melihat sebuah kuali yang berisi cairan berlendir. Jira pikir cairan itu adalah ramuan yang dibuat dari kurcaci.   'Bagaimana cara menggunakan ramuan itu?' pikir Jira.  Mengambil kuali dan menatap penyihir yang menggeleng seakan Jira tidak boleh menyentuhnya. Jira semakin yakin jika isi kuali itu adalah ramuan kekuatan sihirnya.   Jira mendekat. "Kurcaci yang malang. Maka juga penyihir yang malang!"   Jira membuang cairan itu ke tubuh para kurcaci.   "Tidaakkkk!!!"   Penyihir itu teriak tangannya ingin menggapai ramuan yang sudah tumpah. Jira tersentak kala ramuan itu meresap ke tubuh para kurcaci. Kemudian muncul cahaya yang sangat terang dari kurcaci-kurcaci itu menghisap kekuatan sihir dan daya hidup penyihir. Teriakan keras dari penyihir menggema di ruang dalam tanah. Jira mengernyit silau dan menghindar.   "Jenderal Jiraaaaa!!!" teriak penyihir itu untuk terakhir kalinya. Tubuhnya lenyap bersama mayat kurcaci juga menghilang. Jira tersentak lagi hingga mundur menabrak dinding kayu. Dia tidak mengerti bagaimana cara sihir itu bekerja. Napasnya terengah melihat cairan itu tidak tersisa setetes pun.   "Mereka... Hilang," gumam Jira sembari mengatur napas.  Meraup wajahnya, terduduk lemas bersandar dinding.   'Musnah sudah. Benar jika kurcaci yang menghancurkan kekuatan penyihir beserta hidupnya. Entah pada siapa penyihir itu membuat persembahan tumbal dan ramuan kurcaci. Jika ramalan mengatakan dia akan tiada jika kurcaci masih ada. Itu adalah kurcaci yang dia pakai persembahan sendiri. Kabut beracun itu akan hilang dengan sendirinya dan aku bisa melanjutkan perjalanan. Hah, ini selesai,' batin Jira.   Tiba-tiba dia merasa sesak. Sadar jika rumah itu ada di dalam tanah dan milik penyihir, pasti juga diselimuti oleh sihir. Jira segera berdiri.  "Gawat! Sihir rumah ini akan musnah. Aku harus segera keluar." Jira panik mencari jalan keluar.   Mendongak melihat jalan dia masuk yang tertutup tanah. Rumah itu berguncang seakan ingin roboh. Jira tidak menemukan solusi. Dia mengitari seluruh ruangan di rumah itu. Memukul dadanya mencoba bernapas lega. Hasilnya sama saja. Hingga Jira mengambil kuali tadi berharap masih ada sisa ramuan.   "Aku tidak tahu bagaimana cara melakukan sihir, tapi aku ingin membuat permintaan." ujar Jira tertatih. Menutup matanya rapat-rapat. "KELUARKAN AKU DARI SINI!" teriak Jira memegang kuali itu kuat.   Kuali itu pecah di tangan Jira dan atap tanah terbuka lubang. Jira membuka matanya karena merasakan tanah jatuh di kepalanya. Jira mendongak. "Kualinya juga sungguhan punya sihir terakhir. Dugaanku selalu tepat. Aku harus memanjat!" ujar Jira takjub.   Tidak menunggu lagi Jira segera naik dan keluar dari lubang itu. Saat Jira berhasil keluar, lubang itu tertutup dan terjadi guncangan besar membuat tanah longsor berbentuk rumah. Jira sampai hampir kehilangan keseimbangan.   "Hei, ada apa ini?"  "Iya, kenapa semua ini bisa terjadi?"  Tanya beberapa orang yang mendekati Jira bingung. Jira masih mengatur napas dan memandang longsoran tanah iba.   "Rumah itu runtuh dan tidak ada sisa kekuatan sihir dari penyihir jahat. Semuanya sudah selesai. Longsoran itu sebagai bukti pengorbanan kurcaci dan kesaktiannya. Aku hanya perantara sebagai jalan. Semuanya akan baik-baik saja," gumam Jira membuat orang-orang itu bingung.   Mereka memandang tanah yang longsor dan Jira bergantian, tidak mengerti yang Jira ucapkan. Sekeliling Jira masih menyisakan hawa panas karena kebakaran yang dia buat. Namun, api sudah padam. Warna semua tumbuhan juga hitam pekat. Jira yakin orang-orang itu datang karena penasaran dan mereka yang memadamkan api.  "Astaga, bagaimana bisa? Penyihir apa yang kau maksud? Lalu, ada apa dengan pegunungan ini? Kami tidak mengerti!" salah satu dari mereka sangat panik.   "Siapa kau? Kenapa muncul dari tanah?" tanya teman orang itu.  Bukannya menjawab, Jira justru terduduk lemas membuat orang-orang itu khawatir dan dengan cepat menompang Jira.   "Hei, kau terluka? Kau tidak apa-apa?" tanya orang yang menyangga Jira.   Napas Jira suda kembali normal. Hanya tubuhnya yang masih sakit pegal. Jira menatap semua pohon dan rumput kemudian tersenyum. Dia mengangkat tangannya. Dalam satu jentikan jari, pegunungan kembali menjadi hijau. Orang-orang itu kembali terkejut sekaligus lega.   "Aku tidak apa-apa. Kalian bawa air? Aku minta air," lirih Jira.  "Ah, iya." orang yang menompangnya mengangguk dan memberikan kantung air pada Jira.   Jira meminum air itu setelah membersihkan bekas darah di bibir dan tangannya. Mereka yang mengelilingi Jira saling pandang penuh pertanyaan. Jira memandang mereka satu per-satu. Mereka membawa keranjang kayu yang cukup besar.  "Siapa kalian? Apa kalian datang karena melihat pegunungan ini berwarna hitam?" tanya Jira menebak dan duduk dengan benar.   Orang yang menyangga Jira juga ikut duduk bersama teman-temannya.   "Iya, murid seorang tabib sedang mencari tumbuhan herbal untuk obat. Tidak sengaja melihat pegunungan utara yang menghitam beserta asap mengepul cukup banyak. Setelah itu api yang menjalar membuat kami berpikir pegunungan ini terbakar. Lalu, kami memadamkan apinya karena tidak ada siapapun di sini. Tidak menduga ada kau yang keluar dari tanah. Kau ini siapa?" jawab orang itu dengan penasaran.   "Aku Jenderal dari kota Bunga. Aku ke sini untuk membasmi penyihir jahat yang mengganggu para kurcaci. Kebakaran dan hitamnya pegunungan ini juga karena ulahku untuk memancing penyihir itu muncul," Jawa Jira dengan senyum ramah.  Mereka semua tersentak. Menunduk dan merasa bersalah.  "Astaga, kau seorang Jenderal? Mohon maaf, Jenderal. Kami tidak tahu posisimu."   "Mohon ampun! Tidak heran kau bisa mengembalikan pegunungan seperti semula."   Jira berdecak, "Tidak perlu sungkan. Aku sedang dalam misi sekarang. Beruntung aku bertemu kalian. Kalian bisa menjadi saksi di pegunungan ini." ujar Jira tersenyum.   Mereka mendongak. Ragu untuk memulai pembicaraan, hanya tersenyum bodoh dan saling lirik. Namun, melihat kondisi Jira yang terluka, mereka tidak tega.  "Jenderal, kau pasti terluka parah setelah bertarung. Berkat kau penyihir itu tidak ada lagi. Ikutlah dengan kami. Kami akan mengobati lukamu." ujar salah satu dari mereka sendu.   'Mereka ahli pengobatan rupanya. Aku sangat lega,' batin Jira.   "Emm, kalian ini murid dari tabib? Di bukit sana ada banyak tumbuhan obat. Sangat mujarab bahkan racun di tubuhku hilang karenanya. Itu akan sangat membantu kalian." ujar Jira menunjuk bukit yang pernah dia datangi.   "Kami memang berasal dari sana. Ayo, Jenderal. Kami tidak tega melihatmu terluka." ujar orang itu lagi.  Jira tertawa renyah. "Kalian sangat baik, tapi aku harus ke desa Kurcaci. Kabar ini harus disampaikan pada mereka," ucap Jira.   "Kalau begitu kami ikut. Sebelum ke sini kami sudah melewati desa itu." orang yang berbeda bicara sangat sungguh-sungguh.   Jira menoleh. "Benarkah? Kalau begitu baiklah. Nasib sedang baik hari ini. Ah, tolong bantu aku berdiri!" pinta Jira sambil sambil tersenyum bodoh.   Orang-orang itu justru berebut ingin membantu Jira membuat Jira heran dan hanya tersenyum. Akhirnya Jira berdiri dengan bantuan mereka semua. Jira melepaskan diri merasa aneh.   "Apa kita jalan kaki?" tanya Jira.   "Ahaha, maaf. Kami memang jalan kaki, tida membawa kuda atau semacamnya." orang itu menggaruk kepalanya tidak gatal.   "Ah, jalan kaki tidak masalah. Aku hanya bertanya," Jira tertawa renyah.   Mereka semua tersenyum malu.   "Jenderal sangat ramah. Mari," ujar mereka kompak mempersilahkan membuat Jira heran lagi.   Untuk terakhir kali Jira melihat longsoran dan sekitarnya sebelum melangkah pergi. Sisa pertarungan yang tergambar membuat Jira tersenyum tipis.   'Tidak ada dua hari. Hari ini kebaikan berpihak padaku. Aku bisa tepati janji meskipun terluka, bahkan selamat dari maut. Kalau di pikir-pikir, buah dan ramuan itu sangat luar biasa. Kenapa aku tidak punya sihir yang luar biasa juga?' batin Jira.   Pergi meninggalkan pegunungan utara. Cukup jauh untuk sampai ke desa Kurcaci. Orang-orang itu dengan senang hati mengikuti Jira seakan sangat beruntung bertemu dengan Jira. Sekali lagi Jira meninggalkan jejak kakinya dalam perjalanan mencari bunga langka. Hutan kembar, kota Laki-laki, dan sekarang desa Kurcaci dan pegunungan utara. Jira tahu, kedepannya pasti akan lebih sulit.   "Ini perjalanan yang sangat panjang, benar, 'kan?" tanya Jira memandang mereka semua dengan senyum tanpa berhenti berjalan.  Mereka menjawab cepat. Tentunya dengan menunjukkan senyum termanis yang mereka punya. Saat Jira lelah dan hampir hilang keseimbangan, mereka berebut menjaga Jira. Begitu terus sampai mereka tiba di desa Kurcaci. Sore hampir malam, di sambut warga desa yang tanpa ragu keluar dari gua. Kabut beracun sudah tidak muncul. Semua kurcaci gembira dan Jira dapat melihat burung-burung terbang lagi tanpa ketakutan mengitari desa Kurcaci. Senyum semua orang membuat lelah Jira terbayar. Senang rasanya bisa menepati janji.   Kudanya juga menunjukkan reaksi senang melihat Jira kembali. Para ahli pengobatan itu mengobati Jira dengan teknik yang tidak Jira mengerti. Sangat berbeda dari kota Bunga. Para kurcaci membuat perayaan. Mengucapkan terima kasih pada Jira yang dianggap penyelamat dan gua yang melindungi. Jira merasa telah mendapatkan hati warga desa Kurcaci.   Mengatakan apa yang terjadi di pegunungan utara hingga kematian penyihir jahat. Jira berkata jika dia tidak membunuh sang penyihir, melainkan kurcaci dan kekuatan penyihir itu sendiri. Di lingkaran mengelilingi api unggun itu tidak ada satu pun orang yang tidur. Para ahli pengobatan juga ikut berkumpul di dekat Jira. Kuda Jira juga tidak bisa tidur. Jira menjadi pendongeng yang hebat dalam semalam. Dia menyarankan para kurcaci untuk memakan buah dari bukit itu untuk menghilangkan sisa racun yang mungkin mereka hirup. Mereka mengangguk patuh.   Namun, wajah Jira murung. Tengah malam kini Jira kembali sendirian. Kurcaci-kurcaci itu tidur dan Jira duduk di depan api unggun. Mematahkan kayu-kayu kecil dan melemparnya ke dalam api. Sakit di tubuhnya perlahan menghilang. Percikan api kecil membuat Jira tenang campur gelisah.   Salah satu dari murid tabib itu mendekatinya. Jira tersentak dan memasang senyum. Orang itu mendesah panjang.   "Maaf atas kelancanganku, Jenderal. Apa yang membuatmu gelisah? Apa masih terasa sakit?" tanya orang itu dengan sangat lembut.   Jira tersenyum dan mematahkan kayu. "Tidak sakit. Kalian sangat hebat dan berbakat. Terima kasih, ya." ujar Jira menoleh.  Orang itu tampak malu-malu. "Lalu, kenapa kau begitu sedih?" tanyanya lagi.  Jira kembali menatap api dan mematahkan kayu. "Aku sedang meramal masa depan yang tidak bisa kuramal. Karena aku bukan peramal," jawab Jira.   "Maksudmu? Aku tidak mengerti." orang itu mengerutkan dahi menatap Jira penasaran.   