IND 4

910 Words
Kak Sean : Iya Hanya itu balasan yang kudapat, dari chat panjang lebarku waktu itu. Setelahnya, aku benar-benar pergi ke Aussie. Untuk melanjutkan pendidikanku, lalu sejak itu hilang kontak dengannya. Terhitung sudah hampir satu tahun sejak aku kembali ke sini. Monash university. Tempatku menimba ilmu sekarang. Kami tak pernah bertukar kabar sama sekali. Kami benar-benar hilang kontak. Namun, hanya dengan saja, sementara dengan Mama Sulis, aku masih sering bertukar kabar. Juga Kak Audy, yang kadang masih ingat memberi kabar tentang suami kami, dan kehidupan bahagianya di sana. Ya! Dia masih dengan baik hatinya, memberi dan membagi kabar itu padaku. Termasuk kabar kehamilannya beberapa bulan lalu. Sayangnya harus dikuret karena janinnya tak berkembang. Kasihan sekali. Padahal, katanya Kak Sean sudah sangat ingin punya anak. Tapi, terpaksa harus menunggu lagi, karena kak Audy disarankan untuk tidak hamil dulu dalam beberapa bulan ke depan. Lalu, apa aku harus menawarkan diri? Jangan gila! Kak Sean pasti akan menolak ide itu mentah-mentah. Karena, jangankan membuatku hamil, melihat wajahku pun Kak Sean pasti tidak sudi. Miris, ya? Ternyata aku benar-benar cuma istri di status saja baginya. Karena untuk keberadaanku pun, Kak Sean tak peduli. Terbukti dari tidak adanya telepon atau chat selama ini padaku. Setelah jawaban chat singkatnya waktu itu. Benar-benar tak ada satu pun. Sekalipun hanya miscall atau spam semata. Tidak ada! Aku benar-benar dilupakan suamiku sendiri. Apakah aku harus menangis? Atau harus mengeluh minta hakku padanya? Tentu tidak, kan? Karena dari awalpun aku tahu. Peranku di sini hanya sebagai figuran saja. Menuntut hakku padanya, hanya akan menyakitiku, jika sampai Kak Sean memperjelas statusku sebagai istri yang tak diinginkan dalam rumah tangga ini. Karena itulah, alih-alih mengeluh. Aku lebih suka menenggelamkan diri pada pelajaranku, agar aku bisa cepat lulus dan mengambil alih perusahaan. Maksudku, agar aku bisa kembali membantu menjalankan perusahaan papi, yang masih sebagian besar dia pegang dan kendalikannya. Sementara aku, hanya dipercaya belajar mengurus cabang yang ada di sini saja. Namun, tidak apa-apa. Aku percaya sama Kak Sean, kok. Karena papi juga percaya padanya untuk menjadi suamiku. Dan aku selalu yakin, apa pun pilihan papi, itu pasti yang terbaik untukku. “Rara baik-baik saja, Mah. Ini lagi persiapan UAS. Doain lancar ya, Mah.” Aku merebahkan diriku di sofa, seraya bertelepon ria dengan Mama Sulis. “Iya, Nak. Mama selalu doain kamu. Jangan lupa makan dan jaga kesehatan, ya? Di sana lagi musim dingin, kan? Jangan lupa pake jaket yang tebel kalau ke kampus,” titah Mama Sulis, yang selalu sukses membuatku terharu. Karena dia itu benar-benar seperti Mamaku sejak dulu. Selalu penuh perhatian dan kasih sayang. Aku selalu merasa beruntung memilikinya. “Aduh, Sayang! Jangan di sini, ada Mama tuh. Malu!” Sedang enak ngobrol dengan Mama Sulis. Aku dikejutkan dengan suara Kak Audy, yang tiba-tiba muncul begitu saja. “Sore, Mah. Lagi nelepon siapa?” tanya Kak Audy riang. Semakin mendekat ke arah Mama Sulis sepertinya. “Mah, Rara—” “Sama madu kamu yang terlupakan!” Deg! Ucapanku pun sontak menggantung di udara begitu saja, saat mendengar jawaban ketus Mama Sulis terhadap Kak Audy. Kok, Mama galak banget? Ada apa? Apa yang sudah aku lewatkan? “Eh, maksudnya ... itu Rara, Mah?” Suara kak Audy terdengar lagi. “Memang selain Rara, kamu punya madu siapa lagi?” Tanpa sadar aku menggigit bibirku, mendengar percakapan di ujung telpon sana. Kenapa suasananya jadi panas gini? “Ya, bukannya gitu, Mah. Tapi ....” Hening kemudian tiba-tiba menyapa, entah apa yang terjadi di sana? Yang jelas, setelah bentakan Mama Sulis tadi dan pembelaan yang menggantung Kak Audy, aku tidak mendengar suara apapun lagi dari seberang. Kukira, panggilan itu terputus, atau sinyal yang mendadak buru. Aku sampai harus mengecek ponselku untuk melihat, apa telepon ini masih tersambung, atau tidak. Namun, Ternyata masih tersambung, kok. Lalu kenapa tak ada suara sedikit pun di sana? Apa yang sedang mereka lakukan? “Maaf, Mah. Kami gak bermaksud melupakan keberadaan Rara.” Akhirnya suara kak Audy kembali terdengar. “Kami ... sebenarnya selalu inget ‘kok sama Rara. Itulah kenapa, Audy selalu kasih kabar tentang kami di sini, karena Audy mau. Rara juga merasa kalau kami selalu mengingatnya. Hanya saja—” “Sejak kapan kamu jadi kepala keluarga di rumah tangga ini Audy?” Eh? “Apa suami kamu sudah kehilangan suaranya, sampai bicara saja harus diwakilkan istrinya?” tukas Mama sulis sengit. Membuat aku refleks memijat kepalaku yang mendadak pusing. Aduh! Kenapa Mama Sulis harus mengomeli mereka, sih? Kalau Kak Sean makin benci sama aku, gimana? “Sean?” Panggil Mama Sulis dengan gemas. “Mah, Kak Sean juga bukannya ngelupain Rara. Tapi, Kak Sean sibuk, Mah. Jadi—” “Sampai kapan kamu lari dari tanggung jawab kamu, Sean!” sentak Mama Sulis lagi. Membuat pembelaan Kak Audy lagi-lagi terpotong. “Mama tau kamu belum bisa menerima pernikahan ini. Tapi ini sudah setahun, Sean! Semuanya sudah terjadi. Mau gak mau, suka gak suka, kamu harus belajar adil terhadap istri-istri kamu. Bukan cuma perkara harta saja, tapi juga cinta dan hak. Bukan cuma satu orang saja yang kamu urusi kebahagiaannya. Sementara yang lainnya kamu lupakan gitu aja!” Entah sejak kapan. Aku sudah mencengkram bantal di pangkuanku. Karena ikut tegang dengan sentakan Mama Sulis di seberang sana. “Dari awal Sean udah bilang gak sanggup poligami, Mah.” Suara Kak Sean akhirnya terdengar juga, setelah keheningan menyapa mereka beberapa saat lalu. “Kalau begitu kenapa kamu gak berani hanya memilih Audy saja, dan meninggalkan perusahaan Rara waktu itu?” Deg! Tunggu! Itu maksudnya apa?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD