Part 31 "Sakit ayah." Silma meringis ketika lengannya diobati oleh sang ayah. "Bentar lagi selesai, Nak." Pandu menghembuskan napasnya pelan, jujur saja pemandangan tadi sangat menyesakkan dadanya. Sungguh ada rasa tidak terima anaknya diperlakukan buruk seperti ini tapi mau gimana lagi putrinya masih belum mau dikenal banyak orang. "Sudah jangan nangis." Pandu mengusap pipi Silma lalu membereskan kotak obat di meja. Tangan dan kaki Silma luka lecet sedikit. Tapi Silma merasa tubuhnya pegal sekali dibagian belakang karena menimpa rak sepatu yang diketahuinya berbahan besi. Mereka berdua berada di kantor. Dimana masih banyak beberapa barang yang berantakkan dan belum sempat dirapihkan oleh Pandu karena ia masih mengurusi pusat perusahaannya yang dekat dengan rumahnya. "Sil." Si

