"Papah, demi apapun pah, beneran kan kata mama, mereka ada apa-apa, pake lunch bareng, ohhh so sweet", teriak ibu Farah saat melihat suaminya memasuki rumah mereka.
Pak Lewis pun ikut tersenyum bahagia mendengar istrinya, "sumpah ma, edwin beneran TOP, bisa dapetin Samara, keren banget, mama tau sendiri kan anak kita kaya gimana?".
Ibu Farah meraih tas kerja milik suaminya lalu menggandeng lengan pak Lewis dengan manja, senyum pasangan itu mengembang karena kabar gembira kedekatan Samara dan Edwin.
Tak lama deru suara mobil keluaran Eropa milik Edwin pun terdengar dari luar rumah bergaya Eropa itu, ibu Farah dan pak Lewis melihat kearah pintu untuk melihat putra bungsu mereka, yang dinantipun datang dengan wajah yang sangat ceria seperti biasa.
"Hai mom, dad", Edwin berlari lalu mencium pipi ibunya.
"Seneng banget sih Ed kaya habis dapet undian", pak Lewis menggoda Edwin meski dengan muka datarnya.
Edwin hanya nyengir, "mah Edwin mau orange jus!".
"Ambil sendiri Ed, ada embak nur juga di sana, kamu itu manja banget sih, cowok juga", ketus pak Lewis yang hanya dibalas dengan garukan tengkuk oleh Edwin.
"Udah pah biarin, namanya juga anak bontot", seperti biasa ibu Farah membela putra bungsunya itu lalu berjalan menuju dapur. Edwin yang mendapat dukungan dari mamanya menunjukkan dua jempolnya ke atas pada ibunya.
"Ishhh, dasar!", "Ed, kamu tadi makan siang dimana?, Kok papa cari nggak ada".
"Dikantor papah kok".
"Di kantin nggak ada tuh!".
"Emang our CEO yang terhormat lunch di kantin kantor, kok bisa tau Edwin nggak ada?".
"Ishh". Pak Lewis menghela nafasnya.
Edwin hanya terkekeh bahagia melihat ekspresi wajah ayahnya. Tak lama ibu Farah datang membawa orange jus untuk Edwin.
"Nih my baby boy".
"Thanks mom".
"Mamah, Edwin itu udah hampir kepala tiga lho, masih baby boy aja, baby tuek iya!", Ketus pak Lewis pada istri dan anak lelakinya.
Edwin dan ibu Farah hanya tersenyum menanggapi pak Lewis yang bersikap ketus. Sejak kecil Edwin memang sangat dekat dengan ibu Farah, karena Edwin adalah anak bungsu yang sangat di tunggu oleh keluarga mereka. Sedangkan pak Lewis sangat dekat dengan putri pertama mereka bernama Clarisa, yang saat ini sudah berumah tangga dan memiliki dua orang putri dan satu orang putra kecil.
"Sayang kamu udah makan siang kan tadi?", Tanya ibu Farah dengan lembut, berusaha mencari informasi dari putranya.
"Come on mah, ini udah sore, masa masih tanya makan siang aja". Edwin hanya melirik sebentar pada mamanya.
"Ya kalau belumkan mamah mau ambilin sekalian, gimana udah makan siang belum baby boy?". Ibu Farah masih menuntut pada Edwin, sedangkan pak Lewis ikut melihat kearah Edwin, menanti jawaban dari Edwin.
Melihat kedua orang tuanya, Edwin justru terkekeh geli, " papah mamah kenapa sih?", " Mah, tanya aja sama pak CEO yang punya side job jadi paparazi aja deh, ngintip orang sambil foto-foto". Lanjut Edwin sambil meninggalkan kedua orang tuanya.
Pak Lewis dan ibunya Farah saling bertatapan, "dia tau pah".
*
*
Samara melempar tas dengan simbol huruf L dan V yang ia kenakan hari ini ke sofa ungu miliknya. Sepatu cantik dengan alas merahnya pun di lepas asal, tak jauh berbeda dengan dua benda itu, blazer keluaran terbaru dari brand berhuruf C pun dia lempar entah kemana, "Capekkkk", teriak samara sambil merebahkan diri ke Sofanya.
Yes, inilah dia Samara Nadine Narendra, gadis dengan sejuta pesona namun sangat berbeda bila dia memasuki apartemen miliknya. Bila hanya dia sendiri, dia akan menjadi dirinya sendiri. Menjadi pribadi yang mungkin hanya Dia dan Tuhan yang tau.
Samara mencoba memejamkan matanya lalu mengikuti alunan lagu yang dia dengar dari headsetnya, kakinya dia naikkan ke sandaran Sofa. Sungguh pemandangan yang tidak mungkin Samara biarkan diketahui oleh siapapun. Samara sangat menikmati hidupnya bila dia hanya sendiri seperti ini.
Sampai tanpa dia sadari ada seorang laki-laki yang tengah duduk di sampingnya sambil menopang dagunya mengamati Samara.
"Dududu, dududududu, dududududu, duduuuuuuuu, Wind of change".
Samara melantunkan lagu Wind of Change lagu lawas dari band Scorpion yang sangat di gemari nya. Edwin yang melihat hanya menahan tawanya, tak lupa Edwin mengeluarkan ponsel miliknya dan berusaha mengabadikan kelakuan Samara ini karena gemas.
"Mandi dulu biar unyu", ucap samara lalu berusaha bangkit dari posisinya.
"Astaghfirullah", samara meloncat kembali kesofa miliknya saat melihat ada orang lain di apartemen miliknya padahal ia tidak merasa menerima tamu.
"Edwin, kok elo bisa disini". Samara melempar bantal kepada sang pria.
"Kangen", jawabnya.
"Iyuuuuuuuh, Edwin kok elo bisa disini?, Sejak kapan juga elo disini hah!".
"Sejak setengah jam yang lalu deh kayaknya!".
"Jadi elo, elo tidakkkkkkkkkk". Samara menutup mukanya dengan bantal sofa dengan motif gotik miliknya.
"Sayang apa sih, kok gitu, nggak usah malu juga sama aku, aku tetep cinta sama kamu apa adanya kok sayang!".
"Cihhh, pergi Lo dari sini", ketus Samara.
"No, aku mau makan malam sama kamu".
"Nggak Sudi banget gue, Edwin!". Samara menekan nama Edwin, tanda penolaknnya.
"Udah sana mandi kita berangkat sebentar lagi!".
"Ogah, siapa elo nyuruh-nyuruh gue!".
"Hey, aku pacar kamu sayang, pacar inget!".
"Nglunjak Lo, pergi nggak!". Teriak Samara. Lalu dia mendorong tubuh Edwin menuju pintu keluarnya.
"Hei sayang, oke aku pergi, tapi buka dulu hp kamu!". Perintah Edwin masih dengan senyum khasnya.
Samara mengambil ponsel yang ada di tas miliknya, dia membuka aplikasi chatting dan menemukan video yang Edwin kirim. Matanya membulat melihat dirinya dalam video yang baru Edwin rekam sekitar tiga puluh menit yang lalu.
Lalu Edwin menambah keterangan, " Be my dinner, I Will be your candle".
"Hapus nggak". Samara berusaha meraih ponsel Edwin, namun dia urungkan karena Edwin memasukkan ponselnya kedalam saku depan celananya.
Samara mengeluarkan jurus yang sering dia gunakan untuk meluluhkan hati Edwin saat dia tidak bisa memaksa pria itu. " Edwin tolong hapus", Samara menundukkan wajahnya lalu mengubah suaranya menjadi lemah dan seolah-olah dia akan menangis.
Edwin menakup wajah Samara lalu melihat wajah cantik itu dengan lembut, " iya aku hapus sayang". Mimik wajah samara yang sendu seketika berubah ceria saat mendengar kalimat Edwin itu.
"Tapi entar habis dinner ya sayang", Samara kembali memasang wajah sedihnya, saat mendengar kalimat terakhir Edwin.
" Sekarang aja Ed!".
"Udah mandi sana, terus kita berangkat dinner". Ucap Edwin sambil melepaskan tangannya dari wajah Samara.
"Kampret", batin Samara menggerutu.
Dengan Langkan gontai Samara melangkah menuju kamar mandi yang ada di kamar miliknya, dia sangat benci dengan suasana seperti ini, lagi dan lagi dia harus pura-pura menurut. Ohhh.
Edwin yang memperhatikan Samara hanya tersenyum simpul, " sorry sayang". Gumamnya. Lalu Edwin memutuskan untuk duduk kembali ke sofa ungu milik Samara sembari menunggu gadis itu bersiap.
Edwin menggelengkan kepalanya melihat barang-barang Samara yang berserakan di lantai apartemen itu, sangat berbeda saat Edwin datang ke tempat ini pertama kali. Akhirnya dengan telaten Edwin merapihkan barang-barang itu lalu meletakkan kembali ke tempatnya.
Tak lama Samara kembali menemui Edwin dengan wajah yang lebih segar, dia memakai kaos oblong dan celana selutut lalu menuju pantry untuk mengambil minuman.
"Kok pake baju kaya gitu, kita mau dinner lho sayang". Protes Edwin, sambil mengikuti gadis itu ke pantry.
"Kita berangkat habis sholat Maghrib, ok!".
"Ok". Jawab Edwin sambil mengangguk lalu berniat kembali kesofa ungu milik Samara.
"Eits malah duduk lagi, buruan sana ambil air wudhu, udah masuk jamnya juga, gue udah wudhu nih". Perintah Samara yang di angguki oleh Edwin.
*
*
*
Samara duduk di samping kursi pengemudi yang diduduki Edwin, wajahnya sangat malam ini, padahal gadis itu hanya memakai pelembab wajah dan memoles bibirnya dengan lipglos agar tidak kering. Dress selutut dengan warna maroon itu sangat pantas di pakai gadis yang memiliki kulit sawo matang itu. Edwin tak henti mengagumi gadis yang dia anggap sebagai pacar itu.
"Lo kenapa senyum-senyum kaya gitu?", Tanya Samara ketus seperti biasa.
"Seneng aja".
"Ohh", Samara ber-oh ria tanpa ingin tau penyebab kebahagiaan Edwin.
"Nggak mau tanya kenapa?".
Samara membuang nafasnya kasar, " karena mau jalan sama gue kan, dan karena gue cantik, iyakan, hah, basi". Samara memang gadis dengan tingkat percaya diri yang tinggi.
Edwin terkekeh mendengar perkataan Samara yang sangat percaya diri, "ya itu juga sih, tapi bukan itu alasan utamanya".
"So?", Samara melihat kearah Edwin, yang dilihat hanya tersenyum kecil, "ah whatever gue nggak perduli", lanjut gadis itu.
"Yang utama sih, karena tadi aku jadi imam kamu pas sholat, rasanya seneng banget sayang".
"Oh", samara menyunggingkan bibirnya untuk menyimpan senyumannya, hatinya berdesir lembut saat Edwin mengatakan alasan utamanya bahagia malam ini.
"Jadi pingin segara jadi imam hidup kamu sayang". Lanjut Edwin yang membuat Samara memutar bola matanya, anjlok sudah rasa kagum Samara pada pria disampingnya.
"Dalam mimpi Lo",Jawab Samara seperti biasa.
*
*
*
EdMaL Caffe
"Kita sampai", sorak Edwin saat menghentikan mesin mobilnya.
Dengan malas Samara melangkahkan kakinya menuju kafe yang terlihat sangat romantis itu.
" Selamat malam pak Edwin silahkan, di meja tiga ya pak". Dengan ramah pelayan restoran itu menyambut Samara dan Edwin.
Edwin menggenggam tangan Samara lalu mengajak gadis itu menuju tempat yang telah disiapkan.
"Kok pelayan tadi tau nama Lo Ed?", tanya Samara karena pelayan di kafe ini mengenal Edwin dan sangat ramah. "Oh I know, karena elo udah reservasi kan?". Samara mengatakan dugaannya. "Udah nggak usah di jawab, lupain aja!", Perintah Samara saat melihat Edwin ingin menyampaikan jawabannya.
Para pelayan menyajikan makanan yang telah dipesan oleh Edwin sebelumnya, "suka nggak pesenan aku sayang?".
Mata samara membulat melihat menu yang tersaji didepannya, sepiring tengkleng kambing, nasi dan redvelvet Thai tea. " Gila Lo!". Samara menelan kasar salivanya.
"Ini enak gila sih yank, menu andalan disini ". Jawab Edwin dengan kekehan khasnya.
"Ehh gue dandan cantik kaya gini disuruh makan tengkleng, beneran saraf Lo Ed!". Ketus Samara sambil melirik ke arah tulang kambing berbumbu rempah yang ada di mejanya.
Edwin menyendokkan beberapa tulang ke piring Samara, lalu ke piringnya, dia mulai menikmati masakan khas Solo itu. Samara yang melihat Edwin hanya bisa menahan nafsunya, sungguh tengkleng adalah makanan favorit gadis itu sejak kecil, hanya saja sekarang ini dia tidak pernah lagi menyentuhnya karena dianggap tidak elegan.
"Kok liatin aku aja, ayo makan". Edwin menghentikan acara makannya sejenak.
Samara menggeleng ragu, " enggak mau, kotor".
"Buka mulutnya, aaaaaa". Edwin berusaha menyuapkan potongan tulang ke mulut Samara.
Samara masih menggeleng, "ayo buka mulutnya, enak banget ini yank, ayo!".
Samara melihat potongan tulang di depannya, lalu kembali meneguk salivanya. "Pisahin dagingnya dulu!".
Edwin tersenyum lalu memisahkan daging yang masih menempel di tulang kambing itu, lalu dia mendekati Samara dan menyuapi gadis itu dengan tangannya sendiri. Ada rasa senang dihati Samara di perlakukan Edwin semanis itu, sekali lagi ada desir lembut di hatinya.
"Kok bisa sih kafe tapi menunya tengkleng kambing".
"Di sini emang Kafe khusus daging sapi dan kambing kok yank, tuh lihat background nya". Edwin menunjukkan sebuah gambar hewan berkaki empat yang dihias dengan lampu warna-warni.
Samara menoleh lalu mengangguk kecil, " Brilian juga yang punya Kafe, buat makanan pinggir jalan jadi naik kelas".
"Disini punya steak dan menu western juga kok yank, pokoknya semua menu dari embekkk dan emohhh", Samara terkekeh mendengar Edwin menirukan suara hewan yang dia maksud.
"Seneng nggak ?", Tanya Edwin dengan lembut pada gadisnya.
"Iya sen, emp", Samara menggeleng cepat, " Biasa aja". Ralatnya.
"Yadewh, pulang yuk sayang!", Edwin menarik tangan Samara lalu berlalu meninggalkan restoran. Dan menuju mobil lelaki itu.
Usai membukakan pintu untuk Samara, Edwin memutari mobil miliknya lalu bersiap duduk di belakang kemudi. Dia menjalankan mobil itu dengan kecepatan sedang.
"Eh bentar deh Ed, kok elo bisa masuk ke apart gue sih?".
Edwin menggaruk tengkuknya, " kemarin aku liat kamu masukin password sih yank, jadi ya gitu".
"Dasar penguntit, harus ganti password nih gue", gerutu Samara.
Edwin hanya tersenyum mendengar Samara yang menyebutnya penguntit. Dia terus menjalankan mobilnya sambil memutar lagu "Risalah Hati" dari Dewa 19. Lagu yang sedang menggambarkan perasaan Edwin saat ini. Hingga tak terasa mereka sudah tiba di basemen apartemen milik Samara.
"Mau ngapain, gue naik sendiri aja deh Ed, Lo pulang sana!", Samara menghentikan langkahnya saat merasa Edwin mengikuti gadis itu.
"Seenggaknya aku Anter sampai lift tertutup!", Kekeh Edwin pada gadisnya itu.
"Ok, nih mau gue tutup", Samara bersiap menekan tombol panah ke atas.
"Ok take care sayang". Edwin melambaikan tangannya.
"Ed, thanks ya!".
"For what?".
"Buat tengkleng dan tadi bantuin gue beresin apartemen". Samara menampilkan senyum terbaiknya.
"Be my girl friend!". Balas Edwin
"Dalam mimpi Lo". Samara menutup pintu liftnya. Dan tersenyum lebar saat tidak melihat wajah Edwin karena pintu yang sudah tertutup.
Write on. 05 - 06 - 2021
Publish on. 13 - 06 - 2021
TTD : Dyah Vita K