Chpater XXII

1010 Words
Romeo membukakan pintu, dan seorang wanita fashionista bertubuh langsing semampai, menduduki meja kebesaran Fahmi. Kakinya yang mulus terlihat saat rok berbelahan tingginya tersingkap saling tumpang tindih. Fahmi menampar pipi Romeo untuk membuatnya tersadar liurnya menetes mengotori lantai.     "Siapa yang biarkan dia masuk!"   "Tadi sudah saya cegah Pak, tapi--"   "Cukup! Pergi kalian semua!" potong Fahmi tanpa mendengar penjelasan lebih jauh.   Romeo dan sekretarisnya seketika menghambur keluar ruangan.   "Kenapa menghindariku, Fahmi?"   Gadis anggun berbalut pakaian one piece dipadu  rok belahan merah itu berjalan mendekatinya. Setiap ketukan heelsnya membuat Fahmi terganggu. Dia benci ada wanita tidak tahu diri yang memasuki teritori terlarangnya dan duduk seenak udel di tempatnya.   "Perlu kutegaskan kita sudah tidak memiliki hubungan apa pun. jadi jangan ganggu hidupku."   "Aku tidak bisa menerimanya! Aku tidak merasa melakukan kesalahan. Aku tidak melakukannya! Kamu harus mempercayaiku, Fahmi. Aku cuma cinta sama kamu."   "Benarkah?"   Wanita benama Melly itu cemberut. Merengek seperti seorang anak kecil meminta permennya yang direbut.   “Bukankah kamu menikmati lolipop yang lain.”   Melly mendengkus Fahmi terlalu kejam dan dingin. Kalau dia terus seperti itu, mana ada wanita yang mau dengannya. Mendengarnya dari siapa yang berbicara dan siapa yang masih menguntitnya membuat Fahmi lelah. Dua satpam datang tak lama kemudian.   "Bawa dia keluar!" Perintahnya..   "Fahmi, kenapa kamu melakukan ini padaku? Aku enggak terima! Aku tidak bersalah! Semua ini fitmah!"   Fahmi mengorek telinga dengan jengah dan pintu tertutup meredam kehisterisan Melly yang mencoba meyakinkannya.   Dia menekan interkom menyuruh asisten pribadinya, Romeo Torpedo untuk masuk dan membacakan jadwal.   "Berani sekali dia muncl di sini." Fahmi membanting berkas dan mengendurkan dasinya.   "Tapi Bos, kan itu rencana Bos juga.”   “Diam, Romeo! Meski begitu dia akan tetap salah, karena aku ingin dia tetap bersalah. Mengerti!”   “Siap, Bos!”   Fahmi sejujurnya tidak tertarik pada hubungan emosional denga wanita. Dia menghindari hal-hal itu. Pernikahan dia gunakan sebagai media untuk membuat kontrak kerja, tanpa perlu bersusah-susah. Dengan menjaring beberapa  wanita atau anak semata wayang pemegang perusahaan besar dan kaya, kemudian menjebaknya. Terlalu mudah dilakukan. Wajah tampan Fahmi  yang menjadi modal dalam kesuksesan kariernya. Dia akan membuktikannya suatu hari. Dan orang-orang akan mulai mengakui keberadaannya.   "Pak bos hari ini ada rapat dengan kepala perusahaan PT. LokalIndo. Dan… apa kita perlu memasukkan nya sebagai jadwal mengikuti ke mana Pak Chu pergi?”   “Tentu saja. Sudah kamu cari tahu tentangnya?”   “Hari ini beliau sepertinya hendak main arcade game.”   "Arcade game?   Bapak Chu Jhonson adalah pemilik perusahaan yang diincarnya belakangan ini, memang sedikit eksentrik, tetapi hasil yang mungkin akan didapat Fahmi cukup sepadan nantinya.   "Kosongkan jadwal saya menyesuaikan jadwal Bapak Chu."   "O-oke, Bos." *** Dari sudut yang lain, tiga orang pria mengamatinya. Bapak Chu Jhonson memperhatikan gerak-gerik Humaira membantu wanita tua, hingga menolong seorang anak kelaparan. Fahmi masih membuntutinya seperti buntut. Nasib perusahaannya yang tidak terlalu besar, kurang menjanjikan para investor untuk datang. Pilihannya hanya dihampiri atau mendatangi para pemilik uang berjalan. "Sayangnya, saya lebih mendahulukan pengusaha yang telah berkeluarga. Apalagi dengan gadis seperti gadis itu. Benar-benar seperti orang Indonesia." Chu berkata jujur. Fahmi