Tubuh Prisma menegang seketika. Dadanya terasa sesak dengan air mata yang mengerucuk deras. Sudah beberapa kali Clover menanyakan perihal ayahnya, tetapi ia berhasil mengalihkan perhatian. Namun kali ini, ia benar-benar tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun. "Papa, Ma ... aku mau Papa," rengek Clover dalam tangisnya. Meski tidak tega melihat putrinya begitu merindukan sosok ayah, tetapi Prisma tidak bisa mengatakannya. Ia tidak bisa memberitahu Clover kalau ayahnya masih ada dan dia adalah Birru Keldeo. Walaupun terkesan egois, tetapi rasa sakit yang pria itu buat tidak main-main. Yang hanya bisa ia lakukan saat ini hanya menangis merasakan sakit dua kali lipat. "Astaga, ada apa ini? Kenapa kalian menangis?" Semula, Karina dari bawah dan ingin pergi ke kamar. Namun, mendengar suara

