Romeo Torpedo menggigiti jemarinya. Badannya panas dingin menantikan reaksi Fahmi.
"Tidak perlu malu, semua orang toh sudah pulang," Rayyan menenangkan.
Bosnya itu bukanlah malu! Diam-diam ia mengumpati Rayyan yang menyebabkan situasi sulit saat ini. Tentu saja bosnya terdiam karena ia tak tahu bagaimana membacanya, pikir Romeo semakin kalut.
Fahmi menoleh ke arah tabir tempat Humaira dan beberapa orang wanita yang diam-diam mengintip dari celah. Alih-alih pria itu gugup dan takut kebohongannya terbongkar. Lalu, pada pria yang masih menyungging senyum, sepupu jauh dari wanita yang ia incar dan berkata akan membantunya.
Membantu apanya? Dia malah berada di saat yang sulit saat ini, Fahmi pikir. Ditatapnya kembali Al-Qur'an yang terbuka menampilkan bukaan surah random tepat di surah Luqman.
Romeo berharap akan ada bom atau gangguan yang akan menghentikan waktu saat itu juga. Dia berinisiatif bangkit dan menyela dengan sebuah alasan, sesaat terkejut mendengar lantunan ayat yang begitu indah.
Romeo mencari-cari MP3 yang biasa bosnya gunakan mengelabuhi Humaira masih berada di kantongnya, lantas suara siapa itu?
Ia melongo, bibir bosnya bergerak mengeluarkan suara-suara itu.
Rayyan tersenyum puas, diiringi kekaguman beberapa jama'ah yang belum pulang dan turut mendengarkan.
"Masyallah, Ra. Bagus banget ngajinya."
Humaira tertegun, suara Fahmi ternyata benar-benar merdu, padahal selama ini ia mengira suara mengaji yang didengarnya berasal dari murrotal MP3. Hati Humaira pun terenyuh mendengarnya.
Romeo masih tak mengerti, bagaimana bisa? Apa yang terjadi sebenarnya? Selama mengenal Fahmi ia sama sekali belum pernah melihat bosnya mengaji. Lalu, apa bosnya tiba-tiba mendapat karomah sehingga jadi lancar begitu mengajinya?
Fahmi berperang batin dengan ingatan menyakitkan. Masih dengan tatapan datar, meski diam-diam kehangatan menyusup dalam rongga dadanya.
Sudah berapa lama ia tak mengaji? Ia bahkan sudah lupa, karena selama dua tahun ini ia lebih banyak membaca tumpukan file dibandingkan kitab sucinya sendiri, demi mendapatkan sesuatu yang tak ia dapatkan dulu ketika masih berteman dengan sekumpulan ayat ini.
Fahmi tercenung, ketika sampai pada sebuah ayat yang begitu sulit ia ucapkan dulu.
"Yaa bunayya, bukan ya bunaya. Ayo ulangi," perintah abinya.
Fahmi mengulang untuk yang ketiga kali, namun urung menyelesaikan.
"Abi, aku gak bisa." Fahmi merengek karena sebentar ia benar lalu kembali mengulangi kesalahannya.
"Fahmi pasti bisa, sudah sejauh ini kan?" Melihat antusias anaknya kian memudar, Fadhil Alatas meletakkan perintahnya, beralih memberi seulas senyum penyemangat. "Fahmi tahu kisah di balik ayat ini?"
Replika kecil dari Fadhil itu, menggeleng. Ia meminta anaknya mendekat, lantas memangkunya.
"Coba lihat ayat lanjutannya, Luqman memberitahu kepada anak-anaknya 'Nak, jangan menyekutukan Allah'. Fahmi tahu kenapa Luqman berkata begitu?"
Fahmi menggeleng lagi. "Dia berkata lagi, karena itu perbuatan dzhalim yang sangat besar'. Lalu dia menasehati, dirikan shalat, berbuat kebaikan dan tumpaslah keburukan. Fahmi bisa jadi seperti ya bunayya?"
"Kenapa Fahmi harus jadi ya bunayya, kan nama Abi bukan Luqman," Fahmi bertanya polos yang ditanggapi kekehan dari Abinya.
"Nak, ya bunayya yang dimaksud oleh Luqman Al-Hakim adalah anak-anak keturunannya, pelajaran yang bisa diambil untuk semua anak-anak."
"Begitu ya, Bi. Jadi, Fahmi termasuk ya bunayya?"
"Iya. Nah, itu bisa kan nyebutnya. Coba sebut lagi, Fahmi termasuk apa?"
"Ya bunayya!"
Fahmi terdiam seketika, sontak membuat semua orang menoleh bingung.
"Maaf, saya harus pergi."
Ia bergegas bangkit dan berlalu keluar masjid. Rayyan yang hendak bertanya ada apa pun mengurungkan niatnya. Romeo menyusul dan mengucap salam kepada semua.
Humaira di tempatnya bertanya-tanya apa yang terjadi. Meski tak ada jawaban dari kebingungan mereka, Rayyan memanggil keduanya untuk pulang juga.
Di jalan, Romeo yang tak mengerti dengan keterdiaman dan wajah murung bosnya, enggan bertanya. Jadi, ia hanya mencoba menenangkan dengan memuji bosnya.
"Bos suaranya bagus banget. Adem gitu, Bos. Saya jadi berkaca-kaca."
Fahmi mendengkus, bergumam. "Memangnya apa yang bagus dari sekadar bisa mengaji? Toh, dirinya juga tak dihargai oleh ayahnya sendiri."
"Hah?"
Tak ada jawaban memuaskan dari gumaman aneh Fahmi pri itu berlalu, meninggalkan kening berkerut Romeo di belakang punggungnya.
***
"Bagus, kerja kalian bagus."
Bos gangster itu mengernyit bingung dengan perkataan Romeo.
"Kerja apaan? Kita aja ndak dikasih aba-aba. Tuh, orang saya dah nunggu dari tadi."
Romeo menoleh, ikut bingung dengan arah yang ditunjuk pria bertindik lidah tersebut.
Lima orang berbadan krempeng, dengan kaos bergambar tato menatap melas, bukan garang seperti perkiraannya. Romeo langsung berlari menyusul Fahmi yang mungkin saat ini babak belur karena dihajar para begal sungguhan.
"Wey, mo kemana? Ini gimana?"
"Batal!"
***
Duel maut Fahmi bersama tiga orang pria berbadan besar yang memegang golok, pria-pria bayaran Romeo berakting dengan bagus sekali pikirnya.
Di luar ekspektasinya ketiga orang tersebut bermain sungguhan. Fahmi yang sempat lengah, terkena sedikit tebasan.
Ia terheran karena pria bayaran itu tak segan-segan melukainya.
Romeo sialan, pikirnya. Pria cebol itu psti berkata yang tidak-tidak. Baiklah Fahmi rasa sudah cukup ia basa-basi.
Humaira telah ia jauhkan dari pandangan. Setidaknya, wanita itu bisa melihat dengan jelas akting mereka.
Fahmi melompat memukul salah seorang yang paling besar di antaranya yang lain. Pukulan bertubi-tubi ia layangkan. Dan tentu saja berhasil dengan kemenangan.
Ketiga pria itu terkapar dengan cedera parah. Fahmi berbalik hendak mendekati Humaira namun tak menemukan wanita itu di manapun. Ia mendekat dan melihat Humaira telah tersungkur di tanah.
Ck! Fahmi berdecak, apa rencananya gagal? Kenapa sih cewek ini harus pingsan di saat yang tak tepat!
Ia hendak menggendong Humaira, namun urng saat tubuh proposionalnya menggeliat bangun, tersentak mendapati seorang pria berada di sisinya. Dengan panik, ia meraba-raba pakiaannya yang masih lengkap.
Fahmi tertawa menanggapi tingkah lucu Humaira yang cemberut karena menyangka yang tidak-tidak.
"Tenang saja, gak lama lagi juga nanti kuhalalin."
Humaira mengerjap terkejut. Ap-apa tadi dia bilang?
***
Kurang asem!
Berani benar pria itu dengan tidak tahu diri mengatakan akan menghalalkannya. Memangnya dia apaaan, minta dihalalin.
Humaira tidak menanggapi lagi sesat Fahmi mengambil tali dan menjeratkannya seprti borgol di kedua tangannya dan Humaira.
Pria itu tersenyum sangat menawan. Dan seperti jaring yang menjeratnya pada lamunan.
"Naik motor aja. Aku yang bonceng. uhuuu!"
Ingin sekali rasanya Humaira menoyor pria yang dikiranya kalem, ternyata gombaler akut dan penggerak cepat. Berapa kali ia kena sasaran si ustadz dadakan bersuara bagus itu. Tetapi, masih ia harus menjaga batasan. Dan kalau bukan karena terpaksa, ia tak akan sudi berbagi boncengan dengan Fahmi.
Humaira memilih duduk membelakangi punggung Fahmi. Tangannya masih terikat, karena pria itu tahu batasan untuk tidak menyentuhnya, dia juga tak suka disentuh-sentuh.
Fahmi menarik tali yabg mengikat kedua pergelangan mereka sehingga selip dadakan itu membuat punggung Humara bersentuhan dengan punggungnya.
Humaira mendesis, sebal. Tidak bisakaha pria ini membuatnya tenanga barang sebentar. Ia sudah tak dapat mengatur napas, dengan berjarak sedekat ini dengan pria. Sekarang, pria itu malah mengambil kesempatan dalam kesempitan.
Motor bebek yang berjalan seperti siput itu juga menambah durasi kekesalannya
"Bia lebih cepet gak sih? Tau gitu jalan kaki saja!"
Fahmi selalu suka ketika ia bersungut-sungut.
Fahmi memaksa akan mengatarkannya hingga rumah meskipun berulang kali dia menolak.
Rahma yang berada di luar sambil mengipas diri, terkejut melihat anaknya bersama seorang pria. Dan apa itu di pergelangan keduanya?
Rahma berseru senang, ia beranjak menyambut keduanya.
"Ira, Nak. Kamu kenapa?"
Rahma berpura-pura memberi perhatian.
"Aku gak apa, Mi."
"Ini siapa yang nganter kamu?"
Setelah memutus tali di pergelangab mereka Fahmi memperkenalkan diri. Humaira melihatnya yang enggan menjabat tangan ibunya, ia mengusirnya segera pulang dengan alasan nanti kemalaman.
Rahma menegurnya untuk menyuruhnya masuk lebih dulu. Fahmi menolak karena tau gadis yang melotot padanya jelas tidak menyukai ide tersebut.
"Lain kali, Ama. Assalamualaikum."
Tidak ada yang bisa dia lakukan. Tetapi debaran singkat yang tadi sepertinya akan memberinya masalah lanjutan