“Morning, Dear!”
Aku langsung menoleh ke sebelah kanan, saat mendengar sapaan yang lumayan familier untukku, saat aku sedang mengunci rumah sebelum berangkat ke kampus hari ini.
Tenang saja, hari ini gak ada drama dari Kak Sean lagi, kok. Karena aku sudah belajar dari hari kemarin dalam mengurus suamiku itu, hingga tak ada alasan lagi buat Kak Sean untuk mengomel. Sekarang, pria itu sudah berangkat ke kantor, setelah menghabiskan sarapan yang tumben mau dia sentuh.
“Morning, An,” balasku riang, saat melihat keberadaan Ana. Tetangga loft, yang sangat baik hati.
Ana itu seorang janda, yang memutuskan tidak menikah lagi setelah suaminya meninggal. Ana bilang, cintanya pada suaminya kekal, hingga tak bisa menerima pria manapun lagi. Lagi pula, kini umurnya sudah lebih dari 50 tahun. Dia sudah tak memiliki hasrat untuk berumah tangga lagi.
Toh, kalau soal kebutuhan biologis, dia masih mampu membayar gigolo manapun untuk memuaskannya. Jangan kaget, ini luar negeri. Tentunya, s**s bebas sudah jadi hal yang umum.
Terlepas dari kebiasaan buruknya itu, aku selalu respect pada kesetiaannya pada mendiang suaminya. Di mana itu mengingatkan aku pada kesetiaan Papi semasa hidupnya.
“Kau sudah mau kuliah, My Dear?” tanyanya, setelah aku memberinya pelukan hangat pagi ini.
Kalau di Indonesia aku punya Mama Sulis sebagai ganti Mami yang sudah tiada. Maka di sini, aku punya Ana, yang sudah kuanggap ibuku sendiri.
Dia itu baiiiikkkk sekali.
“Iya, Ana. Hari ini aku kuliah siang,’ sahutku seadanya.
“Oh ... nice. Jangan lupa jaga kesehatan ya, Dear. Cuaca sudah mulai tak bersahabat,” tegurnya ramah.
“Aku tahu. Terima kasih sudah mengingatkan. Kau juga jaga kesehatan, Ana ,” balasku, sambil mensejajari langkahnya. Dilihat dari pakaiannya, sepertinya Ana juga baru akan berangkat kerja.
“Tentu, Dear. Aku selalu menjaga kesehatanku, karena tidak akan ada yang mau mengurusku jika aku sakit nanti. Bahkan jika aku mati mendadak pun, mayatku pasti akan ditemukan setelah membusuk.”
Dia mencoba berkelakar, tetapi aku tahu arti ucapannya sangat dalam sekali. Meski dia terlihat santai dan cuek dengan hidup singlenya. Tapi aku tau pasti, kadang Ana pun merasa kesepian. Bagaimanapun, kita ini makhluk sosial, kan? Jadi, tentunya kita pasti butuh orang lain untuk sekedar menemani.
Begitupun dengan Ana. Meski dia kadang mandiri, bahkan terkesan tak membutuhkan orang lain. Tapi Ana tetaplah manusia biasa.
“Jangan bicara seperti itu Ana, masih ada aku. Kau bisa memanggilku jika butuh sesuatu,” aku mencoba menghiburnya.
“Dan kau juga akan pergi, kan? Setelah kuliahmu selesai?”
Benar juga, sih?
“Karenanya, tidak perlu memikirkan aku, Dear. Aku sudah terbiasa sendiri. I’m fine.” Dia mengibaskan tangannya dengan santai. Sebelum melangkah ke dalam lift. Aku pun segera mengekorinya.
Aku mengerti maksud Ana apa. Dia cuma tidak ingin terlalu bergantung pada orang lain, karena tahu suatu hari akan ditinggalkan lagi. Karenanya, selama ini. Dia selalu berusaha mengandalkan dirinya sendiri, hingga tak perlu bergantung pada orang lain. Dia bisa hidup sendiri.
“Ah, iya. Kemarin aku bertemu dengan sepupumu. Dia tampan dan baik, ya? Aku suka sekali,” ucapnya tiba-tiba. Tak ayal, aku pun langsung mengernyit bingung. Karena ... sepupu?
Perasaan belum ada satu sepupu pun, yang mengunjungiku tahun ini. Mereka semua sibuk, dan ... memang jarang berkunjung. Lalu, sepupu mana yang Ana maksud?
“Sepupu?” beoku pelan.
“Iya, sepupumu. Pria tampan berkulit coklat, bermata tajam dan ... yang baru datang kemarin.”
Hah?!
Maksudnya? Jangan-jangan ....
“Kalau tidak salah namanya Sean!”
Ah, sudah kuduga! Ternyata memang Kak Sean yang disebut Ana. Tapi ... kenapa Ana bilang dia sepupuku?
“Oh, Kak Sean.” Aku hanya pura-pura bergumam. Karena aku bingung harus menjelaskan bagaimana pada Ana, tentang Kak Sean.
Sudah kubilang, kan? Tidak ada yang tahu jika aku sudah menikah.
“Iya, Sean. Semalam aku tak sengaja berpapasan dengannya saat pulang kerja.” Tanpa diminta, Ana pun membuka ceritanya.
“Awalnya, kukira dia salah alamat, karena terlihat bingung di depan pintu loft-mu. Saat kutanya apa sedang butuh bantuan atau tidak, ternyata dia sepupumu yang sedang menginap.”
“Dia bilang seperti itu?”
“Ya! Meski wajahnya sangat kaku dan datar. Tapi dia lumayan baik karena mau membantuku membawa barang, saat aku kesulitan mencari kunci di tas.”
“Ah, begitu, ya?”
Kembali, aku hanya menanggapinya sekilas, karena ... sebenarnya ada hal lain yang lumayan mengganggu pikiranku.
Sepupu? Kak Sean mengenalkan dirinya pada Ana sebagai sepupu? Itu berarti, dia memang tak ingin ada orang lain yang tahu tentang status kami. Setelahnya, aku pun hanya bisa tersenyum miris diam-diam. Sebelum berpamitan pada Ana, karena arah kami memang berbeda. Sepupu, ya? Baiklah.”
***”
“Ayolah, Ra. Sudah lama, kan? Kita tidak hangout bareng.”
“Yes, I know. Tapi, aku sedang benar-benar tidak bisa ke mana pun, Mir,” tolakku tegas, pada Miranda sahabatku di sini, saat dia mengajakku untuk pergi ke mall sepulang kuliah nanti.
“Tapi kenapa? Apa kau memang sesibuk itu, Ra? Sampai kini kau tak punya waktu hanya sekedar me time?” tuntutnya mulai kesal. Karena memang, beberapa bulan ini aku tidak pernah menuruti maunya.
Bukan apa-apa. Aku hanya sedang memperdalam ilmu bisnis dan mulai sering datang ke kantor untuk mempelajari bisnis ayahku.
Biasanya, setiap pulang kuliah, aku akan menyempatkan diri datang ke kantor. Tapi sejak ada Kak Sean, aku memilih tinggal di loft dan mempercayakan semuanya padanya.
Namun, tetap saja itu bukan alasan aku bisa santai lagi, dan kembali menghabiskan hari di mall seperti dulu. Karena justru, keberadaan Kak Sean membuatku tak bisa kemana-mana.
Dia itukan susah sekali ditebak. Kadang muncul tanpa peringatan dan ... ada saja polanya yang membuatku harus selalu waspada.
Seperti hari ini, saat sedang berusaha menolak Miranda secara halus. Tiba-tiba dia datang begitu saja, dan mengajak aku pulang di depan teman-temanku. Tak ayal, hal itu membuat semua orang kini menatapku penuh selidik. Merepotkan sekali.
“Siapa dia, Ra? Pacarmu?” tuntut Miranda setelah memindai Kak Sean dengan kurang ajar.
“Wah, Rara? Ternyata diam-diam sudah punya kekasih,” goda Juli, temanku yang lain sambil menoel lenganku.
Namun, aku hanya menggeleng pelan menanggapinya dan melirik Kak Sean agar memperkenalkan dirinya sendiri, karena aku tak ingin salah mengenalkan dia.
Hanya saja, pria itu hanya diam, seperti menyerahkan semuanya padaku. Membuat aku mendesah pelan, sebelum menjawab, “Jangan bergosip. Dia itu hanya sepupuku.”
Entah benar atau tidak. Aku melihat tatapan Kak Sean langsung menajam. Sedetik setelah aku mengucapkan kalimat tadi. Apa yang salah? Bukannya dia sendiri yang mengaku sebagai sepupuku pada Ana? Aku hanya mengikuti alur saja. Lalu, kenapa dia tampak tak suka?