Chapter XXV

1023 Words
Rayyan bersama Farah bermaksud melihat keadaan sekaligus mengantarkan termos yang tertinggal. Fahmi mengerutkan kening melihat tatapan memuja Humaira kepada Rayyan. Ia juga tidak tahu bagaimana kemudian gadis itu memilih tinggal di rumah bosnya Pariaman dibandingkan rumahnya sendiri. Tetapi, yang ia tahu pasti, Rayyan mungkin akan menjadi batu sandungan besar dalam rencananya. Romeo yang menyadari perubahan raut bosnya segera menenangkan. "Tenang aja, Bos. Yang saya tahu, Rayyan itu sudah beristri." Baiklah, mungkin memang Rayyan tidak begitu berbahaya, tetapi hati Humairalah yang harus ia alihkan dari pria yang ia kagumi. *** "Gadul bashar, akh!(*)" Fahmi menjatuhkan cangkul yang dipegangnya. Panggilan Rayyan, menyadarkannya dari keterpanaan. Ia berdehem sebelum lebih lanjut menggodanya. "Saya lihat, Mas Fahmi ini sering diam-diam mengamati Humaira, ya." Fahmi hanya tersenyum sungkan karena tertangkap basah. "Saya mana pantas untuk Mbak Humaira, Mas." "Ah, siapa bilang begitu. Mau saya bantu?" "Sebenarnya Mas Rayyan inI siapanya toh?" "Saya sepupu jauhnya." Fahmi tak dapat berkata-kata, karena tak menyangka, pria yang ia kira akan menghalangi justru berniat membantunya. "Serius, Mas?" "Insyaallah, tapi semua kembali sama pribadi Mas Fahmi juga untuk menentukan." "Terus, saya harus bagaimana, Mas Rayyan?" Rayyan tersenyum penuh misteri. *** Humaira itu senang tipe cowok yang baik agamanya. Fahmi menjadikannya mantera untuk membujuk Humaira mendekat. Ia mengubah kebiasaannya seratus delapan puluh derajat. "Bos yakin cara ini berhasil?" Fahmi memasang peci putih sebagai pelengkap dandanan ala santri miliknya. "Kita ikuti saja alurnya, Meo. Lagi pula Rayyan juga berniat membantu memuluskan rencana kita." Fahmi duduk bersila di atas sajadah, posisinya dekat dengan pintu untuk memudahkan rencananya. Tepat saat beberapa wanita melintas termasuk Humaira, Romeo menyetel bacaan murrotal, tidak terlalu keras agar tidak membuatnya curiga. Beberapa wanita itu berhenti sambil berseru takjub, tidak lama, lalu kembali melanjutkan perjalanan. Fahmi melakukan itu dengan intensitas cukup sering. Dia bahkan rela untuk pergi ke musholla agar kesan "alim" dapat tersemat padanya dan mengubah sudut pandag Humaira atas dirinya. Fahmi melangkahkan kakinya ke arah masjid. Rayyan menyuruhnya datang ke sana, alih-alih musholla yang tak cukup jauh dari rumahnya. Pria itu berkata, tawarannya masih berlaku jika Fahmi menginginkannya. Jadi, ia datang tanpa ekspektasi apapun. "Selamat datang, akhi Fahmi." Mereka berbincang hingga adzan dzuhur berkumandang. Rayyan menyuruhnya mengimami, ia menolak dengan sebuah alasan, bacaannya lebih buruk dari Rayyan. Sebuah kesalaha, karena kemudian ia ditenpatkan dalam situasi teramat pelik. "Kamu pandai mengaji, bukan? Tolong buktikan di hadapan saya." Romeo Torpedo menggigiti jemarinya. Badannya panas dingin menantikan reaksi Fahmi.   "Tidak perlu malu, semua orang toh sudah pulang," Rayyan menenangkan.   Bosnya itu bukanlah malu! Diam-diam dia mengumpati Rayyan yang menyebabkan situasi  runyam saat ini. Tentu saja bosnya terdiam karena dia tak tahu bagaimana membacanya, pikir Romeo semakin kalut.   Fahmi menoleh ke arah tabir tempat Humaira dan beberapa orang wanita yang diam-diam mengintip dari celah. Alih-alih pria itu gugup dan takut kebohongannya terbongkar. Lalu, pada pria yang masih menyungging senyum, sepupu jauh dari wanita yang dia incar dan berkata akan membantunya.   Membantu apanya? Dia malah dibuatnya terpojok saat ini, Fahmi pikir. Ditatapnya kembali Al-Qur'an yang terbuka menampilkan surah random tepat di surah Luqman.   Romeo berharap akan ada bom atau gangguan yang akan menghentikan waktu saat itu juga. Dia berinisiatif bangkit dan menyela dengan sebuah alasan, sesaat terkejut mendengar lantunan ayat yang begitu indah.   Romeo mencari-cari MP3 yang biasa bosnya gunakan mengelabuhi Humaira masih berada di kantongnya, lantas suara siapa itu?   Dia melongo, bibir bosnya bergerak mengeluarkan suara-suara itu.   Rayyan tersenyum puas, diiringi kekaguman beberapa jama'ah yang belum pulang dan turut mendengarkan.   "Masyallah, Ra. Bagus banget ngajinya."   Humaira tertegun, suara Fahmi ternyata benar-benar merdu, padahal selama ini dia mengira suara mengaji yang didengarnya berasal dari murrotal MP3. Hati Humaira pun terenyuh mendengarnya.   Romeo masih tak mengerti, bagaimana bisa? Apa yang terjadi sebenarnya? Selama mengenal Fahmi, dia sama sekali belum pernah melihat bosnya mengaji. Lalu, apa bosnya tiba-tiba mendapat karomah sehingga jadi lancar begitu mengajinya?   Fahmi berperang batin dengan ingatan menyakitkan. Masih dengan tatapan datar, meski diam-diam kehangatan menyusup dalam rongga dadanya.   Sudah berapa lama dia tak mengaji? Dia bahkan sudah lupa, karena selama dua tahun ini dia lebih banyak membaca tumpukan file dibandingkan kitab sucinya sendiri, demi mendapatkan sesuatu yang tak dia dapatkan dulu, ketika masih berteman dengan sekumpulan ayat ini.   Fahmi tercenung, ketika sampai pada sebuah ayat yang begitu sulit dia ucapkan dulu.   "Yaa bunayya, bukan ya bunaya. Ayo ulangi," perintah abinya.   Fahmi mengulang untuk yang ketiga kali, namun urung menyelesaikan.   "Abi, aku gak bisa." Fahmi merengek karena sebentar dia benar lalu kembali mengulangi kesalahannya.   "Fahmi pasti bisa, sudah sejauh ini kan?" Melihat antusias anaknya kian memudar, Fadhil Alatas meletakkan perintahnya, beralih memberi seulas senyum penyemangat. "Fahmi tahu kisah di balik ayat ini?"   Replika kecil dari Fadhil itu, menggeleng. Dia meminta anaknya mendekat, lalu memangkunya.   "Coba lihat ayat lanjutannya,  Luqman memberitahu kepada anak-anaknya 'Nak, jangan menyekutukan Allah'. Fahmi tahu kenapa Luqman berkata begitu?"   Fahmi menggeleng lagi. "Dia berkata lagi, karena itu perbuatan dzhalim yang sangat besar'. Lalu dia menasehati,  dirikan shalat, berbuat kebaikan dan tumpaslah keburukan. Fahmi bisa jadi seperti ya bunayya?"   "Kenapa Fahmi harus jadi ya bunayya, kan nama Abi bukan Luqman," Fahmi bertanya polos yang ditanggapi kekehan dari Abinya.   "Nak, ya bunayya yang dimaksud oleh Luqman Al-Hakim adalah anak-anak keturunannya, pelajaran yang bisa diambil untuk semua anak-anak."   "Begitu ya, Bi. Jadi, Fahmi termasuk ya bunayya?"   "Iya. Nah, itu bisa kan nyebutnya. Coba sebut lagi, Fahmi termasuk apa?"   "Ya bunayya!"   Fahmi terdiam seketika, sontak membuat semua orang menoleh bingung.   "Maaf, saya harus pergi."   Dia bergegas bangkit dan berlalu keluar masjid. Rayyan yang hendak bertanya ada apa pun mengurungkan niatnya. Romeo menyusul dan mengucap salam kepada semua.   Humaira di tempatnya bertanya-tanya apa yang terjadi. Meski tak ada jawaban dari kebingungan mereka, Rayyan memanggil keduanya untuk pulang juga.   Di jalan, Romeo yang tak mengerti dengan keterdiaman dan wajah murung bosnya, enggan bertanya. Jadi, dia hanya mencoba menenangkan dengan memuji bosnya.   "Bos suaranya bagus banget. Adem gitu, Bos. Saya jadi berkaca-kaca."   Fahmi mendengkus sebal. "Memangnya apa yang bagus dari sekadar bisa mengaji? Toh, dirinya juga tak dihargai oleh ayahnya sendiri," gumamnya.   "Kenapa, Bos?" Romeo memastikan apa yang didengarnya tak salah. Itu memperkuat alasan bosnya datang ke tempat ini dan mengejar-ngejar Humaira.   Tak ada jawaban memuaskan dari gumaman aneh Fahmi. Pria itu berlalu, meninggalkan kening berkerut Romeo di belakang punggungnya.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD