Alea tidak bisa menghentikan senyum di bibirnya. Dia belum pernah melihat wajah Nathan secerah ini. Nathan mengajak Alea pindah ke bangku pemain, karena timnya akan segera masuk ke lapangan. Tentu saja tim pemandu sorak sekolah, tidak bisa masuk ke bangku pemain, karena ruangannya tidak cukup untuk banyak orang. “Semangat ya?” ucap Alea memberi semangat Nathan yang siap masuk ke lapangan. Nathan mengangguk sambil meletakkan botol minumnya. “Pasti dong. Kan ada kamu dan hadiah yang nungguin.” “Oh iya, jangan liat yang lain selain aku ya. Awas loh! Pemain sebelah banyak yang cakep soalnya,” ucap Nathan memberi peringatan. “Oh ya? Yang mana?” tanya Alea sambil menoleh mencari bangku tim lawan. “Heeeii! Baru juga dibilang jangan meleng, malah langsung noleh.” Nathan langsung menjewer tel

