“Steven, apa sebaiknya kamu akhiri saja peperangan kamu ini sama Papa kamu. Kasihan Papa kamu, Nak.” Dia masih ingat ucapan mamanya semalam mengingatkan tentang menyudahi pertikaian dirinya dengan Sharon. Padahal yang memulai semua ini adalah pria itu, tidak pernah ada keinginan Steven memulai kalau pria itu tidak melakukannya sendiri. Sangat benci terhadap orang yang tidak bisa bersikap adil. Pikirannya Steven sangat kacau, semua berantakan. Rencana untuk masa depan tidak berjalan dengan lancar karena alasan Sharon yang ada di depan untuk menghancurkan mimpi yang pernah susah payah Steven bangun namun diruntuhkan dengan egonya seorang pria yang disebut dengan ayah. Sharon seharusnya berpikiran yang relatif sangat baik terhadap anaknya untuk bisa menjadi orangtua yang baik. Tapi dia

