Pukul 2 siang waktu London saat aku sampai di Old Parsonage, hotel yang dipesankan Mama untukku. Sengaja milih yang deket Oxford biar ga susah ketemu Quinsha.
Aku masuk ke kamarku, kamarnya luas. Asli, ini sih kebagusan. Mama tuh bener-bener yaaa, padahal nginep di hotel kecil aja aku ga keberatan ko. Lha ini, bagus banget hotelnya padahal cuma buat dua hari.
Kurebahkan tubuhku di kasur, aku ngantuk, yaa biasa, jetlag. Meskipun aku sempat tertidur di pesawat, tetep aja jam biologi tubuhku belum menyesuaikan diri. Tapi seperti saran dari banyak orang, kalo jetlag paksain aja. Aku bangkit dari kasur, menuju tas kecil yang tadi kuletakan di meja, mengambil simcard sementara untuku saat ada di sini. Memasangnya dan langsung menelefon.
“Hallo, gimana Kakak udah sampai?”
“Iya, Ma. Ini udah di hotel.” Kataku.
“Okay goodboy, udah janjian sama Quinsha?”
“Belum Ma, hehehe!”
“Yaudah mandi dulu sana, terus makan. Baru ketemu dia, kaloga makan bareng dia. Jan ajak dia ke kamar loh!”
“Ya ampun, Ma! Aku ga gitu.” Seruku, sempet pengen ketawa juga sih.
“Yaudah iya Kak, kabarin kalo butuh apa-apa. Kamu megang credit card Ayah kan?”
“Iya Ma, pegang kok.”
“Okay, lusa pulang. Inget jam terbangnya, jangan ketinggalan pesawat ya, Nak!”
“Iya Ma, siap.”
“Okay, son. Goodluck!”
“Thank you Ma!”
Setelah sambungan telefon terputus aku menuju kamar mandi, mandi dulu deh biar segeran, biar ga ngantuk.
Selesai mandi, aku malah menguap lebar, ya ampun. Ngantuk banget deh, sumpah!
Tapi engga, gak bisa. Aku harus ketemu Quinsha biar cepat selesai. Biar pas aku balik ke Indonesai, semua udah aman. Hatiku aman.
Aku meraih ponselku yang tergeletak tak berdaya di atas kasur, mencari kontak Quinsha dan langsung menghubunginya.
Pada nada tunggu kesekian, baru panggilanku terangkat.
“Hallo?” Terdengar suaranya dikejauhan sana, entah kenapa rasa rindu yang selama ini kurasakan seperti terbayar.
“Quinsha? Ini Aga.”
“Loh kok nomor kamu beda?”
“Liat dong kode wilayahnya!” Seruku.
“Oh Lord! Kamu di London Ga?” Tanyanya.
“Aku ada di Old Parsonage, bisa kita ketemu? Di resto sini aja sekalian aku makan. Mau?”
“Bisa-bisaa, aku bolos kelas selanjutnya deh.”
“Eh, kamu ada kelas?”
“Iya tapi udah gak apa-apa, aku jalan sekarang ke Old Parsonage.”
“Okay, see you in the resto.” Kataku.
“Yeah bye!”
Aku langsung siap-siap, ya ampun bakal ketemu Quinsa setelah sekian lama ga ketemu dan beberapa hari terakhir ini berantem terus, ga kebayang deh ini deg-degannya.
Setelah siap, aku mengambil ponsel dan dompetku, lalu keluar turun menuju resto untuk membeli makan. Gasampai sepuluh menit aku menunggu, Quinsha datang.
Aku langsung berdiri menunggunya, ya ampun aku kangen banget sumpah.
“Sama siapa kesini?” Tanyanya sambil tersenyum.
“Sendiri Quinn. Ambil makanan gih, biar sambil makan.” Kataku.
“Okay, kebebetulan laper!” Serunya.
Aku menunggunya dengan makananku dan tak lama ia udah duduk di seberangku dengan makanannya.
“Ada angin apa kamu ke London?” Tanyanya sambil memulai makan.
“El nino.” Jawabku asal.
“Seriusan Aga!”
“Pengen ketemu sama kamu, mau ngelurusin apa yang seharusnya berjalan lurus, mau ngeberesin apa yang seharusnya baik-baik saja.” Jawabku.
“Maksud kamu?” Tanyanya.
“Nanti aja, makan dulu yuk!” Ajakku.
Ia mengangguk dan kamipun makan dalam diam.
“Abis ini mau ke mana?” Tanya Quinsha.
“Yang enak buat ngobrol di mana?” Tanyaku.
“Ke London Eye yuk? Aku mau kesana deh.” Ajaknya.
“Yaudah , mau naik kereta apa cab?” Tanyaku.
“Bus aja! Kereta mahal seorang bisa ampe sejuta.”
Aku mengangguk setuju, iya sih mahal kalo naik kereta atau cab, tadi aja dari airport kesini aku ngabisin duit hampir dua juta cuma buat bayar cab. Kan gila.
“Ayok!” Ajak Quinsha.
Aku berjalan disampingnya, kami menuju shelter Bus dan menunggu bisnya datang.
“Kamu nyampe kapan di Inggris?” Tanya Quinsha.
“Tadi jam 12 siang, terus langsung ke hotel.” Kataku.
“Maksud aku sampai kapan di Inggris bukan kapan nyampe!” Jelas Quinsha.
“Ohhh, lusa udah balik lagi.”
“Ko bentar banget?” Tanyanya.
“Cuma pengen ketemu kamu doang Quinn, lepas kangen.” Kataku.
Quinsha tersenyum padaku, aku membalas senyumnya dan mendadak hatiku tenang. Adem gituuu.
“Eh bus nya dateng tuh!” Seru Quinsha.
Lalu kami berdua naik ke dalam bus, duduk berdampingan dalam diam karena aku gak tahu mau ngobrolin apa dan Quinsha pun sepertinya udah terbiasa dengan kelakuanku ini.
Hampir satu jam kemudian, kami sampai. Aku dan Quinsha berjalan untuk sampai ke Lodon Eye, untung ga ngantri jadi bisa langsung naik.
Kapsul yang kami naiki hanya berisi 4 orang termasuk kami, dua lainnya sepasang turis sepertinya, karena mendengar bahasa mereka yang tak kumengerti.
“Kamu mau ngomong apa?” Tanya Quinsha, kami duduk di tempat yang ada.
“Soal kita.” Kataku.
“Yaudah obrolin, jelasin.” Katanya.
“Maaf kalo text aku yang terakhir itu isinya absrud banget, tapi waktu itu, yang aku tulis itu emang mewakili perasaan aku. Aku bingung soal kita gimana.” Aku diam sejenak untuk menarik nafas, mencoba menyusun kata-kataku agar enak di dengar.
“Bentar Aga, aku potong, bisa? Sebelum terlalu jauh.” Pintanya.
“Sure.” Kataku.
“Pas kamu bilang kamu cuma peduli sama aku, itu aku udah ngambil keputusan Ga. Aku nanya 'kita ini gimana?' Itu karena di sini ada yang deketin aku, dan menawarkan lebih dari sekedar temen. Dan jawaban kamu itu, itu bikin aku mempertegas hubunganku sama dia, mangkanya aku bilang sorry ke kamu. Karena sejatinya, aku butuh yang pasti.” Jelasnya.
Aku diam, entah kenapa hatiku yang tadi mendadak adem malah jadi panas sekarang. s**l, aku telat.
Jadi gini rasanya ditikung? Ya Allah, perih ternyata.
“Maaf ya, Aga.” Katanya.
Aku mengangguk, menelan lagi semua kata-kata yang udah kupersiapkan untuknya. Bener kata Anida, cewe emang butuh kepastian, status penting banget buat mereka.
“Lagian, Ga. Kamu jauh, dan aku lebih milih yang deket. Maaf kalo kesannya aku jahat, tapi aku realistis.” Jelasnya.
Aku mengangguk lagi.
Sia-sia udah aku ke London.
“Ga? Say something?” Pinta Quinsha.
Aku menatap lembut ke arahnya, lalu tersenyum.
“Yaudah , ga ada yang harus diobrolin, Quinn.” Kataku.
“Maaf.”
“Gak apa-apa, itu pilihan kamu. Semua orang berhak memilih untuk hidupnya, termasuk kamu. Dont say sorry, it's your choice.” Kataku.
“Thank you.”
“Siapa namanya?” Tanyaku.
“Rio, anak oxford dari Australia.” Jelasnya.
Aku mengangguk.
“Selamet yaa.” Kataku, tulus. Seriusan, kebahagiaan itu menular, kalo dia bahagia aku juga ikutan bahagia.
“Sorry.” Katanya lagi.
“Gak usah, gak apa-apako.” Kataku.
“Harusnya aku jelasin aja yaa dari awal, biar kamu gak usah jauh-jauh ke sini.” Katanya.
“Gak apa-apa, kapan lagi aku bisa jalan-jalan sendiri.” Kataku.
“Lusa kan baru pulang? Aku sama Rio temenin kamu main ya?” Tawarnya.
Aku mengangguk setuju. Yaudah lah, berbesar hati terima kekalahan, sekalian temu juga orangnya kaya apa.
“Kamu seangkatan sama Rio?” Tanyaku.
“Engga, dia asisten praktikum.” Jawab Quinsha.
Aku diam, Quinsha juga diam. Sejenak kami benar-benar menikmati pemandangan senja dari atas London Eye. Sayangnya, London mendung sore ini. Bukan jingga keunguan yang menghiasi langit, tapi abu-abu. Sama kaya suasana hati aku sekarang. Meskipun kelabu, tapi tetep ada yang bisa dinikmatin dari suasana begini.
Kami turun saat langit udah gelap sepenuhnya dan digantikan dengan lampu-lampu kota. Entah akan ke mana karena kami udah tak punya tujuan.
Kami berjalan-jalan seputaran London Eye. Inggris malam hari terlihat menyenangkan meskipun sangat dingin.
“Besok kita mau ke mana?” Tanya Quinsh memecah keheningan.
“Terserah aku juga gak tahu.” Jawabku.
“Ke Edinburgh aja yuk?”
“Eh, itukan di Skotland?”
“Iya, gak apa-apa kita berangkat dari pagi. Baliknya mampir Glasgow City. Asik deeh!” Seru Quinsha.
“Yaudah kalo mau gitu.” Kataku.
Malam ini, akhirnya aku meminta pulang. Tubuhku udah lelah dan aku harus mempersiapkan diri untuk perjalanan besok. Setahuku, jarak dari London ke Edinburgh itu hampir 8 jam. Jadi ya sepertinya bakal cape di jalan.
Quinsha mengantarkanku sampai ke hotel, sebelum ia pergi, ia sempat menciumku membuatku membeku di tempat, hanya ciuman kilat dan ia langsung berbalik badan dan menghilang. Entah kenapa, saat ia menghilang dari pandanganku, tiba-tiba saja rasa sakit itu muncul.
Rasa sakit yang entah datang dari mana membuatku heran dengan perasaanku sendiri. Aku naik ke kamarku dengan tenaga seadanya. Begitu masuk kamar, udah tersedia makanan dalam satu meja troley. Good, aku emang laper.
Sebelum makan, kuputuskan untuk ke kamar mandi dulu, mencuci muka untuk membuat wajahku terlihat segar.
Aku menatap pantulan wajahku di cermin, aku terlihat pucat. Mukaku kaya ga ada warnanya sama sekali di sini. London terlalu dingin, this city not belongs to me.
Keluar kamar mandi, aku duduk di kursi menghadap troley makanan. Mengambil sebuah roti dan s**u. Sambil makan, aku memikirkan lagi perasaanku yang gakaruan ini. Entahlah apa yang aku rasakan saat ini.
Aku seharusnya membiarkan Quinsha, melepaskannya karena ia memilih yang lain, menghormati pilihannya dan ikut bahagia bersamanya. Namun, hatiku seperti tak setuju dengan itu semua, hatiku seolah-olah ingin menjadikanku orang paling merana sedunia yang harus menangis, menjerit-jerit tak terima. Tapi tidak, aku tidak mau seperti itu.
Aku harus berbesar hati menerima kekalahan, dan besok sepertinya aku harus menyiapkan mentalku karena akan bersama Quinsha dan Rio. Bukan suatu hal yang ingin kulakukan, tapi terpaksa harus kujalani.
Lalu aku teringat ciuman tadi, apa maksudnya Quinsha cium aku? Dia udah punya pacar kan? Dia udah milih Rio, kenapa dia pake acara cium aku segala? Dia mau bikin aku tambah pusing?
Kalo gini ceritanya, aku jadi pengin pulang besok ke Indonesia. Biar bisa sedih-sedihan di pesawat aja.
Setelah s**u dan rotiku habis, aku naik ke kasur. Mengistirahatkan diriku karena aku amat sangat lelah dengan semua ini. Bukan cuma fisik, tapi hatiku juga.
***
Sekitar pukul 6 pagi hari, aku udah janjian sama Quinsha dan Rio. Kami bertiga naik kereta untuk sampai ke Edinburgh. Selama di perjalanan kami sesekali mengobrol, Rio banyak mendominasi pembicaraan. Mungkin ia juga ingin terlibat dalam apapun lah ini.
Seperti biasa, aku ga terlalu banyak bicara. Bukan karena cemburu liat mereka berdua yang akrab banget, tapi ya emang aku begini adanya.
Siang hari, kami sampai di Edinburgh. Quinsha dan Rio langsung mengajakku untuk melihat kastil-kastil luar biasa yang ada di sini. Dan entah kenapa, hatiku yang panas mendadak adem ngeliat ini semua. Bagus banget, bener yeee, negara kerajaan tuh emang bagus-bangus banget. Ga ngerti lagi dehh.
Hanya sekitar 2 jam di Edinburgh, kami udah kembali pulang, mampir ke Glasgow City dulu tentunya.
Kami kembali ke London dini hari, hanya selang 3 jam sebelum keberangkatan peswatku, jadi Rio dan Quinsha ikut naik ke kamarku, membantuku membereskan semua barang bawaanku dan mengantarku ke bandara.
“Bye Aga, see yaa!” Seru Rio.
Quinsha maju, memelukku singkat lalu melepasnya. Aku tersenyum canggung pada mereka bedua.
“Safe flight Aga!” Seru Quinsha.
Aku mengangguk lalu masuk ke ruang tunggu. Siap-siap menggalau di dalam pesawat nanti.