Chapter LIII

1020 Words
Dua minggu sejak perpisahannya dengan Fahmi, Humaira masih menjalani kehidupannya seperti biasa, tidak lebih tidak kurang. Buktinya dia masih bertahan. Benar dia akan baik-baik saja, sebelum bertemu dengan Fahmi dia bisa hidup semestinya. Perkataan picisan sejenis aku tidak bisa hidup tanpamu tidak ada dalam kamusnya.   Akan tetapi, setiap orang yang melihatnya berkata bahwa dia telah berubah, dia bukan Humaira yang pernah terluka. Dia semakin skeptis dan menjaga jarak dengan siapa saja. Begini ya saat seorang wanita dikhianati, berani benar pria yang berniat menantang dunia. Bagaimana pun tidak ada orang yang akan lepas dari kesalahan, sekali pun hatinya membeku dan tidak merasa bersalah. Semakin hari semakin dipikirkan, ternyata rasa sakit dan kesepian juga bisa menjadi kekuatan.   Humaira genap menginjak tiga puluhan, dia begitu naif dan polos, merasa bahwa semua akan sesuai dengan pikirannya, menganggap semua orang akan berlemah lembut padanya. Dia baru saja menetas dan terlahir kembali sebagai pribadi yang lebih tangguh dibandingkan sebelumnya.   Dia baru menyadari, perubahan diperlukan sebagai bagian dari evolusi hati. Penjagaan yang diketatkan diperlukan, asal jangan sampai dia menguncinya terlalu rapat. Melakukannya merupakan bagian dari pertahanan diri.   “Ira.”   Farah berwajah pucat dan semakin kurus dari hari ke hari. Kehamilannya memasuki masa-masa paling menyakitkan. Padahal Humaira sudah menyuruhnya untuk cuti. Farah membandel, semangatnya mengobati pasien yang membuat puskesmas di desa mereka lebih hidup memang sangat dibutuhkan.   “Hari ini mau mampir ke rumah?”   “Enggak dulu, Far. Aku masih harus ngerjakan beberapa jahitan, aku juga ada kerja part time.”   “Kamu belakangan ini makin sibuk.”   “Eh? Masa?”   “Jangan memaksakan diri ya.”   Dia juga sebenarnya bukan memaksakan diri, hanya saja jika terus diam, dia kan merasakan kesepian yang mermat di harinya semakin meluas. Dia mencari sebuah pengalihan untuk tidak terus memikirkan. Humaira tidak tahu apa yang akan terjadi kalau Fahmi sampai muncul di hadapannya sekali lagi, dia mungkin tidak akan sanggup berdiri.   “Ira aku mau minta maaf atas segala yang kulakukan selama ini.”   “Kamu ini ngomong apa. Mana pernah kamu berbuat salah padaku.”   “Pokoknya aku minta maaf, mungkin ada dari perkataan maupun perbuatanku yang selama ini mengusikmu atau membuatmu sakit hati.”   Bohong jika Humaira berkata dia tidak merasa sakit saat Rayhan lebih memilihnya. Namun, semua terjadi di masa lalu, dia bahkan sudah lupa rasa cemburu dan panas menguasai hatinya.   “Kenapa deh kamu, Far. Tumben banget pake minta maaf.”   “Ira kamu ini perempuan yang baik. Seandainya kamu mau, Mas Rayhan sudah kusuruh kamu jadikan madu.”   “Ahahaha, ada-ada aja kamu, Far.”   “Aku serius, Ira. Saat pertama kali bertemu kamu, kukira kamu orang yang tepat untuk jadi istri orang seperti Rayhan, ternyata dia memilihku. Tahu-tahu akau menyetujuinya. Dan rupanya takdir sudah mengantarkan kamu pada pria lain.”   Hunaira tertegun dengan pernyataan Farah. Seandainya dia tidak bertemu Fahmi, dia mungkin akan merasakan manisnya pelukan Rayhan, orang yang selalu dia kagumi dan diam-diam dia cintai dari kejauhan. Humaira kini mulai mempertanyakan, apa yang dirasakannnya waktu itu benar-benar afeksi nyata? Mungkin saja seperti yang dikatakan Fahmi, dia mencari seseorang untuk dia lampiaskan hanya karena dia kesepian.   “Aku gak bisa ketawa dengan banyolanmu, Far. Mas Rayhan sudah pasti cinta mati sama kamu. Aku ini sepupu sekaligus sahabatnya, enggak mungkin aku bisa nikah sama Bang Ray. Karena itu, sewaktu dia bilang berencana menikahimu, aku enggak keberatan sama sekali, karena tipe kesukaan Bang Rayhan cuma kamu. Takdir Allah memang tidak bisa ditebak, tetapi aku yakin akan bertemu pria yang lebih baik.”   Ira kamu benar-benar mencintai Fahmi ya, bisik hati Farah. Terbukti dari dalamnya luka yang dia torehkan, Humaira berubah menjadi priadi yang lain, dia kehilangan dan dikhianati, tidak tahu apalagi yang tersisa darinya dan menyerah. Harusnya itu cukup untuk menghancurkan dan melupakan bayangan semu Fahmi. Dan semua terpatahkan, dia tidak pernah meninggalkan bayangannya, justru yang dia lakukan adalah mempertahankan kenangan yang tersisa darinya. Bisa jadi dia tidak ingin melupakan rasa sakit, bisa jadi sebaliknya.   “Begitu ya. Aku bersyukur kamu segera lepas dari pria semacam itu. Ira, kamu perempuan cantik dan baik, tidak akan ada pria yang menolak pesona yang kamu miliki.”   Ada. Dia punya banyak kelemahan yang tak terhitung jumlahnya, itulah kenyataannya. Dia hanya harus ebih berusaha menerima dirinya.   “Makasih sudah bilang aku cantik.”   “Ira.”   Keduanya tertawa bersamaan. Farah mengajak Humaira mampir ke pasar sepulangnya. Humaira tidak pernah tahu bahwa itu akan menjadi terakhir kalinya dia menghabiskan waktu bersama sahabatnya.   Humaira melihat darah di tangannya, warnanya hampir gelap karena terlalu lama di udara, Farah tergeletak di sampingnya dengan luka tusukan yang dalam. Tempat itu sepi, dia kebingungan, berlari ke arah orang-orang dan kembali ke tempat Farah yang sudah mendingin. Tangannya dingin. Humaira mengusap-usapnya supaya tetap hangat, mengguncang-guncang tubuhnya yang tidak bergerak, napasnya lemah hampir tidak terasa lagi.   “Far, Farah! Bangun, Farah! Jangan tinggalkan aku, Farah. Jangan tinggalkan Mas Rayhan. Kamu harus bertahan demi anak kamu. Bangun, Farah!”   Tidak ada jawaban, hanya terdengar suaranya memantul ke telinga. Mengapa ini terjadi. Seharusnya Farah tidak mencoba menyelamatkannya, seharusnya dirinya yang tergeletak di sana. Humaira tidak tahu bagaimana kacaunya keadaan dan wajahnya, tangisnya terus mengucur seperti darah yang dia redam sekuat tenaga.   Tak lama sebuah truk pick up datang, mengangkut Farah, Humaira tak melepas dekapannya, menjaga tubuhnya tetap hangat.    “Tunggu, Far. Aku mohon, bertahanlah, kita akan segera sampai. Jangan khawatir kamu akan baik-baik aja.”   Setidaknya itu yang ingin dia yakini. Tangannya, pakaiannya sudah basah dengan darah. Saat memasuki ruang operasi, semua sudah terlambat   Dia yang telah membuat Farah begini. Dia yang membunuh Farah. Jika sampai Farah tiada, bukan hanya dia orang yang malang karena kehilangan teman.   Satu-satunya yang dimiliki Rayhan hanya Farah, dan kini dia kehilangan pelitanya. Persamaan yang mendasar dari dirinya dan Rayhan adalah karena mereka sama-sama kehilangan orang yang berharga, teman hidup yang baru mereka kumpuli beberapa bulan. Dan walaupun dia kehilangan Fahmi, tidak seperti Rayhan, dia tahu Fahmi masih hidup dan itu sudah cukup menenangkan hatinya. Dan Rayhan dia kehilangan dua orang sekaligus, pria itu mungkin lebih hancur daripada dirinya. Lelaki pun bisa menangis untuk orang-orang yang dia kasihi.   Dia harus jadi kekuatan orang lain, dia tidak boleh gagal lagi seperti dia gagal menyelamatkan Fahmi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD