Chapter V

1022 Words
Humaira mengusap tetesan keringat yang luruh ke dahi. Tangan kanannya dengan lincah menggosok meja bundar setelah meletakkan piring-piring kotor ke dapur. Ia tersenyum puas melihat hasil kerjanya. Beralih mengamati Cafe Minum tempatnya bekerja selama seminggu ini. Minum diambil dari kata minimum-premium yang artinya cocok untuk segala golongan. Cafe bergaya tempoe doeloe dengan kursi-kursi kayu khas Jawa Timur berukiran rumit. Beberapa tanaman menjadi penyemarak untuk membuat singgahan sementara itu tampak asri. Ia menoleh ke arah luar, hari tampak cerah. Jalanan sibuk tiada habisnya. Lalu lalang kendaraan tanpa henti. Humaira masih takut untuk bergabung dengan jalanan. Dia masih sangat baru menginjak kota. Dia juga tahu konsekuensi pergi ke kota, berarti harus kehilangan keheningan dan suasana tenteram seperti di desanya. Peak hour telah lewat sejam yang lalu. Hanya tinggal beberapa meja yang terisi. Hari ini adalah hari terakhirnya bekerja menggantikan Afifa, sepupunya yang meminta bantuannya karena tak ingin gajinya terpotong selama masa cuti menikah. Baginya, membantu Afifa memiliki hikmah tersendiri. Dia jadi banyak berkenalan dengan orang-orang baru. Misalkan saja, Iriana, wanita yang mahir meracik minuman-minuman yang sulit diucapkan lidahnya. Wanita itu tidak ada hentinya memberinya pengetahuan baru. Ada pula yang mengajaknya ke clubing. Have fun katanya. Yang dia pikirkan clubing berarti suatu perkumpulan fans sepak bola. Humaira terpaksa menolak ajakan itu dari beberapa pria. Ah, dia ingin sekali have fun, setidaknya mungkin dia akan mendapatkan seseorang yang cocok dengan orang yang memiliki ketertarikan dan idola yang sama. Humaira menggeleng pelan, mengenyahkan keinginan absurd-nya. Gemerincing lonceng terdengar, tanda ada pelanggan lain yang masuk. Dia bergegas meletakkan lap dan semprotan pembersih kaca. Kali ini tiga orang laki-laki berjas dan kacamata. Seperti mata-mata saja. Dia tertawa geli karena pemikirannya sendiri. Humaira terjingkat sesaat Romlah si judes pedes menepuk kasar pundaknya. “Bengong mulu lu, Katrok! Buruan nih antar ke meja situ!” Humaira menutup telinganya yang berdenging. Mengusap d**a dan menggeleng pelan. Di meja sebelas ada empat orang wanita kantoran yang mengobrol sangat heboh. Kadangkala dia merasa heran, takutnya kebisingan mereka akan membuat pelanggan lari, tetapi, tidak ada yang berani menegur karena pelanggan dianggap sebagai raja yang bisa seenaknya. Setelah mengantar pesanan, dia kembali menghadap Romlah. Ketiga pria tadi hendak memesan. Humaira mengambil note dan buku menu. Dia terjungkal tak siap seketika Romlah mendahuluinya. Tidak biasanya gadis bermulut comel itu mau turun tangan sejak Humaira datang ke sana. Tak dia pikirkan lebih jauh, toh, pekerjaannya menjadi lebih ringan. Beberapa kali ia menoleh melihat jam tua yang tergantung di dinding, waktu istirahat akhirnya tiba dan dia tak sabar karena sebentar lagi Afifa akan datang menjemputnya. Hanya tinggal beberapa anak sekolah dan tiga orang laki-laki mengenakan jas formal yang baru saja akan keluar. Mereka seolah menjadi magnet yang menyedot perhatian keempat wanita tadi. Humaira dengan sigap membersihkan meja yang telah ditinggalkan para lelaki. Dia punya alasan berlama-lama. Kadangkala sangat menyenangkan mencuri dengar pembicaraan pelanggan dengan banyak macam karakter, meski diia juga tak mungkin ikut campur permasalahan mereka. “Kalian sudah dengar?” “Apaan?” “Iya, ada apaan, Nya?” Wanita pertama yang memulai merunduk diikuti yang lain. Humaira menajamkan telinga, sama penasarannya, kendati yang terdengar samar-samar. “Kita jahit bibirnya.” Reflek Humaira menutup bibir. “Gantungkan aja rambutnya pake tusuk besi. Berani bener itu orang gangguin Bos Fahmi.” Humaira meringis dengan ke-bar-baran perkumpulan wanita itu. Dalam kebingungannya, karena entah bagaimana pembicaraan berujung pada pria, Iriana memanggilnya dari arah belakang. “Ra!” Dia memegang dua kantung sampah plastik berwarna hitam. Humaira menghampiri dan mengambil alih keduanya. “Tolong ya buangkan. Makasih, Ira sayang.” Ia membalas senyum menawan Iriana, berlalu melewati pintu belakang, masuk ke lowongan tak jauh dari sana. Keduanya ia letakkan bersama tumpukan sampah lainnya. Petugas sampah biasanya akan datang seminggu sekali. Iriana menggerutu selama seminggu ini sampah semakin bertumpuk karena pelanggan semakin banyak datang. Ia menegurnya untuk bersyukur “Bersyukur apanya kalau gaji tetep juga,” begitu jawaban Iriana. Humaira berputar, masuk dari arah depan. Langkahnya terhenti melihat seorang wanita tua yang baru turun dari angkot kesulitannya menyeberang. “Mudah-mudahan cepat dapet jodoh ya, Neng.” Humaira mengamini sekuntum doa wanita yang dibantunya tadi. DiIa berjalan riang kembali ke cafe, saat perhatiannya teralih pada penampakan seorang anak berpakaian kumal terus menelan ludah mengamati orang-orang makan dengan lahap. Humaira merogoh dompetnya. Hanya tersisa sedikit, meski begitu hatinya menggerakkannya untuk membeli beberapa bungkus nasi. Dari sudut yang lain, tiga orang pria mengamatinya. Bapak Chu Jhonson memperhatikan gerak-gerik Humaira membantu wanita tua, hingga menolong seorang anak kelaparan. Fahmi masih membuntutinya seperti buntut. Nasib perusahaannya yang tidak terlalu besar, kurang menjanjikan para investor untuk datang. Pilihannya hanya dihampiri atau mendatangi para pemilik uang berjalan. “Sayangnya, saya lebih mendahulukan pengusaha yang telah berkeluarga. Apalagi dengan gadis seperti gadis itu. Benar-benar seperti orang Indonesia,” Chu berkata jujur. Fahmi mengumpat dalam hati, bos besar itu jelas akan menolaknya jika begini. Dia memperhatikan seseorang yang ditunjuk Bapak Chu dengan hati dongkol. Wanita yang mungkin akan menjadi kunci kemenangannya nanti. Pria tender 60 juta dollarnya menunjuk seorang gadis berpakaian pelayan cafe merah putih di tempat mereka makan tadi. Selain berkerudung sebatas d**a, wajahnya bersih dari polesan make up. Fahmi merasa mual karena figur enggak banget Humaira membuatnya tidak berselera. Ia menatap Bapak Chu yang tersenyum. “Dia wanita yang jujur. Coba perhatikan bagaimana dia menolong anak tadi. Sungguh wanita berhati lembut.” “Eh, Yembut.” Romeo yang tersandung batu dengan latah mengikuti Bapak Chu. “Untung bukan--” Romeo melakukan gerakan mengunci mulut begitu Fahmi menatap tajam pada guyonan Romeo. Selain nyentrik, cara berpakaiannya yang selalu matching dari atas ke bawah, juga karena pria itu tak pernah menggunakan mobil ketika bekerja. Lain lagi dengan kebiasaannya main game. Fahmi seolah telah menjadi asisten yang harus selalu tahu jadwal dari orang penting itu. Bapak Chu menjatuhkan dompet di dekat Humaira. Berjalan lurus sambil menelepon. Humaira memungut dan mengembalikannya. Pria itu berterima kasih, menyodorkan beberapa lembar uang yang langsung ditolak. Fahmi mengikuti permainan Chu, meski ia tak tahu apa gunanya. “Apa saya bilang!” Dengan semangat Bapak Chu mengambil handphone dan menghubungi istrinya. Fahmi dibuatnya geleng kepala. Pria ini pasti bercanda. Namun, dia tidak bisa mengabaikan kesempatan emas di depan matanya. Dia harus mendapatkan wanita itu. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD