"Gadul bashar, akh!(*)"
Fahmi menjatuhkan cangkul yang dipegangnya. Panggilan Rayyan, menyadarkannya dari keterpanaan. Ia berdehem sebelum lebih lanjut menggodanya.
"Saya lihat, Mas Fahmi ini sering diam-diam mengamati Humaira, ya."
Fahmi hanya tersenyum sungkan karena tertangkap basah. "Saya mana pantas untuk Mbak Humaira, Mas."
"Ah, siapa bilang begitu. Mau saya bantu?"
"Sebenarnya Mas Rayyan inI siapanya toh?"
"Saya sepupu jauhnya."
Fahmi tak dapat berkata-kata, karena tak menyangka, pria yang ia kira akan menghalangi justru berniat membantunya.
"Serius, Mas?"
"Insyaallah, tapi semua kembali sama pribadi Mas Fahmi juga untuk menentukan."
"Terus, saya harus bagaimana, Mas Rayyan?"
Rayyan tersenyum penuh misteri.
***
Humaira itu senang tipe cowok yang baik agamanya.
Fahmi menjadikannya mantera untuk membujuk Humaira mendekat. Ia mengubah kebiasaannya seratus delapan puluh derajat. Wanita itu lebih sulit ditaklukkan dari yang dia pikirkan, dan jika ini adalah satu-satunya cara, maka dia tak berkeberatan, mau mengubah hidupnya, rambutnya, pakaiannya kek, dia sudah hampir kehabisan cara. Kalau saja gadis itu sedikit saja memerhatikannya, Fahmi tak perlu susah-susah melakukan ini-itu hany untuk membuat gadis itu mengenalinya sebelum melakukan pendekatan lebih jauh. Toh, dia juga belum mengeluarkan semua senjata rahasia dan rayuan mautnya yang akan membuat wanita manapun bertekuk lutut. Memikirkan itu pun Fahmi justry merasa ragu.
"Bos yakin cara ini berhasil?"
Fahmi memasang peci putih sebagai pelengkap dandanan ala santri miliknya.
"Kita ikuti saja alurnya, Meo. Lagi pula Rayyan juga berniat membantu memuluskan rencana kita."
Fahmi duduk bersila di atas sajadah, posisinya dekat dengan pintu untuk memudahkan rencananya. Tepat saat beberapa wanita melintas termasuk Humaira, Romeo menyetel bacaan murrotal, tidak terlalu keras agar tidak membuatnya curiga.
Beberapa wanita itu berhenti sambil berseru takjub, tidak lama, lalu kembali melanjutkan perjalanan. Fahmi melakukan itu dengan intensitas cukup sering. Dia bahkan rela untuk pergi ke musholla agar kesan "alim" dapat tersemat padanya dan mengubah sudut pandag Humaira atas dirinya.
Fahmi melangkahkan kakinya ke arah masjid. Rayyan menyuruhnya datang ke sana, alih-alih musholla yang tak cukup jauh dari rumahnya. Pria itu berkata, tawarannya masih berlaku jika Fahmi menginginkannya. Jadi, ia datang tanpa ekspektasi apapun.
"Selamat datang, akhi Fahmi."
Mereka berbincang hingga adzan dzuhur berkumandang. Rayyan menyuruhnya mengimami, ia menolak dengan sebuah alasan, bacaannya lebih buruk dari Rayyan.
Sebuah kesalaha, karena kemudian ia ditenpatkan dalam situasi teramat pelik.
"Kamu pandai mengaji, bukan? Tolong buktikan di hadapan saya."
Pria itu meletakkan mushaf Al-Qur'an di hadapannya dengan tatapan menyelidik. Fahmi mati kutu.
***
Romeo Torpedo menggigiti jemarinya. Badannya panas dingin menantikan reaksi Fahmi.
"Tidak perlu malu, semua orang toh sudah pulang," Rayyan menenangkan.
Bosnya itu bukanlah malu! Diam-diam ia mengumpati Rayyan yang menyebabkan situasi sulit saat ini. Tentu saja bosnya terdiam karena ia tak tahu bagaimana membacanya, pikir Romeo semakin kalut.
Fahmi menoleh ke arah tabir tempat Humaira dan beberapa orang wanita yang diam-diam mengintip dari celah. Alih-alih pria itu gugup dan takut kebohongannya terbongkar. Lalu, pada pria yang masih menyungging senyum, sepupu jauh dari wanita yang ia incar dan berkata akan membantunya.
Membantu apanya? Dia malah berada di saat yang sulit saat ini, Fahmi pikir. Ditatapnya kembali Al-Qur'an yang terbuka menampilkan bukaan surah random tepat di surah Luqman.
Romeo berharap akan ada bom atau gangguan yang akan menghentikan waktu saat itu juga. Dia berinisiatif bangkit dan menyela dengan sebuah alasan, sesaat terkejut mendengar lantunan ayat yang begitu indah.
Romeo mencari-cari MP3 yang biasa bosnya gunakan mengelabuhi Humaira masih berada di kantongnya, lantas suara siapa itu?
Ia melongo, bibir bosnya bergerak mengeluarkan suara-suara itu.
Rayyan tersenyum puas, diiringi kekaguman beberapa jama'ah yang belum pulang dan turut mendengarkan.
"Masyallah, Ra. Bagus banget ngajinya."
Humaira tertegun, suara Fahmi ternyata benar-benar merdu, padahal selama ini ia mengira suara mengaji yang didengarnya berasal dari murrotal MP3. Hati Humaira pun terenyuh mendengarnya.
Romeo masih tak mengerti, bagaimana bisa? Apa yang terjadi sebenarnya? Selama mengenal Fahmi ia sama sekali belum pernah melihat bosnya mengaji. Lalu, apa bosnya tiba-tiba mendapat karomah sehingga jadi lancar begitu mengajinya?
Fahmi berperang batin dengan ingatan menyakitkan. Masih dengan tatapan datar, meski diam-diam kehangatan menyusup dalam rongga dadanya.
Sudah berapa lama ia tak mengaji? Ia bahkan sudah lupa, karena selama dua tahun ini ia lebih banyak membaca tumpukan file dibandingkan kitab sucinya sendiri, demi mendapatkan sesuatu yang tak ia dapatkan dulu ketika masih berteman dengan sekumpulan ayat ini.
Fahmi tercenung, ketika sampai pada sebuah ayat yang begitu sulit ia ucapkan dulu.
"Yaa bunayya, bukan ya bunaya. Ayo ulangi," perintah abinya.
Fahmi mengulang untuk yang ketiga kali, namun urung menyelesaikan.
"Abi, aku gak bisa." Fahmi merengek karena sebentar ia benar lalu kembali mengulangi kesalahannya.
"Fahmi pasti bisa, sudah sejauh ini kan?" Melihat antusias anaknya kian memudar, Fadhil Alatas meletakkan perintahnya, beralih memberi seulas senyum penyemangat. "Fahmi tahu kisah di balik ayat ini?"
Replika kecil dari Fadhil itu, menggeleng. Ia meminta anaknya mendekat, lantas memangkunya.
"Coba lihat ayat lanjutannya, Luqman memberitahu kepada anak-anaknya 'Nak, jangan menyekutukan Allah'. Fahmi tahu kenapa Luqman berkata begitu?"
Fahmi menggeleng lagi. "Dia berkata lagi, karena itu perbuatan dzhalim yang sangat besar'. Lalu dia menasehati, dirikan shalat, berbuat kebaikan dan tumpaslah keburukan. Fahmi bisa jadi seperti ya bunayya?"
"Kenapa Fahmi harus jadi ya bunayya, kan nama Abi bukan Luqman," Fahmi bertanya polos yang ditanggapi kekehan dari Abinya.
"Nak, ya bunayya yang dimaksud oleh Luqman Al-Hakim adalah anak-anak keturunannya, pelajaran yang bisa diambil untuk semua anak-anak."
"Begitu ya, Bi. Jadi, Fahmi termasuk ya bunayya?"
"Iya. Nah, itu bisa kan nyebutnya. Coba sebut lagi, Fahmi termasuk apa?"
"Ya bunayya!"
Fahmi terdiam seketika, sontak membuat semua orang menoleh bingung.
"Maaf, saya harus pergi."
Ia bergegas bangkit dan berlalu keluar masjid. Rayyan yang hendak bertanya ada apa pun mengurungkan niatnya. Romeo menyusul dan mengucap salam kepada semua.
Humaira di tempatnya bertanya-tanya apa yang terjadi. Meski tak ada jawaban dari kebingungan mereka, Rayyan memanggil keduanya untuk pulang juga.
Di jalan, Romeo yang tak mengerti dengan keterdiaman dan wajah murung bosnya, enggan bertanya. Jadi, ia hanya mencoba menenangkan dengan memuji bosnya.
"Bos suaranya bagus banget. Adem gitu, Bos. Saya jadi berkaca-kaca."
Fahmi mendengkus, bergumam. "Memangnya apa yang bagus dari sekadar bisa mengaji? Toh, dirinya juga tak dihargai oleh ayahnya sendiri."
"Hah?"
Tak ada jawaban memuaskan dari gumaman aneh Fahmi pri itu berlalu, meninggalkan kening berkerut Romeo di belakang punggungnya.
***