“Apa yang mau kamu bicarakan?” tanya Ivanka dengan perasaan takut. Tangannya meremas celana, berusaha menghilangkan kegugupan. Dia merasa takut dengan tatapan Kenzo yang terasa begitu dalam.
Namun, Kenzo tidak langsung menjawab. Pria itu malah menuangkan segelas teh dan kembali duduk bersandar. Kedua tangannya sedekap, memperhatikan wanita yang tampak begitu takut di hadapannya.
“Apa aku membuatmu begitu takut sampai kamu terlihat tegang?” Kenzo mulai membuka suara.
‘Jelas,’ batin Ivanka.
Namun, dia tidak mengatakannya. Dengan perasaan takut, Ivanka menggelengkan kepala. Dia mana memiliki keberanian untuk menyinggung pria di depannya.
“Kalau begitu, makan makanan yang ada di depan,” perintah Kenzo.
Aura yang begitu mendominan membuat Ivanka tidak berani melawan. Dia pun meraih sendok di depannya, memakan spaghetti yang sudah dipesan. Dia memang belum makan apapun sejak tadi pagi, tapi dia juga tidak berharap duduk di meja yang sama dengan Kenzo. Dia benar-benar sudah tidak ingin berurusan dengan pria itu lagi.
“Kenapa kemarin kamu menemuiku?” tanya Kenzo kembali menatap ke arah Ivanka. Sebelah kakinya disilangkan.
Ivanka pun menghentikan kunyahan dan menelan makanan yang baru saja dia kunyah. Dia pun menjawab, “Aku ingin mengembalikan uang yang kamu berikan. Aku hanya meminta sepuluh juta, tetapi kamu memberiku sampai lima puluh juta.”
“Kamu tidak perlu mengembalikannya, aku memang sengaja memberikan lebih untukmu,” ucap Kenzo ketika melihat Ivanka yang membuka tas.
“Tapi uang itu bukan milikku,” sahut Ivanka dengan tenang.
“Tapi aku ingin memberikannya untukmu. Anggap saja sebagai tanda terima kasih karena kamu sudah memberikan malam pertamamu untukku. Tidaknya lima puluh juta tidak terlalu membuatmu terhina dan dianggap sebagai w************n,” jelas Kenzo.
Ivanka yang mendengar hal itu hanya terdiam dengan mulut tertutup rapat. Matanya sudah mulai memanas, bersiap untuk mengeluarkan tetesan. Dia benar-benar merasa sakit hati karena apa yang baru saja Kenzo ucapkan. Jika dia bisa memilih, Ivanka pun tidak ingin melakukannya. Dia terpaksa karena keadaan.
“Selain itu, aku ingin memberimu satu kesempatan lagi, Ivanka. Kalau kamu mau menjadi wanitaku, aku akan memberikanmu uang yang jauh lebih banyak,” ucap Kenzo serius. Dia tidak tahu apa yang terjadi dengannya, tetapi rasanya sulit untuk melepaskan Ivanka.
Ivanka tidak langsung menjawab. Dia pernah menolak Kenzo. Dia juga tidak menyangka kalau pria itu akan kembali menanyakan hal yang sama. Ivanka akui kalau dia membutuhkan cukup uang, tapi ada hal yang membuatnya merasa bimbang. Haruskah dia menerima? Pasalnya hanya Kenzo yang bisa membantunya.
“Seperti yang kamu katakan di kelas. Orang zaman sekarang banyak sekali yang menghalalkan cara untuk mendapatkan uang, entah itu menjual moralitas ataupun menjatuhkan harga dirinya.Tapi, aku tidak bisa menjadi seperti mereka. Cukup sekali aku menjatuhkan harga diri dan menjual moralitas yang selalu aku pegang teguh. Jadi, aku rasa kamu mengerti dengan jawabanku untuk tawaranmu,” ucap Ivanka dengan kedua tangan mengepal. Dia takut kalau Kenzo akan marah, tetapi dia harus mengatakan apa yang ada di pikirannya.
Kenzo yang mendengar pun hanya bisa terdiam dengan mulut tertutup rapat. Rahangnya tampak mengeras, merasa kesal dan tidak terima dengan penolakan Ivanka berulang kali.
“Kalau begitu, saya permisi. Terima kasih untuk makan siangnya,” kata Ivanka. Dia pun langsung bangkit dan melangkah pergi.
Sedangkan Kenzo yang melihat hanya memperhatikan wanita itu tajam. Bibirnya mulai menunjukkan senyum sinis dengan sorot mata menakutkan.
***
Ivanka menatap bingung para perawat yang mulai berlarian di lorong rumah sakit. Dia penasaran, apa yang terjadi di tempat itu? Apa ada kejadian yang menakutkan sampai semua terlihat begitu cemas? Hingga dia yang teringat dengan kondisi sang kakak, membuatnya langsung berlari kecil. Ketakutan mulai dia rasakan.
“Dokter, bagaimana kondisi kakak saya?” tanya Ivanka ketika sampai di depan kamar. Beruntungnya, saat dia sampai di depan ruangan sang kakak, tepat saat itu sang dokter keluar.
“Akhirnya kamu datang, Ivanka. Tadi aku baru memeriksa kondisi kakakmu dan masih sama. Tapi, aku mendapat kabar baik,” sahur sang dokter.
“Kabar baik? Apa?”
“Kamu sudah menemukan pengobatan untuk kakakmu. Di rumah sakit luar negeri, ada seorang dokter yang pernah menangani kasus seperti kakakmu dan berhasil.”
“Apa itu benar?” Ivanka langsung menatap lekat. Binar kebahagiaan langsung terpancar begitu jelas. Kakaknya memiliki kesempatan untuk kembali hidup normal.
“Tapi biaya di sana mahal, Ivanka. Mungkin kita harus menyiapkan dana sampai dua ratus juta.”
Ucapan sang dokter benar-benar meluluhlantakkan kebahagiaan yang baru saja Ivanka rasakan. Dia pun langsung melemas ketika mendengar nominal yang disebutkan.
‘Dua ratus juga. Dimana aku bisa mendapatkannya?’
***
Ivanka berhenti di depan sebuah bangunan megah. Tampak sinar lampu semakin mempercantik rumah tersebut. Manik matanya pun menatap lekat, sesekali menggigit bibir bagian bawah. Jemarinya juga tidak berhenti saling meremas.
“Kamu harus lakukan ini, Ivanka,” gumam Ivanka, berusaha menyemangati diri sendiri. Dia pun melangkahkan kaki dan berhenti tepat di depan gerbang rumah tersebut.
“Ada yang bisa dibantu?” tanya seorang penjaga.
“Saya ingin bertemu dengan Kenzo,” jawab Ivanka.
“Apa anda sudah membuat janji?”
Janji? Apakah sesulit itu bertemu dengan Kenzo? Ivanka yang tidak memiliki janji pun menggelengkan kepala kecil.
“Kalau anda tidak memiliki janji dengan Tuan kami, anda tidak diperbolehkan untuk masuk,” tegas sang penjaga.
Ivanka pun kembali merasa bingung. Dia membutuhkan bantuan Kenzo, tetapi kalau seperti ini, bagaimana dia bisa masuk? Terlebih dia sudah memblokir nomor pria itu. Ivanka yakin Kenzo pun melakukan hal yang sama.
‘Kalau begini, aku harus bagaimana?’ tanya Ivanka dengan diri sendiri.
“Ivanka, kenapa kamu di sini?”
Ivanka yang sedang mencari jalan keluar pun langsung mengalihkan pandangan ketika seseorang memanggil namanya. Di hadapannya sudah ada Arya yang menatap lekat. Secepat mungkin Ivanka mendekat ke arah pria tersebut. Hanya Arya yang bisa menolongnya.
“Aku ingin bertemu dengan Kenzo,” jawab Ivanka.
“Ada urusan apa kamu ingin bertemu dengannya?” tanya Arya kembali. Meski dia sudah menjadi orang kepercayaan sekaligus sahabat Kenzo, dia tidak bisa memasukkan orang sembarangan.
“Ada hal yang harus aku bicarakan dengannya. Jadi, aku mohon antarkan aku padanya.”
Arya yang mendengar hal itu pun hanya terdiam, menatap Ivanka dengan sorot mata menyelidik. Dia cukup ingat bahwa beberapa hari yang lalu Ivanka mengatakan tidak ingin mengenal Kenzo. Lalu, kenapa sekarang ingin bertemu?
“Baiklah kalau begitu. Ikut aku masuk,” putus Arya. Dia tidak tega melihat raut wajah memelas Ivanka.
Ivanka pun mengangguk, mengikuti Arya yang sudah membimbingnya untuk masuk. Rumah itu benar-benar indah. Desain dan segala detail di dalamnya begitu mempesona. Hingga dia melihat Kenzo yang duduk seorang diri di ruang makan, membuat dia dan Arya berhenti.
“Ada yang ingin bertemu denganmu.”
Kenzo yang sebelumnya sibuk menyantap hidangan makan malam pun langsung mengalihkan pandangan. Tatapannya langsung tertuju ke arah Ivanka berada.
“Untuk apa kamu ke sini? Bukannya kita sudah tidak memiliki hubungan apapun?” tanya Kenzo dengan kening berkerut dalam.
Ivanka tahu jika sifatnya sebelum ini begitu sombong, tapi dia tidak memiliki pilihan lain. Ivanka mengesampingkan ego dan juga harga dirinya. Dia melangkahkan dan berhenti tepat di depan Kenzo.
“Apa tawaranmu masih berlaku?” tanya Ivanka.
“Tawaran apa maksudmu?” Kenzo malah balik bertanya dan tampak bingung.
“Ingin menjadikanku simpananmu,” jawab Ivanka dengan tangan mengepal dan kembali melanjutkan ucapan, “kalau masih berlaku, aku siap menjadi simpananmu.”