Gadis Cilik Berkuncir Dua

1470 Words
. . Tak ada di dunia ini yang bisa dibandingkan dengan rasa damai saat hati diberkahi pengenalan terhadap Penciptanya. . . *** Sore itu, tak biasanya Joni sudah ada di rumah bersama Rodja. Pria itu menerima telepon dari Ustaz Yahya melalui ponselnya. Rodja melirik ke arah papanya yang nampak bercakap serius. Apa kiranya yang dibicarakan? Yang jelas berkaitan dengan dirinya. Begitu sambungan telepon usai, papanya mengangkat kedua belah tangan ke udara. "ALHAMDULILLAH YA ALLAAAHH!!" seru Joni seraya mengusap wajah. Rodja mengernyitkan dahi. "Ada apa, Pa?" tanya remaja yang masih mengenakan seragam SMU-nya. Joni mencengkeram pundak Rodja dengan mata berbinar-binar. "SELAMAT, RODJA! ANNISA MASIH MAU KETEMU KAMU!" ucap Joni sumringah. Kernyitan di dahi Rodja makin dalam. "Hah? Maksudnya? Bukannya pengajiannya memang tiga bulan, ya?" Joni terdiam. "Lho? Papa belum cerita, ya? Annisa sebelumnya sudah berusaha dijodohin sama beberapa laki-laki. Semuanya qari yang jago baca Qur'an. Itu syarat utamanya soalnya. Dan itu juga sebabnya, Annisa bersedia dijodohin sama kamu. Nah, dari semua calon itu, cuma satu atau dua orang saja yang pernah ditemui Annisa lebih dari sekali. Itu pun, akhirnya tetap batal karena Annisa menolak meneruskan ke pernikahan." Raut muka Rodja nampak keruh. "Terus hari ini dia masih mau ketemu aku?" tanya Rodja memastikan. Joni mengangguk semangat. "Barusan dapat kabar dari Ustaz Yahya, kalau Annisa mau lanjut ngaji hari ini, insyaallah sampai masa tiga bulan selesai. Tapi kamu harus ingat, kalau sewaktu-waktu Annisa gak berkenan, dia bisa tiba-tiba berhenti ikut ngaji bareng kamu." Tampang Rodja bagai tidak terima mendengar itu. "Ih kok gitu?? Kok kayaknya dia jual mahal banget? Emangnya dia pikir aku mau dijodohin sama dia?" Joni refleks menoyor kepala Rodja. "Duh!" keluh Rodja seraya memegang kepalanya. "Papa tanya kamu : Annisa anak siapa?" bentak Joni bertolak pinggang. "A-Anak seorang ustaz?" jawab Rodja hati-hati, khawatir salah jawab dan kena toyor lagi. "Terus, kamu anak siapa?" tanya Joni lagi. Hening. "Anak Papa?" sahut Rodja. Joni kembali mengangguk. "Nah. Udah paham bedanya?" Rodja mengangguk dengan muka cemberut. "Tahu diri dikit jadi anak! Jaga kelakuanmu di depan Annisa!" ancam Joni menutup percakapan mereka. Rodja misuh-misuh dalam hati. "Buruan mandi, ganti baju, dandan yang ganteng! Bentar lagi Annisa sama Ustaz Yahya mau dateng!" titah Joni. . . Rodja sudah mandi sore, bersiap menunggu kedatangan Ustaz Yahya dan Annisa. Di hadapannya ada Al Qur'an terjemahan. Masih penasaran dengan arti surat yang dibacanya kemarin. Surat Ar-Ra'd 26-28. Allah meluaskan rezeki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki. Mereka bergembira dengan kehidupan di dunia, padahal kehidupan dunia itu (dibanding dengan) kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan (yang sedikit). Orang-orang kafir berkata : "Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) tanda (mukjizat) dari Tuhannya?" Kelanjutan dari ayat itu menerangkan bahwa Allah memilih orang-orang tertentu untuk bertaubat kepada-Nya, yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram. Ayat terakhir seolah bergema di kalbunya. Rodja teringat mimpinya semalam. Dalam mimpinya, di suatu hari menjelang siang, dia sedang duduk di bangku ayunan, sambil melagukan murottal surat pendek dari Qur'an. Surat Al-A'la (Maha Tinggi). Ada suara anak perempuan di belakangnya. "Kamu lagi ngapain di sini?" Rodja menoleh. Anak perempuan itu mengenakan seragam SD. Sinar mentari bersinar cerah dari belakang gadis cilik itu, membuat Rodja tidak bisa melihat jelas wajahnya. Yang jelas, rambutnya dikuncir dua, dan dia sedang tersenyum. "Kamu lagi nyanyi? Bukannya kamu gak suka nyanyi?" tanya bocah itu penasaran. Kelopak mata Rodja terbuka, pertanda mimpinya berakhir. Dia melirik jam weker di nakas. Pukul tiga dini hari. Untuk pertama kalinya sejak sekian lama, Rodja salat Tahajud. Rasa haru memenuhi kalbunya. Dia salat dua rakaat. Setelah salam, air matanya tumpah. *** Ustaz Yahya membuka pengajian dengan do'a, selawat dan Al-Fatihah. "Jangan menjadikan terlambatnya pemberian dari Allah, dengan kesungguhan dalam do'a, menjadikanmu putus asa, atau bosan," ucap beliau membacakan kitab. "Ketahuilah, Allah telah menjamin untukmu dalam mengkabul do'amu, terhadap sesuatu yang Allah pilihkan untukmu. Bukan seperti yang kau pilih untuk dirimu sendiri. Dan dalam waktu yang Allah kehendaki, bukan yang kau kehendaki. Allah berfirman : Memohonlah kepada-Ku, maka akan Aku kabulkan. Berdo'a ada beberapa kandungan. Ada yang zahir (lahiriah), ada yang secara batin. Do'a bernilai ibadah ketika yang berdo'a dalam keadaan batin 'butuh kepada Allah'. Do'a yang dibarengi kerinduan pada Allah, rasa takut pada Allah, mengharap pemberian Allah. Sebelum kita berdo'a, kita perlu membersihkan noda dalam diri kita, bertaubat. Ini bisa kita ibaratkan dengan seorang anak yang ingin meminta dibelikan sesuatu oleh orang tuanya. Jika si anak baru saja membuat orang tuanya kesal karena sebuah kesalahan, maka sepantasnyalah anak tersebut meminta maaf terlebih dahulu atas kesalahannya. Baru setelah itu, dia meminta. Jika si anak langsung meminta dibelikan suatu barang, tanpa meminta maaf terlebih dahulu atas kesalahannya, berarti anak itu kurang tahu diri. Jika kita ingin agar do'a kita dikabulkan, maka kita harus menjauhkan diri dari makanan dan minuman yang haram. Jika kita bergelimang dosa, tapi do'a-do'a kita selalu dikabulkan, kita harus waspada, karena itu bukanlah bentuk rahmat, tapi bisa jadi itu adalah tanda bahwa Allah ingin kita terlena dengan dunia, sehingga kita semakin jauh dari kebenaran, dan pada akhirnya di akhirat berakhir di neraka. Na'udzubillah. Makna pengkabulan do'a adalah terwujudnya apa yang kita harapkan dari kebaikan. Do'a bukan wasilah/pemberian, tapi kebutuhan untuk menghamba pada Allah. Do'a itu sendiri adalah tujuannya. Allah memberi yang kita butuhkan. Sesuatu yang kamu pikir baik untukmu, bisa jadi itu sebenarnya buruk untukmu. Dan sesuatu yang kamu pikir buruk untukmu, bisa jadi itu baik untukmu. Allah lebih tahu." Ustaz Yahya menatap Rodja dan Annisa. Keduanya sedang khusyuk mendengarkan. "Ada yang mau ditanyakan?" tanya Ustaz Yahya. "Oh ... emm ...," gumam Rodja canggung. Ustaz Yahya menangkap gelagat bahwa sebenarnya Rodja ingin bertanya tapi malu karena ada Annisa. "Annisa, maaf. Bisa minta tolong bawakan tasku ke meja sana?" tanya Ustaz Yahya menunjuk meja makan, tempat beliau biasa duduk selama Rodja dan Annisa berbincang. "Kalau kamu gak keberatan, kamu mau ke dapur membantu Bibinya Rodja menyiapkan minum?" pinta Ustaz Yahya sopan. "Ah ... jangan, Ustaz. Nanti merepotkan Annisa," ujar Rodja sungkan. Annisa