Marry Ex-Boyfriend
Jika aku ditakdirkan hidup kembali, aku tidak ingin dilahirkan menjadi Siwi. Berdiri di sebelah lelaki yang seharusnya menjadi suami sahabatku. Pura-pura gembira atas status baru sebagai pengantin Lian Wiratama. Kenapa aku terima saja permintaan Aqila? Kenapa aku iyakan permohonan tidak masuk akalnya? Lalu apa yang akan terjadi dalam hidupku nanti?
Tadi malam Lian ‘mendiskusikan’ pernikahan ini denganku. Dia tidak melamar tapi meminta—lebih tepatnya memaksa sama seperti yang dilakukan Aqila.
“Kita harus menikah. Dia harus melihat bahwa yang dia lakukan adalah kesalahan. Aku ingin dia menyesal dan menginginkan kami kembali bersama,” ucapnya terdengar seperti menahan beban berat. Kesedihan.
“Bagaimana denganku? Apa keuntungan semua ini untukku?”
“Kamu menjadi anak berbakti. Mami ingin kita menikah ‘kan.” Itu jawaban Lian yang mau tak mau membuat perih di sudut hatiku. Ternyata selama ini dia menyadari semua maksud Mami.
“Akhirnya kamu kembali pada Siwi. Kalian ini jodoh. Pacaran, putus, jadian dengan yang lain, dan bersatu di pelaminan. Haha selamat, Bro.” Teguran itu membangunkanku dari percakapanku dengan Lian tadi malam. Dia Danu, sahabat Lian waktu SMA. Dia datang bersama kekasihnya.
“Doakan kami,” kata Lian dengan tak bersemangat.
Danu memukul pundaknya dan memberikan acungan jempol.
“Sampai bertemu, Nyonya Wiratama.” Danu mengedip lalu menarik tangan kekasihnya menjauh.
Aku merasa seluruh tulangku ngilu. Ini pesta Aqila. Tamu yang datang begitu kaget mengetahui akulah yang berdiri di sebelah Lian. Aku hanya tersenyum tanpa penjelasan kepada mereka yang berani bertanya. Aku malu luar biasa. Terlebih lagi Lian tidak membantuku. Dia terlihat amat tersiksa sehingga di sini akulah yang seolah memisahkan Lian dan Aqila.
Seandainya Aqila bercerita kepada Mama Nora, aku yakin beliau tidak akan keberatan jika pernikahan Lian dan Aqila tidak dikaruniai anak. Jika Aqila pergi seperti ini, Mama Nora akan berpikiran buruk tentangnya. Itu pasti sangat menyakitkan untuk Aqila. Sejak dia mengumumkan kepindahannya ke Brunei, semua orang panik. Mama diam dalam kesedihan. Ibu mana yang tidak bersedih jika anaknya gagal menikah? Lain lagi dengan Mami, ibuku sujud syukur atas batalnya pernikahan Lian dan Aqila.
***
“Besok ke mana?” Kuperhatikan kegesitan Lian mengepak baju-baju ke dalam koper.
“Singapura.” Dia menjawab tanpa melihatku.
Aku rasa tidak ada yang bisa kulakukan. Terperangkap bersama lelaki yang diam seribu bahasa rasanya kurang nyaman. Ini pernikahan apa? Seperti inikah perkawinan yang kuimpikan? Bodoh. Inikah malam pertama yang disebut-sebut orang?
Lian besok pagi akan flight dan entah berapa hari akan pulang. Mengerti pekerjaannya, aku tidak berharap adanya cuti menikah atau libur bulan madu seperti pasangan pengantin yang lain.
“Mau kemana, Wi?”
Langkahku berhenti. Lian akhirnya bersuara juga. Apakah ia akan menahanku?
“Kalau ke bawah, beritahu Mama, aku akan berangkat setelah Subuh.”
Saat membalikkan badan, kulihat dia sudah berbaring. Dia akan tidur karena besok harus bangun pagi. Aku mengerti pernikahan ini dilakukan Lian dengan keterpaksaan. Apa yang kuharapkan? Tersenyum, aku pun keluar dari kamar.
“Mama belum tidur?”
Mama baru saja keluar dari kamarnya. “Belum. Kamu sendiri kenapa keluar?”
“Siwi ingin membuat minuman dingin. Mama ingin Siwi buatkan juga?”
Kami berjalan menuju dapur. Dapur di rumah ini sangat lengkap. Deretan peralatan memasak tertata rapi di tempatnya. Piring makan tersusun elok di dalam lemarinya sendiri bersama gelas berbagai ukuran.
“Lian minta Siwi memberi tahu Mama besok dia berangkat Subuh.”
Mama mengembus napasnya dengan keras. Dia duduk di kursi meja makan sambil memperhatikan tanganku.
“Dua minggu. Dia akan pergi selama itu.”
“Siwi tidak apa-apa. Siwi senang karena Lian bertanggung jawab kepada pekerjaannya. Lagi pula, Siwi pun tidak mengurus cuti dari kampus. Siwi juga bekerja.”
“Kamu suka sekali dengan s**u coklat.” Mama memperhatikan gelas bening di tanganku, memperlihatkan cairan cokelat dan kental. Minuman kesukaanku. Mama beranjak meninggalkanku ke kamarnya. Aku mengambil alih kursi Mama tadi.
“Apa yang akan terjadi di kemudian hari?”
***
Selama dua minggu kepergian Lian, aku menjalani hari-hari seperti biasa. Saat belum bersuami, padahal status di KTP telah berganti. Tidak banyak yang mengetahui statusku karena aku tidak mengundang kenalanku saat walimah. Tamu yang hadir adalah undangan awal Lian dan Aqila. Beberapa teman sekolah yang datang mengenaliku karena aku dan Aqila berteman baik.
Selain status, perbedaan yang terjadi padaku adalah tempat tinggal. Aku kini pindah ke rumah mertua. Untung aku sudah dekat dengan Mama. Bukan dekat lagi, bahkan kurasa Mama adalah ibu kedua sejak dulu. Tidak ada kecanggungan sama sekali seperti yang biasa terjadi kepada wanita lain saat harus tinggal bersama mertua mereka. Lagi, mertuaku baik sekali.
Ini hari Minggu. Aku ingin membesuk Gara. Sejak dia melukai punggung tanganku, aku belum ke sana lagi.
Ketika aku meminta izin dari Mama Nora, Mama membuatku berpikir keras dengan ucapannya, “Jangan lupa beritahu suamimu. Sebenarnya izin darinya yang harus kamu dapatkan. Karena dia tidak di rumah, Mama mengizinkanmu.”
Aku menimang-nimang handphone di tangan. Bagaimana cara memberitahu Lian? Kalau ditelepon, mungkin dia sedang flight. Cukupkah dengan mengirimkan pesan singkat? Kurasa terlalu berlebihan memberitahu Lian. Lapas tidak jauh, hanya satu jam dari sini. Tidak perlu mengabari Lian.
****
“Mau apa lagi kamu datang, heh?” Tatapan menusuk diperlihatkan Gara. Dia kelihatan lebih kurus.
Gara berdiri lalu mencengkeram wajahku dengan tangannya. Kuku tajamnya menusuk pipiku. Perih di wajahku.
“Jangan perlihatkan wajah menjijikkan itu kepadaku!” ucap Gara dengan lembut tapi tegas. Ketika berbicara, wajahnya sangat dekat dengan wajahku. Matanya begitu bengis bagai mata pemangsa.
Kuraih tangannya, ia semakin mengencangkan cengkeramannya. Air mata pun jatuh. Gara melirik ke tangan kananku. Entah mengapa ia tersenyum miring.
Ya Allah, apa yang akan ia lakukan?
Gara semakin mendekat. Petugas kemana? Apa dia tidak melihat apa yang Gara lakukan kepadaku?
“Tolong, jangan!”
Ia tidak peduli. Ia semakin mendekat. Kurasakan sesuatu yang lembut menyentuh mataku yang kupejam. Kiri dan kanan. Setelah itu, Gara melepaskan wajahku. Ia menyentuh luka pipiku dengan ibu jari.
“Jangan datang lagi ke sini jika tidak ingin sesuatu yang lebih buruk terjadi padamu!”
Kedekatan ini membuatku kehilangan fokus. Sakit di pipiku sudah mereda kini ada yang lain terjadi dalam diriku. Perasaan yang tadi takut menjadi hangat.
***
Lian sudah pulang ketika aku sampai di rumah. Dia sedang menonton televisi bersama Mama. Aku tersenyum kepada mereka dan bergegas masuk ke kamar. Aku harus mandi dan membersihkan seluruh tubuhku.
Bukannya mandi, aku malah memikirkan kejadian di lapas. Kenapa Gara melakukannya? Dia tega melukai wajahku, berbuat kasar, lalu mengapa dia menciumku? Dia melecehkanku agar aku tidak bersimpati kepadanya?! Dan dia melakukannya setelah melihat jemariku. Apakah karena cincin ini? Mungkin dia ingin aku membencinya.
“Kata Mama kamu tadi ke lapas.” Lian berdiri di belakangku.
Aku melihatnya melalui cermin. “Iya.”
“Kamu cari penyakit saja datang ke sana,” ucapnya memperhatikan wajahku.
Bayangan waktu Gara mencium mataku melintas, membuatku merasa bersalah kepada Lian.
“Sebelum menjadi istriku, kamu adalah temanku. Meskipun pernikahan ini salah, tapi kita masih berteman. Kamu harus ingat, kamu tinggal di rumah ini dan kamu harus menganggap aku ada.”
Hatiku berbunga-bunga saat mendengar kata ‘istriku’ meluncur dari bibir Lian. Ini pertama kalinya dia menyebutkan statusku. Tapi dia mengatakan bahwa pernikahan ini salah.
“Kalau pergi ke tempat berbahaya semacam itu, beritahu aku dulu,” putusnya. Ia mendahului ke kamar mandi.
“Aku akan berusaha menjadi istri yang baik mulai dari sekarang.”
***
Aku baru saja akan menaiki sepeda motor untuk pulang. Panggilan dari Tante Stella menahan langkahku. Kugeser warna hijau ke kanan. Sapaan salam yang ceria menembus telingaku.
“Ini Siwi baru pulang. Ada apa, Tante?”
“Anak Tante sudah di kampusmu. Dia Tante minta jemput kamu.”
“Ah, iya. Kebetulan sekali. Tapi Siwi bawa kendaraan.”
“Tenang saja. Nanti itu anak Tante yang urus. Kamu ikut dengan dia. Dia akan menemui kamu. Tante sudah memberikan ciri-ciri kamu kepadanya.”
“Baik, Tante Stella.”
“Siwi.”
Aku menyimpan ponselku dan melihat siapa yang baru saja memanggil namaku.
“Allan!”
Satu jam kemudian kami sudah berada di rumah Tante Stella. Di dalam mobil bersama Allan, membuatku harus memegang d**a kuat-kuat. Pesona Allan masih tinggal dalam kepalaku. Keadaan jantungku mungkin sangat memalukan di dalam sana.
Ya Tuhan! Allan. Dia anak Tante Stella!
“Kalian sudah kenal. Oh iya, bagaimana Allan bisa mengenal Siwi?”
Tante Stella mengganti-ganti ekspresinya saat aku menceritakan bagaimana aku mengenal Allan.
“Tante jadi terharu. Cerita kalian seperti kisah dalam film romantis kesukaan Tante.”
Aku menunduk menyembunyikan senyuman karena berharap hal yang sama. Seandainya. Aku hanya bisa mengatakan harapan itu dalam kepala. Coba aku lebih dulu tahu siapa anak Tante Stella sebelum aku menjadi istri dari kekasih sahabatku.
“Siwi, boleh Tante tahu bagaimana calon suami impianmu?”
Aku menyurukkan jari yang dilingakri cincin nikah di bawah tangan yang lain. “Yang penting baik. Baik juga banyak Tante, jadi tidak bisa dijelaskan. Pokoknya laki-laki yang satu keyakinan.”
“Bagaimana dengan Allan? Apakah dia masuk dalam kriteria calon suami impian kamu?”
Aku hanya menunduk dan tidak berani menatap kedua orang di hadapanku.
“Siwi. Maaf kalau kamu tidak nyaman dengan Mama.”
Aku menarik kedua sudut bibirku menanggapi pernyataan Allan.
***