Jenny & Daffa's Wedding (1)

947 Words
Ayu membantu nenek turun dari mobil dan merapikan kebayanya “ Duluan aja sama kakek. Ayu ganti sepatu dulu.” Ujarnya sambil membuka pintu belakang dan mengganti sepatu datarnya dengan heels 5 cmnya sebelum menyusul kakek nenek memasuki hotel keluarga Raharsya itu. “ Kek, nek …. Sudah ditunggu didalam.” Arfa menyambut di lobby ,” Hai.” Sapanya pada Ayu. “ Hai.” Arfa menatap dalam pada gadis yang nampak beda dalam balutan kebaya polos biru muda dan kain batik yang disarungkan dengan sederhana ,” kamu terlihat beda.” Ayu hanya tersenyum. Kakek berdehem ,” Ayo, katanya sudah ditunggu.” Arfa tersenyum malu ,” Mari kek.” Nenek tersenyum penuh arti pada Ayu yang terlihat gelisah ,” Yang nikah Jenny kok kamu yang gugup.” Ayu cemberut ,” Nek … aku pulang nih.” Terkekeh pelan nenek menepuk tangan Ayu yang memeluk lengannya. Perlahan mereka mengikuti kakek dan Arfa ke taman dekat kolam renang yang sudah di atur sebagai tempat akad dan resepsi sore nanti. Setelah memberi salam, Ayu duduk disamping neneknya menunggu acara dimulai. “ Bang …. Ayu kelihatan beda pake kebaya. Udah pantas akad tuh.” Bisik Rayyan sambil menyenggol Arfa yang tak melepaskan pandangan dari gadis di ujung ruangan itu “ Ajaklah kesini.” “ Ini akad, biar dia disana dulu.” Sahut Arfa sambil mengangkat alis saat pandangannya bertemu dengan Ayu. Tertawa kecil melihat gadis itu mencibir sebentar dan sibuk mengalihkan pandangan ,” Nanti pas resepsi akan kuikat dia disampingku.” Rayyan tertawa ,” Mau pamer sama orang kampus ?” Arfa mengguman. “ Aku mengundang sahabat sahabatnya bersamaan dengan beberapa mahasiswa yang aku dan jenny kenal cukup baik.” Arfa menatap Rayyan ,” Kamu terlalu mendesaknya.” “ Termasuk Dimas, mantannya Ayu.” Rayyan tertawa ,” Kasak kusuk sudah ramai terdengar, diperjelas saja sekalian. Mereka gak bilang ama Ayu kalau dapat undangan.” Arfa menghela nafas dan segera fokus ke meja ditengah ruangan ketika acara dimulai. Perasaannya campur aduk menyadari adik kecilnya sudah menapaki dunia baru, mengubahnya menjadi perempuan dewasa … seorang istri , yang artinya tanggung jawab atasnya bukan lagi ditangan papa atau dirinya. “ Bang ….” Daffa berdiri dihadapan Arfa yang dilihatnya sedari tadi terdiam. Arfa menghela nafas, menepuk bahu Daffa ,” Perlakukan dia sebaik perlakuanmu pada ibumu.” Daffa mengangguk dan memeluk singkat. Sebelumnya Arfa hanya tersenyum tipis ketika Rayyan dan orangtuanya memberi banyak petuah selama hubungannya dengan Jenny. Hari inipun tidak ada nasehat panjang darinya , tapi sebaris kalimat singkat tadi membuatnya memahami Arfa menyayangi adiknya dengan amat sangat. “ Selamat, ya ….” Ayu mengekor dibelakang neneknya. “ Segera nyusul ya …. Jangan kelamaan.” Ujar Jenny, tertawa melihat Ayu memajukan bibirnya. “ Persiapkan dirimu, percayalah … abang akan menjagamu dengan baik.” Ujar Daffa saat Ayu mengulurkan tangannya. “ Apaan sih …. Ini acara kalian kok malah bahas yang lain.” “ Acaraku sudah selesai beberapa menit yang lalu.” “ Kalau begitu aku pulang.” “ Coba aja kalau berani.” Sergah Jenny ,” Bakal aku panggil kakak ipar di kampus.” Ayu meleletkan lidahnya. “ Tenang, aku ikat dia ditubuhku.” Arfa meraih bahu Ayu ,” Dicari mama.” Ayu menghela nafas dan memilih mengabaikan Jenny yang menatapnya jahil. “ Ayo.” Arfa menggenggam tangan Ayu dan menariknya lembut. “ Nenek ?” “ Kakek dan nenek sudah aman disana sama opa oma.” Ditunjuknya keempat orang yang ditemani beberapa staff hotel ,” mereka istirahat di kamar sambil nunggu resepsi.” “ Lalu ?” “ Mau ikut nenek nenek ? Sini ikut aku aja.” Ayu menurut ketika Arfa mengajaknya menemui mamanya ,” Te ….” “ Sudah makan ?” Ayu menggeleng. “ Arfa, ajak dia makan dulu. Nanti setelah makan siang kalian ngumpul di tempat mama.” “ Ok. Yuk …. Mau makan dimana ?” “ Pilihannya ?” “ Di restoran, di café atau di kamar ?” “ Haaaah ?” Arfa menjentik dahi Ayu ,” Apa yang kamu pikirkan ?” tertawa melihat wajah gadis itu memerah. Diangkatnya ponsel saat benda berwarna hitam itu bergetar di sakunya ,” Ah iya …. Ya udah kita kesana. Makan di café aja sama Rayyan ama Novi.” Ayu mengangguk, lagi lagi mengikuti langkah Arfa dalam diam. “ Duduklah.” Arfa menarik kursi untuk Ayu sebelum duduk disampingnya. Novi mengulurkan menu ,” Mau makan apa ?” “ Seperti itu aja … sama orange juice.” ditunjuknya makanan Novi, dan mengulurkan menu pada Arfa. “ Seperti biasa.” ujarnya pada pelayan. “ Siap siap ya Yu …" Ayu menatap Rayyan ,” Apanya ?” “ Next … kalian yang akan menikah.” Ayu merengut ,” Berasa tua deh ngomongin nikah.” gumannya sambil meraih gelas berisi air. Arfa tersenyum. “ Mau bagaimana lagi, terima saja calonmu sudah nyaris kadaluarsa.” ujar Rayyan. “ Emang adik gak punya akhlak.” gerutu Arfa, menatap gadis yang mempermainkan gelas air mineral diatas meja. “ Kok diam aja, Ay …?” “ Lapar.” sahut Ayu tanpa mengangkat kepala. “ Mikirin apa ?” “ Bakal ada beberapa undangan dosen kak ?” tanyanya pada Rayyan. Yang ditanya tersenyum lebar ,” Ya jelaslah ….” tertawa melihat Ayu sedikit panik ,” Dan kelihatannya abang gak berniat menutupinya.” “ Gak usah punya pikiran kabur.” Arfa menjulurkan lengan di sandaran kursi Ayu ,” Punya calon suami seperti aku bukan aib, sayang …" “ Wueeeek ….” sahut Ayu,memutar bola matanya jengah. “ Hush … belum diapa apain sudah wuek wuek aja.” Ayu menatapnya bingung, terlebih ketika ketiga orang disekitarnya terbahak bahak.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD