STC - 3

1033 Words
Satu minggu telah berlalu sejak sarapan bersama waktu itu, Mas Athar dan Mbak Rania tak pernah datang lagi ke sini dan aku merasa merindukan suamiku. Segala cara sudah coba kulakukan untuk menyingkirkan segala perasaan tentangnya, tetapi semakin keras aku mencoba menyingkirkannya semakin melekat pula bayangannya dalam benakku. Aku menyisir rambut panjangku sambil menatap cermin yang memantulkan bayangan lesu wajahku. Tak ada yang istimewa dari wanita yatim piatu seperti aku tapi entah kenapa kedua orang tua Mas Athar memilihku menjadi menantu mereka. Apa mungkin karena mereka tahu aku takkan punya pilihan lain demi menyelamatkan ibu panti? Apa pun alasan mereka memilihku, sekarang aku adalah istri kedua dari Athar Ghazi, pria berusia 35 tahun yang begitu dingin. "Zyana?" Aku menoleh kala mendengar suara lembut nan anggun itu, kusunggingkan senyum meski hatiku sedang dilanda sakit tak terperi mengingat hubunganku dan Mas Athar. "Zy, tadi teman Mama yang dari Paris datang, dia bawain parfum yang aromanya manis banget. Kamu pakai, ya. Athar pasti suka." Aku hanya bisa tersenyum kikuk melihat semangat membara di mata ibu mertuaku setiap kali mendatangiku ke kamar. "Kamu sama Athar sudah ...." Dia memicingkan mata padaku tanpa melanjutkan kata-katanya. Aku tahu apa yang tengah ada dalam kepala ibu mertuaku yang sangat tak sabar ingin menimang cucu. "Jangan bilang kalian belum melakukan apa pun." Dia berdecak kesal sambil meletakkan botol parfum di meja rias. "Athar juga sibuk padahal Mama sama Papa sudah menyuruh dia cuti satu atau dua minggu, eh dia malah pergi keluar kota. Kalau kayak gini terus gimana kalian mau punya momongan?" "Mama jangan khawatir, kami akan berikhtiar sebaik mungkin," ucapku seraya menautkan jari jemariku. Pernikahan kami bukan atas dasar cinta di mana memadu kasih menjadi sebuah penantian yang indah. Aku dan Mas Athar sebelumnya tak saling mengenal dan usia kami terpaut 15 tahun, ada begitu banyak alasan mengapa kami tak bisa menjadi seperti pengantin pada umumnya. Walaupun begitu, bagiku kemajuan yang luar biasa karena Mas Athar sudah dua kali menyentuhku. "Hanya saja ini pasti tidak mudah bagi kami apalagi Mas Athar sangat mencintai Mbak Rania, kami berdua sama-sama takut menyakiti_" "Rania merestui hubungan kalian bahkan dia menyukaimu." Ibu mertuaku menyela sambil menepuk pundakku. "Sudah, biar nanti Mama bicara sama Athar supaya dia bisa berbuat adil pada kalian." Aku sudah membuka mulut untuk bicara tapi ibu mertuaku segera melenggang pergi begitu saja, meninggalkanku yang hanya bisa menatap botol parfum yang harganya pasti sangat mahal. "Nanti pasti aku dituduh mengadu lagi," desahku cemas. Aku menyemprotkan parfum tersebut ke pergelangan tangan lalu menghirup aromanya, memang sangat berbeda yang biasa aku beli, jelas saja karena harganya juga bagai langit dan bumi. Aku memang tinggal di rumah mertuaku sementara Mas Athar hanya datang berkunjung ke sini, ia tetap tinggal di rumahnya sendiri, rumah yang ditempati bersama istri pertamanya. Padahal seharusnya dia membagi waktu dengan adil seperti yang seharusnya tapi cintanya pada Mbak Rania membuat pria itu tak bisa berbuat adil padaku. Lagi-lagi aku harus pasrah menjadi istri yang takkan pernah dihargai. Hari berlalu seperti biasa, aku tak melakukan apa pun di rumah besar bak istana ini karena sudah ada beberapa pelayan dengan tugas masing-masing. Aku sungguh bosan apalagi ketika di panti aku selalu sibuk mengurus ini dan