Bab 9 — Predator vs Purba

1330 Words
Suara debuman saat Peter mendarat di tanah hutan yang lembap menciptakan gelombang kejut kecil yang menerbangkan daun-daun kering di sekitarnya. Lututnya menekuk, cakarnya menghunjam ke tanah untuk menahan momentum, sementara matanya tak sekalipun berkedip menatap sepasang bola mata merah raksasa di balik kabut. Di atas sana, di gubuk kayu yang baru saja ia bangun, Maia masih terlelap, sama sekali tidak menyadari bahwa maut sedang bernapas hanya beberapa meter di bawah tempat tidurnya. ​Bau belerang itu makin menyengat, bercampur dengan aroma amis yang sudah sangat tua—aroma yang hanya dimiliki oleh makhluk yang telah hidup ratusan tahun di pulau yang tak tercatat dalam sejarah ini. Makhluk di depannya mulai bergerak keluar dari bayang-bayang pohon raksasa. Tingginya hampir lima meter, dengan tubuh yang dibalut kulit keras berwarna kelabu gelap yang tampak seperti batuan granit yang retak-retak. Bentuknya menyerupai perpaduan antara beruang prasejarah dan kadal raksasa, dengan lengan yang sangat panjang dan cakar yang melengkung seperti sabit berkarat. ​"Jadi ini yang Victor maksud dengan 'pemilik' asli pulau ini?" desis Peter. Suaranya terdengar seperti gesekan logam yang panas di atas es. ​Makhluk itu mengeluarkan suara dengusan berat yang menggetarkan udara, mengirimkan getaran frekuensi rendah yang membuat nyali manusia mana pun menciut. Ia tidak takut pada Peter; ia melihat Peter bukan sebagai monster, melainkan sebagai penyusup kecil yang mencoba mencuri wilayah kekuasaannya. Di pulau ini, tidak ada teknologi, tidak ada hukum, hanya ada siapa yang lebih kuat. Dengan kecepatan yang sangat tidak sinkron dengan ukurannya yang masif, makhluk itu menerjang. ​BUM! ​Peter melompat ke samping tepat saat sebuah pukulan seberat truk menghantam tanah tempatnya berdiri tadi. Tanah itu amblas sedalam setengah meter, menghancurkan akar-akar pohon besar. Peter tidak menunggu. Adrenalinnya meledak, memicu otot-otot mutasinya untuk bekerja melampaui batas kewajaran. Ia melesat maju, menggunakan duri di punggungnya sebagai penyeimbang, dan menghantamkan cakarnya ke sisi leher makhluk itu. ​SCRATCH! ​Suara cakaran itu terdengar seperti pisau yang digesekkan ke batu aspal. Peter berhasil merobek kulit keras makhluk itu, namun bukannya darah merah, cairan berwarna hijau kental dan berbau busuk menyembur keluar. Makhluk itu meraung kesakitan—suara raungan yang begitu melengking hingga membuat telinga Peter berdenging dan burung-burung purba di kejauhan terbang berhamburan. ​"Rasanya pahit, ya, b******k?!" teriak Peter sambil berguling di udara untuk menghindari sabetan ekor berduri makhluk itu yang menghancurkan batang pohon di dekatnya. ​Pertempuran itu menjadi simfoni kehancuran di tengah hutan yang sunyi. Pohon-pohon berdiameter dua meter tumbang seperti lidi saat dihantam oleh tubuh kedua predator itu. Peter bergerak seperti kilat hitam, menyerang dari sudut-sudut yang mustahil, mencabik-cabik daging purba itu dengan kemarahan yang sudah ia pendam sejak di fasilitas Thirteen. Namun, makhluk itu memiliki daya tahan yang gila. Setiap luka yang Peter berikan seolah tidak berarti baginya. Makhluk itu menangkap kaki Peter saat ia mencoba melakukan serangan udara, lalu membantingnya ke batang pohon raksasa. ​BRAAK! ​Pandangan Peter memburam sejenak. Tulang rusuknya terasa retak, dan rasa sakit yang menusuk menjalar ke tulang belakangnya. Ia terengah-engah, memuntahkan darah hitam ke atas lumut yang kini berubah warna. ​"Peter?!" ​Suara Maia terdengar dari atas gubuk. Gadis itu rupanya terbangun karena guncangan hebat pada pohon tempat tinggal mereka yang hampir tumbang. Ia mengintip dari ambang pintu, wajahnya dipenuhi horor saat melihat Peter yang bersimbah darah sedang ditekan oleh monster yang jauh lebih besar darinya. ​"Jangan keluar, Mai! Tetap di sana!" raung Peter, suaranya parau menahan sesak di paru-parunya. ​Melihat Maia dalam bahaya memicu sesuatu yang gelap di dalam d**a Peter. Grafik degradasi saraf yang ia baca di tablet tadi terbayang kembali di benaknya. Fase Feral. Untuk pertama kalinya, Peter secara sadar memanggil sisi monsternya yang paling dalam. Ia tidak lagi mencoba menahannya demi kemanusiaannya; ia membukakan pintu selebar-lebarnya bagi insting pembunuh itu karena hanya itu satu-satunya cara untuk bertahan hidup. ​Pupil matanya yang keemasan menelan seluruh bagian putih matanya, berubah menjadi dua cakram cahaya yang menyala terang di kegelapan. Duri-duri di punggungnya memanjang secara brutal, membelah kulitnya sendiri, mengeluarkan uap panas yang membara. Suhu tubuh Peter naik drastis hingga embun yang menyentuh kulitnya langsung menguap menjadi kabut tipis. ​"Kau... sudah... mengganggu... tidur... temanku," ucap Peter, setiap kata diikuti oleh geraman yang bukan lagi berasal dari tenggorokan manusia. ​Peter menerjang kembali, namun kali ini gerakannya tidak bisa diikuti oleh mata telanjang. Ia muncul di belakang makhluk itu, mencengkeram rahang bawahnya dengan kedua tangan, dan dengan kekuatan yang sanggup mengangkat beban puluhan ton, ia mulai menariknya dengan paksa. ​Makhluk itu meronta-ronta gila, mencakar d**a Peter hingga sisiknya berhamburan dan dagingnya koyak, namun Peter tidak melepaskannya. Rasa sakit itu justru membuatnya makin haus darah. Saraf-sarafnya terbakar oleh amarah murni. ​"Mati kau, b******n!" ​Peter menyentakkan tangannya ke arah yang berlawanan. Suara otot robek dan tulang rahang yang patah bergema di seluruh lembah hutan, memecah kesunyian malam Segitiga Bermuda. Makhluk purba itu jatuh tumbang, kejang-kejang dalam genangan cairan hijau miliknya sendiri sebelum akhirnya diam tak bernyawa, matanya yang merah perlahan meredup. ​Peter berdiri di atas bangkai itu, tubuhnya naik turun karena napas yang memburu. Darah hijau dan hitam bercampur di sekujur tubuhnya, menciptakan pemandangan yang mengerikan. Ia menoleh ke arah gubuk, menatap Maia dengan tatapan yang kosong, dingin, dan liar. Untuk sesaat, Maia melihat sesuatu yang asing di mata Peter—sebuah kegelapan yang membuat Peter tampak lebih menakutkan daripada makhluk yang baru saja ia bunuh. ​"Peter... kau baik-baik saja?" tanya Maia dengan suara yang sangat bergetar, hampir tidak terdengar. ​Peter tidak menjawab. Ia merasakan kepalanya berdenyut hebat. Angka 45 hari itu berputar-putar di otaknya seperti kutukan yang menertawakannya. Ia baru saja menggunakan kekuatan fase Feral secara sengaja, dan ia tahu, itu telah memperpendek sisa waktu kewarasannya secara signifikan. ​Tiba-tiba, telinga Peter menangkap suara lain. Bukan dari dalam bangkai itu, melainkan dari kedalaman hutan di sekeliling mereka. Suara itu bukan suara tunggal. ​Grrrr... Hiss... ​Dari balik kegelapan pohon-pohon yang menjulang, belasan pasang mata merah lainnya mulai terbuka satu per satu. Makhluk yang baru saja dibunuh Peter ternyata bukan satu-satunya predator di sana. Itu hanyalah salah satu dari sekian banyak spesies gagal—atau mungkin alami—yang menghuni pulau terlarang ini. Dan mereka semua baru saja mencium bau darah segar. ​Peter menyadari kesalahannya. Di pulau ini, membunuh satu predator berarti mengundang seluruh penghuninya untuk datang berpesta. Ia merogoh ke dalam saku jaket taktis hasil jarahannya, mencari sesuatu yang mungkin bisa menjadi harapan terakhir. Jari-jarinya menyentuh sebuah benda kecil berbentuk tabung reaksi yang ia simpan secara sembunyi-sembunyi sejak dari helikopter. ​Itu adalah sisa Serum-Omega yang sempat ia ambil dari jas Kruger sebelum dia jatuh dari helikopter. Hanya ada satu dosis kecil yang tersisa. Satu dosis untuk menunda kegilaan, atau... satu dosis untuk melakukan sesuatu yang jauh lebih nekat demi menyelamatkan Maia. ​Peter menatap serum itu, lalu menatap kerumunan mata merah yang mulai mengepung pohon gubuk mereka. Suara geraman kolektif itu terdengar seperti badai yang akan segera pecah. ​"Sepertinya malam ini akan jadi malam yang sangat panjang, Mai," bisik Peter sambil menatap ke kegelapan. ​Ia membuka tutup serum itu dengan giginya, namun bukannya meminumnya, ia justru menghancurkan tabung itu di atas luka terbuka di telapak tangannya, membiarkan cairan pekat itu menyatu langsung dengan aliran darah mutasinya yang sedang dalam kondisi panas maksimal. ​Tubuh Peter mendadak kaku, otot-ototnya membesar hingga dua kali lipat dalam hitungan detik. Pembuluh darahnya menghitam, menonjol di permukaan kulitnya seperti akar pohon yang merayap. Ia meraung kesakitan yang luar biasa, suaranya sanggup menggetarkan dedaunan di seluruh hutan. ​"PETER! APA YANG KAU LAKUKAN PADA DIRIMU?!" teriak Maia, hendak turun dari gubuk karena panik. ​Peter mengangkat tangannya, memberi isyarat agar Maia tetap di sana. Tubuh Peter mulai tumbuh lagi, menjadi lebih besar, lebih mengerikan, dan mulai mengeluarkan aura panas yang membiaskan udara di sekitarnya. ​Peter menatap ke arah kerumunan predator yang mulai melompat keluar dari semak-semak untuk menyerang. Ia tersenyum, sebuah senyuman penuh kegilaan yang sanggup membuat monster paling buas sekalipun merasa ragu. ​"Ayo, maju kalian semua, brengsek..." ​Peter menekuk kakinya, bersiap melakukan serangan pembersihan massal.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD