Salah Paham

2057 Words
. . Jika hati tersambung, saat hati seorang sakit, hati lainnya turut merasa sakit. . . *** “Hai!” sapa Rodja tiba-tiba berdiri tepat di samping meja kantin Ray cs duduk. Mereka semua bengong melihat Rodja menyapa ramah. Ray, Toni, Andre, dan ada Laura juga yang duduk di seberang Ray. “Eh, Ja! Apa kabar? Lama gak nongol!” Toni merespon. Rodja cengengesan. “Gak ke mana-mana. Kalian ada rencana mau nongkrong di klub mana gitu?” tanya Rodja tanpa basa-basi. Ray dan Laura menunduk, salah tingkah. Seandainya Ray tidak berselingkuh dengan Laura di belakang Rodja, Ray pasti akan menyambut kedatangan Rodja dengan suka cita. Ini adalah hal yang langka. Seorang Rodja menawarkan diri untuk ikut nongkrong bareng mereka. Andre yang menjawab, “Ada, Ja! Kalo gak salah besok malam ada band tamu yang bakal manggung di HR. Ada DJ Corry juga. Jam 11 kayaknya. Ya 'kan, Ray?” tanya Andre pada Ray yang sedari tadi diam saja. “Ray?” panggil Andre sekali lagi. Ray tersadar dari lamunannya. “Eh ... iya bener,” kata Ray gugup. Rodja menepuk pundak Ray. “Aku boleh ikutan bareng kalian besok malam?” tanya Rodja seolah meminta acc dari Ray, sang ketua geng. Ray agak canggung saat menjawab, “iya boleh dong, Ja. Masa gak boleh?” “Oke. See you guys. Besok malam, ya. Bye,” ucap Rodja melambaikan tangan, termasuk ke Laura. Mereka semua membalas lambaian tangannya. Toni dan Andre bertatapan dan komentar berbarengan, “kok?? Tumben!!” Andre terlihat sumringah “Wah! Asik nih. Kalau ada Rodja, biasanya ada aja yang cantik-cantik pada nempel sama kita. Ha ha!” ceplos Andre tanpa berpikir. Toni menginjak kaki Andre, membuat temannya itu mengaduh kesakitan. Andre yang baru saja diinjak kakinya, baru tersadar kalau Laura terlihat kesal dengan kalimatnya barusan. Karena Laura dan Rodja lama tak terlihat bersama, dia lupa kalau status mereka masih pacaran. *** “Uwaw! Luar biasa, Rodja. Aku heran, gimana kamu bisa tenang banget di depan dua orang itu?” tanya Riko menatap Rodja yang baru datang dari meja gengnya Ray. “Yah gimana. Aku harus nahan diri, lah. Gak mungkin aku hajar Ray di kantin, 'kan?” tanya Rodja mengendikkan bahu dan duduk kembali di seberang Riko. “Oh, jadi kamu terpikir menghajar dia di tempat lain?” sahut Riko nyengir. Rodja tersenyum kecut. "Sebenernya, aku jengkel sampai ke ubun-ubun. Walau gimana, tetap ada bagian dari diriku yang menganggap Ray adalah teman,” kata Rodja sebelum menyeruput minumannya dengan sedotan. Riko menggeleng heran. “Kamu tahu, Ja? Itu salah satu kelebihanmu. Kamu punya kecenderungan mudah memaafkan orang lain. Kalau aku jadi kamu, aku ogah ngobrol sama mereka. Ngeliat aja malas,” ujar Riko memicingkan mata. “Jadi begitu analisamu, Bapak psikolog Riko?” canda Rodja. “Ya. Dan itu bagus. Dengan sifatmu itu, kecewamu insyaallah bisa sembuh lebih cepat. Jangan khawatir,” jawab Riko serius. “Jadi, sore ini kamu mau ngomong sama Annisa?” tanya Riko sambil mengunyah makan siangnya. “Ya. Kurasa dia perlu tahu yang akan kulakukan,” kata Rodja dengan kesungguhan. Dia merasa tegang sebenarnya. Akan seperti apa reaksi Annisa setelah mendengar yang akan disampaikannya sore ini? Selama ini mereka berinteraksi tanpa tahu masa lalu dan kehidupan lain Rodja di sekolah. Kehidupan di mana secara status, dirinya masih terhubung dengan Laura. *** Mereka bertiga sudah berada di taman. Sejak merasakan pengajian di taman, Ustaz Yahya, Annisa dan Rodja jadi lebih sering mengadakan pengajian di taman ketimbang di rumah Rodja. “Hari ini kita akan membahas mengenai silsilah pembersih hati. Bab cinta dunia. Mengenai bagaimana cara menuju Allah dengan membersihkan hati. Ketika seseorang begitu menjaga jasad atau tubuhnya, jika dia sakit kepala, dia minum tablet obat sakit kepala. Jika gatal, dia segera mencari salep untuk gatal. Orang itu adalah orang yang cerdas, karena dia berusaha agar jasadnya tidak dihinggapi penyakit. Menjaga hati dari penyakit, adalah lebih penting dari menjaga jasad. Jika kita membiarkan hati kita digerogoti penyakit, maka kita adalah sebodoh-bodohnya manusia. Jika ada orang yang sakit jasad, tapi dia tidak mau bertanya kepada orang yang ahli, misalnya dokter, berarti dia adalah orang yang bodoh. Sama halnya dengan orang yang punya penyakit hati. Jika ada orang yang bilang 'saya tidak tahu kalau itu adalah penyakit hati', artinya orang itu bodoh, karena dia tidak bertanya dan belajar pada orang yang mengerti. Untuk bisa menyembuhkan penyakit hati, kita perlu tahu asal muasal munculnya penyakit hati seperti dengki, dendam, riya atau pamer, dan sombong. Jika diibaratkan, misalnya di suatu aliran sungai, di mata airnya ada bangkai, sehingga air yang melewati parit di depan rumah kita berbau busuk. Orang yang cerdas tidak hanya membersihkan parit di depan rumahnya, tapi juga membersihkan sumber mata airnya. Disebutkan oleh Nabi Isa bin Maryam (Yesus 'alaihi salam), mencintai dunia adalah kepala dari segala kesalahan. Kita perlu cermat dalam mendefinisikan arti dari mencintai dunia. Mencintai dunia berbeda dengan mencari dunia. Mencintai dunia memiliki definisi, adanya keterikatan hati dengan dunia, sehingga menjadikan semua anggota tubuhnya berkhidmah terhadap apa yang membuat hatinya terikat dengan dunia. Tubuhnya akan menjadi b***k untuk mengejar angan-angan yang diinginkan hatinya. Allah berfirman dalam surat Al-Isra' 18-19 : Barang siapa yang menginginkan dunia, akan kami berikan untuknya bagi orang-orang yang Kami kehendaki. Kemudian Kuberikan padanya Jahannam. Barang siapa menginginkan akhirat, dialah orang beriman. Itulah orang yang akan mendapat balasan dari Allah. Perhatikan, pada ayat ini kata yang digunakan adalah 'menginginkan dunia', bukan 'mencari dunia'. Dan definisi dari 'menginginkan akhirat', adalah jika seseorang berusaha mencari dunia, bekerja di dunia, tapi demi tujuan akhirat. Kebutuhan dasar dari manusia pada hakikatnya ada tiga : makanan, baju untuk menutup aurat, dan tempat tinggal untuk melindungi kita dari panas matahari dan guyuran hujan. Transportasi sifatnya tambahan. Seseorang punya mobil untuk berangkat bekerja, dan bekerja untuk mencari makan. Yang pokok sebenarnya hanya tiga hal tadi. Tapi kemudian kebutuhan dasar ini berkembang. Makanan bukan hanya sekedar ada, tapi juga harus enak. Pakaian bukan hanya untuk menutup aurat, tapi menjadi simbol kebanggaan. Rumah bukan hanya sekedar menaungi dari panas dan hujan, tapi dari satu rumah, bertambah menjadi dua, tiga dan seterusnya. Jika ada orang yang memilih baju bermerek terkenal, dengan tujuan untuk membanggakan dirinya di hadapan manusia, maka ini adalah tanda keterikatan hatinya kepada dunia. Hakikat hati yang tidak terikat pada dunia, bukan dengan memakai baju compang camping. Akan tetapi ketika bagi orang tersebut tidak ada bedanya saat memakai baju bermerek terkenal dan baju yang biasa saja. Karena kalau sudah mati, merek baju kita sama semua : KA-FAN”. Rodja dan Annisa tersenyum, tidak menyangka kalau Ustaz Yahya ternyata bisa bercanda. “Sama halnya jika seseorang menilai orang lain berdasarkan apa yang dimilikinya. Misalnya merek mobilnya, pangkatnya dan sebagainya. Itu adalah tanda keterikatan hatinya pada dunia. Disebutkan dalam kitab Al-Hikam oleh Ibnu Atha 'illah al-Iskandari : Sesungguhnya Allah SWT memberikan kepadamu al-Warid (sesuatu yang sifatnya maknawi tentang kemuliaan hati atau ilham kebaikan). Itu berarti Allah memilihmu agar kamu bisa sampai kepada-Nya. Kerinduan pada kebaikan, adalah untuk menarikmu dari kecintaan dunia. Untuk membebaskanmu dari p********n hawa nafsu." Rodja dan Annisa masih diam khusyuk mendengarkan. “Sudah selesai materinya. Apa ada pertanyaan?” Mereka menggeleng. “Baiklah. Sekarang waktu kalian. Aku duduk di sana seperti biasa,” kata Ustaz Yahya menunjuk ke arah bangku seberang. Annisa memberikan tas berisi minuman dan kue pada Ustaz Yahya, sebelum beliau meninggalkan sepasang remaja yang tengah berusaha dijodohkan. Annisa melepas tutup botol minuman dan menuangkan air untuk Rodja. Rodja menggigit bibir. Dia sudah tegang seharian ini, berpikir akan menjelaskan hal penting pada Annisa. “Nisa,” panggil Rodja memulai percakapan mereka. Annisa berhenti menuangkan air dan menaruh botol minuman di bangku. “Ya?” sahutnya. “Ada hal penting yang mau kubicarakan,” ucap Rodja dengan ekspresi wajah tegang. “Ya? Ada apa?” tanya Annisa. Ini pertama kalinya Rodja begini. Minta izin bicara hal serius. Dugaan Annisa, ini mungkin ada kaitannya dengan usaha perjodohan mereka. “Jujur, sebenarnya sebelum kita mulai pengajian ini, aku … sudah punya ... pacar,” ucap Rodja yang merasa lega akhirnya menyampaikan kenyataan itu, yang Annisa tak pernah tahu. Mereka tiba-tiba terlibat hubungan usaha perjodohan, tanpa pernah membahas status Rodja sebelumnya. Sementara Annisa dengan jujur mengungkapkan sejarah hubungannya dengan beberapa calon suaminya sebelumnya, yang kesemuanya tandas di tengah jalan. Dan saat mengikuti pengajian bersama Rodja, dia murni jomlo. Sementara Rodja sebenarnya belum resmi putus dari Laura. Rodja merasa itu tidak adil bagi Annisa. Alis Annisa berkerut, berusaha menebak arah pembicaraan. Dari muka masamnya, jelas dia tidak menyukai pengakuan Rodja barusan. “Namanya Laura. Aku membuat semacam perjanjian dengan dia, terkait dengan pengajian kita, dan Laura setuju untuk menunggu tiga bulan setelah kita selesai pengajian,” lanjut Rodja, membuat kernyit di wajah Annisa makin jelas. “Tapi mungkin karena belakangan Laura merasa kuabaikan, dia selingkuh dengan temanku sendiri," kata Rodja, berusaha tidak menampakkan sisa emosinya di depan Annisa. “Dia selingkuh??” tanya Annisa kesal dengan wajah memerah. “Sebentar. Apa kejadian itu terjadi persis sebelum kamu sakit demam?” tanya Annisa lagi. “I-Iya,” jawab Rodja, agak terkejut dengan nada tinggi dari suara Annisa. Ini pertama kali Rodja mendengarnya. Biasanya, Annisa selalu bersuara lembut padanya. Annisa mendadak berdiri dari bangku dan pergi terburu-buru. Rodja mengejarnya. Ustaz Yahya memerhatikan mereka berdua, dan langsung menyadari ada yang tidak beres. Rodja menahan Annisa dengan memegang tali tas gadis itu. “Nisa, tunggu! Kamu mau ke mana? Aku belum selesai bicara!” pinta Rodja. Tarikan Rodja membuat Annisa menoleh menghadap Rodja. Rodja terperanjat saat menyadari bahwa Annisa sedang berlinangan air mata. “Dengar, Rodja. Kalau kamu gak mau nikah sama aku, aku gak apa-apa. Tapi carilah perempuan yang lebih baik dari dia! Bagaimanapun, aku gak terima! Dia dan temanmu itu sudah nyakitin kamu! Aku gak bisa terima!” bentak Annisa dengan mata basah. Rodja tercenung, menyadari yang dikatakan Annisa barusan, mirip dengan yang dikatakan Riko. Benar yang dikatakan Ustaz Yahya. Jika hati tersambung, saat hati seorang sakit, hati lainnya turut merasa sakit. Annisa berbalik dan pergi menjauh. Rodja masih berusaha mengejarnya. “Tunggu, Nisa! Kamu salah paham! Uh--setidaknya, izinkan aku antar kamu pulang! Eh-- bareng Pak Ustaz juga maksudnya. Nis --” ucap Rodja memohon. “Aku bisa pulang sendiri!” jerit Annisa sebelum gadis itu berlari menuju jalan raya. Rodja berdiri terdiam seraya menepuk keningnya. Gawat! pikirnya. Pengakuannya malah membuat Annisa salah tangkap. Setelah Annisa pergi, Ustaz Yahya mengantar Rodja pulang ke rumahnya, dan mereka berbincang di mobil. Ustaz Yahya memberikan Rodja nomer ponsel Annisa. Berharap mereka bisa berbaikan melalui telepon. Malam itu juga, Rodja mencoba menelepon Annisa, tapi Annisa tidak mengangkatnya. Dia mengirim chat dan SMS. Keduanya terkirim, tapi tidak dibalas. Rodja menelungkupkan wajah di atas meja kantin. Riko menatapnya dengan iba. “Sabar, Ja. Jangan kayak ayam sayur begitu,” kata Riko berusaha menguatkan sahabatnya. “Gimana ini Rikoo?? Gimana kalau dia gak mau ketemu aku lagi?” keluh Rodja dengan tampang kuyu. “Kamu mending datengin aja langsung ke rumahnya, Ja!” saran Riko berapi-api. Rodja perlahan menegakkan tubuhnya. “Iya, ya. Bener juga,” gumam Rodja. Riko manggut-manggut. Memang kalau orang stress gegara cinta, jadi gak bisa mikir jernih, batin Riko. “Cepat abisin gado-gadomu! Bentar lagi bel,” kata Riko mengingatkan, melihat sisa makanan di piring Rodja masih setengahnya. Rodja melanjutkan makan dengan malas. Tak ada selera makan. Rupanya begini rasanya diambek calon istri, pikirnya. “Ja, kamu malem ini mau ketemuan sama 'mereka,' 'kan?” Riko memberi kode lirikan mata ke arah gerombolan Ray, Laura dan lainnya yang sedang makan. “Iya. Aku sendiri yang buat janji sama mereka. Dalam kondisi hubunganku dan Annisa lagi kayak gini. Oh … aku jadi ... galau,” ucap Rodja lirih. “Rodja, dengar! Kamu harus inget tujuanmu ke sana! Segera tuntaskan urusanmu dengan mereka! Ini adalah pertemuan terakhir dengan mereka, oke?” ujar Riko dengan jari telunjuk terangkat seolah mengancam. Rodja mengangguk. “Kalau sampai kamu malah terpengaruh dengan mereka, dan kamu malah mutusin ninggalin Annisa, … hm ... kamu tahu aku bakal ngapain?” tanya Riko mengangkat alisnya. “Ngapain?” tanya Rodja penasaran. “Aku bakal dateng sama orang tuaku ke rumah Annisa, buat NGELAMAR DIA!!” cetus Riko penuh keyakinan. “SEMBARANGAN! Lagian, kamu fix bakal ditolak! Annisa ngajuin syarat qari untuk yang mau jadi calon suaminya!” ujar Rodja mendengkus kesal. "Biarin. Demi diterima Annisa, aku rela ikut training jadi qari dalam semalam!" timpal Riko ngasal. Rodja misuh-misuh dan disenyumi geli oleh Riko yang senang memanas-manasi temannya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD