|4| Luka Pudar

937 Words
Aku terperanjat dalam dekapan Mas Hamza. Kutatap d**a bidangnya yang terbuka, dia mendengkur pelan dengan mata terpejam rapat. Aku bisa merasakan sentuhan dagu lancipnya di puncak kepalaku, diam-diam aku menarik diri dari rengkuhannya. Melirik perutku, yang tidak seramping dulu. Terlihat melar, kubandingkan dengan d**a bidangnya yang keras dan kokoh saat tanganku terulur dan mengusapnya tanpa sadar. Tersadar, aku menarik diri. Apa-apaan aku? Sekalipun Mas Hamza memang suamiku. Mungkin ragaku sudah tidak terlalu menarik. Maka Aina hadir untuk melengkapi kekurangan itu. Rupa. Kecantikan. Aku turun dari ranjang, mendadak pergelangan tanganku dicegat dan ditarik kuat, tubuhku terjungkal dan masuk dalam dekapan Mas Hamza. Dia menggeliat nyaman, semakin merengkuhku. Aku mendesis jijik, enggan bersentuhan dengan kulit tubuh Mas Hamza karena nyatanya memiliki bekas dari kulit mulus Aina. Perlahan, aku menarik tubuhku menjauh. Menutupinya dengan selimut dan bersiap untuk membersihkan diri. Setelah keluar dari kamar mandi, kudapati Mas Hamza sudah bangun. Duduk di tepi ranjang dengan pakaian atas terbuka. Dia menoleh, melirikku yang canggung karena hanya dibalut dengan handuk. "Jatah tiga hariku sudah habis, Mas. Untuk hari ini, besok dan lusa bermalamlah dengan Aina. Pagi ini, mandilah di kamarnya." Kulihat dia hanya mengangguk perlahan. "Mas," kudekati dia. Memanggil pelan. "Boleh aku tinggal di lain rumah?" Pintaku. "Kenapa?" Sahut Mas Hamza, pelan. "Memang sebaiknya Aina dan aku tinggal di dua rumah yang berbeda 'kan? Tak apa Aina tinggal di sini, aku mencari rumah lain yang sederhana saja." "Tidak bisa," sergah Mas Hamza. "Kamu tetap di sini. Aina serumah denganmu juga demi kebaikanmu, dia akan menjagamu dan merawatmu--" "Menjaga dan merawat apa maksud, Mas?" Aku menyahut heran. Mas Hamza melirikku datar, "yang haram itu menempatkan istri dalam satu kamar 'kan? Aina serumah denganmu, Mas punya alasan untuk itu. Ini situasi yang harus kamu maklumi, sebenarnya semuanya demi kamu." "Aku tidak mengerti maksudmu, Mas--" Keburu, Mas Hamza memotong dan mengalihkan pembicaraan. "Setelah berpakaian, keluar dan siapkan sarapan untukku," ujar Mas Hamza lalu berdiri setelah memakai kaus atasnya. Dia membuka pintu kamar dan berlalu ke kamar Aina. Tubuhku jatuh terduduk di atas ranjang, meremas rambut kepalaku yang basah. Bagaimana bisa aku mengharapkan kedzalimannya, tapi sejauh ini dia benar-benar menjadi suami yang sempurna dalam keadilan dan tetap memperlakukanku dengan baik? Sekalipun permintaanku yang barusan ditolak dengan alasan yang tidak dia beritahu. Jujur, sekalipun waktu untukku terbagi. Aku tidak merasa seperti dimadu, seakan Mas Hamza masih suamiku seorang. Seolah-olah Aina hanya menumpang di rumah ini. Melihat sikap Mas Hamza, perasaannya dan perlakuannya seakan tidak dibagi dua, secara utuh aku masih mendapatkan perhatiannya seutuhnya, seperti tidak berkurang. Argh, sekalipun begitu. Sekalipun keadilannya sempurna, aku tak mau bertahan pada raga yang terbagi. Kuperhatikan wajahku di cermin. Ah, kuusap sedikit wajahku. Kurasa aku masih cukup cantik. Rambutku yang tergerai hitam dan indah, yang hanya bisa dilihat Mas Hamza seorang. Hanya saja, aku tidak mungkin sesempurna Aina. Kuulurkan kakiku yang cukup jenjang, lalu mengoles krim dan meratakannya di kulit. Usapan krim di bahuku dan kulit tubuhku yang lain. Setelah itu kuamati wajahku sekali lagi. Cantik, Tapi suram. Putih, Tapi kusam. Tidak jelek, Tapi tidak menarik. Tak apa, seharusnya aku memang tidak perlu repot-repot mempercantik diri atau berdandan. Toh, secantik apapun aku, sesusah apapun aku berusaha agar terlihat menarik, dia masih menikah lagi dan mencari wanita lain. Kuletakkan kembali kotak bedakku, urung memolesi wajahku. Kupakai tutup kepala asal-asalan dengan gamis yang kurang menarik minat, satu-satunya gamis yang bahkan tak pernah kupakai sebelumnya. Kuamati wajahku sekali lagi. Sangat tidak menarik. Toh, sekeras apapun aku berusaha, tetap Aina yang paling cantik di rumah ini. Aku keluar, membuat sarapan. Kubiarkan tanganku kotor dan wajahku kusam. Senyumku tersungging. Bagiku, aku yang selaku istri utama di rumah ini tak ada bedanya dengan pembantuku yang lain. Kutata sarapan ke atas meja bundar, kulihat Mas Hamza menuruni anak tangga diikuti Aina. Mas Hamza memperbaiki lengan kemejanya, dan melirik jam rolex yang melingkar di pergelangan tangannya. Dia bersiap hendak bekerja. Sedangkan Aina bagaikan dewi yang menuruni anak tangga, aku terkesiap dan meremuk gamis yang kukenakan. Seharusnya, aku tidak mempermalukan diriku sendiri seperti ini. Kami makan, aku sedikit tidak nyaman saat diperhatikan terus oleh Mas Hamza. Dia melirikku dan Aina bergantian, lalu bangkit berdiri. "Ikut denganku." Lelaki itu menangkap lenganku, menyeretku ke atas. Aku dibawa masuk ke dalam kamarku, Mas Hamza sibuk memilihi pakaian di dalam lemari. Mengambil yang paling bagus dan menyerahkannya kepadaku. "Pakai." "Tapi, Mas—" "Lepas pakaianmu itu! Sekarang juga, dan pakai ini." Aku menurut, sebuah gerakan spontan saat menarik gamisku hingga terlepas langsung di hadapannya. Aku memakai gamis yang dipilihnya, kini Mas Hamza sibuk mengintai alat make up di atas meja rias. Dipilihinya salah satu, seperti terlatih dia membersihkan wajahku yang kusam dengan kapas dan cairan pembersih. Menghalau noda hitam bekas memasak. Setelah itu diratakannya krim alas bedak, dengan sapuan pelan mengolesnya ke pipiku. Sangat berhati-hati, aku melirik mata Hamza yang fokus meneliti wajahku. Matanya mengerjap, mengarah ke lengkungan bibirku yang pucat. Aku bisa merasakan bibirnya yang ranum menempel pelan dan sejenak di bibirku, setelah kepalanya ditarik kembali dioleskannya lipstick ke bibirku. Setelah sempurna, aku bisa merasakan kedua tangan besarnya menahan punggung kepalaku. Menciumku, perlahan. Perlahan kutarik wajahku menjauh, terenyuh oleh bisikannya. "Kamu cantik sekali, sayang." Aku menggeleng, bergeser menjauh. "Aina menunggumu di bawah, Mas. Seharusnya kamu tidak meninggalkannya sarapan sendirian." Kedua tangan besarnya masih menahan kepalaku, dia mengerjap. Lalu mengangguk. "Kamu juga harus menciumnya," aku bersuara, semakin menggeser tubuh untuk menghindarinya. Mas Hamza mengangguk dan menjauhkan diri dariku. Dia turun lebih dulu, sedangkan aku bergeming di tempat. Kesal rasanya saat luka ini mulai pudar, sikapnya masih sama, manis dan memperlakukanku seperti sebelumnya, sama halnya sebelum Aina hadir. Tidak, tidak. Seadil apapun Mas Hamza, luka yang dia torehkan masih sama. Ada wanita lain, tetap segalanya berbeda.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD