Ketahuilah bukannya aku tidak mau mencintaimu, hanya aku takut akan kau tinggalkan.
*****-****
Samara menggenggam mug berisi Coffe Latte yang dia nikmati dengan pemandangan kota Jakarta dari balkon unit apartment miliknya. Kelap kelip lampu kota menenangkan jiwanya, namun dapat dia bayangkan betapa sesaknya disana, deretan mobil yang saling serang dengan suara klakson yang pasti menggema di antara padatnya pancaran lampu yang berjajar di jalan raya.
Samara menghela nafasnya panjang, kembali mengingat betapa manisnya Edwin sore ini, bibirnya tak sengaja tersenyum hanya dengan membayangkan wajah pria itu. Oh jangan bilang dia mulai suka dengan pria itu. Samara menggeleng beberapa kali, " No Samara ".
Bayangan masa remajanya kembali mengerjap di ingatan gadis itu.
Flashback, Samara POV
Sekuat tenaga gue memeluk lutut gue, takut iya, malu sangat. Gue di kelilingi beberapa siswa dan siswi yang tertawa puas karena kelemahan gue.
"Yang kaya gini bilang kalau anak Nadine Damayanti, ngaca donk, ngaca!". Salah satu siswi berbicara sinis sambil memainkan rambut ekor kuda gue. Dan setelahnya mereka semua tertawa kembali.
Yah itulah hari-hari gue jauh saat aku masih memakai seragam merah putih, gadis berbadan gempal dengan kaca mata kotak dan rambut tak terawat. Sangatlah menjijikkan bagi semua orang yang melihatnya. Sayangnya bentuk fisik gue yang demikian sangat berbanding terbalik dengan ibu kandung gue yang seorang artis multitalenta, yang mengawali karirnya karena suara emasnya hingga ia menjadi salah satu penyanyi yang sangat di perhitungkan di Indonesia. Karirnya merambah ke dunia modeling dan peran karena paras dan tumbuhnya yang sangat mendukung.
Kesuksesannya dalam karir rupanya tak sejalan dengan kehidupan rumah tangganya dimana ada gue dan papa disana. Di usia gue yang ke sepuluh tahun gue harus menelan pil pahit atas perpisahan orang tua gue. Yah, hal itu diperburuk dengan pemberitaan yang berkembang diluaran sana, berita perceraian itu bahkan menjadi highlight di berbagai media baik cetak maupun elektronik. Membuat gue muak dan ingin pergi dari dunia ini saja. Banyak spekulasi yang dihembuskan, namun yang gue tau ini tentang penghianatan.
Saat itu gue melihat papa hanya duduk dan diam diujung ranjangnya, sedangkan mama bersimpuh menangis dan berusaha menjelaskan sesuatu yang tidak bisa gue cerna maksudnya saat itu. Gue hanya mendengar kata "Khilaf" dari mulut ibu kandung gue itu, dan kata "Penghianat tetap penghianat" dari mulut papa kandung gue.
Hingga tak lama setelah itu, gue harus merelakan mama pergi meninggalkan gue dan papa. Pergi tidak seperti saat dia keluar kota atau keluar negri untuk pekerjaannya. Tapi pergi yang sangat menyesakkan dada.
Papapun membawa gue untuk memulai hidup barunya. Kami tinggalkan rumah lama kami, dan papa lebih memilih untuk mengajakku tinggal di unit apartment di bilangan Jakarta yang cukup prestisius. Namun masih tak sebanding dengan kondisi rumah lama gue yang sangat nyaman.
Kehidupan sebagai single parents memang berat untuk papah, gue tau setengah mati dia berusaha untuk membahagiakan gue, berusaha membuat gue tak kekurangan apapun. Hingga sikapnya justru lebih terlihat memanjakan gue, membiarkan dan mendukung apapun yang gue suka.
Pola asuh papa untuk seorang gadispun ternyata tidak sesuai dengan tuntutan zaman yang harus gue hadapi, sehingga gue menjadi seorang gadis yang jauh dikatakan ideal. Dengan berat badan seratus kilo gram, wajah penuh dengan jerawat akibat dari junkfood kegemaran gue yang hampir setiap hari kami konsumsi, ditambah dengan kaca mata minus akibat hobi gue bermain game pada ipad yang dihadiahkan papa karena gue berhasil naik kelas dengan nilai yang memuaskan. Memperburuk penampilan gue, dan sukses membuat gue mendapat julukan si ugly.
Namun untungnya semua itu terselamatkan saat gue berkenalan dengan seorang malaikat bernama Sania Bahera Zahid. Seseorang yang telah menyelamatkan gue dari keterpurukan gue. " Hei stop, kasihan tau nggak, mau tante aduin ke ibu guru hah?". Semua menggeleng saat mama sania menggertak mereka. Seperti biasa, saat jam pulang sekolah mereka mengerjai gue di luar gedung sekolah saat kami sedang menunggu mobil jemputan dari orang tua kami..
Mama Sania menghampiri gue, Lalu memeluk tubuh gue dan membelai rambut gue lembut. "Udah sayang, jangan nangis, kalau temennya nakal bilang sama Bu guru ya sayang biar nggak dinakalin terus, oke!"
Gue mengeratkan pelukan gue pada pinggang wanita yang seperti super Hero itu, "Mama, aku takut, hiks".
"Hei, udah, ayo Tante bantuin beresin barang kamu yang berserakan!", Mama Sania menguraikan pelukan gue pada pinggangnya. Lalu menggandeng tangan gue untuk mengambil barang-barang yang sudah berserakan.
"Kamu namanya siapa?".
" Aku Samara aunty, kalau aunty?".
"Emm Tante, eh aunty namanya Sania, By the Way nama kamu cantik Samara".
"Akunya yang nggak cantik aunty!"., Tegas gue.
"Hei siapa bilang?".
"Semua orang bilang aku jelek aunty". Gue memainkan ujung rok merah milik gue.
"Semua orang?, Nggak mungkin donk, pasti papa mama kamu bilang kamu cantik, percaya deh sama mereka!".
Gue menggeleng pelan, "papa mama nggak pernah bilang aku jelek, tapi mereka nggak pernah bilang aku cantik juga".
"Oiya, hemmm So, aunty mau jadi orang yang pertama ah!", Mata mama Sania sangat bersih membuat gue hampir terbius olehnya, "Samara anak Cantik", bisiknya lagi pada gue.
Gue tersenyum pada wanita yang entah mengapa membuat gue nyaman saat itu, " aunty jadi orang yang pertama kali bohong sama aku". Kamipun tertawa bersama.
"Hey aunty serius tau nggak, mata kamu itu bersih, bulat, manik mata coklat, bulu mata lentik, alis tebal, tunggu-tunggu tulang hidung kamu juga tinggi sayang, dan yang terbaik adalah pipi kamu yang punya lesung di kanan dan kiri, ohhh sempurna!", Pujinya dengan meyakinkan.
"Pasti ada tapinya kan?". Tuntut gue saat itu.
"Nggak tuhh!", Jawab mama Sania dengan gaya centilnya.
Gue mengernyitkan kening gue, "So, aunty percaya kalau aku bilang, aku anak Nadine Damayanti".
"Percaya!", Jawabnya spontan.
Gue senang mendengar jawaban mama Sania saat itu, meski dalam hati gue ada rasa tak percaya dengan jawabannya.
"Hei Rara, lama ya nunggu Oma, maaf ya sayang papah kamu itu ngabarin nya telat". Dengan sedikit berlari Oma menghampiri gue yang sedang duduk di depan sekolah dengan mama Sania.
"Eh ada siapa ini, makasih ya udah temenin cucu saya, saya Farida", Oma mengulurkan tangannya pada mama Sania.
Perkenalan itulah yang akhirnya membawa mama Sania menjadi ibu tiri gue. Ibu tiri yang berhak mendapat penghargaan sebagai ibu tiri terbaik di dunia.
Dengan tangan dingin dan kegigihan mama Sania akhirnya gue dapat ber metamorfosis dari si ugly tobe si beauty.
Mama menghilangkan menu makanan cepat saji dari daftar makan gue dan papa, minuman rendah gula juga disajikan untuk kami setiap pagi, ditambah lagi dengan isi kulkas yang berubah menjadi buah-buahan segar dari makanan ringan kegemaran gue dan papa. Yang terberat adalah bersepeda menjadi olahraga wajib gue setiap sore, dan berenang menjadi olah raga wajib gue dan papa setiap akhir pekan.
Mama mulai memperkenalkan gue dengan perawatan kulit untuk menghilangkan jerawat yang seolah menjadi teman setia wajah gue. Dan berangsur wajah gue menjadi bersih tanpa noda. Rambut gue yang dulunya hanya biasa dikucir kuda akhirnya di make over oleh mama menjadi potongan Bob yang sangat segar untuk gadis seusia gue.
Dan untuk melindungi diri gue sendiri, mama mengikutkan gue pada kelas muai Thai , ketrampilan bela diri dari negeri gajah putih, yang juga ia ikuti sebelumnya. Dan ternyata disanalah bakat gue yang sebenarnya, gue berhasil menyabet penghargaan saat di dulat mengikuti perlombaan Muay Thai tingkat Asia di Singapura dengan kategori U-16, ada rasa bangga di hati gue, dan dari sanalah kepercayaan diri gue mulai terbit dengan gemilang.
Dan yang terpenting atas kehadiran mama Sania adalah sosoknya yang dapat menjadi teman, sahabat saudara dan ibu, yang menjadikan gue menjadi orang yang sangat beruntung karena mendapatkan kasih sayang itu, kasih sayang yang bahkan tidak gue rasakan saat gue masih hidup bersama ibu kandung gue.
Flash Back Off
Samara menghentikan lamunannya saat mendengar ponselnya berbunyi nyaring, dia menghampiri benda pipih itu lalu mengusapnya pelan.
"Hallo".
"Hallo Rara sayang".
"Kenapa?".
"I want to meet you honey".
"Aku sibuk".
"Sebentar saja honey, mama tunggu di rumah oma Sari ya!".
"Maaf mah, aku sibuk dan capek". Samara mematikan ponselnya lalu meletakkan kembali ponselnya ke meja.
"Seandainya kamu nggak berhianat, gue akan sangat mengagumimu". Ujar samara dalam hati.
*
*
*
Ditempat lain, Edwin sedang mengawasi karyawannya yang tengah memasukkan barang-barang mebel yang berasal dari bambu antik untuk di tata di dua puluh kontainer yang akan dikirim ke Melbourne, Australia. Usaha Edwin dalam dunia ekspor barang kerajinan dari bambu ini memang sudah dia geluti sejak dia berkuliah di negeri Kanguru itu.
Awalnya dia hanya iseng membawa buah tangan untuk temanya di Australia berupa replika bebek yang terbuat dari akar bambu, yang dia dapatkan saat berwisata ke Jawa tengah saat libur kuliah. Ternyata dari sana dia mulai merintis bisnisnya itu, dia bekerjasama dengan pengrajin bambu di Jawa tengah itu untuk menjualkan produk mereka ke Australia, kemudian karena kemampuan marketing Edwin akhirnya bisnis itu merambah ke negara-negara Eropa dan Amerika, produknya hanya satu yaitu kerajinan berasal dari bambu, seperti replika bebek, Gazebo, kursi bambu, lilin bambu dan kerajinan lain yang berasal dari bambu.
Dan dari sanalah akhirnya Edwin mendapatkan pundi-pundi rupiah yang tidak ada habisnya. Ditambah lagi bisnis restauran yang dia beri nama EdMaL, mulai menjamur di beberapa kota besar, semua itu karena kehebatan Edwina dalam mendesain tempat makannya dengan unik dan cantik. Sungguh, Edwin bukanlah pengangguran seperti yang Samara tuduhkan.
"Mas Edwin, terbang jam berapa tadi kok udah ada disini aja?", Tanya Renata putri salah satu pengrajin bambu yang menjadi patner Edwin.
"Eh dek Renata, tadi jam setengah sepuluh terbang dari Jakarta, langsung cus ke sini aja". Terang Edwin pada gadis yang dia panggil dek itu.
"Kalau gitu di sambi ngopi aja mas, Monggo". ajak Renata pada Edwin yang dibalas dengan anggukan.
Renata adalah putri dari pak Setiawan yang merupakan pengrajin bambu terbesar dikota Klaten, ayahnya adalah partner pertama Edwin dalam bisnis ini. Bahkan keberhasilan pak Setiawan berawal dari kerjasama nya dengan Edwin.
"Mari nak Edwin, ikut ngopi dulu dari tadi kok nungguin karyawan aja", dengan ramah pak Setiawan mengajak Edwin duduk bersamanya.
Renata datang kembali membawa secangkir kopi panas untuk Edwin, " wah nggak sabar nih minum kopi buatan dek Renata, beneran ngangenin, he he", Edwin memuji kopi buatan Renata yang memang enak menurut Edwin.
Blush, apa kabar dengan pipi Renata yang mendengar pujian dari laki-laki yang telah lama dia perhatikan itu. Hatinya bergemuruh hanya karena mendengar kata-kata manis Edwin.
Edwin dan pak Setiawan menikmati malam itu dengan membahas orderan yang sudah didapatkan Edwin dari pelanggannya di Kanada, berupa kursi kafe yang terbuat dari bambu. Edwin menyerahkan gambar yang dikirim oleh pelanggannya itu. Pak Setiawan beberapa kali meminta saran pada Edwin tentang bahan yang akan di gunakan lalu beralih pada harga yang akan disepakati.
"Nginep sini aja nak Edwin, kok selalu repot pesan hotel lho". Basa-basi pak Setiawan yang selalu menawarkan menginap untuk Edwin, namun selalu ditolak olehnya.
"Wah tadi sudah booking pak, sayang kalau tidak dipakai, mohon maaf". Edwin tersenyum lalu berpamitan pada pak Setiawan dan Renata, lalu kepada semua karyawan yang telah istirahat usai menyelesaikan tugas mereka.
Edwinpun bergegas memasuki mobil pesanan miliknya untuk mengantar laki-laki itu ke hotel.
* * *
Write and edit on 09-05-2021
Usahain up tiap hari ini gaes. Sukak aku. Lope u.