mengumpat dalam hati, bos besar itu jelas akan menolaknya. Ia memperhatikan seseorang yang ditunjuk Bapak Chu dengan hati dongkol. Wanita yang mungkin akan menjadi kunci kemenangannya nanti. Pria tender 60 juta dollarnya menunjuk seorang gadis berpakaian pelayan cafe merah putih di tempat mereka makan tadi. Selain berkerudung sebatas d**a, wajahnya bersih dari polesan make up. Fahmi merasa mual karena figur enggak banget Humaira membuatnya tidak berselera. Ia menatap Bapak Chu yang tersenyum. "Dia wanita yang jujur. Coba perhatikan, saya akan menguji gadi itu." Selain kenyentrikan cara berpakaiannya yang selali matching dari atas ke bawah. Kelakuan anehnya juga karena pria itu tak pernah menggunakan mobil ketika bekerja. Lain lagi dengan kebiasaannya main game. Fahmi seolah telah menjadi asisten yang harus selalu tahu jadwal dari orang penting itu. Bapak Chu menjatuhkan dompet di dekat Humaira. Berjalan lurus sambil menelepon.Humaira memungut dan mengembalikannya. Pria itu berterima kasih, menyodorkan beberapa lembar uang yang langsung ditolak. Fahmi mengikuti permainan, meski ia tak tahu apa fungsinya. "Apa saya bilang!" Dengan semangat Bapak Chu mengambil handphone dan menghubungi istrinya. Fahmi dibuatnya geleng kepala. Pria ini pasti bercanda. *** Romeo menggerutu, tanduk di kepalanya bertambah dua sekarang. Sekali lagi ia harus mengikuti sinful game yang akan dimainkan sang bos dengan menuruti perintah kejam penuh risiko: seperti mencari tahu asal-usul dari wanita yang direkomendasikan sendiri oleh pemilik perusahaan yang diincarnya. Suara ting tang ting tung pesan singkat yang masuk seolah tiada habisnya mampir ke nomor ponsel pribadi tuannya. Dan sekarang pria itu hendak menambah mangsa? Ia mengecek gawai tersebut, menemukan ratusan pesan dari mantan-mantan istrinya. Heran Romeo. Apa mereka semua tak lelah? Telah lama diabaikan, tetapi masih mengagungkan. Dengkusan berbumbu rasa iri, karena dengan mudah di bos mendapat kelancaran dan mahir dalam urusan cinta. Dirinya? Jangan ditanya, bahkan pembantu Fahmi pun malas membalas pernyataan cintanya. Ia mengklik salah satu pesan bernada mengancam. Yang paling getol mengirimkan pesan adalah Rasinta. Gadis bertubuh sintal tanpa lemak dan lezat,--- menurut Romeo---seorang anak pengusaha kaya yang dimanfaatkan Fahmi juga. Mantan istri ketiga, Sinta. Aku tidak mau tahu! Kembali padaku atau kuhancurkan perusahaan yang kamu bangun! Romeo melaporkan hal tersebut.Namun, sungguh buakn reaksi yang ia harapkan. Pria berjambang tipis itu malah tertawa-tawa seolah gertakan kesekian Rasinta hanyalah lelucon belaka. "Bos! Anda ingin kita bangkrut?!" "Biarkan saja, Meo. Aku tidak peduli dengan si sinting itu. Sekarang, dan yang paling penting adalah mendapatkan tender 60 juta dollar itu." Fahmi menatap ke arah luar menembus kaca. Pemandangan jalan raya pengap merayap di bawah sana. "Bagaimana hasil pencariannya?" "Eh, anu, Bos." "Romeo!" "It-itu... gadis itu baru aja kembali ke kampungnya." "Kampung?" "I-iya, Bos. Dia gak tinggal di sini." Fahmi tampak berpikir sejenak. Tangannya mengusap telinga, wajahnya serius. "Meo!" "Siap, Bos!" "Kita akan ke sana!" "Eh, kemana, Bos?" "Kemana lagi selain ke tempat gadis itu berada!" "Ta-tapi--" "Tidak perlu mengatakan apapun karena keputusan saya sudah bulat." Romeo menatap tercengang. di saat Istri ketiganya hendak menuntut balas, keadaan semakin genting dengan penurunan harga saam dan t***k bengek perusahaan yang tengah oleng, Fahmi merencanakan cara tercepat, tetapi penuh pertaruhan. satu hal yang pasti, bosnya itu memang super nekad! ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD