.
.
Akhlak seseorang akan mengikuti sahabatnya.
.
.
Layar komputer memperlihatkan logo permainan bola PES, video lalu beralih ke ilustrasi tiga dimensi sebuah stadion bola dengan para penonton yang bersorak.
Rodja dan Riko duduk bersebelahan di depan layar. Setelah Rodja berganti dengan jersey Arsenal, mereka jadi nampak kompak.
“Maaf ya mainnya pakai komputer. PS mahal, Ja. Enggak sanggup beli. He he,” kata Riko cengengesan.
“Ah, sama saja kok,” sahut Rodja tersenyum. Dia punya PS di rumah, tapi sudah tak ingat kapan terakhir main. Lagi pula, main sendirian mana enak?
Layar memperlihatkan pilihan mode permainan. Riko memilih 'match,' lalu mereka memilih nama klub masing-masing. Tentu saja, Riko memilih Chelsea dan Rodja memilih Arsenal. Lima belas menit kemudian, mereka sudah terlarut dalam permainan. Riko berhasil mencetak gol pertama, tapi kemudian Rodja menyusul 1-1. Suara teriakan mereka terdengar hingga ke ruang tengah.
Tiba-tiba ibunya Riko masuk melalui pintu kamar yang memang terbuka. Membawa sebuah nampan dengan kue-kue dan minuman di atasnya. Spontan Rodja berdiri dari duduknya, meletakkan game pad di atas meja. Riko terkejut melihat reaksi Rodja dan refleks memencet tombol Esc untuk menghentikan sementara permainan mereka.
Rodja dengan gesit mengambil nampan yang dibawakan ibunya Riko. “Biar saya saja, Tante,” pinta Rodja sopan.
“Wah terima kasih Dek Rodja,” kata wanita berambut cepol yang usianya nampaknya di kisaran tiga puluhan itu.
Rodja meletakkan nampan di tempat tidur, karena meja Riko penuh dengan buku-buku.
Ibunya Riko melirik ke putra satu-satunya. “Tuh, Ko. Lihat temanmu. Pasti dia rajin bantu-bantu Ibunya di rumah. Kamu ini ... tuan rumah, tapi malah cuek aja,” komentarnya dengan bibir manyun.
Riko menyadari perubahan raut wajah Rodja, saat ibunya berkata 'bantu-bantu ibunya di rumah'.
“Iya maaf, Bu. Saking keasikan main, aku lupa mau buatin minum buat Rodja. He he,” jelas Riko malu-malu.
“Jangan khawatir, Tante. Tidak perlu repot-repot. Kalau air minum, nih saya bawa di tas, kok,” katanya sambil mengeluarkan air minum botolan dari tasnya. Riko nampak syok melihatnya. Entah ada apa lagi di dalam tas Rodja yang besar itu, yang berisi perabotan Rodja untuk menginap di rumahnya hanya semalam, padahal.
Tak lama, ibunya Riko pergi ke dapur.
“Ibumu ramah banget, Ko,” kata Rodja sambil kembali duduk di kursi.
Riko tersenyum kaku. “Maaf. Ibuku tidak tahu kalau Ibumu __ .” Kalimat itu sengaja tak dituntaskannya. Rodja mengernyit heran, dipikirnya Riko belum tahu tentang ibunya.
“Waktu kelas sepuluh, kamu pernah menang Lomba MTQ di sekolah, 'kan? Pas kamu turun panggung, kulihat yang dampingin kamu cuma Papamu. Kata temanku, Mamamu sudah meninggal.”
Ternyata versi yang itu, pikir Rodja tersenyum. “Aku selalu jawab begitu, kalau ada yang tanya soal Mamaku. Kenyataannya, aku sebenarnya tidak tahu apakah Mamaku masih hidup atau tidak.
Jawaban itu membuat Riko heran. “Maksudmu?” tanyanya hati-hati.
“Mamaku meninggalkan rumah pas aku masih bayi. Dia ... pecandu n*****a berat,” Rodja melihat reaksi syok Riko. Wajar. Siapa pun akan terkejut mendengarnya. Itu bukan cerita ideal tentang seorang ibu. Lebih seperti aib. Ini pertama kalinya Rodja cerita pada seseorang, tentang kebenaran akan ibu kandungnya. Sementara teman-temannya yang lain, hanya tahu bahwa ibunya sudah meninggal.
“Ah ... apa Papamu tidak berusaha mencari Mamamu? Emm ... maksudku ... , kamu 'kan masih bayi waktu itu. Siapa yang menyusuimu?” tanya Riko gugup.
“Enggak. Papaku tidak mencarinya. Waktu itu ada Tante yang baru melahirkan, dan Tantekulah yang melanjutkan menyusui aku.” Rodja mengatakannya tanpa emosi, tapi Riko tahu bahwa ini bukan pembicaraan yang nyaman untuknya. Mereka diam beberapa saat.
“Kamu tidak perlu bilang. Aku tidak akan bilang siapa pun,” kata Riko seraya membuat gerakan tangan, membentuk garis lurus di depan bibirnya.
“Ya. Aku cerita, karena aku tahu kamu tidak akan bilang,” kata Rodja tersenyum. Aneh. Mereka baru kenal padahal. Tapi sejak pertemuan pertamanya dengan Riko di masjid, dia merasa Riko adalah teman yang bisa dipercaya.
“Ayo kita lanjut lagi. Tadi skornya masih 1-1,” ucap Riko sambil menepuk pundak Rodja.
Mereka baru akan mulai melanjutkan permainan, tiba-tiba Rodja bertanya, “Apa tidak sebaiknya kita taruh nampan itu di meja?” tanya Rodja sambil menunjuk nampan dengan kue dan minuman di atas tempat tidur. Tidak nyaman rasanya, khawatir kalau-kalau minumannya tumpah dan membasahi kasur.
Riko melirik nampan di atas tempat tidur, lalu beralih melihat meja yang penuh dengan buku-bukunya. Sebenarnya ada rak-rak tergantung di dinding, dan juga ada laci. Tapi semuanya sudah penuh dengan buku dan majalahnya. “Biarin saja nampannya sementara di atas kasur,” jawabnya santai.
Rodja melirik tumpukan buku di atas meja. Penasaran, buku macam apa yang biasa dibaca Riko. Matanya menyusuri judul demi judul buku. Novel psikologi thriller, novel detektif, majalah konsultasi psikiater? Agaknya Riko menyukai tema-tema kejiwaan, pikirnya. Hobi yang tidak begitu umum untuk ukuran anak remaja seusia mereka.
Mereka bermain hingga mulai gelap. Riko saat ini unggul dengan skor 3-2. Babak kedua tinggal sepuluh menit lagi berakhir, tiba-tiba terdengar suara azan Maghrib. Suaranya cukup jelas, karena rumah Riko tak jauh dari masjid. Riko langsung menekan tombol pause.
“Tinggal sepuluh menit lagi. Apa enggak tanggung, Ko?” tawar Rodja dengan cengiran.
“Sudah azan, Ja. Kita sudah dipanggil! Wudu di sini aja, yuk. Salatnya jamaah di Masjid,” tanpa menunggu persetujuan Rodja, Riko berdiri dan mengarahkan Rodja ke tempat wudu.
Tak lama, Rodja mengikuti langkah Riko ke masjid. Matahari sore sudah tenggelam, lampu jalan menyala, bias sinarnya kekuningan. Orang-orang berjalan kaki keluar dari rumah masing-masing, menuju masjid. Sungguh berbeda suasananya dengan lingkungan di real estate di tempat Rodja tinggal. Di lingkungan rumah Rodja, hanya sedikit orang yang berjamaah ke masjid. Para pengemudi di sini berjalan dalam satu jalur, mereka memberi jalan untuk motor dan mobil yang melintas di tengah. Riko berjalan di depannya mengenakan sarung dan sajadah disampirkan ke bahunya.
Melihat orang-orang berbondong-bondong ke masjid memenuhi panggilan azan, ada rasa haru di hati Rodja. Dia merasa berada di jalur yang benar. Memang benar, akhlak seseorang akan mengikuti sahabatnya.
***
Mereka melanjutkan permainan PES yang masih tersisa sepuluh menit di babak kedua.
Riko menatap monitor, memencet game pad sambil mengunyah kue kering yang tadi sempat dilahapnya. Tiba-tiba ia teringat sesuatu. “Ja,” panggilnya.
“Hm?” Rodja terlihat serius menatap monitor. Dia berusaha merebut bola yang saat ini masih dikuasai Club Chelsea.
“Aku boleh tanya gak?” lanjut Riko, masih sambil mengunyah.
“Ya. Tanya aja,” jawab Rodja singkat. Matanya masih lekat ke monitor.
“Aku dengar, kamu nolak Mia. Apa itu benar?”
Alis Rodja berkerut sedikit. Dia melirik sekilas ke Riko. “Mia anak kelas 11-4?”
“Iya. Mia yang itu,” jawab Riko, masih dengan tatapan tak lepas dari monitor. Berusaha konsentrasi menggocek pemain Arsenal.
“Iya benar. Aku pernah nolak dia. Kenapa ya?”
“Kenapa kamu nolak Mia? Mia 'kan manis banget, Ja. Kayak gula-gula kapas.”
Alis Rodja naik, dan dia merapatkan bibirnya. “Karena dia tidak sesuai dengan standarku.”
Mata Riko melotot. Perlahan dia mengalihkan pandangannya dari monitor ke Rodja.
Rodja belum menyadari tatapan kaget Riko. Dia tiba-tiba berhasil merebut bola dari pemain Chelsea, membawanya ke arah gawang, dan “GOL!! YES!! SERI 3-3!! A HA HA!!” Rodja memekik girang.
Tersadar Riko diam saja, Rodja menoleh ke teman mainnya. “HEH! Riko! Kok bengong?”
“Eh ... enggak apa-apa,” sahut Riko linglung.
Rodja tiba-tiba berdiri. “Aku ke toilet dulu ya Ko.” Riko mengangguk.
Segera setelah Rodja keluar kamar, Riko meraih tumpukan buku di atas meja. Dia mengambil sebuah majalah konsultasi kejiwaan, dan membuka halaman di pertengahan. Telunjuknya berhenti bergerak di sebuah kata 'NARSISME.'
Dia membaca kolom konsultasi dengan seksama, lalu sibuk mencari buku catatannya di dalam tas.
Riko duduk bersila di lantai, sibuk menulis cepat di bukunya. Saking seriusnya sampai tak menyadari Rodja baru memasuki kamar. Rodja berhenti berjalan dan penasaran melihat apa yang ditulis Riko sedemikian seriusnya.
Setelah terbaca beberapa baris tulisan di buku Riko, Rodja segera merampas buku itu. “Apa ini?” tanya Rodja dengan alis berkerut.
“AH!! JANGAN! Itu __ ,” Riko berusaha mengambil bukunya kembali, tapi Rodja sengaja meninggikan tangannya. Dari segi tinggi badan, Riko jelas kalah telak dari Rodja.
Akhirnya Rodja membaca tulisan Riko seluruhnya.
Rodja : NARSISME ?
- Merasa dirinya berlevel lebih tinggi dari yang lain
- Memberi perhatian lebih pada penampilannya (apa ada kaitan dgn wajah ganteng?)
- Mempersiapkan segala sesuatu secara berlebihan → apa ini ada kaitan dgn narsisme?
- Berasal dari keluarga kaya → apa ini ada kaitan dgn narsisme?
Rodja berdiri mematung, tak tahu apa yang sebaiknya dipikirkannya.
Mana yang benar, apakah :
A. Riko tergila-gila pada ilmu kejiwaan, atau
B. Riko sudah Sakit Jiwa.
Riko menatap Rodja dengan muka pucat. “Ah ... ini __ .” Rodja menurunkan buku itu, dan menatap Riko dengan tatapan aneh.
“MAAF, JA! Sebenarnya ini adalah kebiasaan burukku. Makanya, beberapa temanku tak ada yang mau berteman denganku lagi, karena mereka merasa dijadikan obyek penelitian. MAAF ya Ja. Ini tuh kayak udah otomatis,” ucap Riko memohon dengan kepala tertunduk.
Rodja mengembalikan buku itu ke tangan Riko. “Ko ... tadi kamu gak konsen, 'kan? Makanya kamu kalah. Ayo kita ulang pertandingannya,” kata Rodja tersenyum.
Riko kelihatan bingung. “Kamu enggak marah, Ja?”
“Enggaklah. Semua orang punya kebiasaan buruk,” jawab Rodja santai.
Spontan Riko memeluk Rodja. “Makasih, Ja. Kupikir kamu enggak bakal mau jadi temanku lagi.”
Rodja kaget, tak menyangka Riko akan memeluknya. Dia memicingkan matanya “Ko ... kamu bukan gay, 'kan?”
Riko melepas rangkulan spontannya dan menjawab, “Aku malah sempat curiga, kamu yang gay.”
“Hei ... apa itu maksudnya?” tanya Rodja nampak tak terima dengan dugaan tak berdasar itu.
Riko menarik kursi dan kembali duduk. “Tenang saja. Aku lelaki tulen!” dia mengacungkan jempol ke arah Rodja. “Buktinya, aku pernah 'nembak' Mia.”
“Ooh ... ,” gumam Rodja. Dia paham sekarang, kenapa tadi Riko tanya macam-macam tentang Mia.
Rodja bertanya hati-hati, “Terus ... gimana hasilnya?” Muncul dugaan selintas, jangan-jangan Riko pernah jadian dengan Mia.
“Aku ditolak,” jawab Riko tegas, sama sekali tak menampakkan kesedihan saat mengatakannya. Mungkin Riko tipe yang pandai menyembunyikan perasaannya, tebak Rodja.
“Maaf ... harusnya aku gak tanya,” kata Rodja menyesal.
“Santai aja,” jawab Riko sambil mengibaskan tangannya. “Waktu itu sebenarnya aku cuma mau tahu sensasinya 'nembak' perempuan. Aku bahkan ukur denyut nadi sebelum dan sesudah 'nembak' Mia. Mau lihat catatanku?” tanya Riko sambil mengambil kue kering dan mulai mengunyah.
Rodja kembali menatapnya dengan tatapan aneh. Dia menyesal sudah bersimpati pada anak ini “Gak. Aku gak mau lihat. Ko, mungkin ada baiknya kamu mulai berpikir untuk kadi pasien psikiater, ketimbang jadi psikiater."
***