Jira melempar kayu-kayu yang dia patahkan ke dalam api. "Aku ingin meminta bantuan pemimpin desa untuk meramal sesuatu yang akan terjadi esok, tapi dia sudah tidak ingin meramal lagi karena trauma. Lagipula jalanku memang selalu menantang bahaya. Entah itu fisik maupun batin. Dengan kemampuan yang aku punya, aku harus menjalani dengan berani dan ikhlas. Ini sangat melatih kesabaran, menguras perasaan, emosi yang mendalam," ucap Jira tanpa berkedip memandang api.  Orang itu semakin tidak mengerti. Kemudian seorang kurcaci perempuan datang membawa air di gelas bambu dan memberikannya pada Jira. Dia adalah istri pemimpin desa. Jira menerimanya dengan bingung.   "Kau belum tidur?" tanya Jira.   Istri pemimpin desa itu duduk di depan Jira membelakangi api. Orang itu ikut mendekat.  "Aku tau kenapa kau datang ke sini, Jenderal. Tujuanmu sangat mulia," ucap kurcaci perempuan itu tanpa basa-basi.   Jira tersenyum dan kembali mematahkan kayu. Orang itu mengerutkan dahi bingung.   "Suamiku memang tidak mau meramal masa depan lagi, tapi aku bisa meramal masa lalu," ujar kurcaci itu lagi dengan serius.   Jira tertarik. "Maksudmu?"   "Aku bisa meramal masa lalu jika kau mau, Jenderal baik. Katakan saja apa tujuanmu, aku akan memberitahu segalanya," tawar kurcaci itu.   Sunyi membuat Jira berpikir lebih baik. Tidak ada rasa curiga pada orang-orang di sekitarnya saat ini.  "Kau benar. Aku sedang dalam pencarian bunga melati. Bunga langka yang tidak diketahui keberadaannya bahkan rumor berkata bunga itu sudah musnah. Namun, itu jalan satu-satunya agar kotaku selamat. Saat ini kota Bunga perlahan sekarat. Penguasa kota memegang pusat kekuatan kota sedang sakit parah. Aku semakin kehilangan waktu dan harus menemukan bunga itu cepat. Aku tidak tahu harus mencari ke mana." jelas Jira dengan suara pelan.   "Jadi itu yang membuatmu murung. Jika suda berurusan dengan bunga melati, maka tabib hebat dan ramuan terdahsyat sekalipun tidak bisa membantu. Aku tidak bisa membantumu, Jenderal," sedih orang itu.   "Tidak apa-apa. Ini sudah menjadi tugasku," jawab Jira ramah.   "Ah, bunga melati? Aku punya satu pandangan yang bisa membantumu. Ini ramalan yang terjadi beberapa tahun yang lalu," ujar kurcaci perempuan itu serius.   Jira merasa tertarik dan penasaran. "Apa itu?" tanya Jira.   "Sudah sangat lama nama bunga melati menjadi sumber kekuatan maha dahsyat di bidang kesehatan. Tidak ada yang bisa menandinginya. Sekitar dua puluh tahun yang lalu, seorang tabib meracik bunga melati dengan campuran daun teh. Mantra tertinggi dia sematkan dalam ramuan itu. Sehingga tercipta teh bunga melati yang digabungkan. Ramuan itu mampu menyembuhkan segala macam penyakit hanya dalam satu tegukan. Bahkan bisa menghidupkan orang yang mati. Seluruh penguasa kota dan orang hebat berebut ramuan itu. Masa itu menjadi masa perang seluruh kota penjuru negeri. Tumpah darah yang mengorbankan banyak nyawa. Karena menimbulkan bahaya, tabib itu meminum semua ramuan teh melati. Kebanyakan takaran justru merenggut nyawa tabib itu. Semua ahli pengobatan hebat mencoba ramuan yang sama, tetapi gagal. Dari bunga melati gagal. Dari dan teh gagal. Hingga berbagai mantra dan sihir juga gagal. Semua itu digabungkan justru menjadi pertaka dan membuat ledakan besar. Efeknya pada seluruh tanaman herbal kehilangan khasiatnya. Semua penyakit sulit disembuhkan. Sejak saat itu tidak ada yang menggunakan bunga melati. Bunga itu di anggap kutukan yang membawa bencana. Semua orang beranggapan, andai tidak mencampurkan bunga melati pada ramuan teh, tidak akan terjadi pertumpahan darah sia-sia. Bisa menghidupkan orang yang sudah tiada, juga bisa membuat orang tiada. Bunga itu di hilangkan dari penjuru negeri. Kemudian tidak ada lagi nama bunga melati. Harumnya menjadi kenangan. Sampai sekarang tidak ada yang tahu bagaimana tabib itu membuat ramuan teh melati." jelas kurcaci itu sangat panjang.   Jira mendengarkan dengan serius menjadi tersentak. "Bisa membuat orang hidup kembali? Mustahil!"   "Aku baru tau kisah bunga melati seperti itu. Selama aku belajar ilmu pengobatan, tidak ada bunga yang menduduki khasiat maha dahsyat." ujar orang ahli pengobatan sambil menggeleng heran.  Jira memandang mereka bingung. Kemudian kurcaci itu kembali melakukan aksi ramalnya.   "Seakan hilang di telan bumi, tetapi bunga itu masih ada. Jika ada yang bilang bunga itu langka, maka itu benar. Kala itu satu dari tumbuhan melati diam-diam diselamatkan oleh seorang pendekar muda. Di usianya yang seharusnya bermain, dia justru menjadi pendekar hebat yang berani melawan bahaya. Dia menyembunyikan bunga itu di suatu tempat. Dia murid dari tabib yang membuat ramuan itu. Hanya dia yang tau tentang bunga melati sekarang. Bagaimana dan di mana dia? Tidak ada yang tau." terang sang kurcaci.   Jira sedikit memiliki harapan. "Siapa nama pendekar itu?" tanya Jira.   "Aku tidak tau. Aku hanya meramal peristiwa masa lalu." jawab kurcaci itu menggeleng.   Jira mendesah. "Jika ramalanmu memang benar, berarti bunga itu benar-benar masih ada. Dia tersembunyi di suatu tempat. Pasti ada alasan kenapa pendekar itu menyembunyikannya. Pasti masa itu menjadi masa buruk seluruh kota. Pasti kota Bunga juga ikut serta karena menyangkut tentang bunga. Kenapa aku tidak tau masalah ini?"   "Tidak ada lagi yang menyinggung bunga melati. Itu dianggap kutukan." lanjut kurcaci itu.  Jira menatapnya. "Ada kesempatan bagiku untuk menemukan bunga langka itu. Aku yakin perlahan semuanya akan terpecahkan!" Jira tersenyum penuh keyakinan.   "Emm, bicara soal pendekar, aku masih ingat tentang pendekar Zuan yang menghilang akhir-akhir ini. Seluruh tempat bela diri dibuat heboh. Kira-kira ke mana perginya pendekar Zuan?" pikir sang ahli pengobatan.   Jira menoleh. "Hmm, pendekar yang menguasai seluruh ilmu bela diri di penjuru negeri itu? Dia pendekar yang baik dan hebat. Semua kota hormat padanya. Dia terkenal ramah dan membantu tanpa pamrih. Sudah banyak yang dia lalui dan menghapus kezaliman. Bahkan sering membuat pendekar lain iri. Jika dia menghilang pasti ada alasannya." jelas Jira membayangkan pendekar Zuan.   Kurcaci dan ahli pengobatan itu tersenyum memandang Jira.   "Jenderal, kau memujinya dengan baik. Aku dengar pendekar Zuan sangat tampan. Apa kau pernah bertemu dengannya?" tanya orang itu menggoda.   Seketika Jira berhenti tersenyum. "A-apa yang kau maksud? Memang benar dia pendekar yang hebat. Aku belum pernah bertemu dengannya," jawab Jira terbata-bata.   Mereka semakin tersenyum menggoda.   "Jenderal, jika ada waktu carilah pasangan seperti pendekar Zuan. Dia masih muda, berbakat, baik dan banyak wawasan. Hah, sangat beruntung bisa melihatnya meski hanya sekali saja," ucap orang itu lagi sambil tersenyum penuh arti.   Jira ternganga, "Kalian menggodaku, ya? Sudahlah jangan bahas pendekar Zuan. Biarkan dia menghilang. Seiring jalannya waktu pasti dia akan muncul. Lebih baik kalian istirahat saja." Jira membuat ekspresi seakan kesal.   Dalam hati dia sangat penasaran dengan pendekar Zuan. Pendekar hebat di penjuru negeri. Kurcaci dan ahli pengobatan itu tertawa pelan dan mereka menurut untuk istirahat. Jira mengucapkan terima kasih atas ramalan kurcaci itu. Dalam sunyi Jira kembali berpikir. Ditemani api yang hampir padam, dia menemukan sebuah cahaya baru yang menanti. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD