Keputusannya bertindak cepat dan tenang dibentuknya bukan hari ini melainkan bertahun-tahun selama hidupnya. Berkali-kali dihadang masalah mendesak memberinya tempaan yang tepat membentuk pribadi Fahmi yang sekarang. Karena itu dia jarang malu, gugup, ataupun kebingungan. Dan sekalipun berada di ujung tanduk, dia bisa memahami dan menyelesaikan dengan tepat apa yang dibutuhkan.
Akan tetapi semua teori bertahan hidupnya hampir-hampir tidak berguna kala di hadapkan pada gadis ini. Ketenangan yang selama ini dia banggakan menguap entah kemana. Gengsi bahkan tak lagi mampir di benaknya.
Sebenarnya apa yang telah gadis ini perbuat padanya. Dia begitu marah hanya karena gadis itu menyebut nama laki-laki lain, sedangkan dia, dia adalah suami sahnya untuk sekarang. Sialan! Mungkinkah harga dirinya sebagai lelaki yang terluka telah menyelamatkan mukanya?
Tidak masalah. Bukan apa-apa. Fahmi mungkin harus memberi sedikit gertakan hanya untuk membuatnya jera. Tapi apa yang sebenarnya dia lakukan. Gadis ini harusnya tak perlu menjadi perhatiannya. Bukan gayanya memikirkan sesuatu yang sepele semacam ini. Dia hanya harus tenang dan perlahan, mempertanyakan keputusannya.
Ya harusnya dia memikirkan itu sebelum mencegat gadis itu dengan menggenggam tangannya seperti sekarang, betapa malunya. Sekarang apa langkah selanjutnya. Pikirkan Fahmi!
Dia kehilangan kendali lalu dengan reflek mencegahnya pergi. Kenapa? Bukankah mereka nanti juga akan berpisah? Biarkan saja dia menemui laki-laki itu yang kelak mungkin akan menjadikannya istri kedua atau mungkin gadis ini tidak akan mendapatkan apa-apa. Kenapa sih dia begitu bersikeras mengunjungi Rayhan sialan itu? Demi Tuhan dia sudah menikah! Gadis bodoh! Dia pasti tak akan dapat apa-apa. Rayhan sudah terlalu buta untuk melihat dirinya, apalagi setelah pernikahan mereka, mungkin tak ada lagi ruang yang tersisa dan dia tetap ingin ke sana?
Fahmi sudah cukup baik menyadarkan gadis itu, namun yang dia terima seolah-olah dia hanya orang d***u yang menghalangi kisah cinta dua orang yang mabuk asmara. Menyebalkan.
“Bukankah sudah kubilang, tenanglah.”
“Tapi saat ini, Mas Ray--”
“Apa Mbak Humaira berniat membantah lagi?”
Lagi-lagi tidak tertahankan. Wajah Humaira membeku mengamati ekpresi kaku Fahmi. Dia tidak mengerti. Mengapa Fahmi? Apa dia kini sedang marah? Karena apa?
Satu hal yang pasti. Dia belum pernah melihat ekpresi itu ditunjukkan Fahmi selama mereka mengenal beberapa bulan ini.
“Apa kamu marah?”
Apa dia terbaca jelas? Apa memang semudah itu perasaannya dibaca? Yang perlu dia lakukan hanya kembali seperti semua, menganggap semua hanya candaan belaka dan berusaha melucu untuk mencairkan suasana.
“Hah? Ahahaha, tentu saja bukan begitu. Hanya….” Tidak terdengar alami, suara tawa itu malah terdengar menjijikkan.
“Apa ada masalah?”
“T-tidak sama sekali.”
“Kalau begitu, boleh aku pergi?”
Fahmi berusaha mengangguk, tetapi tangannya semakin erat mencengkeram. “Fahmi kamu menyakiti tanganku. Sebenarnya kamu mengizinkanku pergi atau tidak? Saat ini Mas Rayhan mungkin membutuhkan sesuatu.”
“Tidak bisa.”
“Kenapa?”
“Tidak bisakah kamu tidak pergi? Bukan. Jangan pergi ke sana. Jangan melihat Rayhan lagi.”
Humaira sedikit tersentak dengan perkataan Fahmi. “Ke-kenapa?”
“Tidak bisakah kamu menurutinya tanpa bertanya?”
“Tapi--”
“Apa arti saya bagi kamu. Rayhan tidak butuh kamu, dia punya orang lain di sampingnya.” Bahkan dengan kenyataan sejelas itu, masihkah dia bersikeras bahwa Rayhan sama seperti sebelum Farah datang ke dalam kehidupannya.
Humaira juga buntu memikirkan mengapa Fahmi mengatakan hal itu. Dia hanya bisa menunduk bingung, menyembunyikan matanya yang enggan bertubrukan pandang dengannya.
“Aku… tahu apa yang kulakukan hanha kebodohan. Tetapi aku hanya melihatnya sebagai keluarga yang berharga, bukan lagi sebagai seorang pria. Jadi, maukah kamu menganggapnya sebagai pemakluman sementara?”
Itu kebohongan. Apa yang ada di hatinya adalah pengharapan. Meski mustahil, meski hanya kesempatan kecil yang terjadi seribu tahun sekali. Jadi, walaupun apa yang selama ini Fahmi lakukan, hanya sia-sia untuk menarik perhatiannya. Bahkan setelah kata cinta yang dia ucapkan di pantai hari itu.
Ya, meskipun semua itu hanya untuk membuatnya terperangkap dalam pernikahan, Fahmi tak menyangka gadis ini bahkan tak pernah memikirkannya sedetik pun. Sama ketika Humaira tanpa ragu menolak permintaannya untuk tidak pergi.
“Sebenarnya, kamu menganggapku sebagai apa?”
Hari ini Humaira banyak menunjukkan emosi-emosi baru. Matanya yang membola dan raut terkejut. Saat kemudian Fahmi meninggalkan dan melepas tangannya, dia merasa dipojokkan ke dinding.
“Fahmi, kenapa?” pertanyaan itu hanya terdengar seperti suara lirih yang keluar dari bibirnya. Dia bisa pergi karena Fahmi melepasnya. Ada apa dengan tubuhnya yang tidak mau bekerja, bukankah dia harus segera pergi menemui Rayhan sekarang juga?
Pertanyaan tadi masih menghantuinya. Apa yang terjadi pada Fahmi? Bukankah biasanya dia tidak peduli? Kemudian kelebat ingatan tentang pantai dan masa lalu, dan bagaimana dia luluh dan setuju menikahi Fahmi.
“Sebenarnya, aku menganggapnya sebagai apa? Tentu saja suami. Mengapa dia bertanya pertanyaan yang sudah jelas.”
Humaira tertegun. Dia memang menganggap Fahmi sebagai suami, namun secara esensi, dia bertindak atas kemauannya sendiri tanpa meminta pendapat Fahmi.
Apakah dia salah? Apa yang dilakukannya? Mengapa sekarang?
Humaira bersalah dan itu menohok hatinya. Dia harus minta maaf. Selama itu Humaira hanya menunggu kepulangan Fahmi, tetapi pria itu tiada rimbanya. Fahmi pasti sangat marah dan membencinya. Dia mungkin menganggapnya wanita yang tidak bersyukur dan tidak tahu diri. Sebaiknya dia harus mengatakan apa untuk menenangkan Fahmi nanti.
Humaira duduk sendirian di gubuk tempat mereka memulai awal yang baru. Dia pasti sudah menyakiti Fahmi. Apalagi dia adalah satu-satunya pria yang dengan sangat berani menyatakan cinta dan segera melamarnya. Sudah saatnya Humaira membuka pintu hati untuk pria lain yang lebih nyata di hadapannya.
Suara derit pintu membangunkan Humaira yang terkantuk-kantuk di kursi. Fahmi memandang heran. Posisi tidurnya, apa Humaira menunggunya? Dia pikir gadis itu hanya akan menempelkan post it bahwa dia akan bermalam di rumah Rayhan.
Apa perkataannya tadi cukup berdampak? Setelah ini hubungan mereka akan seperti apa. Dan tanpa Fahmi sadari, dia memegang dadanya. Dia merasakan gemuruh seperti badai yang mengamuk di dalam sana. Alasan dadanya berdebar seperti sekarang, pasti karena rasa penasaran, selain rasa bersalah dengan pikiran bahwa mungkin dia akan merebut kisah cinta gadis itu ke depannya.
Fahmi tidak pernah suka kalah, dan dia jug tidak akan kalah dari Rayhan untuk mendapatkan Humaira, meski dengan cara terkotor sekalipun pasti akan dia alihkan tatapan memuja itu padanya.