itu. "Eh, Nyonya Zizy ngapain?" Aku yang baru saja mengambil kemoceng terperanjat mendengar teriakan Ita. "Jangan pegang-pegang ini, Nyonya. Kotor," ujarnya sambil menyambar benda tersebut dari tanganku. "Panggil Zizy aja, Ta," pintaku karena Ita memang masih sangat muda. "Kita seumuran kayaknya." "Masa panggil Nyonya rumah dengan nama? Tidak boleh, Nyonya. Nanti Nyonya besar marah," tukasnya yang membuatku hanya bisa terkekeh. "Memangnya di rumah memang sering tidak ada orang begini ya, Ta?" tanyaku seraya mengekori Ita yang mengelap meja. "Tidak ada orang bagaimana? Ada Bi Jum di dapur, ada Bi Asri di halaman belakang, ada Pak Yanto di kebun, terus Pak_" "Maksudku orang tua Mas Athar, Ta," selaku sebelum Ita mengabsen semua yang bekerja di rumah ini. "Oh, Tuan dan Nyonya 'kan bekerja setiap hari. Kadang akhir minggu pun mereka tetap bekerja, Nya." Aku mengangguk mengerti, mertuaku memang pengusaha ternama dan memiliki berbagai macam bisnis, dari perhotelan, resturan, cafe, galeri seni dan pusat berbelanjaan. Tak heran jika mereka selalu sibuk. "Kalau Mas Athar dan Mbak Rania apa jarang ke sini, Ta?" Aku kembali bertanya setengah berbisik. Jika dipikir-pikir, masuk akal juga kenapa mertuaku begitu kekeh ingin cucu. Mereka memiliki harta kekayaan yang takkan habis tujuh turunan tapi ahli warisnya tak ada selain Mas Athar. "Kalau tidak sibuk ya sering, Nyonya Rania sangat dekat dengan Nyonya besar jadi_" Tiba-tiba Ita langsung terdiam, air mukanya bahkan langsung berubah. "Tidak apa-apa, Ta," kekehku, mengerti kenapa dia tak mau melanjutkan ceritanya. "Beliau memang menantu utama di rumah ini, aku hanya yang kedua." ***** Setelah makan malam, aku menghabiskan waktu di kamar sembari membaca buku tapi tak bisa berkonsentrasi karena teringat dengan ucapan Ita tadi siang. Sambil menghela napas berat, aku melempar buku ke atas meja lalu masuk ke dalam selimut. Kupejamkan mata, berharap bisa tidur tapi bayangan wajah Mas Athar justru memenuhi benakku. Sekali lagi aku mengembuskan napas kasar sambil menyibak selimut. "Ahhh!" Aku memekik ketika sosok yang kupikirkan berdiri menjulang di hadapanku. Ya Allah, aku pasti berhalusinasi. Kembali kupejamkan mata dan menghitung sampai tiga sebelum membuka mata, berharap bayangan Mas Athar menghilang. Namun, pria bertubuh jangkung itu kini menatapku dengan tajam. "Begini caramu menyambut suamimu, eh?" Senyum miring yang tersemat di bibirnya membuat bulu kudukku berdiri. Oh, ternyata manusianya memang ada di sini, aku tak berhalusinasi. "Maaf, Mas," cicitku. "Aku pikir tadi cuma halusinasi." "Sudah mulai gila?" Aku terbelalak mendengar pertanyaannya yang tak terduga. "Aku akan menceraikanmu kalau memang mulai gila, tak sudi aku punya istri gila." Hatiku perih bagai tertusuk ribuan duri, tetapi kucoba tahan seperti biasa. "Mas Athar mau apa?" tanyaku cemas saat melihat dia melepaskan kemejanya. "Menurutmu?" Belum sempat melayangkan protes, Mas Athar mematikan lampu lalu menyentuhku. Lagi-lagi tak ada pemanasan, tak permisi, apalagi buaian dengan kata-kata manis atau sentuhan ringan untuk merayu tubuhku agar siap menerimanya. Dia selalu langsung pada intinya, tanpa peduli apakah aku siap atau tidak. Tanpa peduli apakah aku kesakitan atau tidak. Tak ada yang bisa kulakukan selain pasrah di bawah kuasanya meski dengan derai air mata yang begitu deras. Mas Athar bahkan tak iba padaku yang terisak. Oh Tuhan, apakah suamiku ini punya hati? ???
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD