Chapter XVI

1104 Words
Romeo menggerutu, tanduk di kepalanya bertambah dua sekarang. Sekali lagi ia harus mengikuti sinful game yang akan dimainkan sang bos dengan menuruti perintah kejam penuh risiko: seperti mencari tahu asal-usul dari wanita yang direkomendasikan sendiri oleh pemilik perusahaan yang diincarnya. Suara ting tang ting tung pesan singkat yang masuk seolah tiada habisnya mampir ke nomor ponsel pribadi tuannya. Dan sekarang pria itu hendak menambah mangsa? Ia mengecek gawai tersebut, menemukan ratusan pesan dari mantan-mantan istrinya. Heran Romeo. Apa mereka semua tak lelah? Telah lama diabaikan, tetapi masih mengagungkan. Dengkusan berbumbu rasa iri, karena dengan mudah di bos mendapat kelancaran dan mahir dalam urusan cinta. Dirinya? Jangan ditanya, bahkan pembantu Fahmi pun malas membalas pernyataan cintanya. Ia mengklik salah satu pesan bernada mengancam. Yang paling getol mengirimkan pesan adalah Rasinta. Gadis bertubuh sintal tanpa lemak dan lezat,--- menurut Romeo---seorang anak pengusaha kaya yang dimanfaatkan Fahmi juga. Mantan istri ketiga, Sinta. Aku tidak mau tahu! Kembali padaku atau kuhancurkan perusahaan yang kamu bangun! Romeo melaporkan hal tersebut.Namun, sungguh buakn reaksi yang ia harapkan. Pria berjambang tipis itu malah tertawa-tawa seolah gertakan kesekian Rasinta hanyalah lelucon belaka. "Bos! Anda ingin kita bangkrut?!" "Biarkan saja, Meo. Aku tidak peduli dengan si sinting itu. Sekarang, dan yang paling penting adalah mendapatkan tender 60 juta dollar itu." Fahmi menatap ke arah luar menembus kaca. Pemandangan jalan raya pengap merayap di bawah sana. "Bagaimana hasil pencariannya?" "Eh, anu, Bos." "Romeo!" "It-itu... gadis itu baru aja kembali ke kampungnya." "Kampung?" "I-iya, Bos. Dia gak tinggal di sini." Fahmi tampak berpikir sejenak. Tangannya mengusap telinga, wajahnya serius. "Meo!" "Siap, Bos!" "Kita akan ke sana!" *** "Ir! Ira!" Humaira menoleh pada asal suara yang begitu ia kenali. Senyumnya tersungging mendapati Afifa memanggilnya dari kejauhan. Skuter putihnya mendekat. Iriana di sampingnya. Mereka berada di depan cafe yang sudah tutup, menunggu jemputan abang gojek, lebih-lebih menunggu jodoh datang. Humaira memberi pelukan singkat selamat tinggal. Beralih pada Romlah yang membuang muka. Meski begitu, ia juga memberi ucapan selamat tinggal seadanya. "Jangan lupain kita ya, Ir." "Pasti, Mbak." Afifa memberi salam dan cipika cipiki singkat, sebelum mengantarkannya ke halte. "Gimana? Udah ada pandangan,  gak?" Afifa bertanya ketika mereka berada di perjalanan. "Pandangan apaan?" "Duh, kamu, Ir! Aku tuh nyuruh kamu ke kota siapa tahu jodohmu di sini toh." Afifa selalu terbuka jika bicara dengannya. Humaira sangat senang dengan sifat sepupunya yang satu itu. "Belum tuh, Fif. Kurang lama mungkin," Humaira berujar setengah bercanda yang ditanggapi serius oleh Afifa. "Yee... makanya, aku tuh mau minta izin Ama Rahma tuh biar kamu diizinin." "Eh, gak usah. Bercanda loh." "Gak bercanda juga gak apa-apa. Aku serius loh." "Afifa, yang namanya pernikahan itu gak bisa dibikin dalam segala singkat." "Ira, kamu tahu kan usia kamu udah menginjak tiga puluhan." Afifa menghentikan motornya setelah dekat dengan bus tujuan Humaira. "Ada masalah dengan itu?" Lagi, Afifa menampakkan wajah serius. "Sudah, sudah. Gak perlu dibahas lagi. Aku insyaallah akan nikah kalau sudah waktunya." Humaira berlalu, menaiki bus yang akan membawanya kembali dari keruwetan di kota. Afifa terdiam di tempat. Tak menyangka respon sepupunya akan demikian. Humaira menekan dadanya yang terasa sesak. Bukan salahnya. Bukan ia yang memilih untuk belum menikah di usia ini. Akan tetapi, mengapa sepertinya semua orang menjadi sibuk dengan kehidupan orang lain. Tidak ada yang tahu pasti apa yang akan terjadi nanti, bukan?. Mungkin saja Allah memiliki rencana lain untuknya. Seharusnya ia telah terbiasa mendengar pernyataan maupun pertanyaan serupa dari para tetangga. Namun, melihat Afifa memaksa, sungguh dia tak tahu lagi harus berkata apa. Humaira masih termenung kala mendapat pesan permintaan maaf dari sepupunya. *** Kak Humaira: Ndak apa-apa. Aku paham. Setalah menanti balasan, Afifa menghela napas sedikit lega, meski rasa bersalah masih mengganggunya. Ia menyadari sikapnya terlalu blak-blakan tadi. Ia seharusnya tidak mengungkit tentang bahasan sensitif pernikahan. Afifa membuka kunci rumah kontrakan suaminya yang sekarang menjadi rumahnya juga. Jalanan agak sedikit sepi, dan suaminya berkata akan lembur. Toktoktok Suara ketukan tergesa membuatnya berpikir macam-macam. Ia beranjak, mengendap-endap. Perlahan membuka sedikit celah pintu untuk melihat siapa yang datang malam-malam. Tamu tak diundang itu adalah pria memakai jas yang memunggunginya. Afifa membuka pintu lebih lebar saat menyadari ia mengenal perawakan pria itu. Itu bos tempatnya bekerja, Arman. Berdebar-debar Afifa menerka maksud kedatangannya. "Pak Arman? Ada apa, Pak? Malam sekali berkunjungnya." "Afifa!" Pria berjambul itu menengok ke arah dalam kontrakannya. Afifa bingung menyadari tingkah aneh Arman. "Kenapa, Pak? Bapak mau masuk?" "Ah, tidak perlu. Omong-omong, di mana sepupu kamu?" Kernyitan di sahi Afifa semakin banyak. Ada urusan apa bosnya dengan Humaira? "Maksud Bapak, Humaira?" "Nah, iya! Perempuan yang sempat menggantikan kamu beberapa hari lalu." "Dia udah balik kampung, Pak. Emang kenapa, Pak? Dia buat ulah?" "Oh tidak-tidak. Saya hanya ingin tahu alamatnya." Pria di hadapannya mengerling penuh arti. Afifa mendadak mual. Firasatnya tidak enak. Apa orang ini tertarik dengan sepupunya? Jika benar, ia sama sekali tak sudi. "Bapak naksir sepupu saya?" Arman terbahak dengan kesimpulannya. Afifa makin tak mengerti tujuan pria itu. Di tengah kebingungan, dia harus memberikan alamat rumah Humaira, atau ia akan dipecat nantinya. "Oh, tentu bukan. Saya punya pekerjaan bagus untuk dia!" Hah? *** Romeo menggerutu, tanduk di kepalanya bertambah dua sekarang. Sekali lagi ia harus mengikuti sinful game yang akan dimainkan sang bos dengan menuruti perintah kejam penuh risiko: seperti mencari tahu asal-usul dari wanita yang direkomendasikan sendiri oleh pemilik perusahaan yang diincarnya. Suara ting tang ting tung pesan singkat yang masuk seolah tiada habisnya mampir ke nomor ponsel pribadi tuannya. Dan sekarang pria itu hendak menambah mangsa? Ia mengecek gawai tersebut, menemukan ratusan pesan dari mantan-mantan istrinya. Heran Romeo. Apa mereka semua tak lelah? Telah lama diabaikan, tetapi masih mengagungkan. Dengkusan berbumbu rasa iri, karena dengan mudah di bos mendapat kelancaran dan mahir dalam urusan cinta. Dirinya? Jangan ditanya, bahkan pembantu Fahmi pun malas membalas pernyataan cintanya. Ia mengklik salah satu pesan bernada mengancam. Yang paling getol mengirimkan pesan adalah Rasinta. Gadis bertubuh sintal tanpa lemak dan lezat,--- menurut Romeo---seorang anak pengusaha kaya yang dimanfaatkan Fahmi juga. Mantan istri ketiga, Sinta. Aku tidak mau tahu! Kembali padaku atau kuhancurkan perusahaan yang kamu bangun! Romeo melaporkan hal tersebut.Namun, sungguh buakn reaksi yang ia harapkan. Pria berjambang tipis itu malah tertawa-tawa seolah gertakan kesekian Rasinta hanyalah lelucon belaka. "Bos! Anda ingin kita bangkrut?!" "Biarkan saja, Meo. Aku tidak peduli dengan si sinting itu. Sekarang, dan yang paling penting adalah mendapatkan tender 60 juta dollar itu." Fahmi menatap ke arah luar menembus kaca. Pemandangan jalan raya pengap merayap di bawah sana. "Bagaimana hasil pencariannya?" "Eh, anu, Bos." "Romeo!" "It-itu... gadis itu baru aja kembali ke kampungnya." "Kampung?" "I-iya, Bos. Dia gak tinggal di sini." Fahmi tampak berpikir sejenak. Tangannya mengusap telinga, wajahnya serius. "Meo!" "Siap, Bos!" "Kita akan ke sana!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD