Ternyata obat nyeri kali ini tidak berhasil membuat diriku menjadi baik-baik saja. Hampir seharian aku menahan sakit di meja kerjaku. Sebisa mungkin aku mengerjakan tugasku walaupun sebagian besarnya dikerjakan oleh Lalisa. Untunglah ada dia yang kau membantu ku yang sakit ini. Lalisa mau-mau saja aku repotkan. Tadi dia bahkan sampai turun ke lantai bawah untuk mencari jamu pereda nyeri haid karena di klinik kantor ternyata tidak ada obat semacam itu. Dan setelahnya, melihat aku yang kesakitan dia dengan sukarela menawarkan bantuan untuk mengerjakan setengah dari tugasku yang belum selesai. "Masih sakit ya? Gue anter ke klinik aja deh." Lalisa tampak cemas. Dia langsung bangkit dari duduknya dan memegangi lenganku. "Fahri, nanti kalau Mas Adit balik lagi, bilangin kalau gue nemenin Ale