yang memahami kode dari Ustaz, segera berdiri membawakan tas Ustaz Yahya. "Gak repot kok, Rodja. Aku permisi dulu," kata Annisa tersenyum manis. "Syukron, Annisa," ucap Ustaz Yahya. "Sekarang kamu bisa bertanya," kata Ustaz Yahya pada Rodja setelah mereka tinggal berdua saja di ruang tamu. Rodja merasa malu. Ustaz Yahya rupanya menyadari dirinya ingin bertanya tapi merasa canggung karena ada Annisa. "Eh ... anu, Pak Ustaz. Saya dulu cukup rutin salat Tahajud, tapi lalu kebiasaan itu terhenti dua tahun lalu. Saya sudah berdo'a, dan berusaha untuk bisa bangun di sepertiga malam. Saya coba tidur lebih awal, memasang beberapa alarm, tapi tetap gagal. Sempat berpikir, Allah mungkin sudah meninggalkan saya." Rodja menelan saliva susah payah. Kalimat terakhir membuatnya emosional. "Sebenarnya, saya tahu kalau tidak boleh berprasangka buruk, tapi saya -- ajaibnya, semalam tiba-tiba saya terbangun dan --" Kalimat Rodja terhenti, matanya berkaca-kaca. Ustaz Yahya memandanginya dengan lembut. "Ada beberapa sebab yang membuat kita tidak bisa bangun di sepertiga malam. Kondisinya berbeda setiap orang. Jika orang itu tidak bisa bangun salat Tahajud tanpa alarm, maka memasang alarm hukumnya menjadi sunnah, karena salat Tahajud hukumnya sunnah. Jika seseorang harus tidur siang dulu, untuk bisa bangun salat Tahajud, maka tidur siang hukumnya menjadi sunnah. Dan ada sebab lainnya di sebuah riwayat yang disebutkan dalam kitab Ihya Ulumiddin Al-Ghazali, salah satu sebab tidak terbangunnya kita untuk salat Tahajud adalah, karena dosa yang kita lakukan di siang harinya," jelas Ustaz Yahya. Air mata Rodja jatuh tanpa isakan. Rodja segera menyekanya. Tentu saja. Dengan banyaknya maksiat yang dia lakukan selama dirinya bergaul di klub-klub malam itu, tak heran jika kemuliaan salat tahajud seolah dicerabut dari dirinya. "Tapi jangan karena hal itu lantas kita berputus asa terhadap pengampunan dan pengkabulan do'a dari Allah. Dan harus selalu diingat, bahwa yang membawa kita ke surga bukanlah karena amal ibadah, melainkan karena rahmat Allah. Penyesalan terhadap dosa, adalah bentuk dari keimanan dalam hati. Dan iman adalah pemberian dari Tuhan," imbuh Ustaz Yahya mengingatkan. Maka itu, jika seseorang diberi kemudahan salat tahajud, ia tidak sepatutnya sombong atau jumawa. Sebab hal itu bukan karena dirinya mulia, melainkan karena pemberian Allah padanya. "Tuhan tidak pernah meninggalkan umat-Nya. Kitalah yang membuat jarak antara kita dengan Tuhan, dengan kesalahan-kesalahan yang kita buat. Jika kita berjalan mendekati Allah, Allah akan berlari mendekati kita," ucap Ustaz Yahya lirih, sambil mengusap punggung Rodja, agaknya memahami pergolakan batin remaja itu. Usapan hangat di punggungnya membuat Rodja merasa lebih tenang. Sungguh pengajian ini bukan hanya memberinya ilmu, tapi juga dukungan batin. Ustaz Yahya berdiri dari sofa. "Nah, sekarang, saya duduk di sana dulu. Supaya kamu bisa bicara dengan Annisa," kata beliau. "Terima kasih, Pak Ustaz," ucap Rodja, dibalas senyum hangat oleh Ustaz Yahya. Rodja mengembuskan napas lega. Ia tahu seribu kata 'terima kasih' tidaklah cukup untuk Ustaz Yahya, yang dirasanya menjembatani jiwanya mendekat menuju Allah dan Rasul-Nya. Tak ada di dunia ini yang bisa dibandingkan dengan rasa damai saat hati diberkahi pengenalan terhadap Penciptanya. . . ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD