Chapter XXXIX

1011 Words
Dia tidak percaya ini, saat dirinya bangun, Fahmi tidak berada di sampingnya. Bahkan jejak keberadaannya tiada rimba. Sampai-sampai dia mengira telah bermimpi. Namun, keberadaannya di tempat ini sudah merupakan bukti, semalam dia bersama Fahmi. Saat dia menanyakan pada resepsionis mereka hanya menyerahkan sebuah kertas yang isinya hanya sebuah kalimat maaf yang singkat. Humaira melihat HP-nya mati akibat terjatuh semalam. Saat di amenghidupkan, puluhan pesan berjejalan dari Rayhan dan Afifah. Semua orang pasti khawatir saat tahu dia menghilang tiba-tiba. “Ira, kamu bikin khawatir kami! seenggaknya SMS kamu ke mana. Aku sama Bang Rayhan sampai keliling kompleks nyariin.” “Fif, hiks, Afifa….” “Kamu kenapa? Sekarang di mana? Kirim alamatnya, aku jemput sama Bang Rayhan secepatnya.” “Aku ketemu Fahmi. Dia di sini.” “Kamu yakin, Ira?” “Iya.” “Jangan kemana-mana, kita udah deket.” Setibanya Afifa bergegas masuk dan merangkul Humaira. “Alhamdulillah kamu baik-baik aja.” “Maaf sudah bikin khawatir semua orang.” “Terus mana dia. Mana Fahmi, Ira?” “Dia pergi.” “Apa?!” Rayhan terlambat masuk, dan segera menemukan keduanya berangkulan. “Ira kamu enggak apa-apa?” “Ira baik-baik aja Bang Rey. Yang enggak baik itu orang yang suka ngilang seenaknya.” “Mana Fahmi? Kamu bilang ketemu Fahmi.” “Dia ngilang lagi.” Afifa yang terus menjawab pertanyaan Rayhan. “Kamu yakin dia nginep di hotel ini?” “Iya, Bang Rey.” “Sebentar, aku coba tanya resepsionis dulu. Kalian duduk aja dulu.” Rayhan berinisiatif menanyakan keberadaan penghuni kamar yang ditempati Humaira semalam. “Mohon maaf, kami tidak bisa memberikan informasi costumer, Bapak.” “Kenapa?” “Ini termasuk kebijakan dari pihak hotel, Bapak.” Dari infromasi check in, semua biaya sudah dibayarkan. Terlebih, telah dibooked selama tiga hari tiga malam. Ini berarti Fahmi berniat akan lama tinggal. Tapi sekarang, ke mana pria itu menghilang? “Dia pasti masih di sini. Mungkin karena urusan rahasia atau penting. Tapi Abang enggak nyangka dia bermalam di hotel bintang lima. Bosnya pasti orang yang baik.” “Atau justru orang jahat yang melakukan transaksi gelap.” Mengingat Fahmi yang mabuk-mabukan, mau tak mau pemikiran Fahmi terlibat dalam praktik bisnis gelap memenuhi kepala Humaira. Fahmi terjerumus ke dalam pekerjaan haram demi menebus hutang. Keinginanya untuk menyelamatkan sang suami kian bertambah besar. “Kalau dia masih di sini, kita bisa gampang mencarinya. Aku ada kenalan polisi.” Melibatkan polisi dalam masalah ini cukup beresiko. “Tunggu Bang Rey, jujur saja aku takut. Aku merasa kalau Fahmi sebenarnya tidak ingin dicari.” “Lantas kamu bagaimana? Apa yang kamu rasakan, apa dia bahkan memikirkan?” Rayhan cukup emosinal. Sedikit banyak, dialah yang menjadi murabi pernikahannya dnegna Fahmi. Rayhan sangat merasa ersalah di sisi lain tanggung jawabnya sebagai saudara. “Sudah sudah. Ira pasti juga sangat lelah. Lebih baik kita kembali dulu ke rumah dan memikirkannya masak-masak. Urusan pencarian bisa kita lakukan belakangan.” Ketiganya memutuskan untuk kembali ke rumah dan membicarakan kembali saat suasana sudah kondusif. “Kenapa Ira? Ini kesempatan kamu, bukan,” tanya Afifah, saat mereka hanya berdua. Permasalahan ini pun tidak dikabarakan kepada para orang tua. Mereka sepakat ini akan menjadi rahasia bertiga. “Entahlah, Fif. Mungkin Fahmi sedang dalam keadaan yang tidak memungkinkan. Dia seolah mencoba melindungiku dari sesuatu.” “Apa ini yang kamu inginkan?” “Aku yakin akan punya kesempatan, walau bukan sekarang. Jika takdir Allah mempertemukanku dengannya lagi, mungkin aku akan tahu kebenarannya.” “Kalau kamu membutuhkan bantuan, kapan pun itu aku siap.” “Terima kasih karena selalu mendukungku. Aku mungkin tidak akan bisa bertahan tanpa kalian.” Di bawah bintang kedua saudara sepupu itu saling berangkulan. *** “Romeo, saya tidak mengerti permainan macam apa yang sedang terjadi di sini. Katakan dengan jujur, apa kamu sudah mengirimkan surat perceraian saya?” Romeo bungkam, matanya melirik ke seluruh pojok ruangan. Sekujur tubuhnya sudah basah dengan keringat. Dari gerak-geriknya saja, Fahmi sudah menebak. Tidak mungkin Romeo tidak terlibat. Semua terjadi terlalu kebetulan. Jadi, karena itu Humaira begitu senang menemuinya bahkan mau bertekuk lutut dengan rayuannya. “Kamu gila ya!” Fahmi menggebrak meja dan menjatuhkan apapun yang ada di atasnya. “Kamu pikir apa yang kamu lakuin, hah?!” “T-tunggu tunggu, Bos! Ampun jangan main lempar-lempar begini dong. Saya gak ngerti Bos ngomang apa.” “Masih mengelak?!” “Bu-bukan Bos. Emang ada apa sih?” “Kamu tanya saya! Tanya diri kamu! Surata macam apa yang sudah kamu kirim ke dia?!” “Itu… saya kirim surat soal Bos diiculik debt colector karena punya hutang.” “Apa?! Dasar sinting! Pergi kamu dari sini, saya tidak ingin lihat muka kamu lagi, mengerti!” “Bos, jangan pecat saya dong. Saya mau makan apa nanti kalau dipecat.” “Makan batu aja sono! Biar gigi kamu rontok semua.” “Bos, saya tuh cuma pingin ngebantu hubungan Bos denan Dik Humaira. Habisnya Bos kelihatan murung semenjak pisah.” “Siapa murunga? Saya? Jangan bercanda! Siapa yang bilang kamu berhak ikut campur ke dalam masalah pribadi saya!” “Maafkan saya Bos, tapi sepengalaman saya, Bos mungkin lagi jatuh cinta.” “Jatuh cinta matamu! Pergi, Romeo! Atau saya panggilin satpam nih.” “Ampun, ampun.” Romeo akhirnnya kabur setelah ditimpuknya dengan bantal sofa. Sialan pria itu. Dia berhutang. Diculik debt kolektor. Benar-benar imajinasinya bikin sakit kepala. Fahmi terduduk di kursi kebesarannya. Jangan sampai tempatnya berpijak hancur hanya karena seorang wanita. Romeo benar-benar menamparnya dengan telak. Selain dia gunakan sebagai pion dalam permainannya untuk menghibur diri, apa sebenarnya maksud pria itu terus mendorongnya ke arah Humaira? Fahmi menatap kedua tangannya. Dia masih bisa merasakan sentuhan kulit Humaira yang panas, sapuan surainya yang lembut. Dia belum bisa melupaka Humaira. Sekuat apapun dia berusaha, dia masih bisa mencium wangi dari tubuhnya. Fahmi berusia tiga puluh tahunan tidak menyangka bahwa fantasi gilanya dia dapatkan dari seorang gadis desa. Dia meraba laci bawah, mengeluarkan parfum, hand sanitizer, dan menggosoknya dengan sabun. Fahmi sudah elakukan segala upaya untuk menutupi baunya. Tetapi wangi Humaira masih tercium sedekat dia berada di bawah hidungnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD