Dia Calon Istriku!

1885 Words
. . Cintailah seseorang yang ruhnya tersambung kepada Allah. . . *** Sebulan telah berlalu semenjak pengajian dimulai. Rodja mulai terbiasa dengan pertemuan mereka bertiga, dan sudah tidak canggung mengobrol dengan Annisa dan Ustaz Yahya. Belakangan, Rodja terpikir Laura. Dia merasa bersalah sejak meninggalkan gadis itu pasca Laura kedekatan terakhir mereka di dekat taman sekolah. Sejak kejadian itu, setiap bertatap muka, mereka hanya saling tersenyum kaku. Rodja ingin menghampiri Laura tapi dia tidak berani, khawatir tidak bisa mengendalikan dirinya jika situasi seperti di taman terjadi lagi. Ustaz Yahya melihat Rodja dan Annisa bergantian. “Gimana kalau kita coba pengajian di luar? Biar refreshing,” usul beliau tiba-tiba. “Saya gak keberatan, Pak Ustaz. Kamu gimana, Nis?” tanya Rodja menyebut nama Annisa dengan panggilan singkat, membuat Ustaz Yahya diam-diam tersenyum melihatnya. Ada kemajuan agaknya, dengan usaha perkenalan Rodja dan Annisa selama sebulan ini. Annisa mengangguk. “Iya. Aku juga mau,” jawab Annisa antusias. Ustaz Yahya berdiri dari sofa. “Oke. Yuk berangkat,” ajak beliau. “Kita mau ke mana, Pak Ustaz?” tanya Rodja penasaran. “Ke taman yang di perempatan sana. Pakai mobil saya aja, yuk,” jawab Ustaz Yahya, seraya menoleh ke luar jendela kaca. Petang belum larut, dan langit masih cerah. “Maaf, Pak Ustaz!” panggil Annisa membuat Ustaz Yahya dan Rodja menoleh. “Aku boleh siapin teh hangat dulu? Kamu punya botol vakum untuk air panas?” tanya Annisa pada Rodja. “Kita bisa beli minum atau jajanan di luar. Kamu gak perlu repot-repot, Nis,” ujar Rodja. “Sayang 'kan uangnya. Kalau bawa dari rumah, lebih hemat. Sebentar, kok. Kusiapin minum dan kue dulu, ya,” kilah Annisa ngotot. Gadis itu berlari ke dapur. Setelah sebulan, Annisa sudah terbiasa dengan rumah Rodja. Dan dia juga jadi dekat dengan Bibi. Rodja menggeleng-gelengkan kepala. Perempuan memang ribet, batinnya. Ustaz Yahya mendadak berbisik pelan di belakang Rodja, “Wah. Annisa luar biasa sekali bukan, Rodja? Dia memikirkan penghematan. Dia bisa jadi istri yang baik sepertinya.” Rodja tidak berkomentar, tapi Ustaz Yahya tersenyum geli melihat Rodja salah tingkah. Annisa muncul dari dapur membawa tas berisi tiga botol vakum teh hangat dan dua toples kue. Rodja mengulurkan tangannya. “Sini biar kubawa,” kata Rodja. Annisa memberikan tas itu. Ustaz Yahya senang melihat mereka berdua nampak mulai akrab. Mereka bertiga kelihatan seperti keluarga yang akan berangkat piknik.   ***   Taman itu memiliki jalur setapak yang berkelok-kelok. Ada banyak pohon besar. Di sekeliling taman dibatasi dengan pohon semak. Beberapa bangku kayu panjang tersebar di beberapa titik, di tepi jalan setapak. Matahari senja menerangi hangat. Ada beberapa orang berjalan-jalan dengan keluarga dan pasangannya. Ustaz Yahya sedang menjelaskan tentang hubungan antara laki-laki dan perempuan dalam Islam. “Setiap manusia pasti memiliki nafsu syahwat. Dan normalnya memiliki kecenderungan untuk menyukai lawan jenis. Hal ini adalah wajar. Bukan aib,” kata beliau. “Jika kita mencintai seseorang, Allah lah yang telah memberi rasa cinta itu ke dalam hati kita. Hanya saja kita harus bisa membedakan, antara cinta yang didasari fitrah/kemuliaan, dan cinta yang didasari syahwat/hawa nafsu. Sebagai contoh, jika ada seorang laki-laki yang menyukai seorang perempuan, atas alasan apa dia menyukai perempuan tersebut? Jika dia tidak bisa menyebutkan alasannya, ada kecenderungan itu karena dia hanya menyukai fisiknya saja. Perasaan semacam ini bukanlah termasuk cinta yang fitrah/mulia. Namun jika misalnya laki-laki itu menjelaskan, dia menyukai perempuan itu karena, perempuan itu baik, suka membantu orang tuanya, rajin beribadah, maka itu berarti cinta yang dirasakannya adalah fitrah. Cintailah seseorang yang ruhnya tersambung kepada Allah.” Ustaz Yahya menepuk kaki Rodja, mengejutkan remaja itu yang tengah melamun memikirkan kajian ustaz. “Kalian mengobrol lah di sini. Aku duduk di sebelah sana,” kata beliau menunjuk sebuah bangku di seberang. “Pak Ustaz, ini botol minuman dan kuenya,” kata Annisa memberikan tas kertas berwarna coklat. “Terima kasih, Annisa,” ucap Ustaz Yahya menerima tas itu dan berjalan ke bangku seberang. Rodja dan Annisa masih sama-sama diam. Rodja masih merenungkan kajian Ustaz Yahya. Pohon besar yang menaungi mereka, menjatuhkan bayang-bayang dedaunan yang tak henti bergerak pelan. “Nisa,” panggil Rodja tiba-tiba. “Ya?” sahut Annisa menoleh. “Apa kamu ngerti yang dimaksud Ustaz dengan 'cintailah seseorang yang ruhnya tersambung kepada Allah?'” tanya Rodja. Annisa diam sesaat. “Aku rasa iya. Seseorang yang ruhnya tersambung kepada Allah, mungkin maksud Ustaz adalah orang yang bisa membuat kita ingat kepada Allah.” Rodja menatap Annisa. Kalau begitu ... mungkin kamu yang lebih bisa membuatku ingat ... batin Rodja yang hatinya terasa bergemuruh, untuk pertama kalinya memandang Annisa dengan cara yang berbeda. Annisa malu terus ditatap. Dia menundukkan wajahnya. “Kamu mau minum? Sebentar, aku tuangkan,” ucap Annisa mengeluarkan botol minuman, dan menuangkan isinya ke tutup botol. Rodja tersenyum melihat Annisa menuangkan minuman untuknya. Dia sadar, untuk pertama kalinya, dirinya menatap Annisa dengan kasih sayang.   ***     Seperti biasa, siang itu kantin terlihat padat di jam istirahat. Rodja sedang makan bersama Riko. Riko mengamati ekspresi wajah Rodja. “Apa ada sesuatu yang menyenangkan?” “Hah?” sahut Rodja heran. “Aku perhatikan, wajahmu berseri-seri,” komentar Riko sambil makan. “Oh ya? Aku ngerasa biasa saja,” jawab Rodja enteng. Mereka meneruskan makan. Tak lama, Riko mengangetkan Rodja dengan suara kencangnya, “NAH! Aku ingat!” “Ko, kamu hampir membuatku tersedak,” kata Rodja memegang dadanya. “FOTO! Kamu bawa foto Annisa?” tagih Riko bagai penagih utang. Rodja menggelengkan kepala. Dia merogoh dompetnya, dan mengeluarkan selembar foto. “Nih!” tunjuk Rodja menyerahkan foto. Riko menatap foto Annisa agak lama. Rodja merebut foto itu. “Gak boleh lama-lama liatnya,” kilah Rodja. “JA! Cantik bangeettt! Imut, manis, persis seperti yang kamu bilang!” seru