Amarahku lenyap berkat satu kotak nasi dan ayam bakar yang diberikan oleh Kale. Ternyata benar kata banyak orang, manusia akan menjadi sangat menyeramkan jika mereka sedang lapar. Walaupun aku masih merasa putus ada dengan Fattah yang entah kemana, namun setidaknya emosiku menjadi lebih stabil setelah perutku yang kelaparan terisi dengan nasi dan ayam bakar yang sambalnya mantap sekali. Mungkin nanti aku harus bertanya dimana Kale membelinya. Waktu menunjukkan angka lima lima belas menit, semua teman satu ruangan ku sudah sibuk merapikan barang mereka dan bersiap untuk keluar dari kantor. Sama halnya dengan aku, sayangnya aku tidak akan pulang. Jika sesuai dengan yang Fattah katakan maka hari ini adalah hari kepulangannya dari dinas. Tapi karena dia tidak bisa dihubungi dan bahkan tidak