Riko antusias. “Ja, kamu berencana balik sama Laura lagi 'kan setelah 3 bulan? Apa aku boleh kenalan sama dia setelah 3 bulan? Boleh ya Ja? Ya?” pinta Riko dengan binar semangat di matanya. “HEI! ANNISA ITU CALON ISTRIKU!” jerit Rodja yang entah mengapa jengkel mendengar permintaan Riko. Hening. Rodja syok dengan apa yang diteriakkannya barusan, hingga dia menjatuhkan sendok ke lantai. Rodja menutup mulutnya sendiri. Riko mulai tersadar. Terbit senyum di bibirnya. “Oh ... maafin aku, Ja. Aku janji gak akan ngomong kayak gitu lagi tentang CALON ISTRIMU,” ucapnya dengan penekanan pada kata 'CALON ISTRIMU'. Muka Rodja memerah malu. Dia mengambil sendok baru dan meneruskan makan. “Ja, nanti di rumah, tolong sampaikan salamku untuk CALON ISTRIMU ya,” goda Riko lagi. “RIKO, DIAMLAH!” teriak Rodja yang mukanya sekarang makin panas. Riko tertawa puas.   ***   Rodja baru saja beranjak dari ruang Lab menuju kelas, ketika kemudian dia melihat Ray sedang berdiri termenung di koridor. Tepukan di punggungnya membuat Ray menoleh. Dia kelihatan salah tingkah ketika menyadari Rodja yang menepuknya. “Hei Ja,” sapa Ray. “Gimana kabarmu, Ray?” tanya Rodja. “Aku ... baik, kurasa. Udah lama gak liat kamu,” kata Ray. “Masa'? Aku gak ke mana-mana, kok. Oh ya Ray. Ada yang mau kusampaikan. Aku mau minta maaf,” ucap Rodja dengan ekspresi penyesalan. “Ha? Minta maaf? Kenapa, ya?” tanya Ray. Seingatnya, Rodja tidak buat salah apa-apa padanya. “Kamu pernah cerita soal Ayahmu, waktu kamu mabuk berat. Masih ingat? Waktu itu aku dan Laura mengantarmu pulang,” tanya Rodja. Mendengar nama Laura disebut, Ray terlihat kikuk. “Saat kamu cerita tentang Ayah dan Ibumu, sebenarnya aku tahu apa yang kamu maksud. Dan aku mengerti kesunyian apa yang kamu bicarakan,” ucap Rodja dengan sorot mata mengenang. Ray menatap Rodja yang nampak serius dengan perbincangan ini. Seperti yang diduga Ray, Rodja mungkin memang adalah teman yang paling bisa memahami perasaan dan rasa kesepiannya. “Aku cuma mau bilang, aku merasakan kesunyian itu juga, di rumahku. Waktu itu aku ingin menghiburmu, tapi pada akhirnya tak ada satupun kata yang bisa kukeluarkan. Aku minta maaf,” ucap Rodja menepuk pundak Ray. “Kalau ada yang mau kamu bicarakan, kamu bisa bicara padaku, oke? Aku ke kelas dulu,” kata Rodja pamit dan pergi meninggalkan Ray. Ray menutup matanya. Merasa bersalah.   ***   Pengajian hari ini kembali diadakan di taman. Kali ini Rodja ikut membantu Annisa menyiapkan minuman di dapur sebelum mereka berangkat. Rodja dan Annisa nampak bahagia, dan Ustaz Yahya merasa terharu melihatnya. Beliau berharap semoga mereka berjodoh dan pada akhirnya menikah. Sekitar lima belas menit kemudian, mereka tiba di taman dan duduk di bangku tempat mereka biasa duduk. Setelah do'a, Al Fatihah dan selawat, Ustaz Yahya memulai materi kajian hari ini tentang sahabat sejati. “Sahabat sejati adalah orang yang menasehati saat kita berbuat salah. Orang yang membuat kita semakin dekat kepada Allah dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wassalam. Orang yang tidak membiarkan kita terjerumus, tidak mendendam saat kita mengingatkan dia,” jelas beliau. “Dalam sebuah Hadits riwayat Abu Daud & Tirmidzi : Agama seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya. Jika dalam persahabatan tidak ada saling memberi dan menerima masukan, maka itu bukan jalinan yang dirajut karena Allah. Rasa cinta pada sahabat, dan tidak rela jika sahabatnya terjerumus. Hadits dari Abu Hamzah Anas bin Malik, diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari : Tidaklah sempurna iman seseorang jika dia tidak mencintai saudaranya seperti dia mencintai dirinya sendiri. Adanya perasaan tidak rela jika sahabat berbuat maksiat dan nantinya mendapat hukuman dari Allah. Adanya penghargaan terhadap sahabat yang menegur kita, dengan menghindari sifat sombong dan mudah tersinggung. Hati yang tulus dan tawadhu bisa melihat kebenaran, dari mana pun datangnya dan bagaimanapun caranya. Imam An Nawawi telah mengingatkan bahaya pergaulan yang dapat menimbulkan malapetaka untuk urusan akhirat. Bahkan Imam An Nawawi yang hidup di abad ke-7, telah mengingatkan tentang hal ini. Di antara bahaya pergaulan adalah mudahnya kita terpeleset dalam menggunjing atau membicarakan keburukan orang lain. Imam Al-Ghazali yang hidup di abad ke-4 juga telah mengingatkan perlunya kewaspadaan dalam mengurusi urusan dengan manusia. Mengenai pentingnya uzlah, yaitu menyendiri, menjauh dari hiruk pikuk pergaulan yang bisa membawa pada maksiat, memasuki lingkungan yang aman. Namun bergaul dengan manusia juga memiliki keutamaan. Misalnya berkumpul di tempat-tempat kebaikan seperti majelis zikir, pengajian dan lainnya. Laki-laki dan perempuan yang bukan mahram boleh bertemu, dengan beberapa syarat. Aurat mereka haruslah tertutup. Bertemu dengan orang yang menjaga matanya, karena di balik mata ada khayal. Bertemu di tempat terhormat, bukan di tempat orang fasik berkumpul. Dan mereka tidak boleh berdempetan.” Ustaz Yahya melihat Rodja dan Annisa yang mendengarkan dengan serius. “Sekian materi hari ini. Apa ada pertanyaan?” “Rodja?” panggil Ustaz. “Gak ada, Pak Ustaz,” jawab Rodja. Ustaz Yahya berdiri. “Baiklah. Aku duduk di seberang, ya,” kata beliau. Annisa memberikan tas pada ustaz, berisi minuman dan kue. “Kamu mau minum, Rodja?” kata Annisa menawarkan. Rodja mengangguk. “Iya. Tuangin, dong,” ucap Rodja manja. Annisa tersenyum heran mendengarnya. Baru kali ini Rodja bermanja-manja seperti ini padanya. Annisa menuangkan teh hangat ke tutup botol. “Aku suka melihatmu menuang air minum untukku,” kata Rodja tersenyum. Annisa tersipu. “Kalau kamu mau, aku bisa menuangkannya sesering yang kamu mau,” kata Annisa. Keduanya saling tatap malu-malu. Jawaban Annisa itu berarti, jika Rodja menghalalkan Annisa, Annisa bisa menuangkan air minum untuknya seterusnya setelah mereka menikah. Rodja merasa aneh. Seperti ada rasa rindu setiap menatap mata Annisa. Matanya yang cantik. Rodja sadar, dirinya sudah jatuh cinta. Rasa itu bercampur dengan rasa bersalah. Apa dia sedang berselingkuh dari Laura?   ***  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD